Rabu, 16 Oktober 2013

Marapulai

CERPEN Delvi Yandra

Malam ini adalah malam terberat sepanjang hidupku. Pikiranku terus melambung. Aku hanya terus duduk merenung di sudut kamar. Di atas lapik kubentangkan kitab suci tanpa membaca surat-surat di dalamnya. Sesungguhnya, besok aku akan menjadi marapulai.
Bukan pekerjaan yang kupersoalkan atau masalah setoran yang cukup membuat repot tapi ini adalah persoalan anjuran agama. Besok aku akan melaksanakan akad nikah. Gadis pinangan yang dipilih Abak bukanlah perempuan yang kucintai. Sebenarnya aku belum berniat mencari pendamping hidup dengan alasan bahwa aku masih ingin menikmati kesendirian dengan pekerjaanku. Jadi, tak perlu kiranya kusebutkan bagaimana sebenarnya perempuan itu. Yang jelas, ia bukan perempuan yang dapat membuat aku jatuh hati padanya. Tidak ada pesona yang menarik.

Sebenarnya, apa yang kulakukan adalah atas permintaan Abak. Ia bersikeras menentukan pilihan untukku dengan pertimbangan bahwa sebelum meninggal ia ingin mengalami bagaimana rasanya menimang seorang cucu. Aku tidak habis pikir dengan permintaan Abak tersebut. Sementara Emak, hanya mengamini kata-kata Abak. Ia tak dapat menentang apa yang digariskan kepada perempuan-perempuan Minang sejak dahulu. Di dalam rumah maupun di dalam keseharian Emak hanya dianggap Abak sebagai istri yang kerjanya mengurusi dapur, sumur dan kasur. Tapi, inilah yang menjadi persoalan berat bagiku sebab pernikahan bukanlah suatu taruhan tetapi perbuatan adat yang sakral. Apa yang kupikirkan akan selalu bertentangan dengan keinginan Abak.
Memang, apapun yang orang-orang lakukan mengenai pernikahan yang sakral dikarenakan atas dasar harga diri dan diawali dengan niat yang baik. Ah, setidak-tidaknya masih ada orang yang berani melakukannya demi suatu prestise. Seperti halnya panibo yang diberikan pihak keluargaku kepada perempuan itu tiga minggu yang lalu. Seperangkat selimut tebal dan pakaian. Begitu pula halnya dengan uang jemputan. Kemudian, beberapa hari setelah itu, ia menerimanya. Percobaan Abak berhasil dengan sangat sukses.
“Oi marapulai, tidak lama lagi kau akan basandiang. Sudah lurus ucapan kau?” Seloroh Abak sebentar tadi di ruang makan.
Lalu kujawab pertanyaan Abak itu dengan seulas senyum dan anggukan kecil. Entah bagaimana caranya aku menjelaskan kepada Abak kalau aku tidak ingin menikahi perempuan itu. Aku hanya khawatir penyakit jantung Abak akan kambuh lagi jika kukatakan yang sebenarnya. Hal itulah yang sangat tidak kuinginkan.
Sebentar kemudian, kubaca satu ayat saja. Mudah-mudahan nantinya akan terang jalan pikiranku. Napas panjang kuhirup lalu mulailah kubaca lafas-lafas yang cukup populer. Betapa kurasakan hati yang begitu tenang dan dada yang tiba-tiba menjadi lapang.
Aku menghargai niat baik Abak. Tapi, tidak ada salahnya apabila aku menentukan pilihanku sendiri. Sekarang kan bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Lagi pula aku ini seorang laki-laki sejati dan laki-laki berdarah Minang seperti aku selayaknya sudah merantau ke negeri orang mencari kerja yang lebih mapan dan perempuan pilihan untuk dinikahi. Jadi, aku berhak menentukan perempuan yang akan kujadikan teman bersanding sampai mati. Aku tidak ingin perempuan yang dipilih Abak nantinya akan celaka.
***
Orang-orang berbondong menuju masjid. Menuju tempat dilaksanakannya akad nikah. Anak-anak di kampung pun ikut meramaikan. Mereka bersorak-sorai sambil mengikuti arakan dari belakang. Beberapa bungkus penganan dan beras dihantarkan dalam perhelatan tersebut. Wah, suasana yang gegap gempita pun memenuhi ruang masjid. Bisik-bisik keras terus bersahutan dan menyayat daging telingaku. Aku yakin mereka sedang membicarakan aku dan perempuan ini.
Sebentar kemudian suasana menjadi hening. Penghulu mengambil posisi duduk di hadapan kami. Mata orang-orang tertuju padaku dan perempuan yang duduk di sampingku. Kami tak mampu bertatapan. Entah apa yang membuat aku tiba-tiba menjadi gugup. Menjadi tak karuan.
Ah, jangan! Jangan sampai ini terjadi. Aku tak berniat untuk jatuh hati padanya jadi aku tak boleh gugup,’ kataku dalam hati.
Pelan-pelan kuberanikan diri untuk meliriknya dengan sudut mata kananku. Kuberanikan pula wajahku menatap wajahnya dengan sedikit rasa tak suka. Tanpa sengaja kutemukan matanya yang begitu tulus, kepalanya menunduk seperti penuh tanda tanya. Satu hal lagi yang membuat jantungku terasa ingin lepas adalah ketika kuperhatikan wajahnya yang molek dan bersih. Hari ini perempuan itu benar-benar kelihatan cantik. Pantas jika ia disebut anak daro.
Aneh. Aku merasa bahwa diriku baru saja bersikap seperti seorang anak kecil yang tengah sibuk memilih mainan di sebuah kios mainan.
Pikiranku tambah tidak karuan ketika melihat binar di wajah Abak dan Emak. Mereka terus memperhatikan aku dan kubayangkan kalau mereka tengah berpikir bahwa semoga aku akan lurus mengucapkannya.
“Bagaimana marapulai?” Penghulu itu menyela ke tengah pikiranku. ”Kau sudah siap?”
Perempuan itu mengusap keringat di keningnya dengan selendang yang membaluti lehernya. Kemudian dengan segera ia sampaikan wajah setulus peri dan selembut awan di hadapanku. Tatapan yang sangat tidak kuinginkan. Tatapan yang membuat aku terus berpikir ulang dalam mengambil sikap.
“Saya siap datuk penghulu.” Lalu, sambil kubetulkan posisi duduk. ”Silakan dimulai datuk penghulu”.
Sementara penghulu itu membacakan segala hal dan tetek bengek lainnya, aku kembali pada tujuanku untuk tidak menghapal ucapan dan nama perempuan itu. Lalu, sebentar kemudian kuperhatikan ia mencubit lengan kirinya dan dilanjutkan dengan meremasnya. Wajahnya memerah seperti warna sari buah apel. Ia begitu gugup. Sebegitu gugupkah, pikirku.
Dapat kubayangkan kalau ia begitu menantikan pernikahan ini. Mungkin memang benar bahwa ia telah benar-benar pasrah dengan keputusannya ini. Barangkali saat ini ia sedang berpikir bahwa aku juga sungguh mencintainya.
Betapa tololnya perasaan. Selalu tidak sesuai dengan apa yang orang-orang pikirkan dan tentang perasaan itu sendiri akan ada banyak hal dan peristiwa dapat dipelajari. Seperti halnya apa yang dipikirkannya kepadaku saat ini. Di dalam Masjid ini.
Lalu, peristiwa yang paling mendebarkan adalah pada saat aku mulai mengucapkan janji nikah. Penghulu itu mendekap tanganku dengan tangan keriputnya. Hal yang tidak dapat kusangka-sangka adalah bahwa aku telah berhasil menyebut nama perempuan itu. Nama yang berusaha untuk aku singkirkan dari pikiranku. Aku tidak tahu apakah aku harus lega atau menyesal telah melakukannya.
Setelah semua orang mulai beranjak meninggalkan masjid, aku masih gelisah membatu. Seketika itu pula Abak menjentik daun telingaku.
Ndeh, kau jangan bikin malu Abak di depan orang kampung,” bisik Abak ke telingaku. “Ayo, pulang!”
Akhirnya, aku telah sah menjadi suami perempuan itu. Dapat kupastikan pula bahwa pada saat baralek gadang esok aku akan segera bersanding di pelaminan bersama perempuan yang kusebut Lisa.
***
Malam ini aku disidang Abak di meja makan, ketika orang kampung tengah sibuk mempersiapkan baralek gadang. Ia begitu murka dan entah darimana mengetahui bahwa aku tidak setuju dengan pernikahan ini. Sementara Emak terus berusaha memadamkan amarah Abak yang sedang terbakar. Sebentar kemudian, Abak kembali tenang setelah dadanya sedikit terasa sesak.
“Kau harusnya mengerti kenapa Abak bersikeras menikahkan engkau dengan Lisa.” Suara Abak melirih dan sesekali matanya menatap aku dengan penuh harapan.
“Abak hanya ingin menyelamatkan hidupnya. Kalau tidak segera Abak nikahkan engkau dengannya, laki-laki biadab itu akan menjualnya.”
Aku menjadi bingung dengan penjelasan Abak yang tiba-tiba itu. Kemudian Abak menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang ayah Lisa yang berniat menyerahkan Lisa kepada agen gelap di Batam. Abak juga mengatakan bahwa ayah Lisa adalah laki-laki yang tega melakukan perbuatan busuk apapun demi mencapai tujuannya. Maka pada akhirnya, ibunya, mendesak agar Abak bersedia menikahkan Lisa denganku sebelum laki-laki itu pulang beberapa hari lagi.
“Untuk itulah Abak menikahkan kau dengan Lisa. Abak ingin menimang cucu itu hanya alasan yang Abak buat-buat saja.” Kemudian Abak minta dipapah Emak ke bilik tidur.
”Kau pikir-pikirlah lagi. Lisa benar-benar telah mencintaimu.”
Kemudian, aku menjadi kalut di ruang makan yang berlampu buram. Urat-urat di kepalaku seperti akan keluar. Pikiranku kacau. Dan sungguh, aku tak bisa memutuskan apapun untuk kubicarakan pada Lisa di malam pengantin nanti. Aku belum siap menerima kenyataan sesungguhnya. Hal yang tak pernah terbayangkan olehku selama ini.
Sayup-sayup kudengar isak tangis Emak di dalam kamar.
***
Aku benar-benar telah bersanding dengan perempuan itu. Pelaminan menemani kami untuk duduk berdua. Jelas kusaksikan senyum lepas dari bibir Lisa. Pesta usai dengan damai.
Di rumah yang kami tempati sementara, di dalam kamar pengantin, aku telah menciptakan kekakuan yang abadi. Berjam-jam kami tak mengeluarkan sepatah katapun. Beberapa saat kemudian, dengan perlahan, Lisa melepaskan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Malam pun lekas meninggi.
Aku harus berani jujur terhadap perasaan yang sesungguhnya. Walaupun aku telah lurus menyebut namanya tetapi aku harus tetap menentukan keputusanku malam ini juga. Setidak-tidaknya agar aku tidak terus tenggelam oleh desakan perasaan seperti ini.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan ayah Lisa. Ternyata ia datang lebih awal dari waktu yang diperkirakan. Suaranya terdengar jelas dari dalam rumah. Ia memekik dan menjerit dengan suara lantang di halaman. Memanggil-manggil nama anaknya. Lisa lekas membetulkan pakaiannya.
Dengan sigap aku segera bergegas ke pintu muka. Menghadang laki-laki itu dengan penuh amarah.

Rumahteduh, 2009



Tentang Delvi Yandra
Lahir 10 Desember 1986 di Palangki, Sumatra Barat. Cerpennya termaktub dalam antologi bersama: Kembang Gean (2007) dan Jalan Menikung ke Bukit Timah (2009). Mendirikan sanggar menulis kreatif untuk remaja Layarbirustudio. Juga aktif di Teater Rumahteduh dan Studiomerah. Sekarang kuliah di Hukum Internasional, Fakultas Hukum Universitas Andalas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar