Rabu, 16 Oktober 2013

Mata Anjing

CERPEN Alizar Tanjung
Aku menyaksikan mata anjing di beranda. Mata anjing di atas meja ukiran jepara. Di atas piring kaca dialas kain putih. Matanya mengeliat. Sebilah pisau di sebelah mata anjing. Pisau itu kemudian memantulkan mata anjing. Pisau itu memantulkan kepalaku, hidungku yang berdarah-darah, pipiku yang berdarah-darah, telingaku, keningku, kelopak mataku, jenggot tipisku.
Aku dapat melihat mataku bermain-main di bola dunia mata anjing. Dua bola mataku, aku saksikan sayu.
“Tuanku yang punya ruh. Kau orang hidup. Aku kini benda mati yang hidup.” Ouh, mata itu bicara. Mata paling setan yang pernah kusaksikan. Paling setan dari hari setan. Konon hari itu hari ketika Adam dilemparkan ke dunia. Hawa merayunya memakan buah kemelaratan. Terlemparlah Adam. Tapi memang kodrat perempuan. Ia berasal dari tulang rusuk yang bengkok, kalau engkau biarkan ia akan terus bengkok, kalau engkau paksa meluruskan ia akan patah.

“Ah, tidakkah kenal tuan dengan diriku. Aku mata-mata yang mengail di sampah-sampah persimpangan. Pada tiap tumpukan nasi pembuangan rumah makan. Seseorang kemudian menangkapku. Katanya aku pengganggu. Ia congkel mataku. Ia hadiahkan buat Tuan.”
Aku jadi pusing, kenapa aku temukan mata anjing. Segala hal adalah ketiadaan. Yang ada hanya baying-bayang dari sesuatu. Tapi mata anjing mengusik pikiranku. Segala hal adalah rekaan.
“Aku ingin mengambil matamu. Aku kehilangan tubuh.” Mata anjing itu melompat-lompat dalam piring.
“Tidak. Aku mimpi.”
“Kau tidak mimpi. Kau di alam nyata.”
Mata anjing itu menari-nari. Darahnya menetes-netes.
“Gila.”
“Di negeri ini mata orang mesti diganti dengan mata anjing. Anjing-anjing sudah banyak yang dibunuh. Mata orang banyak yang rabun, sebab itu ia pakai kacamata.”
“Mata orang adalah mata suci. Mustahil digantikan mata anjing.”
“Banyak bacot.” Mata Anjing itu membaca mantra. Mataku sakit. Di dalam bergejolak. Matakaku menyentak. Uratnya terserabut. Mata itu melilit. Darah muncrat ke luar lobang mataku.
“Anjing. Kucing. Rimau. Kambing. Kerbau. Sakit. Setan!”
Mata anjing menghambur ke gua mataku. Mata itu menancap, menusuk, mengakar. Sial, ia menggantikan posisi mataku. Mata anjing di mataku mengerjap. Kelopak mawarnya membesar. Aku dapat lihat cahaya biru  setan di matanya. Cahaya itu menusuk retina. Cahaya itu membuat ruang gelap. Gelap itu membuat mata anjing leluasa. Biru mata anjing semakin silau. Maka membesar dan menipis pupil mata anjing di mataku.
“Mata-mata anjing sudah mestinya mendapat tempat. Ruang adalah bilik rahasia untuk tempat suci. Ruang tempat duduk setan dan malaikat bersanding dan berjabat tangan.” Mata anjing membaca mantra-mantra setan.
***
Aku diantarkan ke sebuah gua panjang. Hanya ada lumut, batu, dinding, talmit-talmit yang meruncing, Jalannya licin, terjal. Aku jadi seekor burung yang tersesat. Sayapku mengepak. Mataku sebagai mata burung. Pintu masuk batu-batu cermin.
Aku tak percaya ini malam atau siang setan. Anjing menggonggong. Srigala meraung. Langit tak tampak. Bumi! Bumi tak dapat dibedakan, mana bumi mana gelap.  Kecuali hanya satu, hitam.
Di pintu gua aku tak berwujud, kecuali hanya mataku. Mataku melayang di dinding gua. Mataku berdarah-darah. Mataku sama hitamnya ruang. Titik hitam yang lebih hitam dari yang lainnya meyakinkan bahwa itu mata. Mataku berputar-putar, terantuk dinding gua, terantuk batu. Kelopak mawar mataku sayu, menyipit. Gelap.
Aku sadar bola mataku sudah tak ada. Hanya ada mata bolongku. Aku berdiam dengan tubuhku yang entah darimana kembalinya. Tubuh tidak berupa. Bukan ruh. Bukan! Aku percaya aku masih hidup. Tak ada dalam jadwal hari, tanggal, bulan, tahun kematianku. Maka indikator ruh hanya bualan. Aku juga percaya setiap jasad ruhnya kembali kepada Tuhan. Ia disediakan tempat. Ia bergabung di pohon-pohon Tanjung. Bergelantung berbuai-buaian. Di bawahnya air susu, madu, mengalir deras. Langit biru. Pepohonan tumbuh rindang, tumbuhnya terbalik. Memetiknya sambil tidur di atas permadani. buahnya lezat. Tinggal minta maka langsung di depan mata. Burung-burung bewarna-warni berukuran besar siap mengantar ke mana ruh hendak pergi. Kuda-kuda putih ditambak di padang rumput maha luas.
Aku sampai di tengah gua. Sepasasang-sepasang bola mata bersinar. Mata biru menyilau tajam. Hanya mata dan mata itu. Mata harimau pikirku. Atau mata srigala. Mata inyiak[1]. Jangan-jangan benar mata inyiak. Inyiak yang siap menerkamku. Bulu kuduk tubuhku yang tak berupa, merinding. Mata kosongku kemudian bersilau biru. Semua mata di depanku serentak melihat mata silauku.
Mata itu, sekolompok mata anjing lengkap dengan tubuhnya di tengah gua. Aku tidak percaya, mata anjing itu mengelilingi meja batu. Anjing-anjing itu duduk jongkok. Anjing-anjing itu memperagakan matanya. Kelopak mawarnya membesar. Di bawah kepala raja anjing, di atas batu, semangkuk mata terhidang. Mata itu sayu, kelopak mawarnya sipit. Mangkuk itu berdarah-darah. Rahangnya anjing itu menganga. Giginya besar-besar.
Anjing-anjing yang aku temukan memakai dasi, baju sutra, sepatu kulit. Anjing-anjing yang aku temukan memakai kacamata, sal, cincin. Anjing-anjing yang aku temukan memakai gelang emas, liontin. Anjing-anjing yang aku temukan, ditemukan mata anjingku.
Aku tak tahu. Kenpa? Mata anjing itu berdarah-darah. Mata anjing semakin biru saat mengeluarkan suara.”Tidak!!!” Dalam mata anjing itu mataku tertawan. Mereka menyimpan mata manusiaku. Mataku mengeliat melihat mata bolongku. Mataku bewarna darah, titik tengah biru. Lalu mata anjing itu terus berdarah-darah.
“Perundingan kita siapa memakan mata pertama?” Maka raja anjing berkata. Perundingan dimulai. Semuah riuh. Kemudian ruang kembali hitam. Hanya tampak silau-silau mata anjing tanpa tubuh. Tepatnya mata anjingku berhenti menyilau.
“Ini mata spesial dari mata-mata orang sempurna. Memakan mata spesial hidangan terlezat. Mata berdarah-darah.”
Mata itu berlonjak-lonjak. Mata itu berkumpul di tengah. Mata itu berjajar serentak memandang mata anjingku. Sepasang mata maju ke depan. Sepasang mata itu tepat sejengkal di depan mata anjingku. Mata anjing itu masuk ke mata anjingku. Menetap di urat retina. Mata itu menyilau tajam. Mataku menjelma dari mata anjing ke mata anjing.
“Indah untuk sebuah permulaan,” katanya.
“Kelezatan tersembunyi pada ruang-ruang yang sepi dijamah,” ujarnya.
“Akulah pemakan pertama. Sesudah itu kita bersama. Jelasnya, habis mata orang sempurna kita kumpulkan lagi mata lainnya, mata berdarah-darah.”
Semua bersorak-sorak. Semua berlonjak-lonjak. Semacam melihat pantulan bola bisball. Semua mata memantul dinding gua, naik turun, kiri kanan. Mata anjing itu berkumpul membuat badan anjing. Sebelum proses makan mata orang sempurna dimulai, mata anjingku maju ke depan. Mata berdarah-darah itu masuk dalam mulut mata anjingku. Tubuh tak berupaku dilumuri darah. Darahnya menetes-netes.
***
Hal yang tak dapat kupahami di beranda ada mata anjing. Siapa yang meletakkannya. Dalam mata anjing ada mataku. Pisau yang tergeletak itu mengeliatkan mataku. Urat-urat leherku menegang. Pisau itu menyilau tajam.
Aku ingat-ingat kejadian minggu lalu. Seekor anjing kurap ditabrak di Jalan Soedirman. Anjing itu tergeletak. Separuh badannya sampai kaku pipih. Mata anjing itu memandang bola mataku. Mata anjing itu menusuk. Lingkaran bola matanya buram. Mata anjing itu sayu, menutup.
Tentunya yang menabrak anjing itu aku sendiri. “Sial,” ujarku. Anjing itu mengotori roda mobilku. Anjing kurap siapa yang dibiarkan berkeliaran. Kota ini semakin banyak anjing kurapnya.
“Anjing kurap sial,” ujarku. Aku tinggalkan anjing kurap tergeletak di tengah aspal. Aku yakin pasti anjing itu akan hancur lumat. Benar saja perkataanku. Baru saja aku tinggalkan, sebuah bus kota melindasnya. Mata anjing mengelinding. Kutancap gas. Mengubur anjing kurap hanya mengulur waktu. Kota membuat semua harus berjlan cepat. Perbuatan sia-sia menguburkan anjing kurap. Apalagi pekerjaanku sebagai anggota dewan bukan untuk mengubur anjing kurap.
Saat aku berjalan ke pasar, anjing-anjing kurap berkeliaran. Anjing-anjingi itu bertubuh krempepeng. Bulu-bulunya terserabut dari tubuh. Anjing-anjing jalan sempoyongan. Pedagang-pedagang melempari setiap anjing yang mendekat ke lapaknya. Saat aku berjalan ke kantor, segerombopan Satpol PP menangkap anjing-anjing. Anjing-anjing itu dibuang ke dalam truk. Anjing-anjing itu mau dibunuh. Anjing-anjing itu harus dimusnahkan. Katanya semenjak anjing-anjing kurap merajalela di kota Padang, penyakit rabies mewabah. Maka muncap saja anjing-anjing itu menggonggong dan meraung.
Di rumahku seorang tetangga memecahkan kepala anjing dengan lebih dari sepluh pukulan. Ia menggunakan balok kayu. Katanya anjingnya gila. Terserang rabies. Siapa yang digigitnya mati. Anjing itu berderai isi benaknya. Keluar matanya. Terjulur lidahnya saat mati. Tetanggaku buang itu anjing di bak penampungan sampah kota.
Ah, sepasang mata anjing di beranda. Adakah hubungannya. Aku pikir mungkin pikiranku yang membuat seseorang mengantar sepasang mata anjing. Atau memang seseorang sengaja mengantarkan sepasang mata anjing. Aku tak peduli. Aku ambil mata anjing itu. Aku campakkan dalam got di depan rumahku. Air sesudah hujan kan menghanyutkan ke muara. Aku ambil pisau. Tak kulempar dalam got. Aku takut seseorang akan terluka menginjak atau menyentuh secara tak sengaja. Aku dapat gunakan mengiris bawang, tomat, seladri, di dapur.
Aku kunci pintu, aku yakin ada orang berniat jahat padaku. Kurapatkan jendela. Kututup pintu atap lantai dua, tempatku sering menjemur pakaian.
***
Mata anjing muncul di kantor tempatku bekerja. Mata anjing itu masuk pada setiap mata pegawai kantor. Pupil mata itu menyipit dan melebar seperti mata kucing. Mata itu abu-abu, bundar seperti kelereng main anak-anak. Mata itu menari-nari. Setiap orang yang aku temui di lobi, bicara dengan bahasa anjing. Mengucapkan salam dengan helusan anjing. Bersuara keras dengan salakkan anjing. Ketika bertemu di ruang agak gelap, mata anjing itu mata biru.
Aku saksikan kantorku penuh mata anjing. Meja kerja penuh mata anjing. Mata itu melonjak seperti dalam piring di beranda rumahku. Mata itu menatap tajam ke arahku. Aku keluar lobi kantor. Pergi mencari makan. Aku hampir muntah. Aku bertemu orang makan mata anjing sepanjang jalan. Ia lahap garang. Aku lihat orang-orang itu bermata anjing. Sorot matanya tajam. Sontak semua dipenuhi salakan anjing.
Di jalan, di mal, di toko, di rumah makan, di kali, di penampungan sampah, di panti jompo, di rumah sakit, di sekolah, di masjid; banjir mata anjing. Mata anjing masuk mata orang sempurna. Mata anjing itu duduk di meja. Mata anjing menempel di kaca. Mata anjing menempel di langit-langit gedung. Mata anjing banjir di jalan-jalan. Mata anjing itu leluasa membolak-balik sampah. Darahnya netes-netes.
***
Mata anjing datang dalam mimpiku. Ia langsung masuk dalam mata bolongku. Ia mengonggong, kemudian melolong panjang. Mata itu biru silau tajam. Kemudian ribuan mata anjing masuk dalam kamarku. Aku tak tahu dari mana datangnya. Yang aku tahu, jendela, ventilasi, telah aku tutup. Mata itu meraung dan meraung. Di sebelah setiap mata anjing, sebilah pisau menyilaukan batang leherku.n

Padang, Mei-November 2010


Tentang Alizar Tanjung
Lahir di Dusun Karang Sadah, Kabupaten Solok, 10 April 1987. Karya-karya antologinya, Antologi cerpen “Rendezvous di Tepi Serayu” (Grafindo Litera Media, 2009), “Bukan Perempuan” (Grafindo Litera Media, 2010), Antologo Puisi “Puisi Menolak Rupa” (Unggun Religi, 2010). Tergabung dalam Nominasi Anugerah pena kategori cerpen dan esai terbaik 2009 (FLP Pusat). Bergiat di FLP Sumbar. Sedang mempersiapkan buku kumcer “Kurungan”.
Karya-karyanya dipublikasikan di Harian Tempo, Sindo, Suara Pembaharuan, Jurnal Nasional, Pewarta Indonesia, Berita Pagi (Palembang), Linggau Post, Singgalang, Padang Ekspress, Haluan, Majalah Tasbih, Annida, Gizone.



[1] Sejenis harimau, tapi orang kampung di Kota Solok sering menyatakan harimau jadi-jadian, bukan harimau sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar