Selasa, 17 September 2013

POLEMIK SASTRA SUMATERA BARAT: Bahasa Cermin Kebermutuan Karya Sastra dan Pengarang


OLEH Elly Delfia
Dosen Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang

Elly Delfia
Perkembangan kesusasteraan di Sumatra Barat tentu tak bisa dilepaskan dari perkembangan bahasa. Bahasa merupakan medium yang menentukan kesuksesan sebuah karya sastra. Pengunaan bahasa yang baik dan pemilihan diksi yang tepat menjadi ukuran penilaian sukses tidaknya sebuah karya sastra.
Demikian juga dengan penilaian dewan juri terhadap Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang digelar pada tahun 2010 lalu. Penggunaan bahasa dengan kekompleksitasannya nan mengagumkan sebagai buah kreativitas pengarang menjadi penilaian dewan juri untuk menentukan bermutu atau tidaknya sebuah karya sastra, dalam hal ini novel. Kemudian, dalam dunia kepenulisan, bahasa melabeli penciptanya dengan sebutan pengarang.
Dengan bahasa pula, Darman Moenir dan Devy Kurnia Alamsyah menulis artikel yang cukup menggugah hati. Artikel yang memperdebatkan novel-novel yang ditulis oleh para pengarang yang berasal dari Sumatra Barat. Artikel Darman Moenir dengan judul, “30 tahun Terakhir Tak Ada Novel Bermutu dari Sumatra Barat (Harian Haluan, Minggu, 23 Januari 2011) dan disahuti dengan artikel berikutnya oleh Devy Kurnia Alamsyah dengan judul, “Arogansi Sastra Kanon” (Harian Haluan, Minggu, 30 Januari 2011).

Dua tulisan yang mencoba mempolemikkan persoalan keaslian (kanon) dan ketidakaslian karya, bermutu dan tidak bermutunya novel-novel karya penulis dari Sumatra Barat dalam 30 tahun terakhir. Siapa yang paling pantas memberikan penilaian terhadap novel-novel Sumatra Barat 30 tahun terakhir? Tentunya hanya masyarakat pembaca, bukan individu (persona) penulis sendiri, seperti yang dilakukan Darman Moenir sebagai seorang penulis novel.
Bahasa menjadi penanda (signifie) bagi keberadaan sebuah petanda (signifier). Petanda di sini merujuk kepada pengarang sebagai pencipta karya sastra. Menurut Rolland Barthes, ahli semiotika (ahli tanda) berkebangsaan Swiss, kedua konsep tersebut ada untuk saling melengkapi. Dalam dunia kepenulisan, penanda ini merujuk kepada gaya bahasa atau gaya kepenulisan pengarang atau yang lebih populer dengan style (gaya kepenulisan). Style seorang pengarang tentunya bukan bagaimana mereka berdandan dan mengenakan pakaian terbaik dalam  sebuah acara namun style pengarang adalah bagaimana mereka menggunakan kata-kata terbaik dan bahasa terbaik dalam bertutur dalam mengisahkan sebuah peristiwa sehingga menggugah dan memperoleh pembelajaran hidup dari karya-karyanya. Dengan demikian, fungsi sastra “memanusiakan manusia “ bisa tersampaikan.
Upaya memanusiakan manusia dalam karya sastra ini, misalnya bagaimana seorang Darman Moenir mengemas konflik dengan apik mengenai hubungan kekerabatan dalam novel Bako dengan tidak melupakan nilai-nilai adat istiadat Minangkabau, juga bagaimana Wisran Hadi berkisah tentang Empon yang menyedihkankan dalam Orang-Orang Blanti, lalu bagaimana style Khairul Jasmi dengan dialek Indonesia-Minang-nya berkisah tentang perilaku ‘sang jenderal’ yang satire dalam Ketika Jenderal Pulang, dan juga Yusrizal KW dalam cerpen-cerpen realis nan menggugah dalam Kembali ke Pangkal Jalan. Kemudian A. Fuadi, putra Agam yang sukses dengan novel trilogi Negeri 5 Menara dan 3 Ranah, serta Rinai Kabut Singgalang dari Muhamad Subhan. Selalu dengan bahasa, para pengarang tersebut mendirikan ‘rumah’ dalam karya sastra. Rumah yang mewakili masyarakat sebagai cermin kehidupan sosial pengarang. Yang mesti diingat bahwa pengarang adalah orang-orang yang berhasil menaklukkan bahasa dan membuat bahasa menjadi bernilai. Oleh sebab itu, menyambung artikel Darman Moenir dan artikel Devy Kurnia Alamsyah, alangkah baiknya para penulis novel Sumatra Barat saling memberi apresiasi terhadap karya masing-masing karena masing-masing novel tentu tak lepas dari kekurangan dan kelebihan.
Yang mesti diingat, novel yang baik adalah novel yang dibaca untuk penyempurnaan diri. Novel yang baik adalah novel yang isinya dapat memanusiakan para pembacanya. Novel yang mempunyai fungsi sosial dan novel yang dapat membina masyarakat menjadi lebih baik. Alangkah naifnya, jika penyakit orang Minang yang amat pelit untuk memuji juga mewabahi para penulis novel dengan saling merendahkan dan meragukan kebermutuan karya sesama. Tentunya kurang baik menampakkan polemik yang itu-itu saja dari mingggu ke minggu di halaman koran yang luas ini. Karena pembaca kritik sastra semacam ini tidak hanya ‘orang-orang dewasa’ yang terbiasa dengan polemik saja, tetapi juga para pelajar sekolah menengah dan sekolah dasar. Mereka akan bingung dan bertanya kepada guru tentang yang mana sebenarnya novel yang baik untuk dibaca.