Sabtu, 24 Agustus 2013

Wawancara dengan Gusrizal Gazahar, Kabid Fatwa MUI Sumbar



Maksiat Cermin Masyarakat Rusak
“Menjamurnya mak
Gusrizal Gazahar
asiat mencerminkan masyarakat yang sudah rusak. Kerusakan itu terjadi akibat kesalahan setiap elemen pemimpin negeri ini. Akibatnya, ketika masyarakat sudah menjadi bagian dari maksiat, maka, maksiat itu akan menjadi perbutan yang dinilai biasa,” kata Gusrizal Gazahar dalam wawancara dengan Rahmat Hidayat. Berikut petikan lengkap wawancara itu.
Apa yang Anda katakan terkait maraknya perbutan maksiat akhir-akhir ini di Ranah Minang?
Perbuatan maksiat mengundang murka Allah. Secara pribadi saya prihatin dengan bermunculannya beragam maksiat yang dilaporkan media massa akhir-akhir ini. Hal tersebut tentu mencederai perasaan kita sebagai orang Minang. Apalagi, Minang dikenal kental dengan nilai-nilai religius sejak dulu.  
Pada dasarnya, daerah Minangkabau merupakan daerah yang menguntungkan untuk melaksanakan dakwah Islam. Namun, kecepatan tumbuhnya kejahatan maksiat, tidak sebanding dengan kamampuan lembaga-lembaga dakwah untuk mengiringnya.

Menjamurnya makasiat mencerminkan masyarakat yang sudah rusak. Kerusakan itu terjadi akibat kesalahan setiap elemen negeri ini. Akibatnya, ketika masyarakat sudah menjadi bagian dari maksiat, maka, maksiat itu akan menjadi perbutan yang dinilai biasa.
Beberapa waktu yang lalu, negeri yang yang kita cintai ini dipermalukan dengan perbutan maksiat yang dilakukan seorang yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat, yaitu Kepala KUA Kayu Tanam. Kasus seperti ini menurut saya bukan menjadi yang terakhir, melainkan akan terus berkelanjutan, jika kita terus diam dengan keadaan yang ada.
Apa itu arti maksiat  dalam Islam?
Perbutan maksiat merupakan, prilaku yang dilakukan manusia yang keluar dari tuntunan-tuntunan agama. Sementara taubat merupakan merupakan satu-satunya jalan yang harus dilakukan. Allah berfirman dalam An-Nisaa’ ayat 17, yang artinya,   Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.   
Perberbuat maksiat dengan dapat dikatakan, apabila pelaku melakukan secara sadar, ataupun tidak sadar. Jika di katagorikan, perbutan maksiat terjadi dapat dibedakan menjadi tiga, Pertama  orang yang berbuat maksiat  kepada Allah baik dengan tidak sengaja. Kedua,  orang yang melakukan maksiat karena kurang kesadaran lantaran sangat marah, atau karena dorongan hawa nafsu. Ketiga, orang yang melakukan maksiat secara sengaja.
Dalam pandangan saya, kemaksiatan yang dilakukan secara sengaja, lebih dekat dengan realita kita sekarang. Pasalnya, kemaksiatan yang dilakukan secara tidak sengaja hanya dilakukan orang melakukan secara terpaksa, seperti melakukan kejahatan dibawah intimidasi. Tetapi, kemaksiatan yang terjadi karena dipelihara, terjadi akibat kesengajaan. Misalnya di Kota Padang. beragam kemaksiatan jelas-jelas sudah tampak di pelupuk mata. Namun, aktivitas tersebut dibiarkan saja. Jangankan pemerintah, masyarakat kota padang saja, sangat mengetahui di mana, tempat bersarangnya sarang maksiat.
Allah berfirman dalam surat An-Nisaa’ ayat 47,  Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang, atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku. Dalam ayat ini Allah menerangkan bagaimanan kaum yang melanggar hukum secara sengaja. Ayat ini mengingatkan kita, Jangan sampai kita dikutuki Allah karena membirakan maksiat tetap ada.
Lalu apa penyebab maraknya perilaku maksiat itu?
Tukang gambalo sadang takalok.” Saya lebih cenderung mengungkapkan perkataaan ini terkait keadaan pemimpin dan pemuka masyarakat kita saat ini. Jika sudah tukang gembala yang tertidur, maka gembalaan tentu akan kucar-kacir. Jika umat sudah kucar-kacir dan kehilangan keteladanan, tentu akan memicu munculnya maksiat.
Para penguasa lebih cenderung menggalakkan syiar-syiar agama melalui kegiatan-kegiatan seremonial, perlombaan, maupun seminar-seminar keagamaan. Memang hal tersebut tidak ada salahnya. Yang menjadi permasalahan, jika di satu sisi kita mensy’arkan agama, tetapi di lain sisi kita membirakan kemaksiatan. Hal tersebut tentu hal itu akan kontradiktif dengan perintah Allah. Padahal, kita di suruh untuk melakukan amar-ma’ruf nahi mungkar.
Allah berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Melalui ayat ini Allah memuji umat Islam melalui karekternya. Karakter umat Islam adalah berlemah lembut kepada sesama muslim, serta keras terhadap kemaksiatan.
Pada sisi lain, umat juga dibingungkan dengan keberadaan ormas-ormas Islam yang saling gontok-gontokan. Mereka mengklaim kelompok merekalah yang paling benar. Keadaan ini terus memperparah posisi kedaan umat. Para ulama hanya sibuk dengan diri organisasinya, sebahagian mereka lupa dengan tugas utamanya, untuk mengingatkan umat kepada jalan yang kebaikan. Oleh sebab itu,  Umat semakin kehilangan figur dan keteladanan.        
Apa yang harus dilakukan agar maksiat bisa dihapuskan di Ranah Minang?
Melihat kondisi demikian, posiisi umat berada pada pihak yang tidak diutungkan. Umat menjadi Islam korban akibat perseteruan dan kesalahan para pemimpin dan ulama. Keberadaan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, syarak mangato adat memakai hanya menjadi falsafah, yang tidak terwujud dalam kehidupan nyata.
Bagi saya, petuah, atau falsafah, hanya bagian dari proses Islamisasi, bukan final Islamisasi. Maksudnya, keberadaan falsafah akan terwujud jika masyarakat mau tunduk, dan menjalankan subtansinya. Salain itu sebuah falsafah tidak akan berarti, tanpa ada legislasi, atau konsekuensi hukum yang dapat membuat umat menjalankannya.
Menurut saya, mengintrospeksi diri merupakan hal yang pertama sekali harus dilakukan.  Mulai dari pemimpin hingga rakyat, harus mengoreksi dirinya. Hal ini harus dilakukan, jika ingin kedaan ini menjadi lebih baik.
Introspeksi sama halnya dengan  menghisab diri. Maksudnya, hendaklah kita selalu merenungkan setiap dosa dan kesalahan yang telah kita buat dalam kehidupan ini. Mudah-mudahan, dengan kita senantiasa  mengingat dosa-dosa yang telah kita lakukan akan memberikan motivasi pada diri kita untuk berbuat kebaikan.
Jika hal tersebut sudah dilakukan, pemerintah harus berani mencegah setiap kegiatan yang mengundang kemaksiatan. Misalnya, dengan menutup setiap tempat-tempat hiburan malam tanpa tebang pilih. Sebab, membiarkan kemaksiatan berdampingan dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan kalah. Pada satu sisi, kita giat mengalakkan jargon-jargon keagaamaan, tetapi di sisi lain tetap membiarkan kemaksiatan. Hal ini sama saja dengan memperolok-olokan Allah.
Allah berfirman, dalam surat Al-A’raaf Ayat 96, yang artinya, jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Selajutnya, menghubungkan silaturhami adalah hal yang paling penting untuk dilakukan. Sebab, hilangnya silaturahim di antara kita, akan membuat umat lemah. Para pemimpin merangkul orang-orang yang dipimpin, sedangkan orang-orang yang dipimpin harus berlapang dada dengan yang dipimpin. Para ulama kembali pada marwah yang sesunggah. Dengan demikian, mudah-mudahan kemaksitan dapat dicegah, dan tidak lagi terdengar di negeri kita ini.(Pewawancara Rahmat Hidayat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar