Selasa, 16 Juli 2013

REVITALISASI SONGKET MINANGKABAU: Menenun Harapan di Helai-helai Benang

OLEH Nasrul Azwar 
Bernhart Bart dan Erika Dubler
Pada tahun 1977-1978, selama 6 bulan, Bernhard Bart bersama isterinya, Erika Dubler, berkeliling Indonesia. Berdua menjelajahi daerah Bohorok di Sumatra Utara sampai Amboina di Mateng. Beberapa hari di Sumatra Barat, mereka menyinggahi Kota Bukittinggi dan Ngarai Sianok dan Koto Gadang di Kabupaten Agam. Perjalanan diteruskan melewati Danau Singgarak dan Solok terus ke Padang. Tentu, perjalanan selama setengah tahun itu, terasa sangat menyenangkan.


Enam tahun kemudian, tepatnya tahun 1994, mereka datang lagi ke Indonesia. Waktu itu, mereka melakukan perjalanan dengan menaiki kapal kargo dari Amboina ke Dili. Tujuannya untuk menikmati keindahan alam tanah Kei, Tanimbar, Kisar, dan Dili. Dari pelabuhan Dili, dilanjutkan dengan naik bis dan singgah di kampung-kampung di Provinsi Timor-Timur (setelah melepaskan diri dari Indonesia sebagai konsekuensi referendum tahun 1999, namanya menjadi Republik Timor Leste-Red) menuju Kupang. Kemudian, dari Kupang ke Surabaya untuk mengunjungi peninggalan sejarah berupa candi-candi dan prasasti di Jawa Timur.
“Semuanya sangat mengesankan saya, dan itu pula yang “memaksa” saya untuk datang  lagi ke Indonesia,” katanya.
Jatuh Cinta kepada Songket Minangkabau
Tahun 1996 merupakan awal ketertarikannya pada songket lama Minangkabau. Ini untuk kedua kalinya dia menginjakkan kakinya di ranah Minang. Lalu dia mengunjungi Museum Adityawarman Provinsi Sumatra Barat di Padang. Museum ini memiliki koleksi kain songket tradisi Minangkabau dari beberapa tempat tenun yang dulu masih "aktif" di Minangkabau. Seperti, antara lain motif “Basa Hitam” dari Tanjung Sungayang dan kain tenun Nagari Kota Gadang. Selain mengoleksi kain songket tradisi Minangkabau, museum ini juga memiliki koleksi songket komersial yang sekarang masih ditenun masyarakat Pandai Sikek, Kubang, dan Silungkang.
Dia terpesona memandang kain songket “Basa Hitam” yang dihiasi corak dan motif penuh dengan nilai kearifan adat Minangkabau. Dalam pukauan motif-motif songket itu, hatinya bergetar sembari berucap, “Saya harus menemukan lebih banyak corak-motif lama songket Minangkabau, jika  tidak, semua akan hilang. Saya harus mengetahui teknik, corak, dan makna corak ini.”
Di ranah Minang, di sela-sela memperdalam belajar bahasa Indonesia, dia pun mengunjugi tempat pariwisata di Sumatra Barat dan sentra-sentra industri rakyat. Di sini, dia bertemu dengan menyarakat yang mahir dalam kerajinan tangan, seperti pengukir kayu (di Nagari Pandai Sikek), tukang besi dan perunggu (Sungai Puar), pandai sapu (Silungkang), dan penenun-penenun songket di Kubang, Koto nan Gadang, Silungkang, dan Pandai Sikek.
Dari sinilah semua mulai bergerak. Gagasan dan ide yang berkelebat di pikirannya jadi pemicu untuk melakukan sebuah pekerjaan: penelitian. Perjalanan ke ranah Minang tampaknya tidak sia-sia. Dia jatuh cinta kepada kain songket Minangkabau lama yang mempunyai corak yang luar biasa rumit (Koto Gadang) dan "Basa Hitam" yang masih ditenun Hj Rohani di Tanjung Sungayang dengan teknik yang benar, yaitu sisinya kain dibalik, yang bagus ke bawah. Galibnya corak lama songket Minangkabau ’tempo dahoeloe’ memang ditenun dengan teknik seperti ini.  Dalam beberapa buku tentang peneltian songket Minangkabau, disebutkan Hj Rohani satu-satunya penenun di ranah Minang yang masih menenun berupa kain “Basa Hitam” yang belum dimodifikasi untuk pasaran.
Sebelum mencecahkan kakinya di ranah Minang, dia mengaku sudah lama menyenangi karya-karya seni tenun tradisi. Di berbagai tempat di negara-negara Asia, dia melihat orang menenun dengan bermacam-macam teknik. Dari perjalanan panjang itu, dia meraup banyak pengalaman dan membuka matanya. Di titik itu pula, dia dapat membandingkan seni tenun songket Minangkabau dengan kain songket dari negara-nagara lainnya, seperti India, Thailand, dan Laos.
Pengalaman, jelas, jadi guru yang baik baginya. Petualangannya ke perbagai negara di Asia, mempertegas keyakinannya bahwa songket Minangkabau memiliki keunikan dan penuh makna. Setiap corak yang ada dalam karya songket Minangkabau mengemban demikian banyak makna filosofis tentang ajaran dan nilai kehidupan manusia.
“Kekuatan kultural masyarakat Minangkabau bersemayam di bentangan kain songket hasil tenunan anak nagari Minangkabau. Sedangkan di daerah lain dan juga di negara-negara lain, corak songket hanya sebagai ornamen ataupun hiasan saja. Inilah yang menguatkan diri saya untuk menjatuhkan pilihan pada songket Minangkabau,”  katanya.
Setelah mengenal lebih dekat kain songket “Basa Hitam” Tanjung Sungayang, Bernhard Bart pun ingin menemui penenunnya. Karena demikian terpukau keindahan kain tenun ini, dia sangat berminat mengenal lebih jauh sosok yang melahirkan kain tenun tradisi Minangkabau nan langka itu. Dalam tradisi Minangkabau, kain songket Basa Hitam yang digunakan untuk tangkuluak (penutup kepala) oleh perempuan dan selendang oleh laki-laki (penghulu).
Penelusuran informasi dilakukan. Beberapa sumber yang dekat dengan historis kain songket itu, dia temui. Dari perjalanan itu, dia dapat membandingkan beragam alat tenun, cara menenun (teknik) maupun corak. Pengalaman itu sangat membantunya memahami tenun yang dibuat dengan kepiawaian dan ketelatenan tangan para penenun. Dan akhirnya, tahun 1996, dia bertemu dengan Hj. Rohani yang berusia 76 tahun di Nagari Tanjung Sungayang, Kabupaten Tanahdatar, Sumatra Barat, lebih kurang 120 km dari Kota Padang. Saat itu—cerita Hj Rohani pada Bernhard Bart—dia belajar menenun kain songket khas “Basa Hitam” pada tahun 1965  secara otodidak saat usianya sudah 45 tahun. Ibunya, yang juga seorang penenun yang piawai, meninggal saat Hj Rohani belum menjelang usia dewasa. Dari penuturan Hj Rohani, dia tidak bisa belajar seni tenun semenjak kecil karena kondisi negara Indonesia saat itu masih dalam pendudukan Jepang dan situasi ekonomi yang belum stabil. Hj Rohani, ketika itu, memiliki sebuah alat yang masih berfungsi dan sehelai kain songket “Basa Hitam”. Kain songket yang dikoleksi Museum Adityawarman Provinsi Sumatra Barat—yang menyihir Bart itu—merupakan hasil tenunan replika karya Hj. Rohani.
“Banyak motif-motif songket Minangkabau yang menarik perhatian saya. Dan uniknya, hampir di setiap nagari memiliki daya tarik tersendiri. Kain Koto Gadang misalnya, memiliki motif-motif berukuran besar, kain Pitalah memiliki banyak variasi dalam satu kain, atau kain ikek dari Solok misalnya yang juga menggunakan teknik  tapestry weaving dalam kain ikeknya,” jelasnya.
“Karena saya sudah lama menyukai kain yang ditenun dengan tangan dan selalu singgah di tempat tenun diberbagai negara Asia, tentu saya memiliki pengalaman yang berbeda-beda dari setiap tempat yang disinggahi. Misalnya, di India ada teknik tenun seperti ikat, ikat dobel (patola), songket, tapis, dan sebagainya. Ada juga teknik hiasan kain seperti sulaman, batik, dan  plangi. Penenun dari kota Mandalay di Myanmar terkenal dengan tenenun kain yang amat halus dengan menggunakan teknik “tapestry weaving”,” tutur Bernhard Bart. 
Perjalanan panjang dan kecintaannya pada kain songket, bukan saja memberi pengalaman batin yang luar biasa, tapi juga menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Dia khawatir, seni menenun kain songket tradisi akan lenyap di tengah-tengah masyarakat Minang khususnya, dan di Nusantara umumnya. Kondisi dan situasi yang tidak kondusif dan perhatian pemerintah yang minim, keberadaan kain tenun songket terancam punah.
Dia memperkirakan kesulitan yang dialami Hj Rohani di Tanjung Sunggayang persis terjadi di semua tempat tenun yang dulu ada di nagari-nagari di Sumatra Barat, seperti di Nagari Pitalah, Nagari Padang Magek, Solok, Muara Labuh. Selain itu, krisis ekonomi dan pendudukan Jepang juga menjadi faktor yang menyebabkan terhentinya perkembangan songket lama Minangkabau.
Setelah tahun 1942, banyak peralatan tenun dan bahan tenun tidak dirawat dan dijaga pemiliknya. Hal ini juga menjadi penyebab semakin berkurangnya seni tradisi menenun di Minangkabau, dan juga di tempat-tempat lain.
Kondisi seperti ini, menurutnya, juga terjadi di Nagari Kubang. Imbas dari krisis moneter yang melanda negara Indonesia pada tahun 1997-1998, banyak penenun yang tidak mampu menjalankan alat tenunnya, dan tidak sedikit alat tenun itu yang dipindahkan pemiliknya ke luar rumah hingga kayunya lapuk dan suri besinya berkarat.
“Lalu, siapa akan melanjutkan tradisi menenun ini tanpa memiliki alat tenun, dan juga tanpa mengetahui motif, teknik, dan bahan? Kecuali jika ada bantuan modal dari pemerintah daerah. Akan tetapi, apakah pemodal atau pemerintah mengetahui seluk-beluk tentang adat, motif, teknik, dan sebagainya yang berkaitan seni tenun khas Minangkabau? Kondisi seperti ini terjadi di Pandai Sikek dan Silungkang. Yang kita temukan hilangnya spirit Minangkabau dalam motif tenunan itu,” jelasnya.
Dia menduga, inilah yang menyebabkan hilang atau sulitnya menemukan teknik, peralatan tenun, dan corak tenun di Minangkabau saat sekarang ini.  Kecemasannya sangat masuk akal. Buktinya, pada tahun 1996 di ranah Minang, dia hanya menemukan Hj Rohani, penenun satu-satunya di ranah Minang yang masih menenun dengan cara yang benar, yakni bagian kain yang bagus menghadap ke bawah, dan bagian belakang kain menghadap ke atas.
“Kain “Basa Hitam” Hj Rohani dan sebuah kain dari Kota Gadang, di Museum Adhityawarman yang ditenun dengan corak yang amat rumit yang membuat saya sangat terkesan. Sebenarnya, kedua kain itulah “induk” penelitian saya,” katanya. 
Bernhard Bart mendeskripsikan, teknik pengerjaan tenun dalam tradisi Minangkabau, menenun dengan cara terbalik memang sesuatu yang lazim dikerjakan oleh penenun-penenun masa lalu di nagari-nagari Minangkabau. Jika bagian belakang kain menghadap ke atas, tentu penenun dapat mengontrol bagian belakang yang biasanya terabaikan, sehingga kedua sisi kain tenun yang dihasilkan menjadi sangat rapi.
Sementara pada masa kini, para penenun di ranah Minang bertenun dengan cara sebaliknya: sisi depan menghadap ke atas, dan sisi belakang menghadap ke bawah, sehingga penenun hanya mengontrol sisi depan dan mengabaikan bahagian belakang kain. Hj Rohani mampu menenun kain dengan corak “Basa Hitam” dengan cara yang sangat tepat, yakni sisi belakang menghadap ke atas dan sisi depan menghadap ke bawah. Dengan cara terbalik ini, penenun dapat mengontrol kerapian kerja, apa lagi sat penenun motif bertabur sambungan benang makau bisa dikerjakan dengan lebih rapi, dan hasil tenun songket bertabur menjadi bagus dan indah. Inilah kelebihannya menenun dengan cara terbalik. 
Selain minimnya kepedulian berbagai pihak terhadap kekayaan tenunan songket Minangkabau, juga yang menjadi persoalan serius adalah tidak tersedianya bahan dasar yang berkualitas untuk menenun. Menurut Bernhard Bart, untuk membuat songket yang berkualitas seperti yang pernah ditenun oleh penenun masa lalu, diperlukan bahan yang berkualitas, baik katun, sutra atau pun benang emas untuk motif. Sementara bahan yang tersedia di Indonesia sangat terbatas. Misalnya, untuk bahan tenun berupa benang sutra, sangat sulit mendapatkan yang bermutu. Sutra yang beredar di pasar Indonesia saat ini adalah produk yang diimpor dari Cina dengan mutu yang sangat rendah (potong-potongan sutra yang dipintal, bukan sutra ulat yang dihasilkan langsung dari kokon). Begitu juga benang emas atau benang makau yang dipakai penenun di Sumatra Barat saat ini hanya ada satu pilihan kualitas. Benang makau yang dijual di Indonesia termasuk kualitas rendah, terlalu tebal, berat, dan warna emas sangat mudah luntur.
Memang, beberapa tahun yang lalu, kesulitan mendapatkan sutra yang bagus mulai terjawab. Ada harapan bahwa perkebunan murbei di Sumatra Barat dan Sumatra Utara akan mampu memproduksi sutra dengan kualitas cukup baik tetapi saat ini tidak jelas lagi nasib perkebunan itu.  Sutra yang dihasilkan perkebunan itu, misalnya yang di Payakumbuh atau pun yang di Kota Nopan, kini hanya sebatas industri hulu dan bahan baku itu diekspor ke negara lain untuk pemrosesan lebih lanjut.  Tampaknya ada kendala peralatan dan teknologi.
Maka, untuk mengatasi masalah sulitnnya mendapat bahan yang berkualitas, Bernhard Bart membuka jaringan dengan produsen benang makau yang bermutu di negara lain. Baginya, ini merupakan salah satu langkah untuk mengatasi masalah pengadaan bahan berkualitas.
Menapak Jalan Panjang Tenun Minangkabau
Songket Minang meraih perhargaan dari UNESCO
Latar pendidikan Bernhard Bart memang bukan berangkat untuk mendalami tenun songket, keahliannya di bidang arsitektur. Akan tetapi, karena kegemarannya berkeliling dunia dan berkunjung ke situs-situs sejarah dan sentra-sentra kerajinan rakyat di pelosok Nusantara ini—terutama kerajinan menenun—“memaksa” dirinya sejenak meninggalkan dunia arsitektur. 
Bernhard menyadari, sepintas, tampaknya, hasil seni tenun dan arsitektur jauh berbeda, tetapi pada sisi cara bekerjanya hampir sama. Seorang arsitek, kantanya, harus tahu tentang statik, teknik atau fungsi listrik, air, saluran, mutu bahan bangunan, aturan pemerintah, pengaruh warna kepada orang, mencari solusi yang harmonis di antara lingkungan, gedung, dan masyarakat yang tinggal/bekerja di dalam gedung itu.
“Saya hanya bisa berhasil dengan baik, kalau saya mendapat sebuah solusi yang optimal (tak pernah mungkin maksimal, selalu ada kompromi) bersama orang yang ingin membangun gedung. Hampir sama dengan seni tenun. Saya harus tahu fungsi alat tenun, seperti ATBM, alat tenun gedogang, sistem dobi, pelengkapan atau penambahan alat tenun (karok, sisir, turak, dan lain-lain), teknik tenun (ikat, songket, tapestry weaving dan lain-lain), mutu bahan (sutra ulat, katun, rami, polyester, benang makau, dan lain-lain),” paparnya.
Selain yang bersifat teknis tadi, tambahnya, kita harus memahami dengan baik sisi filosofi Minangkabau yang sangat berkait dengan adatnya. Kain songket ditenun sesuai dengan aturan fungsi dan tujuan penggunaannya (deta, selendang, sarung, ikek pinggang, dan lain-lain). Juga, ada corak yang spesifik atau unik dalam kain songket, misalnya, corak kepala kain ("tumpal-dobel", pucuak-rabuang timba baliak) hanya untuk selembar sarung, tak pernah untuk selendang. Semua ini harus diteliti/diperiksa sebelum menggambar kain songket Minangkabau dengan corak lama, yang nanti ditenun dengan tehnik yang dipakai penenun-penenun Minangkabau ratusan tahun sebelum masa kini. Semua memiliki kandungan filosofi.
Di ranah Minang, Bernhard Bart sungguh-sungguh menekuni seni menenun kain songket. Telah berpuluh kali Bernhard pulang-balik Swiss-ranah Minang dan dilanjutkan menelusuran ke sentra kerajinan tenun di nagari-nagari di Minangkabau. Semua dilakukannya tanpa ada dukungan dana dari sponsor.
“Saya tidak didukung oleh sponsor. Semuanya menggunakan dana saya sendiri. Tapi,  di ranah Minang, saya banyak dibantu teman-teman, terutama keluarga Nina-Alda. Dan semua itu sangat besar artinya bagi saya. Namun, sampai sekarang saya tidak ingin mencari perhatian pemerintah, karena kerja ini seperti hobi pada waktu saya libur di Sumatra Barat,” katanya.
Di Swiss, kata Bernhard, dia didukung Professor Wolfgang Marschall jurusan ilmu bangsa-bangsa di Universität Bern dan beberapa orang kurator di museum-museum di Swiss yang mempunyai barang kuno dari Indonesia.
Kini, Bernhard Bart telah menikmati hasil jerih payahnya. Paling tidak, untuk saat kini, lebih 1000 corak songket Minang telah dikembangkannya, dari yang paling sederhana (hanya 2 baris yang berbeda) sampai corak yang sangat rumit dengan 110 baris dan lebar sampai 260 “gigi” sisir tenun. Katanya, yang sebesar 260 “gigi” hanya ditemukan di dalam kain songket Koto Gadang yang sangat khas.
“Kain songket lama Koto Gadang yang paling halus di dunia sebagai hasil tenunan tangan. Di India Selatan,  penenun juga menyongket kain “sari” (pakaian perempuan India) juga lebih halus, tetapi dengan mengunakan sistem “jaquard“. Penenun tidak mencukie sendiri, corak langsung digambar dengan bantuan teknologi komputer,” ujarnya.
“Karena saya ingin membuat replika songket Minangkabau lama (tradisi), maka saya tidak harus memodifikasi corak “tempo doeloe“ ini secara keseluruhan. Karena ada corak yang dibuat di atas ukiran bukan dalam tenunan. Tapi ada beberapa corak ukiran yang telah saya modifikasi untuk corak tenunan. Misalnya, corak “daun sirih gadang”. Saya ingin mengatakan, tidak semua corak ukiran di Minangkabau bisa dimodifikasi dalam corak tenunan songket. Banyak gambar ukiran tidak cocok untuk tenunan. Yang jelas, teknik tenun dan teknik ukiran jauh berbeda. Ada aturan dan pola yang lebih rumit dan detail untuk memindahkan corak ukiran, seperti corak ukiran “daun sirih gadang“ ke dalam corak tenunan songket.”
Menyangkut pengembangan teknik bertenun yang benar, Bernhard Bart berpendapat, teknik bertenun yang dipakai oleh penenun di Sumatra Barat saat ini bisa disempurkan dengan memodifikasi peralatan.
“Saya telah mencoba mendesain sendiri alat tenun yang bisa dipergunakan oleh penenun di Sumatra Barat, dan membuatnya dengan bantuan seorang tukang kayu yang cukup ahli. Beberapa alat tenun telah saya buat dan alat itu pun kini telah menghasilkan beberapa lembar replika kain songket lama. Sekarang, saya sudah punya mesin tenun sesuai dengan desain saya, dan juga mesin untuk menggintir benang dari sutra tunggal yang cukup kuat untuk losen dan pakan.”
Pada awal penelitiannya, Bernhard Bart sudah mempunyai rencana untuk menghidupkan kembali corak lama songket Minangkabau. Jika tidak dilakukan semenjak sekarang, kekhawatiran punahnya tradisi menenun motif lama Minang akan terbukti. Dia melihat, kain tenun songket yang beredar di Sumatra Barat saat ini, motif-motifnya terasa membosankan karena sudah masuk dalam industri yang massif. Tidak ada perkembangan corak lagi. Komposisi kain tetap (statis), selalu sama: pinggir kiri-kanan lebar, di antaranya banyak pengulangan baris bercorak kecil. Tentu tidak jadi masalah jika dipakai untuk sarung atau selendang, karena pinggirnya harus sama lebar. Yang divariasikan dan selalu dikembangkan pada kain songket di pasaran saat ini adalah kain dengan warna yang kerap menggunakan warna tren pada masa kini. Hampir tidak terlihat warna yang menjadi tradisi Minangkabau, misalnya merah terang, merah hati, biru tua (indigo), kuning, coklat, dan lain sebagainya. Banyak hal harus diteliti lebih dulu untuk menenun kain songket seperti yang ditenun 100 tahun yang lalu.
“Untuk mengembangkan lebih jauh teknik menenun secara benar, saya mengunjungi tempat tenun dan berbicara dengan penenun, pandai sisir, pandai karok, dan pencelup. Dari situ, kemudian saya mengetahui tentang teknik tenun, warna, alat, dan sebagainya. Karena saya sudah singgah belasan tempat berada di beberapa negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, saya dapat membandingkan kelebihan dan kekurangan masing-masing tempat yang saya kunjungi itu. Saya mencoba mengintroduksikan cara simpan baris motif dengan karok motif. Ini lebih efisien untuk corak yang rumit dan besar, namun tidak efisien untuk corak sederhana. Motif sederhana mungkin cukup dengan menyimpan baris motif di bagian belakang alat tenun dengan menggunakan lidi. Tetapi untuk motif dengan baris motif  yang banyak, perlu sistem yang lebih efektif dengan menggunakan karok motif,” tutur Bernhard Bart.
Katanya, cara simpan motif ke dalam karok motif sudah lama terkenal di bagian utara negara Thailand. Tetapi untuk menenun kain songket Minangkabau, sistem ini harus disesuaikan dengan kondisi di Sumatra Barat karena corak yang ditenun di Thailand kurang rumit dan teknik tenun juga berbeda dengan yang ada yang di Sumatra Barat. 
Untuk itu pula, agar program yang dilakukan Bernhard Bart berkelanjutan dan teknik penenun yang  dikembangkannya dapat berjalan baik, maka dia mencoba “membina” penenun untuk mentransformasikan penemuannya. Sementara, kata Barnhard Bart,  saat sekarang hanya dua tempat saja yang mampu dibina. Dan prospeknya belum bisa diprediksi dengan pasti. “Tapi saya tetap berusaha, walaupun selalu ada kendala dalam masalah tranformasi teknologi. Namun saya tetap berupaya menemukan solusi terbaik.”
Memang, pada masa lalu kerajinan tangan masih hidup dan menjadi bagian aktivitas sehari-hari, termasuk kerajinan tenun songket yang saat itu bukanlah benda langka. Peneliti pada masa itu mungkin bisa mengoleksi tenun songket dengan mudah dan tidak perlu ada revitalisasi karena semua tumbuh berkembang dengan baik. Tenun songket bukan benda langka yang perlu direvitalisasi.
Penelitian di masa kini yang diikuti dengan gagasan revitalisasi muncul disebabkan benda yang menjadi obyek penelitian menjadi langka. Pendataan dan inventarisasi serta membukukannya, apalagi jika ada upaya untuk menghadirkannya kembali, ini tentu lebih empatis.
Melangkah di Ketiak Globalisasi
Motif-motif songket Minangkabau penuh dengan nilai-nilai filosofis dan semuanya bermuara pada kerangka alam takambang jadi guru dalam tradisi dialektika kultural Minangkabau. Motif-motif songket Minangkabau merupakan representasi pola berpikir dan bersikap dari alam takambang jadi guru itu. Motif-motif songket Minangkabau umumnya merupakan simbol-simbol alam. Agaknya ini sebuah pencatatan dari ajaran-ajaran filosofi Minangkabau.
Namun demikian, saat sekarang, songket Minangkabau yang beredar dan membanjiri sentra dan toko-toko sovenir di pasaran, dapat disebut wajah dari kekuatan kapitalisme dan bisnis. Songket itu hadir tanpa filosofis dan makna yang mendalam. Dasar pemikiran hadirnya adalah untung rugi. Keperkasaan pasar terus berlangsung demikian dasyatnya. Akibatnya, ia melenyapkan songket-songket tradisi di Minangkabau (Sumatra Barat) dan juga mungkin di berbagai negara-negara di dunia ini.  Dan ini jelas tantangan yang sangat berat.
Melihat problem itu, Bernhard Bart mengatakan, perlu langkah konkret dan upaya bersama untuk mempengaruhi selera pasar dengan menawarkan rasa bangga terhadap budaya yang diwarisi dari nenek moyang. Alangkah baiknya jika rasa bangga ini menjadi tren. Walau Bernhard Bart tidak yakin sepenuhnya berhasil, tapi setidaknya, katanya, dapat menularkan rasa bangga memiliki karya tenun songket yang berkualitas.
Lebih jauh Bernhard Bart memaparkan, globalisasi yang berpengaruh terhadap perkembangan budaya-budaya dunia adalah satu hal. Keinginan untuk menghidupkan kembali motif-motif lama songket Minangkabau adalah hal lain. Namun bukan berarti keduanya saling berhadapan atau berbenturan. Keduanya bisa menjadi arus yang berjalan searah. Sekarang, masalahnya adalah bagaimana membuat relevansi arus deras globalisasi dengan arus revitalisasi budaya lokal. Sehingga sederas apapun arus globalisasi, ia tetap membawa identitas budaya lokal. “Yang saya baca dalam hal ini adalah Minangkabau tidak melawan arus atau pun terbawa arus, melainkan bisa mengikuti arus atau menunggangi arus.
Tentu, paling tidak—dari perjalanan merevitalisasi songket lama Minangkabau—memicu kesadaran agar sentra-sentra tenun di Sumatra Barat termotivasi untuk merevitalisasi motif lama dan mempertahankannya bahkan meningkatkan kualitas produksi songket Minangkabau seperti yang pernah dikerjakan oleh penenun-penenun terdahulu.
“Mungkin penelitian saya berakhir dalam waktu satu atau dua tahun lagi. Tetapi saya perpikir, kesinambungan, pengembangan dan revitalisasi songket tradisi Minangkabau harus dilakukan terus menerus. Saya kira ini dapat dilakukan dengan baik, sebab sudah banyak orang yang dilatih dan mampu menggunakan teknik, alat, dan corak yang dikembangkan itu. Dan kita berharap semuanya berjalan dengan baik. Pembinaan dan persiapan yang telah dilakukan saat ini antara lain membina beberapa penenun di beberapa sentra tenun untuk bekerja sama mereproduksi songket lama Minangkabau. Dan kegiatan ini telah menghasilkan beberapa helai kain songket: selendang/tangkuluak, sisamping, sarung (gaya Koto Gadang), dalamak dan ikek pinggang.
Kontemplasi
Salah satu kekayaan tradisi di Minangkabau adalah corak tenun songket. Beragam rupa corak songket berkembang dengan baik di tengah masyarakat tradisi Minangkabau. Beberapa nagari di Minangkabau memiliki kekayaan corak dan rupa songket dan merupakan karya seni yang sangat kaya kadar filosofi, ajaran, dan nilai-nilai kehidupan.
Beberapa peneliti (Jaspers, 1912) pada masa lalu pernah mencatat, sekitar 90 lebih ragam corak pada kain songket lama Minangkabau telah muncul di ranah Minang. Namun, saat ini, corak-corak tersebut sudah jarang ditemui. Kalau pun ada, hanya sebagian saja dan terbatas pada corak-corak sederhana. Itu pun sudah dimodifikasi sesuai dengan kehendak pasar dan massif. Bentuk dan coraknya tidak berkembang. Sementara, beberapa corak lainnya hampir hilang terkubur oleh zaman, bahkan tidak dikenal lagi oleh para penenun masa kini.
Corak songket Minangkabau yang telah langka (bahkan nyaris punah) itu, kini direvilatisasi oleh Bernhard Bart, 59 tahun, seorang arsitek berkebangsaan Swiss. Dia 10 tahun terakhir sangat intens meneliti corak-corak songket lama Minangkabau.
Apa yang telah dilakukan Bernhard Bart memang menakjubkan. Beberapa corak songket lama Minangkabau yang pernah berkembang dan menjadi simbol-simbol kultural Minangkabau yang penuh ajaran dan nilai kearifan itu, kini telah berhasil dikembangkan, direvitalisasi, dan direplika. Tapi, mengapa orang lain yang peduli?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar