Kamis, 24 Oktober 2013

Catatan dari Temu Teater Mahasiswa Nusantara I: Tangan dan Dimensi yang Rumit

OLEH Delvi Yandra
Aktivis di Teater Rumah Teduh
 
Pertunjukan dari teater UMIMakassar
Ada tradisi yang kerap dilakukan oleh kelompok Teater Tangan sejak kegiatan Temu Teater Mahasiswa Nusantara I (Temu Teman I) di Benteng Somba Opu, Makassar tahun 2002 hingga yang terkini—Temu Teman IX—di Bandar Serai, Pekanbaru, Riau, 24-29 Oktober 2011.
Tradisi tersebut adalah memasang gelang tali berwarna merah kepada setiap peserta Temu Teman sebelum pementasan berlangsung.
“Merah melambangkan darah. Darah itulah yang mengikat tali persaudaraan. Memang, sejak awal, cita-cita Temu Teman adalah untuk menjalin silaturahmi,” ujar Amah, salah satu anggota Teater Tangan.

Dari 28 kelompok teater yang hadir pada Temu Teman IX, ada sembilan yang turut menyumbangkan pementasan di Gedung Idrus Tintin, Pekanbaru. Salah satunya “Ssssssssstttttt” karya sekaligus sutradara Syamsul Alam Bakri dari kelompok Teater Tangan, Universitas Muslim Indonesia Makassar.
Set yang Merepotkan
Panggung sangat gelap. Gesekan biola dan gumam syair melantun dengan syahdu. Diikuti cahaya pada satu titik menimpa kereta dorong dengan kasur di atasnya dan sisi depan bergambar separuh dari kepulauan nusantara. Semacam tempat tidur bayi. Lampu fade out.
Kuammukang ko battu ri leko kayua kallinu/sanggenna nutunu kallenu/nutunuminne kallenu nu nutunu/tongi ballakku/ sanggengku tena a’mai/sassang ngi po’cinikku/asselanga siagang abu poku’/no mate rikanre pe’pe... (kuhangatkan kau dari kayu pekaranganku/hingga membakar tubuhmu/kau hanguskan rumahku/nafasku sesak/mataku gelap/kuberenang bersama abu pohon/yang mati bersama api...)
Syairnya menyayat dan berhenti. Selanjutnya, hanya ada bunyi pemantik disertai cahaya lilin pada salah satu wajah aktor. Selanjutnya, secara bergantian, ke empat aktor menyalakan pemantik dan lilin secara berkesinambungan dan dengan laku tubuh yang berbeda-beda. Semakin lama semakin cepat.
Sampai akhirnya, cahaya menimpa salah satu wajah aktor dan dia menjerit. Dengan cepat, salah satu aktor lain datang dan mematikan cahaya itu sehingga aktor tadi menghentikan jeritnya. Adegan tersebut dilakukan berulang-ulang.
Set berganti. Kecapi mulai mengalun lembut setelah lampu merah fade in menimpa seorang aktor yang meringkuk dan mengatakan “Ssssssssstttttt” di atas level (balok kayu persegi berwarna hitam yang kerap digunakan sebagai properti di atas panggung) yang tinggi.
Pergantian set membuat kelompok Teater Tangan kewalahan. Set berganti lagi. Sungguh merepotkan. Cahaya merebak dari balik layar dengan warna dominan biru. Tampak sebuah ayunan berwarna hitam yang digantung pada rangka kayu berbentuk segitiga. Ayunan tersebut diikatkan pada kain  panjang berwarna putih sebagai pengatur gerak ayunan. Di sampingnya tampak seorang perempuan (barangkali ibu dari bayi di dalam ayunan) sedang melantunkan syair pengantar tidur sambil menggerakkan ayunan dengan kain panjang berwarna putih tadi.
Toengi bambo’de/toengi bambo’de/toengi tandri rapponna malejo/tandri rapponna’ de/tandri rapponna’ de/tandri padingko lenganna malejo...
“Ini semacam lagu ‘nina bobok’ untuk menidurkan anak versi Makassar yang sudah ada sejak lama,” ujar Syamsul.
Sesaat kemudian, perempuan tersebut menari sambil memainkan kainnya dan melepaskannya. Dia larut dalam gerakannya sehingga dia kembali pada ayunan tadi sambil bersimpuh. Syairnya sungguh tajam. “Di dalammu mengalir darahku, dunia yang akan menentukannya,” ujarnya pada ayunan. Lalu keluar dari panggung. Set berganti.
Sebuah kereta kubus beroda (semacam kereta bayi) didorong menyusuri panggung secara teratur oleh lelaki berdasi dan bertelanjang dada. “Saatnya kita kejar ketertinggalan,” katanya, dilanjutkan dengan menaiki kereta tersebut dan melakukan gerak seperti mendayung.
“On-of-on-of,” katanya sambil memegang pemantik dan kipas kecil. Kipas berputar ketika pemantik dinyalakan. Begitu seterusnya. “Tutup mata dan buka telinga, tutup telinga dan buka mata,” katanya lagi sambil tiduran di atas kereta, melakukan kegiatan yang sama. Tampak sedikit monoton.
Tanpa disadari, seorang bayi bertubuh tinggi keluar dari ayunan—juga bertelanjang dada. Dia memperhatikan dengan teliti ke arah lelaki tadi. Mendekat. Menyimak. Dengan cekatan, dia mengambil kipas dan pemantik dengan paksa. Merampasnya. Maka, terjadilah adegan tarik-menarik. Akhirnya, berujung pada saling rebut kasur di atas kereta, berputar. Seiring dengan suara yang tak beraturan. Salah satunya pun menyerah.
“Matilah! Percuma saja fasilitas itu kau nikmati tetapi tak bisa kau manfaatkan,” ujar lelaki (yang berdasi) yang mengalah. Suasana kembali normal. Sedikit lebih tenang.
Membaca Teks, Membaca Tanda
Empuk, dingin dan hangat: menjadi polemik dalam penentuan benda dan keberadaannya. Di mata Roland Barthes (filsuf Perancis yang mempraktikkan semiologi), suatu teks merupakan sebentuk konstruksi belaka. Bila hendak menemukan maknanya, maka perlu dilakukan rekonstruksi dari teks itu sendiri. Hal itu dilakukan oleh kelompok Teater Tangan.
Berkali-kali lelaki itu menerjemahkan penglihatan, pendengaran dan perasaannya dalam menentukan rasa dari benda yang dirampasnya. Dan pada akhirnya, dia mampu menerjemahkan rasa dari sebuah benda hingga dia merasakan kantuk dan tertidur. Lampu menyala merah. Fade Out.
Set berganti. “Monitor-monitor-monitor... Bakar satu! Bakar dua! Bakar tiga!... kalimat itu senantiasa diucapkan berulang-ulang pada beberapa adegan. Dengan lekas, tiga aktor masuk sekaligus secara teratur. Semacam bunyi derit kapal. Semacam percepatan. Tiga aktor berjalan abnormal menyusuri panggung. Dengan kain putih panjang, mereka bertalian satu sama lain. Aktor terdepan berjalan kaku dengan kain putih melilit pinggangnya. Aktor di tengah dengan kain putih di pinggang dan lehernya—seolah percepatan waktu. Di kedua tangannya memegang rambu-rambu (bendera dalam Pramuka). Di kanan rambu verbodeen, di kiri rambu dengan tiga lubang di tengah.
Di dalam Pramuka, disebut semaphore yang berarti suatu cara untuk mengirim dan menerima berita dengan memakai dua bendera. Dimana masing-masing bendera tersebut berukuran 45 x 45 cm. Sedangkan warna yang sering digunakan adalah merah dan kuning, dimana warna merah tersebut selalu berada dekat dengan tangkainya.
Mengirim dan menerima berita dengan semaphore hanya dapat dilakukan pada jarak lebih kurang 200 meter atau sejauh yang dapat dilihat oleh mata. Biasanya digunakan dalam bidang kelautan. Demikian barangkali pada adegan tersebut. Aktor paling belakang berdiri di atas trap roda sambil memegang corong yang menutupi wajahnya dan berkata: Saudara-saudara sekalian, ini kami lakukan demi kesejahteraan kalian. Karena melihat kebutuhan kita yang semakin meningkat. Dimana kita membutuhkan arena yang lebih luas lagi...
Kalimat-kalimat tersebut sering diucapkan oleh aktor yang sama di beberapa adegan yang berbeda. “Berisik!!!” Ujar lelaki yang terlelap, menimpali adegan itu. Dia terjaga. Dia mencari sumber suara. Suara lain pun saling bentur di sana. Dia tampak gelisah. Tidurnya seperti terganggu. Lampu merah. Fade Out.
Set berganti lagi. Lampu menyala biru. Imajinasi penonton dibawa ke udara lepas. Tiga aktor masuk membawa balon panjang berukuran sangat besar. Masing-masing dengan laku yang berbeda. Mereka berlari-lari kecil, melangkah diiringi Suara kerisik plastik. Balon panjang ditegakkan secara diagonal. Aktor-aktor berusaha mengeksplorasi properti meskipun tampak sedikit tidak terbiasa.
“Kuhangatkan tubuhmu hingga kubakar rumahmu...” ujar sesuara. Balon-balon pun diledakkan. Penonton terkejut dan takjub. Adegan cepat berubah. Aktor berganti. Beberapa aktor masuk dengan laku seperti kera. Bergerak liar mengitari panggung dan kerangka kayu berbentuk segitiga. Salah satunya membawa corong yang menutupi wajahnya. Kalimat-kalimat pada adegan sebelumnya diucapkan kembali dengan irama yang datar. Kerangka kayu berbentuk segitiga didorong salah satu aktor, seolah-olah ingin memerangkap aktor lain yang berlaku seperti kera. Sampai akhirnya, mereka keluar. Adegan berganti dengan cepat.
“Oksigen...oksigen...oksigen...” Seorang aktor masuk membawa kereta dorong dengan balon-balon di atasnya—dia menjual oksigen. Pada saat yang nyaris bersamaan, dua kator terkurung di dalam balon masuk ke panggung. Mereka mengerjap, sesak dan membutuhkan udara. Sesuara mengulang kalimat pada beberapa adegan sebelumnya.
Adegan berganti. Lampu menyala biru. Imajinasi terbangun memasuki dasar laut. Tiga aktor masuk denga gerak dan laku seperti berenang dan menyelam. Salah satunya membawa balon. Suara-suara gelembung mengikuti. “Kuberenang bersama abu...” Lalu balon lekas meletup, sekali lagi. Kalimat-kalimat pada beberapa adegan sebelumnya kembali diucapkan. Lagi.
Kali ini set berganti. Lampu Fade Out terlalu lama. Emosi penonton seakan terputus. Beberapa saat kemudian, lampu menyala merah menimpa seorang aktor yang sedang berlari di tempat. Dia gelisah. Aku hanya mimpi...aku hanya mimpi... Suara dentuman, gesek biola yang kasar dan ledakan-ledakan emosi. Aktor berusaha tidur di atas trap yang diberi kasur sebagai alas. Dia tetap gelisah. Tak dapat tidur. Dia meringkuk. Gelisah lagi. Meringkuk lagi. Sesuara merangkum adegan: domba satu, domba dua, domba tiga, domba empat, domba lima... dan seterusnya. Dicabik-cabiknya kasur hingga keluar kapasnya. Dia turun panggung, meminta mimpi dari penonton—lampu sorot mengikutinya. Ingin menukar mimpi. Khas Brech: panggung menjadi tak terbatas. Dan dibakarnya kasur itu sehingga berkobar apinya.
Selanjutnya, dua aktor membawa ranting dan menari dengan ranting itu. Tidak bobok...aku tidak bobok... Lampu pun padam meninggalkan kasur yang terbakar. Dan pementasan pun berakhir.
Meskipun tidak sepenuhnya aura magis sampai ke penonton, tetapi Teater Tangan tetap mampu menyelesaikan pementasan. Untuk sebuah pementasan sarat dimensi dan visual yang “meledak-ledak”, kualitas vokal aktor sangat dibutuhkan.
Syamsuol mengatakan, dimensi-dimensi dalam pementasan sengaja dihadirkan sebagai visual atas kejadian-kejadian yang ada di darat, udara dan laut. Dampak kebakaran dan kerusakan lingkungan menjadi isu menarik di Makassar. Itulah yang ingin mereka sampaikan kepada Indonesia. Proses latihan yang hanya dua bulan tak menyurutkan semangat kelompok Teater Tangan untuk tetap tampil.
“Apakah kita pernah merasa tidak bisa tidur?” Ujar Syamsul mengakhiri diskusi usai pementasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar