Senin, 21 Oktober 2013

CATATAN DARI MIMBAR TEATER INDONESIA #3 SOLO: Parade Panggung Kaum Kusam



OLEH Nasrul Azwar

Pementasan Interogasi Teater Noktah di MTI#3 Solo
Di atas panggung, setiap malam, manusia-manusia dipaparkan dengan segenap kemanusiawiaannya. Properti yang efesien. Ada lelaki tua, Jumena Martawangsa, rapuh iman yang merasa ajalnya kian dekat namun cemas hartanya jatuh ke tangan istrinya. Dia tak percaya lagi kepada orang lain. Ada Emak yang memberi angin surga pada sosok lugu bernama Abu. Sandek, aktivis buruh dengan multikepribadian menggugat sisi kemanusiaan Direktur Umum.
Panggung teater selama lima hari—minus Kalanari Teater yang menggunakan ruang terbuka— diisi dengan tokoh-tokoh yang idiot, cacat pincang, profesi pelacur, tubuh berkudis, bisu, gembel, para bandit, dan orang-orang tersisih dari kehidupan sosialnya. Semua sebagai representasi kegetiran hidup orang-orang yang tak jelas identitasnya dalam statistik negara. Pentas pun didominasi warna muram hitam, gelap, dan sunyi.

Mimbar Teater Indonesia (MTI) #3 yang dihelat Taman Budaya Jawa Tengah di Solo, 22-27 September 2013 lalu dengan menampilkan lakon-lakon Arifin C Noer, bisa dikatakan merupakan parade kaum kusam manusia Indonesia. Naskah-naskah Arifin C Noer, memang tak mungkin lepas dari hal demikian: Realis-absurd.
Ada lima kelompok teater yang ikut MTI#3 kali ini, yaitu Teater Bandul Nusantara (Karang Anyar) mengusung Tanpa Dasar Tanpa Akhir adaptasi Sumur Tanpa Dasar dengan sutradara Damar Tri A, Teater Sastrasia Universitas Kanjuruhan Malang naskah Dalam Bayangan Tuhan sutradara Dengkeq Darmanto, Kala Teater (Makassar) memanggungkan Kapai-Kapai yang disutradarai Shinta Febriany, Kelompok Studi Sastra dan Teater Noktah (Padang) membawakan naskah Interogasi Atawa Dalam Bayangan Tuhan disutradarai Syuhendri, dan Kalanari Teater (Yogyakarta) naskah Kapai-Kapai sutradara Ibed Surgana Yoga.
Selain pementasan grup teater, juga digelar monolog naskah Arifin C Noer dengan monologer Jarot Budi Darsono (Solo) dan Mas Tohir (Surabaya), dan pembacaan “Nyanyian Sepi” Arifin C Noer oleh Kelompok Sound of Poem. Ada seminar juga digelar dengan tema Lakon-lakon Arifin C Noer dalam Arus Sejarah dan Tradisi dengan pembahas Sudiro Satoto (Guru Besar UNS, Solo), Afrizal Malna (pengamat teater), Dindon (Teater Kubur Jakarta).
Pementasan Interogasi Teater Noktah di MTI#3 Solo
Halim HD, kurator iven ini mengatakan, MTI sudah digelar tiga kali. Awalnya, pada 2010, MTI tak menentukan tema. Pada 2011, MTI kedua, mengangkat naskah-naskah Putu Wijaya. Pada 2012, MTI gagal digelar. 2013 digelar lagi.
“Lima kelompok teater yang ikut dalam MTI ketiga ini merupakan hasil menyaringan dari delapan belas kelompok teater di Tanah Air yang mendaftar. Korator memilih 5 grup berdasarkan proses kreatif dan konsistensinya,” kata Halim HD, yang juga networker budaya.
Tubuh yang Ahistoris
Rangkaian dalam iven MTI # 3 itu—pementasan, diskusi, monolog, dan puisi-musik—memang tidak memiliki hubungan langsung satu sama lainnya kendati masing-masing diikat dengan naskah-naskah Arifin C Noer. Semua berlangsung dengan cara sendiri-sendiri.
MTI diharapkan membuka alternatif lain di atas panggung teater terhadap tafsir naskah-naskah Arifin C Noer. Jika pada 2011, dijejalkan dengan naskah Putu Wijaya yang pekat teror mentalnya, maka MTI kali ini dikesankan kontemplatif,  tokoh yang marginal, dan eksplorasi panggung. Naskahnya lebih mendominasi pada perenungan realis yang absurd. Selain itu, sutradara dimungkinkan pula mensenyawakan anasir kesenian tradisi rakyat lokalistik dengan kekinian dalam garapannya.
Permasalahan tiba-tiba muncul karena jauhnya jarak antara generasi yang memainkan naskah-naskah Arifin C Noer dengan masa kelahiran naskah tersebut, yang mungkin sebagian besar pemain teater yang ikut MTI belum lahir saat Arifin memunculkan Sandek, Abu, Jumena, Emak, dan lain sebagainya.
Selain itu, lemahnya studi naskah dan pembacaan referensi teks, membuat panggung MTI seperti kehilangan lakon. Minim referensial. Normatif.  Dampak pun cukup serius.  Suara-suara yang diberatkan menjadi ciri khas semua pertunjukan. Teater pun menjadi satu warna. Lakon-lakon Arifin C Noer  yang kaya metafor, puitik, dan struktur yang ritmik, bukan menjadi sesuatu yang penting di atas pentas. Arifin kehilangan kearifannya.
Pentas teater menjadi “hak veto” sutradara dan memerdekakan dirinya memberi interpretasi. Teks lakon bukan sesuatu yang utama, tapi sebagai pijakan untuk menciptakan teks baru dengan konteks yang berbeda. Pementasan Kalanari yang membawa Kapai-Kapai ke sebuah lapangan rumput dengan menukar dialognya dalam bahasa Jawa, sudah menjelaskan hal demikian. Kapai-Kapai kehilangan filosofi dan teksnya.
Interogasi Atawa Dalam Bayangan Tuhan yang diusung Teater Noktah dan Teater Sastrasia, juga mengalami hal yang sama kendati tetap menggunakan bahasa teks lakon, tapi tak banyak membuka kemungkinan-kemungkinan imajinatif bagi penonton. Konteks pertunjukan bernegasi dengan teks. Tubuh aktor seperti lepas dari teks, dan berusaha membuat teks baru yang kontekstual. Hal yang sama juga terjadi pada Kalateater dan Teater Bandul Nusantara.
Pengamat menyebutkan, naskah-naskah Arifin C Noer, bersifat internal, dan cukup sulit “memasuki” secara sempurna jika dimainkan di luar lingkaran Teater Ketjil. Problem ini kerap dihadapi para sutradara/kelompok lain saat menggarap lakon-lakon Arifin. Maka, kecenderungan pemahaman bersifat kontekstual bukan tekstual, tampaknya harus dimaklumi.
Lima hari MTI # 3 di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, panggung setiap malam memproduksi teks yang keluar dari mulut para pelakon. Tubuh pelakon gagap mengimbangi kata-kata yang demikian banyak disemburkan. Teks yang seyogyanya bisa disimbolisasikan dengan tubuh, tetap saja harus diucapkan, dibisikkan, dan malah diteriakkan. Naskah Arifin yang penuh perenungan pun menjadi verbalitas. Sandek, Abu, Jumena, muncul di panggung seolah seorang pengkutbah. Dan bahkan terkesan sedang mengeluh kepada penonton. Padahal, semua naskah-naskah Arifin C Noer sangat terbuka dan memang terbuka untuk dieksplorasi. Tapi itu tak terjadi. Lima kelompok teater di MTI # 3, memperlakukan lakon-lakon Arifin C Noer seperti artefak, kaku, dan normatif.
Arifin C Noer merupakan tokoh teater modern Indonesia. Ia lahir 10 Maret 1941 di Cirebon, Jawa Barat. Meninggal dunia karena kanker hati dan lever menggerogoti tubuhnya pada 28 Mei 1995 di Jakarta. Sebelum mendirikan Teater Ketjil, ia bergabung dengan Teater Muslim pimpinan Mohammad Diponegoro. Tahun 1972-1973 ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.
Iven yang Tertata
Mimbar Teater Indonesia #3 di Solo telah memasuki ketiga kali penyelenggaraannya, dan sukses mengundang kelompok-kelompok teater di pelbagai kota di Indonesia.
Menurut Halim HD, pada 2014, MTI #4 akan menghadirkan khusus lakon Menunggu Godot karya Samuel Barclay Beckett, sastrawan dunia kelahiran Dublin Irlandia, yang meraih nobel sastra pada 1969. Pada 2015, MTI #5 direncanakan menghadirkan naskah-naskah sastrawan Inggris William Shakespeare.
Saya sendiri cukup kagum dengan penyelenggaraan MTI yang dihelat Taman Budaya Jawa Tengah ini, mungkin juga iven seni lainnya, yang telah merencanakan jauh-jauh hari konten ivennya, serta kelompok mana yang terlibat. Tentu saja ini menarik ketika dibandingkan dengan Taman Budaya Sumatera Barat.
Mengapa tidak, lihat saja, nyaris semua iven-iven seni yang digelar Taman Budaya Sumatera Barat, tak direncanakan secara matang. Padahal tupoksi (tugas pokok dan fungsi) Taman Budaya se-Indonesia, tak akan berbeda satu sama lainnya. Program-program Taman Budaya Sumbar mengesankan dilaksanakan sporadis, termasuk program yang disebut Aktivasi itu, yang konon Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelontorkan dana miliaran rupiah. Tapi, yang kita saksikan setiap Sabtu-Minggu, tak lebih seperti acara pesta perkawinan. Selain itu, Taman Budaya Sumatera Barat juga tak memiliki iven yang berkesinambungan, kecuali Alek Teater, yang mulai terlihat tertata, kendati perlaksanaan dan kuratorialnya belum jelas.
MTI memang belum terlihat memberi kontribusi besar terhadap teater di negeri, tapi paling tindak, kehadirannya di tengah mahalnya sewa gedung pertunjukan, ia telah memberi angin segar dan harapan bagi keberlanjutan hidup teater. Di luar Jakarta (program Dewan Kesenian Jakarta), dengan Festival Teater Jakarta, tampaknya MTI-lah satu-satunya perhelatan teater yang dilakukan secara berkala dengan cakupan yang luas.   
Bagi para pegiat teater Tanah Air, MTI saat sekarang memang menjadi ajang penting untuk mempertemukan karya-karya panggung mereka. Dan idealnya, hal semacam ini harus diperbanyak di pelbagai tempat dengan kerja dan program yang jelas.
Pada 2011, Sumatera Barat pernah menggelar pementasan naskah-naskah Wisran Hadi, tapi, tak jelas sebabnya, program ini hilang di tengah jalan. Padahal, awalnya iven ini cukup mendapat respons dari pelbagai pihak. Tapi, itulah...   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar