Sabtu, 26 Oktober 2013

Maukah Kamu Menikah Denganku, Wahai Cinta?



CERPEN Ramoun Apta

Karya TATANG BSp. 1998
Ia tak peduli, yang ia inginkan cuma satu, seorang istri. Harta ia sudah banyak, mobil ia sudah berserak, kebun memanjang berhektar-hektar, rumah gedung bertingkat, ruko puluhan, motor mewah keluaran Amerika dan Jerman penuh mengisi parkiran koleksi kendaraan di rumahnya. Ekonominya sudah mapan. Tetapi ia kurang bahagia. Ia sehat tetapi senyum tidak berbuah di bibirnya. Saking tidak bahagianya, liurnya saja terasa masam apabila bibirnya mengecap. Ia benar-benar ingin menikah.
Teman-teman yang ia kenal sudah menikah semua. Bahkan, ada yang beristri lebih dari satu. Tiga, lima, bahkan ada yang sampai lima belas. Semua temannya berbahagia. Semua temannya senang bersenda gurau bersama anak-anak mereka sambil menjilat potongan es krim di taman kota. Padahal teman-temannya tidak ada yang kaya seperti ia. Tetapi, “Kenapa hanya aku seorang yang belum menikah?”

Pada usia yang sudah menginjak kepala tiga, tepatnya tiga puluh lima tahun tujuh bulan, ia sangat risih dengan kehidupan. Ibunya yang sudah tua itu, seringkali kelupaan akan ia. Ibunya lupa akan paras anaknya sendiri. Memang benar, penyakit lupa ibu kadang-kadang saja datangnya, sebagaimana buah kelapa jatuh di kala angin kencang. Ia maklum saja. Ia merasa wajar karena ibunya memang sudah tua. Saking wajarnya, kadangkala ia beranggapan, penyakit kelupaan ibu sebenarnya hanya dibuat-buat saja. Sebenarnya ibu tidak lupa, akan tetapi pura-pura lupa, pura-pura tidak mengenali siapa anaknya. Ia sadar betapa ibu sebenarnya kecewa lantaran ia belum menikah. Ia sering mendengar ibu meracau, betapa ibu sangat menginginkan seorang cucu, menimang cucu, dan memencet hidung cucu yang lucu seperti nenek tua tetangga di sebelah itu.
Saudara-saudaranya tak lagi ada. Sudah mati semua. Sebagaimana satu sisir pisang, yang lain sudah pada punah. Dari enam bersaudara kini hanya tinggal ia seorang. Saudara-saudaranya beragam-macam cara matinya. Ada yang bunuh diri di tebing dan melompat ke jurang dalam. Ada yang sengaja meletakkan kepalanya di belakang mobil Dam Truck pengangkut batubara yang sedang mundur. Ada yang sengaja meminum sebotol minyak rem dengan gelagat yang kehausan benar selesai memperagakan aksi jungkir-balik pada suatu pertunjukan teater. Ada juga yang menggorok leher sendiri dengan menggunakan sadel sepeda Unta. Dan, ada juga yang mati begitu saja ketika berdoa kepada pohon beringin tua yang dahannya pada berguguran.
Alasan saudara-saudaranya mati beragam hal. Ada yang mati karena sudah berulangkali berhubungan intim dengan pelacur tercinta namun masih juga tidak paham bagaimana cara memasang kondom yang baik dan benar. Ada yang mati karena beban pikiran lantaran tak kunjung berhasil mengarang sebuah esay setelah selama dua bulan mencoba namun hanya dua paragraf yang berhasil dituntaskan sementara deadline lomba cipta esay yang berhadiah jalan-jalan keliling dunia plus uang saku sekehendaknya itu semakin dekat. Ada yang mati karena tak memiliki kepandaian berbicara dengan perempuan idaman yang ingin sekali ia nikahi dan yang paling sempurna dari perempuan-perempuan yang pernah ia nikahi sebelumnya. Ada juga yang mati karena tidak pandai mengucap huruf ‘R’ sementara sebagai wartawan kriminal dan pemerkosaan ia mesti mewawancarai pelaku dan korban; di mana setiapkali bertemu dengan narasumber ia selalu dikritik apabila huruf ‘R’ itu berkelok di lidahnya. Dan, ada juga yang mati karena orang yang berhutang kepadanya terlalu banyak dan tidak satu pun yang datang membayar meski ia tak meminta sejumlah bunga. Dan kini, hanya ia seorang. Harapan ibunya agar ia segera menikah, beranak-pinak, dan berbahagia.
***
Ia ingin sekali menikah dan membahagiakan ibunya dengan memberikan cucu agak seorang. Akan tetapi, setiapkali berkenalan dengan perempuan, selalu niatnya ditolak. Alasannya beragam. Ada yang katanya sudah menikah, ada yang mengaku sedang hamil lima bulan, ada yang tidak ingin menikah sebelum rambutnya rontok semua, ada yang mengeluh sakit gigi sehingga merasa belum mampu mengurus seorang lelaki, dan ada juga yang memang sama sekali tidak berminat dengan pria.
Di antara perempuan-perempuan yang pernah menjalin hubungan dengannya, ada seorang perempuan yang sangat berkenan di hatinya, ia bernama Seseorang. Orangnya tidak cantik, jauh dari sikap baik hati, jarang sekali mandi, penipu licik, dan sudah pasti suaranya jelek sekali. Keteknya, barangkali sebau terasi. Setiapkali janjian ketemuan selalu perempuan itu minta dibelikan es krim banyak sekali dan cokelat rasa stroberi sembilan batang sekali jadi. Tetapi ia senang dengan perempuan itu, dan ia sangat ingin menikah dengannya. Alasannya sederhana, karena tidak ada perempuan yang mau menikah dengannya maka ia memilih Seseorang. Dan ia beranggapan Seseorang sepertinya juga menaruh hati padanya.
“Demi malam yang selalu ada, maukah kamu menikah denganku, wahai cinta?”
“Tentu saja aku mau menikah dengan kamu. Kamu kan orangnya berpunya. Aku minta itu kamu belikan sekali banyak. Senang aku jadinya. Bodoh sekali kalau ada perempuan yang tak mau menikah dengan kamu. Aku yakin pasti lesbi itu perempuan!”
“Lantas, bilakah kiranya ketepatan waktu kita menikah?”
“Terserah kamu saja, kamu maunya kapan, aku siap sedia. Tetapi, sebelum menikah, aku minta mas kawinnya didahulukan. Tidak banyak juga. Cuma kalung emas seberat lima puluh Mayam, cincin kawin dengan intan sebesar jempol kaki, dan uang tunai sebesar dua puluh ribu rupiah buat beli rokok orang sewaan yang bakal menjadi wali nantinya. Bagaimana?”
“Baiklah, cinta. Akan aku sediakan segera. Ee eh, ngomong-ngomong, ternyata harga kamu tinggi juga ya.” Kata ia ngawur entah kemana.
Ia bahagia. Akhirnya ia akan menikah juga. Betapa merasa beruntungnya ia. Ia tak peduli dengan mas kawinnya. Berapa pun yang Seseorang minta akan ia berikan. Ia sudah terlampau larut dalam kegembiraan.
Maka, tanpa berpikir panjang, dengan sigap, ia sediakan segera emas seberat lima puluh Mayam itu, cincin kawin dengan intan sebesar jempol kaki itu, dan uang tunai sebesar dua puluh ribu rupiah itu ia amplopkan.
Akan tetapi, belum lama setelah mas kawin itu ia serahkan, belum genap pula lima hari mas kawin itu baru berpindah tangan, Seseorang sudah menghilang. Ketika nomor kontaknya ia coba hubungi, sudah tidak aktif lagi, malah sudah lain pula nada panggilannya. Pemilik nomer yang elu tuju sudah kabur, dan Handphone yang elu belikan itu sudah pula dibuang pemiliknya ke sumur. Duh duh…, kasihan deh elu…! “Ah, lagi-lagi demikian. Lagi-lagi aku gagal dan batal menikah!”
***
Belum lama ini ia sempat bercerita kepada seorang teman mengenai kisah cintanya yang kalera itu. “Wahai teman, kenapa aku selalu gagal dan tersingkir dalam percintaan?”
Perlu diketahui, seorang teman yang ia temui ini adalah seorang penyair. Karya-karyanya sudah bertebaran di berbagai media massa, baik itu di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Sudah terangkum pula dalam ratusan buku antologi bersama, bersama-sama para penyair dari berbagai angkatan pula gengsinya. Bahkan, konon kabarnya, ia sudah memiliki tiga puluh judul buku puisi tunggal, dan masing-masingnya sudah berulangkali cetak dan menjadi best seller sebagai buku puisi terlaris. Itulah sebabnya sehingga ia mau bertanya kepada itu teman. Baginya, sudah sangat pantas itu teman pendapatnya diminta. Karena ia percaya bahwa penyair adalah manusia yang paling paham akan persoalan cinta.
“Jikalau aku simak, persoalan engkau hanya satu, kau tidak pandai berbahasa. Bahasamu itu, waduh, kacau! Tidak puitis, dan hampa. Ubahlah bahasa engkau itu menjadi sedikit indah. Tetapi, jangan sampai engkau terlihat lebay.”
“Bagaimana cara agar aku bisa mengubahnya? Di mana buku panduan berbahasa indah bisa aku dapatkan?”
“Engkau beli saja buku kumpulan puisiku. Puisi-puisiku itu indah sekali. Romantis. Engkau rayu saja perempuan dengan puisi itu, aku jamin akan banyak perempuan yang meminta engkau untuk segera menikahinya. Itulah rahasiaku sehingga dulu kekasihku banyak dan akur semua. Hanya puisi, cuma kepandaian dalam berbahasa.” Jawab temannya sembari diiringi suara carut-marut istrinya yang mengeluh akan ketiadaan nasi dan sambal buat santapan ini malam.
“Ah, kamu besar ota!”
***
Ingin sekali ia membahagiakan ibunya. Akan tetapi, apa mau di kata, tidak ada seorang pun perempuan mengena pinangannya. Betapa keharuan begitu besar melanda di hatinya. Bahkan, karena saking harunya, ia pernah hampir menabrak tukang siomay yang sedang bermenung indah memikirkan nasib di suatu simpang. Ia merasa menjadi seorang yang paling malang di daerahnya.
Pada suatu kesempatan ibunya pernah berkata: “Menikahlah, Nak! Tak ada gunanya kekayaan dan kekerenan yang kau punya apabila kau belum mempunyai anak.”
 Begitulah. Mau tidak mau, ia harus menikah.
Maka, ia putuskan untuk kembali mencari perempuan. Tidak peduli ia akan kembali gagal. Akan ia tanyai setiap perempuan yang ia jumpa, di mana saja, sampai benar-benar ada perempuan yang mau menikah dengannya. Tidak perlu cinta, yang penting perempuan itu mau menikah dan mampu untuk beranak, meski tidak sanggup untuk setia. Ia hanya ingin menikah dan memberikan cucu buat ongkos kebahagiaan sebelum ibunya meninggalkan dunia.
Akan tetapi, baru saja ia berencana akan pergi, mendadak saja handphonenya berbunyi. Ia heran. Rasa-rasanya baru kemarin ini itu handphone dibuang. Sudah dilempar ke arah muara beserta segala masa lalu yang suram. Ia ingat sekali. Sangat ingat. Tetapi, kok ada lagi di sini ya. Lantas, ia angkat juga itu telpon, dengan gelagat sedikit berpaham dan berwibawa.
“Hallo, siapa gerangan menelpon di kejauhan?”
“Hallo, saya Ses…&%#^%zxewrex….”
“Hallo. Hallo? Kamu Ses… Siapa?”
“Saya Ses… !%#@$%^grzxzerbruek….”
“Hallo-hallo-hallo, suara kamu putus-putus!”
“Hallo-hallo-hallo…, saya Seseorang.”
“Seseorang?”
“Iya, Seseorang. Apakah kamu Ramoun Apta, si penulis yang mengarang cerita berjudul ‘Maukah Kamu Menikah Denganku, Wahai Cinta?’”

Lp. Karta-Tambud, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar