Kamis, 25 Juli 2013

IMAM MAULANA ABDUL MANAF: Manusia Langka dari Minangkabau


OLEH Yusriwal
Peneliti dan pengajar di Fakultas Sastra Unand
Imam Maulana Abdul Manaf
Sekali tempo, penulis buku yang berjudul Menyoal Wahdatul Wu­jud: Kasus Tanbih Almasyi Ka­rangan Syekh Abdurrauf Singkel, Oman Fathurahman, berkunjung ke Padang. Ia terkejut tatkala mengun­jungi seorang buya yang tinggal di ping­giran Kota Padang, tepatnya di Batang Kabung, Koto Tangah. Keterkejut­annya beralasan karena dalam tesis­nya yang dijadikan buku tersebut me­nyebutkan bahwa di dunia hanya ter­dapat empat kitab Tanbih Almasyi ka­rangan Syekh Abdurrauf Singkel, tetapi ternyata buya tersebut juga me­miliki kitab itu, malahan buya itu sendiri yang menyalinnya.
Buya yang dimaksud bernama Imam Maulana Abdul Manaf. Dia tinggal di sebuah surau yang terletak bersebelahan dengan Pesantren Mad­rasah Tarbiyah Islamiah (PMTI). Dia merupakan sosok yang dermawan. Tanah seluas lebih kurang lima hektare kepunyaannya disumbangkan untuk pendirian PMTI.

Sejak muda hingga di usia senjanya, dia masih aktif menulis. Puluhan kitab sudah dia tulis, baik tentang biografi (Sejarah Syekh Bur­hanuddin Ulakan, Sejarah Syekh Ab­durrauf Singkel, Sejarah Syekh Pa­siban, Sejarah Syekh Surau Baru, dan lain-lain), sejarah (Sejarah Perkem­bangan Islam di Minangkabau), Ilmu Hisab (Kitab Al Taqwim) maupun ajar­an-ajaran tarekat syatariah (Kitab Zia­rah Kubur ke Makam Syekh Abdurrauf Singkel, Mizan Qulub, dan lain-lain). Dia menulis tidak menggunakan hu­ruf Latin melainkan huruf Arab. Bukan tidak bisa tulis baca huruf Latin, mela­inkan karena banyak orang yang me­minta tulisannya dengan menggunakan huruf Arab. Naskah yang ditulis beragam, ada naskah hasil penyalinan dari naskah yang telah kuno dan ada juga hasil pikiran dia sendiri.
Seluruh naskah yang dia salin, tidak lantas disimpan begitu saja. Se­tiap orang yang datang kepadanya de­ngan maksud untuk memiliki naskah yang dia salin, maka dia mem­berikan izin untuk memfotokopinya. Akan tetapi, kelonggaran yang dia berikan dimanfaatkan oleh mereka yang ingin memperoleh keuntungan dari naskah-naskah tersebut. Mereka yang tidak bertanggung jawab itu mem­perbanyak naskah-naskah dia lalu dijual, bahkan hingga ke Malaysia. Penyebaran naskah yang dia salin sampai ke Negeri Jiran menan­dakan bahwa naskah-naskah tersebut banyak orang yang meminatinya.
Hidup di tengah budaya Minangkabau yang kental dengan tradisi lisan, menjadikan dia sosok yang langka. Lang­ka karena kesetiaan dia pada dunia kepenulisan Arab Melayu. Kesetiaan yang terus menulis tanpa memikirkan keuntungan apa yang akan dia pero­leh. Tinggal di sebuah surau yang tidak begitu rapi dan selalu diganggu oleh deruman suara pesawat terbang yang meninggalkan dan akan mendarat di Bandara Tabing, tidak membuatnya berhenti untuk menulis.
Berbagai keunikan dan keistimewa­an yang dimiliki oleh Imam Maulana Abdul Manaf tersebut, maka patut kiranya kita mengetahui riwayatnya.
Riwayat Ringkas
Imam Maulana Abdul Manaf dilahirkan pada 8 Agustus 1922 di kampung Batang Ka­bung, Koto Tangah, Padang. Buah hati pasangan suami istri Amin dan Aminah ini merupakan seorang sosok yang me­miliki semangat dalam menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Hal ini terlihat dari riwayat pendidikannya. Putra Minangkabau yang bersuku Mansiang ini sudah banyak melanglang buana dalam me­nempuh pendidikan, baik pendidikan nonformal maupun formal.
Pertama kali belajar mengaji kepa­da seorang guru perempuan yang ber­nama Sari Makah di Muaro Panjalinan. Saat usianya delapan tahun memasuki sekolah rakyat di Muaro Panjalinan. Setelah tamat, diteruskan ke Sekolah Guvernamen di Tabing pada tahun 1935. Kegembiraan karena bisa me­lanjutkan ke Sekolah Guvernamen ti­dak bisa dia rasakan sepenuhnya. Perasaan duka menyelimuti hatinya karena guru mengajinya meninggal du­nia. Akan tetapi, untuk belajar mengaji tidak lantas ditinggalkan kerena gu­runya meninggal. Fakih Lutan di Batang Kabung merupakan guru mengaji selanjutnya. Menginjak usia empat be­las tahun dia mengaji kitab di Surau Pasiban kepada Hajar Majid, orang Pa­uah Kamba. Setahun kemudian mema­suki tarekat syatariah kepada Syekh Pasiban. Usia yang cukup muda bagi seorangyang memasuki ajaran tarekat.
Menginjak usia delapan belas tahun dia pulang dan berkumpul dengan kaumnya di Batang Kabung. Keali­mannya sudah dikenal oleh banyak orang saat itu. Sehingga pada bulan Ramadan sering diminta menjadi imam salat Tarawih di Batang Kabung dan sekitarnya seperti Pasir Sebelah dan Koto Panjang.
Belum cukup tiga tahun, dia kembali meninggalkan kampung ha­laman untuk menuntut ilmu. Bertepat­an dengan kekalahan Belanda oleh Je­pang pada tahun 1942, dia pergi ke Koto Baru, Padang Panjang, untuk ber­guru kepada Syekh Ibrahim. Di sinilah Imam Maulana Abdul Manaf banyak merekam sejarah ten­tang kejamnya pemerintahan Jepang saat itu. Dia melihat secara lang­sung, mulai dari kerja paksa hingga pembantaian massal rakyat pribumi yang dilakukan oleh Jepang.
Setahun kemudian, yakni pada ta­hun 1943, Imam Maulana Abdul Manaf kembali ke kampung halaman. Kemudian penduduk Batang Kabung mengangkatnya sebagai kha­tib. Setelah dilaksanakan ritual khusus oleh masyarakat Batang Kabung, maka resmilah Imam Maulana Abdul Manaf menjadi seorang khatib dengan gelar Khatib Mangkuto.
Sebagai seorang khatib, Imam Maulana Abdul Manaf mempunyai tanggung jawab kepada kaumnya untuk urusan keagamaan. Setiap ada persoalaan muncul, ia adalah orang tempat bertanya. Imam Maulana Abdul Manaf merupakan orang yang bertanggung ja­wab dalam mengemban tugasnya serta berkomitmen pada ajarannya. Contoh kasus, ketika bangsa ini baru merdeka, Peme­rintah Republik Indonesia mengan­jurkan agar setiap penduduk masuk partai. Jika tidak masuk partai, maka akan disebut orang tualang, orang le­pas. Dalam situasi seperti itu, Imam Maulana Abdul Manaf menyampaikan kepada kaum­nya agar jangan salah untuk memilih partai. Dia menganjurkan agar ka­umnya memasuki partai Islam. Kasus lain, ketika ada anjuran pemerintah a­gar pidato Jumat menggunakan bahasa Indonesia, dia dengan maksud untuk mempertahankan ajarannya, yakni pidato Jumat menggunakan ba­hasa Arab, menemui petinggi peme­rintah di Padang untuk jangan memak­sakan hal-hal yang berkenaan dengan urusan ibadah. Usahanya ini berhasil. Hingga akhir hayatnya, dia masih men­jadi tempat untuk bertanya bagi kaum­nya. Pada tahun 2006, Imam Maulana Abdul Manaf meninggal dunia. Kepergiannya, meninggalkan puluhan naskah dan manuskirip, yang jadi sumber ilmu bagi orang lain.*
Pernah dimuat di Majalah Analisis dan Pemikiran SAGA, Nomor 3 Agustu 2002


Tidak ada komentar:

Posting Komentar