Jumat, 12 Juli 2013

Teater Sumatera Barat yang “Murtad”

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Teater Indonesia

Foto Iggoy el Fitra
Sejarah seni teater di Sumatera Barat, di sini, tak dikesankan dalam pembicaraan dikotomik: teater tradisi (cerita) randai dan modern. Tradisi dinilai usang, monoton, dan membosankan. Modern dianggap hidup, dinamis, dan menyenangkan.

Pembicaraan di sini lebih mementingkan tentang saling keterkaitan yang integral antara seni tradisi (bercerita) randai Minangkabau dengan teater modern, yang mulai berkembang di Sumatera  Barat pada awal tahun 60-an. Dan keberpalingan kelompok-kelompok teater terhadap spirit dan nilai-nilai tradisi itu.    


Tradisi dan kekayaan sastra lisan Minangkabau dengan berbagai ragam dan variasi, jelas merupakan modal kultural bagi pegiat teater, dan juga seni-seni lainnya. Tapi, tak dimanfaatkan maksimal sebagai spirit dan inspirasi. Teater hadir seperti identitas yang asing di belantara carut marutnya masalah kebudayaan kita. Teater bukan lagi sebuah “perjalanan” panjang yang melekat pada kehidupan manusia, tapi seperti “follower” yang setiap saat bisa saja di-“unfoll0w” lagi. Sangat instan.

Perjalanan kesenian masa depan, adalah seni yang mampu menjelaskan identitas kulturalnya, seni yang menanamkan sebelah kakinya pada spirit tradisi yang tumbuh bersama dengan sejarahnya. Jika teater di Sumatera Barat tak melihat tradisinya, maka ia dengan sadar menafikan “tubuh” teater itu sendiri.  Bukankah keengganan dan berpaling pada tradisi itu, sebuah kemurtadan?
Dari pembacaan dan data-data yang saya kumpulkan (wawancara dan pengumpulan buku-buku acara pertunjukan teater yang pernah dilakukan di Sumatera  Barat), semenjak era 70-an sampai dengan 2012 ini, nyaris semua kelompok teater secara inheren tak bisa dilepaskan dari seni tradisi bakaba: baik secara konsepsi maupun garapan di atas panggung, maupun ceritanya, kendati hanya menyentuh kulitnya saja.

Berbagai kelompok teater yang ada di Sumatera Barat telah pernah mencoba memadukan bentuk fisik dari cerita bakaba dan mengawinkannya dengan hakikat teater modern.  Kelompok-kelompok teater yang dipimpin BHR Tanjung dan Nazif Basir, Bumi Teater pimpinan Wisran Hadi, Teater Padang (Hardian Radjab), Teater Dayung-dayung (A Alin De), dan Teater Noktah (Syuhendri), Komunitas Hitam-Putih  (Yusril Katil), Teater Eksperimental Fakultas Sastra Unand (Prel T),  Teater Imaji (M Ibrahim Ilyas), Old Track Teater (Rizal Tanjung), Teater Kamus (Muslim Noer), Teater Ranah (S Metron M), dan sederet kelompok teater lainnya yang lahir selepas tahun 2000-an, adalah kelompok teater modern yang hadir di Sumatera  Barat, yang sebagian besar menyusun konsepsi dan garapan pertunjukannya berdasarkan perkawinan cerita kaba dan randai tradisional dengan teater modern, tetapi tak maksimal dan setengah-setengah.

Dalam konteks seni tradisi masyarakat Minangkabau, bakaba, (bercerita)  merupakan salah satu jenis (genre) tradisi lisan yang bersifat lokal. Berkaba (bercerita) merupakan salah satu jenis sastra Minangkabau yang berisi cerita dan berbentuk prosa liris, kalimat kaba pendek-pendek, antara 8 sampai 12 suku kata dan diucapkan dalam dua penggalan atau caessure.
Beragam jenis bakaba yang berkembang di nagari-nagari di Minangkabau. Salah satunya seni pertunjukan randai yang yang selalu membawakan cerita kaba (kabar). Masing-masing nagari di Minangkabau punya kekhasan cerita randainya. Cerita kaba Sabai nan Aluih, Anggun Nan Tongga, sekadar mencontohkan, merupakan cerita rakyat dari etnis Minang yang sangat populer.

Hampir semua nagari-nagari di Minangkabau mengenal cerita ini. Nagari merupakan wilayah hukum adat yang otonom dan bentuk pemerintahan yang terkecil dalam struktur pemerintahan daerah di Sumatera  Barat.

Bentuk penyampaian kaba itu bermacam-macam. Salah satunya adalah randai. Randai adalah salah satu bentuk teater tradisional Minangkabau, yang sangat populer. Teater tradisi ini merupakan gabungan yang unik antara silat (martial art), tari (dance), cerita atau kaba (folk song), instrumen musik (instrumental music), dan akting (acting). Sedangkan teater modern adalah semua seni drama yang memakai naskah dialog untuk membedakannya dari seni drama tradisional yang mempunyai ikatan-ikatan tradisional pula dan tidak memakai naskah dialog karena dialognya dilakukan dengan improvisasi. 

Seni randai dan cerita yang dibawanya sebagai basis kreativitas bagi teater modern memang bukan hal baru. Kecenderungan serupa ini telah berlangsung lama. Namun demikian, pada batas ini, “kecelakaan” tafsir sering terjadi—seperti yang diungkapkan Ninuk Kleden—anggapan bahwa kebudayaan dapat berperan sebagai identitas etnik mempunyai konsekuensi teoritis yang mengharuskan orang memperlakukan kebudayaan sebagai “tanda”.

Sementara pemikiran tentang hubungan antara tanda (signified) dengan yang ditandai (signifier) telah mengalami perubahan. Kalau semula hubungan tersebut boleh dikatakan memiliki makna tunggal, kini tidak demikian lagi. Jadi, tafsiran tentang representasi identitas, dalam hal ini identitas etnik, bukan merupakan hubungan yang linear dan bukan merupakan hubungan yang final.

Tafsir yang direpsentasikan dengan sebutan pementasan teater kerap memiliki kecenderungan pengaktualisasian tematik dengan kondisi kekinian. Teks budaya (tradisi) yang mendasarinya menjadi pijakan dan landasan kreatif sutradara untuk merentangkan sebuah “historiografi” perjalanan masa, katakanlah, semenjak munculnya sebuah cerita dengan tradisi oral hingga ke tradisi tulis pada saat sekarang. Masa atau zaman yang panjang itu—terlihat mencengangkan—dapat
dimampatkan dalam satu kerangka panggung dengan durasi cerita yang singkat oleh sutradara teater.

Tafsir terhadap teks telah menjadi wilayah kuasa sutradara teater yang paling absolut. Pada wilayah teks budaya yang maha luas itu, sutradara merambah belantara ikon, simbol budaya, dan penanda sosial lainnya untuk diwujudkan dalam estimasi ruang dan waktu dalam satu frame panggung dengan pertanggungjawaban kreatif sutradara.

Tafsir terhadap representasi identitas etinik, taruhlah cerita atau kaba Sabai Nan Aluih, Anggun Nan Tongga, Malin Kundang, Cindua Mato, Puti Bungsu, dan cerita-cerita lainnya yang berasal dari etnis Minangkabau, yang pernah ditafsirkan di atas panggung teater modern, adalah tanda yang ditandai dengan memakai perangkat kekinian.

Kaba mengalami reaktualisasi, restorasi, dan panggung teater telah membentangkan “kaba” baru bagi audiensnya. Pertunjukan yang berangkat dari spirit kaba itu mengalami metamorfosis dan pengerucutan simbolisasi dengan menafikan kekuatan tradisi oral (lisan) budaya etnik Minangkabau. Bagi perjalanan seni (teater) kontemporer (modern), “kaba” baru itu bukankah bentuk inovasi dan kreativitas seni? Tentu saja.

Dalam catatan saya, tak banyak kelompok teater di Sumatera Barat yang berhasil mencapai hal seperti ini. Jika disebutkan, ada dua, yaitu Bumi Teater dengan Anggun Nan Tongga dan Cindua Mato, serta pertunjukan teater Perempuan itu Bernama Sabai, yang dipentaskan Teater Noktah Padang  pada 2005.

Memang, Sumatera Barat memiliki banyak kelompok teater, tapi nyaris tak punya “kekuatan” dan identitas yang khas, yang kelak membedakannya dengan yang lain. Identitas kelompok nyaris seragam.

Satu-dua kelompok teater bolehlah dikatakan punya “identitas” tersendiri. Sebutlah Komunitas Seni Hitam-Putih Padangpanjang dengan identitas tubuh dan minimalis daya ucap dalam setiap garapannya. Teater Noktah Padang, yang lima tahun belakang memokuskan diri pada naskah berlatar budaya dan spirit Minangkabau. Sementara Bumi Teater, semenjak kepergian Wisran Hadi, tampaknya Bumi Teater, sulit mencari pengganti Wisran Hadi.

Lalu, bagaimana dengan kelompok-kelompok teater lainnya itu? Jelas masih terkesan bauru-uru walau dalam kerangka yang positif, tentunya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar