Senin, 09 September 2013

Oedipus Kompleks, Dampak Psikologis Sistem Matrilineal



OLEH Yusriwal
Minangkabau merupakan suku bangsa yang unik karena sampai saat ini masyarakatnya masih menganut sistem kekerabatan matrilineal. Di Nusantara ini, Minangkabau memang bukan satu-satunya suku bangsa yang menganut sistem ini, namun yang membedakan dengan suku bangsa yang menganut sistem matrilineal lainnya adalah pada kekhasan sistemnya: keseimbangan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan.
Menurut beberapa antropolog, sistem matrilineal merupakan produk kebudayaan primitif. Kalau dikatakan sistem matrilineal tersebut merupakan produk kebudayaan primitif, mungkin ada benarnya, namun hal itu tidak berlaku sepenuhnya dalam masyarakat Minangkabau. Walaupun Islam dengan sistem patrilinealnya sudah lama bercokol di Minangkabau, ternyata tidak mampu mengubah sistem matrilineal tersebut. Bahkan masyarakat Minang­kabau dapat menyelaraskan antara ajaran Islam dengan ajaran adatnya. Islam dan adat sudah sangat menyatu sehingga sulit membe­dakan antara ajaran adat dengan ajaran agama Islam. Minangkabau itu identik dengan Islam. Apabila berbicara mengenai Minangkabau sekaligus berkaitan dengan Islam. Mamang Minangkabau mengatakan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Artinya, adat berdasarkan syariat Islam.
Walaupun sistem matrilineal tersebut dapat diselaraskan dengan Islam yang patrilineal, akan tetapi bukannya tidak menimbulkan dampak. Hal itu terlihat pada beberapa kecenderungan psikologis orang Minangkabau.
Pertama, kecenderungan untuk beristri lebih dari satu. Hal itu adalah salah satu kebanggaan orang Minangkabau, seorang istri pun akan merasa bangga jika suami diingini oleh wanita lain. Mamangan Minangkabau menyatakan lapuak dek baju salai. Artinya jangan puas dengan seorang istri. Mamang di atas juga menyiratkan bahwa bagi orang Minangkabau istri dianggap sama dengan pakaian (baju).
Kedua, laki-laki Minangkabau cenderung memilih istri yang mempunyai sifat dan tingkah laku yang mirip dengan ibunya (wawancara dengan Motinggo Busye dalam Jurnal KABA, No 6, 20 November-Desember 1995).
Ketiga, kecenderungan laki-laki Minangkabau yang takut terhadap istrinya. Ketakutan tersebut seperti rasa takut soerang anak kepada ibunya.
Ketiga kecenderungan di atas dapat diidentifikasi sebagai gejala oedipus kompleks, suatu gejala kejiwaan yang mengakibatkan laki-laki mempunyai kecenderungan untuk mengawini ibunya dan perempuan mengawini ayahnya. Hasrat untuk mengawini ibu bagi laki-laki Minangkabau tidak akan pernah terjadi seperti dalam legenda Sangkuriang atau trilogi Antigon karya Sophocles, karena selalu dibatasi oleh ajaran Islam yang mereka anut.
Pembatasan agama itulah yang menyebabkan kecenderungan psikilogis itu hanya termanifestasi lewat ketiga gejala di atas. Selain itu, gejala oedipus kompleks itu disebabkan oleh sistem budaya, bukan libido seksual seperti yang dikemukakan Freud dalam memperkenalkan psikoanalisa.
Individu dalam Sistem Matrilineal Minangkabau
Dalam sistem kekerabatan Minangkabau yang matrilineal, seseorang termasuk keluarga ibunya, bukan keluarga ayahnya. Seorang ayah berada di luar keluarga anak dan istrinya. Seorang suami dalam keluarga Minangkabau dianggap keluarga lain dari keluarga istri dan anaknya. Sama halnya dengan seorang anak dari seorang laki-laki akan dianggap keluarga lain dari pihak keluarga ayahnya. Karena itu, seorang laki-laki setelah menikah, hanya menumpang tinggal di rumah istrinya. Dia hanya berkunjung pada waktu malam saja. Sepanjang siang, dia bekerja dan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga matrilinealnya.
Oleh sebab itu, rumah gadang hanya ditempati oleh perempuan, anak laki-laki yang masih balita, dan suami pada waktu malam. Laki-laki yang belum beristri dari laki-laki tua yang tidak beristri akan tinggal di surau. Mereka hanya akan ke rumah gadang pada waktu makan dan mengambil pakaian. Laki-laki tua hanya akan ke rumah jika ada persoalan dalam keluarga yang meminta campur tangannya, sedangkan makannya akan diantar ke surau.
Kehidupan laki-laki Minangkabau berawal dari surau dan berakhir pula di sana. Sejak umur lima tahun anak laki-laki sudah mulai mengaji dan tidur di surau. Pengertian mengaji di sini tidak hanya belajar membaca Alquran tetapi juga belajar budi pekerti, adat, dan pencak silat. Guru mereka adalah laki-laki tua yang tinggal di surau karena tidak beristri. Biasanya, guru tersebut masih mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat dengan anak-anak yang diajarnya: biasanya mamak atau mamak dari ibu mereka yang dipanggil datuak atau inyiak.
Meningkat remaja, walaupun tidak mengaji lagi, mereka tetap tidur di surau karena kakak perempuan mereka telah bersuami, umpamanya. Merupakan aib bagi laki-laki Minangkabau tidur seatap dengan sumando (suami dari saudara perempuan). Jika ini terjadi, mereka akan diolok-olok oleh teman-teman mereka dan menjadi topik pergunjingan bagi orang sekampung.
Karena tidak lagi mengaji, sebelum berangkat ke surau anak laki-laki akan berkumpul sesama besar atau bergabung dengan angkatan yang lebih tua yang biasa duduk di lapau (warung tempat minum). Pergaulan di lapau secara tidak langsung juga memberikan pelajaran kepada mereka: mereka dapat mengamati bagaimana orang di lapau mengemukakan dan mempertahankan pendapat, serta yang paling penting adalah belajar “bersilat lidah”.
Akibat kerinduan terhadap figur ibu, laki-laki Minangkabau akan mencari figur ibu pada setiap wanita yang ditemuinya, mungkin kekasih atau istri. Kekasih atau istri tetap bertindak sesuai dengan perannya, akibatnya kerinduan laki-laki terhadap figur ibu juga tidak terpuaskan. Wanita seperti itu akan ditinggalkan oleh laki-laki Minangkabau dan mereka akan mencari wanita lain sampai figur ibu tersebut dijumpainya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika ada laki-laki Minangkabau yang beristri lebih dari satu.
Ketika masa remaja berakhir dan anak laki-laki Minangkabau mulai menginjak masa dewasa, mereka pergi merantau meninggalkan Minangkabau, sekurangnya pergi dari kampung. Merantau menyebabkan mereka terlepas sama sekali dari kehidupan keluarga dan kampung. Bagi masyarakat Minagkabau, merantau merupakan suatu "kewajiban", seperti terungkap dalam mamang berikut:
Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau bujang dahulu
Di kampuang baguno balun

Maksud mamang di atas adalah menyuruh pemuda Minangkabau pergi merantau karena belum mampu memberikan sumbangan yang berarti bagi keluarga dan kampungnya. Dengan kata lain mereka belum punya arti bagi keluarga dan kampung bila belum merantau.
Ukuran kedewasaan seseorang ditentukan oleh menikah atau belum. Seorang laki-Iaki biasanya menikah-hampir selalu dengan wanita sekampung-setelah pulang dari rantau. Pada saat menikah pulalah seorang laki-laki Minangkabau diberi gelar, misalnya Sutan Bandaro, Sutan Sati, Kari Marajo, dan lain sebagainya. Pemberian gelar tersebut berkaitan dengan kedewasaan tadi karena ada ungkapan ketek banamo, gadang bagala atau ketek disabuik namo, gadang diimbau gala. Artinya, seorang laki-Iaki belum dianggap dewasa jika belum mempunyai gelar (gala).
Dampak Psikologis
Keadaan di atas menimbulkan dampak psikologis terhadap anak Minangkabau, baik-laki-laki maupun perempuan. Bagi anak laki-laki yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan di luar rumah, mereka tidak sempat mengenal ayah dan ibu dalam arti yang sesungguhnya. Mereka kehilangan figur ayah dan ibu. Namun, karena laki-laki tidur di surau, besar di lapau, dan pergi merantau, kerinduan terhadap figur ayah mungkin dapat terpenuhi dalam pergaulan sehar-hari. Hal itu dimungkinkan karena mereka mendapatkan dari kakak-kakak dan mamak yang sama-sama tidur di surau. Kerinduan terhadap figur ibu tetap tidak terpenuhi.
Akibat keriduan terhadap figur ibu, laki-laki Minangkabau akan mencari figur ibu pada setiap wanita yang ditemuinya, mungkin kekasih atau istri. Kekasih atau istri tetap bertindak sesuai dengan perannya, akibatnya kerinduan laki-laki terhadap figur ibu juga tidak terpuaskan. Wanita seperti itu akan ditinggalkan oleh laki-laki Minangkabau dan mereka akan mencari wanita lain sampai figur ibu tersebut dijumpainya. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika ada laki-laki Minangkabau yang beristri lebih dari satu.
Pada kasus di atas, wanita yang tidak dapat memberikan kepuasan terhadap laki-laki yang mencari figur ibu, kesalahan tidak sepenuhnya pada pihak wanita. Selain sulit untuk berperan sebagai ibu, pada saat yang sama wanita Minangkabau juga mencari figur ayah pada laki-laki yang mereka temui. Wanita Minangkabau juga mencari figur ayah karena tidak mengenal ayah dalam pengertian yang sebenarnya. Seorang ayah hanya datang pada malam hari saat anak wanita sudah tidur dan sebelum mereka bangun sang ayah sudah tidak ada karena sudah pergi ke keluarga matrilinealnya. Wanita Minangkabau juga sering kecewa pada suami yang tidak mampu menghadirkan sosok seorang ayah bagi dirinya.
Dampak seperti di atas secara umum lebih banyak berpengaruh terhadap laki-laki. Hal itu mungkin disebabkan seorang wanita dapat menemukan figur ayah dalam dalam diri mamak atau anak laki-lakinya, sementara laki-laki tidak dapat berbuat hal yang sama terhadap anak perempuannya.
Selain anak termasuk keluarga ibunya, adat Minangkabau memberikan keluwesan kepada ibu untuk dekat dengan anak-anaknya yang tidak dimiliki oleh seorang ayah. Bagi seorang ayah, selain anak berada di luar keluarganya, adat Minangkabau tidak memberikan ruang seorang ayah untuk lebih dekat dengan anak perempuannya.
Situasi di atas membuat kebanyakan wanita Minangkabau menyadari perannya yang pada akhirnya dapat bertindak sebagai “ibu” bagi suaminya. Jika laki-laki pencari “ibu” bertemu dengan wanita seperti itu, mereka akan menghentikan pencarian. Celakanya, bukannya persoalan menjadi selesai, melainkan muncul gejala psikologis yang lain. Suami, karena menganggap istri sebagai perwujudan figur ibunya, mereka cenderung takut istri.
Rasa takut tersebut bukan disebabkan karena merasa rendah diri atau takut ditinggalkan, tetapi ketakutan seorang anak yang kedapatan melakukan kesalahan di depan ibunya. Sebagai contoh, misalnya seorang penderita jantung kronis yang tidak boleh minum kopi, jika istrinya tidak di rumah mau diajak minum kopi sambil ngobrol sampai pagi.
Kecenderungan tingkah laku orang Minangkabau yang diakibatkan oleh oleh sistem kekerabatan matrilineal tersebut dapat diidentifikasi sebagai gejala oedipus kompleks. Pada gejala di atas, tidak ditemukan adanya kecemburuan anak laki-laki pada ayah atau kecemburuan anak perempuan kepada ibu, seperti yang diungkapkan Freud. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena penyebab yang tidak sama pula. Pada Freud penyebabnya adalah libido seksual, sedangkan pada masyarakat Minangkabau disebabkan oleh sistem kekerabatan.*

Sumber: Harian Padang Ekspres, Sabtu, 26 Mei 2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar