Jumat, 25 Oktober 2013

Kekasih Kupu-Kupu

CERPEN Dodi Prananda                                

Karya Amrianis: Teater Malin Kundang
Apa binatang paling menarik di dunia ini? Bila mungkin pertanyaan itu kujawab, dengan matang aku akan menjawab; kupu-kupu. Bukan semata, karena karena aku memiliki kekasih cantik rupa bernama Kupu.
Cantik, indah dan menawan, itulah komentarku ketika setiap bertemu kupu-kupu. Hal yang sama ternyata juga kualami ketika bertemu Kupu. Aku mengulang komentar itu untuknya; cantik, indah dan menawan.
Aku ingat dulu, ibu sering bilang, kalau ada-ada kupu-kupu yang masuk rumah, itu artinya akan ada tamu yang datang. Imajinasi kanakku, membayangkan, kupu-kupu itulah yang akan berubah menjadi tamunya. Tapi, ternyata tidak. Seringkali, apa yang ibu bilang terjadi. Ada tamu yang datang. Tunggu! Itu akan terjadi kalau saja kupu-kupunya warna-warni, bukan berwarna hitam. Tapi, kalau saja kupu-kupunya berwarna hitam, “Penanda kematian. Akan ada yang mati. Kupu-kupu memberi kabar,” kata ibu.  Cerita itu, tak mengurangi rasa cintaku pada kupu-kupu. Dan, karena aku telah menamai diriku; Kekasih Kupu-Kupu.
***

Aku bertemu Kupu ketika sebuah pameran lukisan di Jakarta. Ia malam itu sangat anggun. Datang ke sebuah pameran lukisan terbesar tahun itu menemani ayahnya yang penggila lukisan. Aku tiba-tiba menjadi ingat. Sehari sebelum malam pameran itu, ibu sempat bilang,” Ada seekor kupu-kupu warna-warni masuk ke rumah kita,” katanya sambil berusaha menangkap kupu-kupu itu. Tapi, kupu-kupu itu beranjak pergi dari rumah, melalui kaca jendela yang menganga.
Ayahnya bertanya padaku waktu itu, “Berapa harga yang harus kubayar untuk lukisan sebagus ini?” katanya. Aku tidak berani menjawab, maksudku, tidak berani menyebutkan harga itu di depan putrinya yang cantiknya mungkin jauh lebih dari kupu-kupu yang ada di lukisan itu.
“Buat Tuan, tidak perlu bayar lukisan ini!” tulisku di kertas putih.
Ia sontak agak terkaget. Jawaban yang sangat tepat kurasa baginya malam itu, karena beberapa hari setelah itu, aku berhasil mendapatkan putrinya. Amat jauh berharga bagiku ketimbang memberikan lukisan yang kurampungkan berhari-hari demi dipajang di pameran akbar itu tanpa harus dihargai uang dari ayahnya. Apalagi, ketika saat itu, aku mendengar pertama kali bahwa ternyata aku keliru selama ini; ada ciptaan Tuhan yang ternyata jauh lebih cantik, indah dan menawan dari kupu-kupu.
“Namaku, Kupu..,” kata dia memperkenalkan diri. Di sebuah kafe, di suatu malam, saat aku berhasil bertemu untuk kedua kalinya dengan dia setelah malam pameran itu. Aku rasa, Kupu sangat mengerti betapa aku tak bisa berbicara langsung untuk menjawab salam perkenalannya. Tidak ke telinganya. Tapi, justru ke matanya.
“Nama yang cantik,” kataku, “seperti Kupu-Kupu,” aku membalas di atas kertas.
Dia tersenyum. Aku membalas senyumnya. Itulah, pertama kali ia telah berhasil membuat aku jatuh cinta. Jatuh cinta untuk pertama kali.
***
Semenjak mengenal Kupu, aku merasa dilecut banyak inspirasi setiap hari. Banyak hari-hariku habis terdiam, bermenung, berhari-hari untuk duduk di depan kursi. Di depan kanvas yang masih putih perawan. Belum ada satupun di sana, tergores cat minyak dari kuas yang masih kuapit disela-sela jemariku.
Suatu hari, Kupu terang bahagia, aku melukis dirinya. Ia duduk di sela kepak sayap kupu-kupu raksasa yang sedang mengembang terbang.
“Ini kado satu tahun hubungan kita,” kataku padanya.
Ia menciumku; aku maksud bibirku, untuk pertama kali. Mengingatkan aku bagaimana rasa bahagia seorang Rose DeWitt Bukater ketika dilukis seorang Jack Dawson difilm Titanic sehingga ia menghadiahi daun bibir Jack dengan sebuah ciuman paling hangat di atas geladak kapal.
Aku rasa, kalau aku tak terlalu berlebihan, Kupu perempuan yang amat romantis. Bukan hanya karena ia perempuan yang mau masuk ke kehidupanku lebih jauh hingga sekarang, tapi justru karena sikapnya yang membuat aku menjadi sangat luluh. Tidak bisa menolak ajakannya berjalan ke taman; untuk mencari kupu-kupu, menikmati senja di taman, dan menutupnya dengan sebuah percintaan paling hangat di ruang lukisku. Ia menjadi pemantik imajinasiku, serta merta menjadi perempuan yang telah mengubah banyak hal.
“Kau tidak bisu sayang, sungguh. Kau justru berkata dengan sangat lebih tajam lewat lukisan-lukisanmu,” kata Kupu suatu hari.
Suatu hari. Usai aku merampungkan sebuah lukisan seorang laki-laki dengan kemaluan bernanah dan belatung-belatung menempel di sana, dan seorang perempuan dengan lutut tertekuk ke lantai, menjilati kemaluan itu dengan rakus dan lapar. Di hari yang sama, ketika Ibu mendapati Bapak selingkuh dengan gundiknya di kamar belakang. Di hari yang sama, ketika aku melihat langsung Bapak memasukkan seorang perempuan ke kamar itu, di saat Ibu dua hari ini tak tidur di rumah.
Aku ingin temui Bapak di kamar itu, melayangkan sebuah tinju paling keras tepat di jidadnya. Kupu menahanku. Meredam amarah yang tidak bisa terbendung. Dan, Kupu berhasil membendungnya.
“Biarkan Tuhan menyelesaikannya. Tuhan punya ending yang lebih bijak untuk semua ini. Dan, bukan berarti kau lemah atas semua ini. Kau kuat, laki-laki paling kuat, dalam kelemahanmu sekalipun,” ia membisikku kalimat itu ke telingaku.
Aku menciumnya.
Lalu, di ruang lukis, aku terus meneruskan lukisan laki-laki itu. Kini, tepat di kepala laki-laki itu, bersarang sebuah peluru panas yang menembus tengkorak kepalanya. Seorang perempuan lain, dari arah belakang yang mengarahkan pistol itu ke arah laki-laki itu.
Sejenak, aku menghentikan lukisan itu. Melempar kuas. Tak kuasa meneruskan lukisan itu. Kupu kali ini diam di tempatnya. Membiarkan aku memandang lepas pemandangan dari jendela nako, memandangi malam yang biadab bagi laki-laki yang dipanggilnya; Bapak.
“Hatimu tidak pernah bisu sayang. Hatimu sangat bijak menghadapi semua ini. Aku yakin, dan bantu aku buat meyakinkanmu bahwa semua akan baik-baik saja,” kini Kupu berkata. Ia mendekat. Memelukku dari belakang. Aku biarkan tangannya melingkari tubuhku, dan aku menyambut pelukannya, membiarkan airmataku jatuh di pundaknya ketika aku berbalik arah memeluknya. “Kau tidak pernah bisu! Tak sekalipun,” ia melanjutkan sambil menatap sesuatu masuk dari dalam jendela.
“Lihat itu….!” katanya. Aku mengikuti telunjuknya. Seekor kupu-kupu hitam, baru saja masuk ke kamar lukisku. Seeekor kupu-kupu hitam, tidak..tidak.. tidak seekor, dan..
“Sayang, kupu-kupu itu banyak sekali..” Kupu setengah terkejut ketika sekawanan kupu-kupu hitam, masuk dari jendela nako yang terbuka.  
“Kalau saja kupunya berwarna hitam, itu penanda kematian!” suara Ibu di masa kecil, membuat aku menjadi terguncang beberapa saat. Kepalaku berdenyut begitu keras. Ada sesuatu yang membuat tubuhku menjadi tidak seimbang. Kupu mencoba membuatku tetap sadar, tetapi tubuhku sempoyongan, dan, ambruk ke lantai…
Gelap. Semua sekonyong-konyong menggelap. Di dalam kegelapan itu aku melihat; seorang perempuan muda tengah menelepon seseorang, Ibu turun dari taksi, menyorongkan kunci rumah dari luar, masuk rumah dan memanggil-manggil Bapak, Ibu berjalan ke kamar, Ibu menuju dapur, Ibu bertemu perempuan itu di depan kamar lukisku, Ibu menuju kamar belakang bersama perempuan itu, perempuan itu menyerahkan sebuah pistol ke tangan Ibu, lalu terdengar suara tembakan dari kamar belakang…
“Dooorrr!!!”

Depok, 10 April 2012



 TENTANG Dodi Prananda
Dodi Prananda, lahir di Padang, 16 Oktober 1993. Sedang studi di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Saat ini aktif sebagai Reporter FISIPERS (Lembaga Pers Mahasiswa Sosial Politik UI).
Ia terpilih sebagai Juara II Sayembara Menulis Cerita Pendek Tingkat Mahasiswa Se-Indonesia yang diselenggarakan UKM Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra), FKIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Serang, Banten) dan termuat dalam Bulan Kebabian (Belistra Press, 2011). Cerpennya, selain dimuat di berbagai media lokal dan terbitan Jakarta, juga termuat dalam sejumlah antologi. Buku puisinya yang telah terbit;  Musim Mengenang Ibu (2012).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar