Sabtu, 14 September 2013

Makam Datuak Parpatiah Nan Sabatang


OLEH Anas Nafis
(http://penuliscemen.com/socialmediasumbar/)
Makam Datuak Parpatiah Nan Sabatang
SUATU hari pada tahun 1959, saya bersepeda ke Lubuk Basung bersama Wahdi Halim. Setelah melewati Desa Gasan Kaciak, tampak di sebelah kanan jalan sebuah pondok. Pondok itu lebarnya tidak lebih dari tiga setengah meter, beratap rumbia, dinding tadia (anyaman bambu) berlantai pelupuh. Di lantai dari bahan bambu ini duduk seorang wanita tua bersama seorang gadis kecil.
“Itu Siti Manggopoh” ujar Wahdi. Saya mengangguk-angguk sembari mengayuh sepeda melanjutkan perjalanan.
Kembali dari Lubuk Basung saya singgah di pondok tersebut bersama Sersan Mayor Mukhtar BODM Pakandangan. Sedangkan Wahdi telah lebih dulu kembali ke Gasan Gadang. Ketika itu kami berbicara keras-keras dengan Ibu Siti, karena pendengaran beliau sudah mundur. Itu cerita tahun 1959.
Batu Nisan Siti Manggopoh
Pertengahan bulan Maret 1990 saya berkeliling Sumatera Barat selama sepuluh hari. Maksud berkeliling itu ialah hendak melihat dan merekam berbagai objek sejarah maupun wisata, seperti rumah gadang, mesjid tua, makam-makam tua dan lain-lain sebagainya.
Ketika melewati desa Gasan Kaciak, saya teringat Ibu Siti yang pada tahun 1959 dulu sedang duduk santai di pelupuh pondoknya. Ingatan mana
menimbulkan rasa ingin tahu saya berkunjung ke makam para syuhada Perang Manggopoh pada tahun 1908 di halaman mesjid kawasan itu. 
Ketika sedang melihat-lihat batu nisan para syuhada di komplek pemakaman tersebut, saya terheran-heran melihat sebuah nisan dengan nama SITTI. Nisan itu saya jepret.
Setahu saya Ibu Sitti meninggal bulan Agustus 1965 di desa Gasan Gadang dalam usia lebih 80 tahun dan dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Lolong Padang. Rasanya tidak mungkin makam Srikandi Manggopoh itu dipindahkan dari Lolong kemari, yaitu ke Manggopoh. Juga mustahil ada dua orang srikandi yang bernama Sitti Manggopoh.
Setelah dua hari berkeliling ke berbagai kawasan, menjelang senja sampailah kami di daerah Solok. Di kota Solok ini saya melihat sebuah patung pahlawan yang terletak di tengah pertigaan jalan. Patung itu menggambarkan seorang pejuang 1945 memegang bambu runcing yang diacungkan ke depan. Di ujung bambu runcing itu digantungkan pula sebuah lampu penerangan jalan.
“Kok lampu digantungkan di situ” kata saya pada sopir. Kami berhenti sejenak dan patung itu saya jepret.”
Datuk Parpatiah Nan Sabatang
Sampai di Nagari Selayo, Kabupaten Solok, yang pertama-tama saya cari ialah kepala desanya. Dengan menyodorkan surat sdr. Soewardi Idris, segeralah kami menjadi akrab. Ternyata Pak Kades ini seorang calon pemangku adat bernama Fajri Hamzah gelar Datuk Rajo Sampono.
Dengan tidak mengenal lelah ia membantu kami ke berbagai nagari di kawasan itu seperti Talang, Koto Anau, Muaro Paneh, Sumani, Saningbaka, Panyinggahan dan lain-lain. Dua hari lamanya kami di daerah tersebut. Pada hari kedua Datuk Rajo Sampono menawarkan pergi melihat makam Datuk Perpatih Nan Sabatang, tokoh legendaris Adat Minangkabau.
“Hah… Datuk Perpatih Nan Sabatang?” kata saya heran sembari mengerinyikkan kening. Lalu saya teringat pada sebuah makam lain yang pernah saya kunjungi ketika membuat sinetron TVRI pada tahun 1980 di desa Magek Agam yang juga bergelar Datuk Perpatih Nan Sabatang. Beliau ini gugur ketika terjadi perlawaan rakyat di kawasan itu pada tahun 1908 gara-gara pemerintah Belanda menjalankan belasting. Datuk ini sangat berani. Dalam perang tahun 1908 itu ia menikam mati Tuanku Laras Raden Mas Warido dan melukai dua marsose Belanda. Raden Mas Warido adalah kakek Pak Eni Karim mantan Menteri Pertanian.
“Datuk Perpatih yang mana?” tanya saya bergurau.
“Kata orang tua-tua kami, Datuk itu meninggal di Selayo ini dan dimakamkan di sini. Itu, di bukit tak jauh dari sini, bisa masuk mobil” kata Pak Kades meyakinkan kami.
Karena merasa didesak dan menenggang ia telah berpayah-payah pula menemani, kami pergi juga.
Selagi mengobrol dalam mobil, Pak Datuk menunjuk ke arah sebatang pohon di seberang jalan di hadapan kami.
“Pohon itu berasal dari tongkat Datuk Perpatih. Itu tuh yang di tepi bandar. Pohon “Jao” namanya. Dulu pohon itu tumbuh di sebelah kemari bandar, lalu mati. Tahu-tahu tumbuh kembali di seberang bandar sebelah situ”.
Belum lagi sempat mengamati pohon tersebut dengan cermat, sudah diberondong lagi dengan mengatakan:
“Di munggu itu, di situ dikatakan dikuburkan jenazah Datuk Perpatih. Lalu tatkala orang Batu Sangkar datang hendak mengambil jasat almarhum, ternyata isi kubur itu batang pisang. Pulanglah mereka kembali ke Tanah Datar dengan tangan hampa. Padahal jenazah beliau disembunyikan orang Selayo dan dimakamkan di bukit itu” katanya lagi sambil menunjuk pula ke satu arah.
Tak lama kemudian kami tiba di kaki sebuah bukit kecil seperti yang dikatakan tadi. Setelah mendaki sesaat, sampailah kami di sebuah komplek pemakaman. Selagi berkeliling melihat-lihat, Pak Kades meminta agar makam-makam itu difoto. Maka saya jepretlah makam-makam tersebut. Ternyata
makam itu sudah dipermak seperti kuburan Islam biasa. Sudah ditembok, tetapi batu nisannya batu alam besar-besar yang tersembul di tanah dan  tingginya sekitar 75 sentimeter. Pada batu nisan itu tidak ada tanda-tanda seperti tulisan, ukiran mau pun gambar.
“Sia nan manembok kuburan ko (Siapa yang menembok kuburan ini)?
“Dulu ada orang kulit putih ke mari. Ia yang menyuruh agar makam-makam ini dipelihara dan diberinya uang dua puluh ribu” kata Pak Kades.
Sewaktu meninggalkan daerah Solok kembali ke Padang, saya berkata pada si Lisuik anak Guguak Randah IV Koto yang jadi sopir kami: “Ruok Pak Datuk tu nyo. Masak di siko kuburan Datuk Perpatih tu. Kalau bana …., Datuk Perpatih na ka bara tu….” (Bualan Pak Datuk saja itu. Mana mungkin di sini kuburan Datuk Perpatih itu. Jika benar … . Datuk Perpatih yang ke berapa itu).
Si Lisuik manggut-manggut mengiakan.
Tak lama kemudian sampailah kami di daerah Ladang Padi. Lalu kami makan di sebuah warung. Semenjak itu saya tidak pernah lagi memikirkan kuburan Datuk Perpatih nan Sabatang yang diriwayatkan Pak Datuk Rajo Sampono Kepala Desa Selayo Atas.
Menghimpun Manuskrip
Bulan Juni 1990 saya mulai menghimpun naskah-naskah lama Minangkabau untuk dibuatkan mikrofilm di Perpustakaan Nasional Jakarta. Satu per satu naskah itu saya lihat. Ada  yang bertulisan Latin dan banyak pula yang bertulisan Arab. Tentu saja waktu meneliti tersebut yang paling menarik dibaca ialah yang bertulisan Latin, karena huruf itulah yang setiap hari kita pergunakan. Ternyata tulisan Latin dalam naskah-naskah yang ditulis pertengahan abad lalu itu, sulit pula dibaca. Barulah saya ingat, bahwa waktu itu belum ada aturan cara menuliskan bahasa Minangkabau dengan huruf Latin. Bahasa dan tulisan dalam beberapa naskah ada yang sangat dipengaruhi oleh “gaya” orang Belanda atau serdadunya menuliskan bahasa Melayu.
Naskah yang bertulisan Arab demikian pula, sering terdapat cara penulisan kata yang tidak tetap. Jadi mesti mempunyai kiat tertentu dalam membacanya.
Ketika membaca sebuah naskah bertulisan Latin, saya terperangah, karena di situ disebutkan bahwa Datuk Parpatih Nan Sabatang pindah ke Selayo dan wafat di nagari itu. Kontan saya teringat ruok (bualan) sdr. Fajri Hamzah Datuk Rajo Sampono Kepala Desa Selayo Atas.
Pada halaman 60 naskah Undang-Undang Minangkabau kode MI. 717 tebal 141 halaman, tertulis:
“ … Sebab orang poelou pertja ini Labi Pandjang di poenja Akal dari pada kita dan Dalam Beberapa Hari di Balkang itoe dan Datoe Katoemangoengan Poen pindah di Kotta Hanau dan Datoe Perpatih Sabatang Lagi pindah di Solok in Salaijo en Negrijen Soemmanja Soeda ada Tjoepa Gantang en adat Limbaga toeroet toeladan dan tempo Datoe Perpatih Sabatang Hampir matie di Panggil Sammanja Kapala Pangoeloe mistie DiDanger Hambo poenja Pangejer adala Dalapan perkataan…………”.
(Sebab orang pulau Perca ini lebih panjang dia punya akal dari pada kita. Dan dalam berapa hari di belakang itu dan Datuk Ketumanggungan pun pindah di Koto Hanau dan Datuk Perpatih Nan Sabatang lagi pindah di Solok Selayo dan negeri semuanya sudah ada cupak gantang dan adat lembaga turut teladan. Dan tempo Datuk Perpatih hampir mati dipanggil semua kepala-kepala nagari dalam Laras Chaniago. Kata Datuk Perpatih Nan Sabatang kepada Penghulu mesti didengar hamba punya pengajaran adalah delapan perkataan).
Pada halaman terakhir (halaman 141) terdapat tulisan:
 Telah Soedah die Salin Boek ini die Tanah Solok Pada 4 arie dari Boelan Djanuarij ijaar 1847. Saija  ijang menjalin Genaamd chatib Maharadjo Soetan”.
(Telah sudah disalin buku ini di tanah Solok pada 4 hari dari bulan Januari tahun 1847. Saya yang menyalin bernama Khatib Maharajo Sutan).
“Yaa...naskah dari Solok … Terang saja orang Solok tahu cerita ini,”pikir saya.
Dalam naskah Tambo Minangkabau kode MI. 489 yang tebal 117 halaman yang juga bertulisan Latin, pada halaman 44 tertulis:
“Patsal pada menjatahkan lama poela antaranja, adalah ampat lima tahoen, maka Datoe Katoemangoengan poen poelang ka loehak Tanah Datar, Datoe Perpatih nan Sabatang poen poelang ka Solok Silajo, berboeak roemah di bawah kajoe bodi di tepi ajer. Maka sekalian isi nagari loehak nan tigo soedah manaroeh tjoepa’ gantang dan barkelakoean tiap2 nagari pakajan jang madjelis sapaninggal Datoe’ Perpatih Sabatang ninik Datoe’ Perpatih Sabatang tinggal di Solok Silajo di tepi ajer adanja ………..”.
(Pasal pada menyatakan lama pula antaranya, adalah empat lima tahun, maka Datuk Ketumanggunan pun pulang Ke Luhak Tanah Datar. Datuk Perpatih Nan Sabatang pun pulang ke Solok Selayo, berbuat rumah di bawah kayu bodi di tepi air. Maka sekalian isi nagari Luhak Nan Tigo sudah menaruh cupak gantang dan berkelakuan tiap-tiap nagari pakaian yang mejelis sepeninggal Datuk Perpatih Nan Sebatang ninik Datuk Perpatih Sabatang tinggal di Solok di tepi air adanya …. ).
Pada halaman 48 dan 49 tertulis pula:
 “Patsal pada manjatakan sebagai lagi oemanat hamba, hai segala isi alam ikoetlah angkau beriman kepada Allah taala, senantiasa tagak djalan lamah engkau mengerdjakan dia itoelah kasoedahan ilmoe adat. Djika berat menanti ringan, djika sempit menanti lapang, sebab itoelah, maka di toemboehkan poela pikiran lanakaranadjoe’ 1 kali bermoela pikiran itoelah pelita hati. Adapoen pandang hati teroes katoedjoeh pitalo langit dan toedjoeh pitalo boemi sebab itoelah nan lebih pada oerang ahli akal pada isi alam atau pada isi nagari. Adapoen dalil sampit lapang toeroen peramalallah taala dalam koeran (tulisan/bahasa Arab) selagi ada kamoe mampoenjai kasoekaran, maka menanti oelihmoe kapada kamoerahan itoelah halnja jang mendjagakan kata ini. Maka lama poela antaranja, maka mati ninik Perpatih Sabatang bertempat di Solok Silajo. Itoelah pitaroehnja kepada Bodi Tjaniago selama-lamanja terpakai oleh alam adanja …”

(Pasal pada menyatakan sebagai lagi amanat hamba, hai segala isi alam ikutlah engkau beriman kepada Allah Taala. Senantiasa tegak jalan lemah engkau mengerjakan dia itulah kesudahan ilmu adat. Jika berat menjadi ringan, jika sempit menjadi lapang, sebab itulah maka ditambahkan pula pikiran lanakaranaju’ 1 kali bermula pikiran itulah pelita hati.
Adapun pandang hati terus ketujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Sebab itulah yang lebih pada orang ahli akal pada isi alam atau pada isi negeri. Adapun dalil sempit lapang turun paramllalah taala (Firman Allah) dalam Kuran (tulisan/bahasa Arab) selagi ada kamu mempunyai kesukaran maka menanti olehmu kepada kemurahan itulah halanya yang menjagakan kata ini. Maka lama pula antaranya, maka mati ninik Perpatih Nan Sabatang bertempat di Solok Selayo, itulah petaruh kepada Budi Chaniago selama-lamanya terpakai oleh alam adanya).
Kemudian saya baca pula naskah Tambo Minangkabau nomor kode 436 yang tebalnya 55 halaman. Pada halaman 43 tertulis :
“… Setelah barapo lamo antara njo, mangko Dt. Katoemangoengan barapindah ke Koto Hanau, dan Dt. Perpartih Sabatang, barapindah ka Solok Salajau, mangko sagalo isi nagari samoehanjo Loehak nan Tigo, soedah menoeroet tjoepak, Adat Limbago, betoel balako samoehanjo, tiap2 nagari mangko bakato Dt. Parapatih Sabatang kapado tiap2 Panghoeloe pegangkan pitaroeh hambo oelih sagalo jang babitjaro, akan sapatah, Paratamo kasih kapado nagari, Kadoewa kasih kapado isi nagari, Katigo kasih kapado oerang kajo, Kaampek kasih kapado oerang toewo, Kalimo kasih kapado oerang Malin, artinjo oerang bailmoe, Kaanam kasih kapado oerang gadang, Katoedjoeh kasih kapado Panghoeloe jang bana, Kasalapan kasih kapado oerang mampoenjoi bitjaro …”.
(Setelah beberapa lama antaranya, maka Dt. Ketumanggungan pindah ke Kota Hanau, dan Datuk Perpatih Sebatang pindah ke Solok Salayau, maka segala isi nagari semuanya Luhak Nan Tiga, sudah menurut cupak, adat lembaga, betul belaka semuanya tiap-tiap nagari, maka berkata Dt. Perpatih Sebatang kepada tiap-tiap penghulu, pegangkan petaruh hamba oleh segala yang berbicara, akan sepatah, pertama kepada nagari, kedua kepada isi nagari, ketiga kasih kepada orang kaya, kasih kepada orang tua, kelima kasih kepada orang malin, artinya orang berilmu, keenam kasih kepada orang besar, ketujuh kasih kepada penghulu yang benar, kedelapan kasih kepada orang mempunyai bicara).
Pada halaman 48 tertulis:
Dan ado kamoe mampoenjai kasoesahan, mangko nanti oelihmoe pada kamoerahan, itoelah kato jang sabananjo, satalah barapolah lamonjo, mangko barapoelang Dt. Perpatih Sabatang, Kaalarat Allah Taala, batampat di nagari Solok Salajau, ninik Parapatih na Sabatang, mangko tarasaboet parakataan Dt. Katoemangoengan tatakalo ijo hampi akan mati batanjo sagalo Radjo2 dan sagalo Panghoeloe2 dan oerang basa2 kapado Dt. Itoe, mangko sekalijan jang baratanjo itoe……………”
(Dan ada kamu mempunyai kesusahan, maka nanti olehmu pada kemurahan, itulah kata yang sebenarnya. Setelah berapalah lamanya maka berpulang Dt. Perpatih Sabatang ke alarat Allah Taala, bertempat di nagari Solok Salayau, ninik Parpatih Nan sabatang. Maka tersebut perkataan Dt. Ketumanggungan tatkala ia hampir akan mati, bertanya segala Raja-Raja dan segala Penghulu-Penghulu dan orang besar-besar kepada Dt. Itu, maka sekalian yang bertanya itu ... ).
Tiga naskah bertuliskan Latin sudah kita lihat. Ketiganya menyebutkan bahwa Datuk Perpatih nan Sabatang pindah ke Selayo Solok dan wafat di kawasan itu.
Naskah Undang-undang Minangkabau Nomor kode 717, jelas ditulis di Solok oleh Chatib Maharajo Sutan pada tahun 1847. Datuk Perpatih nan Sabatang seperti diceritakan dalam naskah itu, dapat saja kita tuding Datuk Perpatihnja “urang Solok”.
Naskah Tambo Minangkabau Nomor Kode 489 tidak jelas berasal dari Luhak mana. Namun demikian dalam naskah itu beberapa kali ditemukan kata “djan” seperti yang lajim dipakai orang di berbagai kawasan di daerah itu. Mari kita simak kutipan naskah tersebut seperti berikut ini:
“Pasal pada menjatakan, pada koetika itoelah maka laloe anggang dari laoetan mendapat di goenoeng Barapi akan dirinja hendak mentjari makanan. Maka di tembak oleh Datoe’ nan bertiga ijalah Datoe’ Katoemanggoengan djan  Datoe’ Perpatih Sabatang serta Datoe’ Sari Maharadja. Naik selatoes boeninja bedil terkedjoet banting dalam rimba menjembar ikan di laoetan, berpesona haloean besar menjanak laloe kedaratan, marengeh koeda samboerani badaring boeni gantonja kilat-goemilat pelananja, membebe kambing dalam rimba, menjalak andjing dalam goea, mendangoes boeni harimau, maka terkedjoet moesoeh semoenja, didalam boemi Allah tahoe semoenja nan dikoeliling goenoeng Berapi. Maka segala Datoe’2 Maka orang besar2 dalam negari Priangan Padang Pandjang poen heran pada koetika itoe beloem panah dilihat beloem panah di dengar selamanja nagari batoenggoei. Maka anggang itoe djatoeh teloernja dan berkata setengah biopari akalnja marika itoe didalam nagari. Adapoen teloer bathinnja baik, dhahirnja kuda samboerani akan turun kanagari Priangan Padang Pandjang kapada roemah Datoe’ Sari Maharadjo ijalah berpalano amas sendirinja, gantonja amas sendirinja, kakangnja amas sendirinja tali rantainja haloes soeaso sendirinja, ijalah nan mahirik anak dewa dari atas goenoeng itoe……” (halaman 27).
(Pasal pada menyatakan, pada ketika itulah maka lalu enggang dari lautan, menempat di Gunung Marapi akan dirinya hendak mencari makanan. Maka ditembak oleh Datuk yang bertiga, ialah Datuk Ketumanggungan jen (dengan) Datuk Perpatih Sebatang serta Datuk Sari Maharajo.
Naik seletus bunyi bedil, terkejut banting dalam rimba, menyambar ikan di lautan, berpesong (memutar) haluan besar, menyanak (mendesak) lalu ke daratan, meringgis kuda sembrani, berdering bunyi gentanya, kilat gumilat pelananya, mengembik kambing
dalam rimba, menyalak anjing dalam gua, mendengus bunyi harimau, maka terkejut musuh semuanya yang di keliling Gunung Marapi.
Maka segala Datuk-Datuk, orang besar-besar dalam negeri Pariangan Padang Panjang pun heran pada ketika itu. Belum pernah dilihat, belum pernah didengar, selamanya negeri ditunggui.
Maka enggang itu jatuh telurnya dan berkata setengah biaperi akalnya mereka itu di dalam negeri.
Adapun telur bathinnya baik, dhahirnya kuda sembrani akan turun ke negeri Pariangan Padang Panjang kepada rumah Datuk Sari Maharajo. Ialah berpelana emas sendirinya, gentanya emas sendirinya, kekangnya emas sendirinya, tali rantainya halus suasa sendirinya, ialah yang menarik anak dewa dari atas gunung itu).   
Naskah Tambo Minangkabau Nomor Kode 436, juga tidak tahu asalnya dari luhak mana dan ditulis tahun berapa. Didalamnya banyak terdapat kata-kata seperti barapindah, barapoelang, tarasaboet, baratanjo dan lain-lain. Saya yakin ahli-ahli bahasa Minangkabau dapat menentukan dari kawasan mana naskah ini berasal.
Saya belum membaca naskah tulisan Arab dengan cermat, namun demikian diduga akan ditemukan pula hal serupa.
Naskah tua lainnya yang diperoleh tercatat tahun 1818 berjudul “Silsilah Raja-Raja Pagarruyung” yang merupakan segulungan kertas yang panjangnya dua meter empat puluh cm, lebar kertas sekitar 40 cm. Dalam manuskrip ini tidak ada menyebutkan nama kedua Datuk bertuah tersebut.
Bila benar Datuk Perpatih pindah ke kawasan Solok, tentu ada sebabnya. Singkat kata, semua yang disampaikan di atas terpulang pada “ahli“ nya. Tugas saya sebagai penghimpun ialah menginformasikan.
Keterangan Tambahan
Dalam “Kitab Tjoerai Paparan Adat Lembaga Alam Minangkabau” karangan   Datuk Sanggoeno Diradjo–1919 halaman 86, 87 dan 88 tertulis sbb:
Fasal 75
Amanat Datuak Parpatiah Nan Sabatang
Adapun tatkala Datuk Perpatih Nan Sebatang akan hampir mati, maka berpesanlah beliau kepada segala Penghulu-Penghulu yang berempat-empat dan yang berlima-lima sekota, serta orang-orang cerdik-pandai dan orang-orang bertuah dalam selaras Budi Chaniago. Setelah berhimpun sekaliannya maka berkatalah ninik Perpatih Nan Sebatang kepada segala Penghulu-Penghulu dan orang-orang cerdik-pandai itu.
Kata beliau:
“Adapun hamba sudah akan hampir mati dan hamba akan pergi ke Solok Selayo, entah kembali entah tidak. Sebab itu hendaklah pegang petaruh hamba oleh segala Penghulu-Penghulu dan orang-orang cerdik pandai semuanya.
Pertama - Hendaklah kasih engkau kepada negeri,
Kedua – Hendaklah kasih engkau kepada isi negeri;
Ketiga – Hendaklah kasih engkau kepada orang kaya;
Keempat – Hendaklah Engkau kasih kepada orang bertuah,
Kelima – Hendaklah engkau kasih kepada orang Alim Ulama,
Keenam – Hendaklah engkau kasih kepada orang tukang.
Ketujuh – Hendaklah engkau kasih kepada segala Penghulu benar,
Kedelapan – Hendaklah engkau kasih kepada oang yang mempunyai bicara, meski ia kanak-kanak sekalipun, apabila ia mempunyai bicara ikut olehmu, karena ia itulah tangkai negeri dan tangkai alam.
Sekali-kali jangan engkau ubahi sepeninggal hamba supaya selamat apa-apa pekerjaan engkau selama-lamanya”.
Maka menangislah segala Penghulu-Penghulu dan orang cerdik-pandai mendengar petaruh beliau itu … dst.-
Pernah dimuat di Harian Singgalang, 1 September 1991