Minggu, 20 Oktober 2013

Melukis Gonjong



CERPEN Alizar Tanjung

Perhatikanlah Siak menggerakkan tangannya. Bagaimana ia menorehkan kuasnya dengan cara dia yang hati-hati. Kemudian bagaimana ia menggerakkan kuas itu naik turun dengan garis-garis lurus. Melepohnya dengan sangat halus. Semacam sapuan sapu pada daerah yang berdebu, maka berpoleslah semacam minyak kanvas itu. Tujuannya hendak menyelesaikan lukisan gonjong yang terbengkalai.
Ia telah menyelesaikan badan rumah bergonjong tanduk kerbau itu berbulan-bulan, tapi ia bertanya kepada dirinya, kenapa gonjong ini yang belum usai. Perhatikanlah, ia kemudian berkali-kali menghapus keringatnya, semacam berkali-kali bagaimana menyudahkan gonjong rumah gadang. Enam gonjong bagian tengah, satu gonjong menghadap ke depan rumah, menghadap ke jalan panjang yang tepat di depan badannya yang kini sedang menatap lurus.

Siak berhenti sejenak. ‘Apa yang kurang katanya,’ dalam hati. Kemudian ia berdiri agak ke belakang di ruang remang cahaya senja itu, lalu duduk di atas kursi rotan, menghirup hidangan secangkir kopi pahit hidangan Nur, istrinya. Ia hirup hidangan kopi khas cap Minang itu. Kopi yang bergambar rumah gadang. Kopi yang pada plastiknya rumah gadang bewarna kuning emas. Menelusuk asap kopi ke hidungnya. Ia hirup rapat-rapat. Satu serupan kini mengisi rongga mulutnya. Ia letakkan kopi di atas piring kaca warna putih tisu. Piring kaca buatan orang minang dengan ukiran pedati[1]. Satu orang pengendara pedati. Pedati itu berhenti di halaman rumah gadang. Dari pintu rumah gadang seorang bundo kanduang turun dari rumah gadang mengenakan takuluak[2], kain sampiang[3], kebaya kuning.
Siak, mengacungkan kuasnya, gerakan melukis ke atas, ke bawah, di atas angin. Siak sangat mengerti, melukis rumah gadang tidak boleh tinggal melukis gonjong rumah gadang. Gonjong lambang kemenangan. Ilmu yang Siak dapat dari kabar tambo Minangkabau[4]. Dahulu kala sebelum rumah gadang bergonjong, bertarunglah orang Majapahit dengan orang Pariangan[5]. Orang Majapahit membawa kerbau besar, orang Pariangan membawa anak kerbau. Orang Majapahit membawa kerbau betina. Orang pariangan membawa anak kerbau yang baru lepas dari susuan. Anak kerbau itu sengaja dipisahkan dari ibu susuannya selama beberapa hari. Nyatalah lapar anak kerbau. Tanduk anak kerbau diasah tajam. Kalau orang Pariangan menang maka Majapahit harus kembali ke tanah Jawa. Kalau orang Pariangan kalah maka menetaplah orang majapahit di Minangkabau.
Hari tanding datang, kerbau dilepas ke gelanggang, orang-orang Pariangan dengan memakai endong[6] dan kain sarung yang dsempangkan dari bahu sampai pinggang, menonton di pinggir gelanggang. Seorang penghulu memegang carano[7], pimpinan orang jawa maju mangakok[8] carano. Datuk pimpinan orang pariangan maju mangakok carano.
Kerbau di lepas. Anak kerbau langsung menyerang kerbau betina. Anak kerbau mencari air susu ibunya. Kerbau betina terlonjak-lonjak menahan sundukan tajam tanduk anak kerbau. Induk kerbau koyak perutnya. Kerbau orang majapahit kalah, kerbau orang pariangan, menang. Sebab itulah bernama “Menang kerbau”, pada akhirnya disebut Minangkabau.
Siak ukur jarak pencahayaan senja di kanvas. Sebelum melukis di atas kanvas, siak meneliti ke Air Mati, di pusat kota Solok. Siak sudah berkali-kali ke Air Mati, terutama ketika pulang dari pasar Solok, Siak singgah dulu di rumah gadang yang sudah keropos. Siak akan berlama-lama menatap rumah gadang. Siak lukis di kertas kosong yang membenam di sakunya. Siak amati rumah gadang yang lantainya sudah lapuk. Siak naik ke rumah gadang yang berhuni. Kandang dengan tutup buluh yang lapuk. Siap tikam lantai yang dimakan rayap. Tonggak rumah gadang yang sudah condong.
Siak juga beberapa kali ke istana pagaruyung[9], hanya demi melengkapkan bahan lukisan rumah gadang Siak. Siak tidak suka berlama-lama di Istana Pagaruyung yang sudah menjadi objek wisata. Orang-orang berwisata memakai celana pendek ala barat, duduk berpasangan berfoto, membicarakan tentang ciuman enak di rumah gadang, menikmati duduk resek bersama teman wisata.
Kini Istana Pagaruyung sudah roboh. Pada malam khairan di tengah hujan lebat. Petir menyambar atap istana pagaruyung. Petir menyambar gonjong Istana. Api menjalar. Istana pagaruyung hangus. Berita-berita kuluar di korang Singgalang dan padang Ekspres, Istana pagaruyung hangus. Ribuang orang minah menangis.
Siak melukis rumah gadang dengan dinding berlapis buluh yang mengkilat, tiap kilat ia lukiskan ukiran dedaunan dan tingkat alam pada dinding. Rumah gadang berukiran kandang yang berlobang halus. Pada tiap lobang diberi garis halus warna coklat tua. Pada dua jenjang yang menghapit pintu rumah gadang, diletakkan air basuhan kaki. Bajanjang naik batanggo turun, pidato adat yang pernah dihafalkan Siak di surau semasa berguru pada manti dan labai. Kini Siak tidak tahu apakah labai masih di surau tuo di Karang Sadah, atau sudah mati. Siak sudah lama tidak pulang ke kampung dingin di kecamatan Danau Kembar itu.  
Berbulan perenungan itu siak lukiskan di atas kanvas. Kenapa gonjong ini yang belum usai? Siak mendekat ke garis pucuk gonjong. Tujuh pucuk gonjong terbengkalai dalam lukisan Siak. Siak hafal benar kalau rumah gadang tidak usai, seperti pohon ka ateh indak bapucuak ,ka bawah indak baurek, di tangah-tangah digiriak kumbang.
Siak sudah berpedoman ke pucuk Istana Pagaruyung, pucuk Istana Pagaruyung tidak tercatat di buku perjalanan perenungan Siak. Siak berpedoman ke dalam Rumah Gadang di Aia Mati, rumah gadang itu kini telah roboh. Sudah lama roboh sebelum lukisan siak selesai. Siak berpedoman ke pucuk rumah gadang di kebun binatang Bukittinggi, rumah gadang itu hanya tempat rekreasi wisata tempat orang berfoto, bule memotret kehidupan lama, tempat marga satwa dipamerkan.
“Tanpa kehidupan baru,” ujar siak semacam tersengat kehidupan baru. Siak ingat pucuk rumah gadang di Koto Baru, pucuk rumah gadang berlambang bulan dan bintang yang patah. Kalau di kampung siak tidak ditemukan rumah gadang. Dahulu ada sebuah rumah gadang berpucuk lima. Empat pucuk sejajar. Satu pucuk menghadap ke depan. Tapi rumah gadang itu diungkit angin badai. Atap rumah gadang itu terbang dibawa angin. Semenjak itu rumah gadang itu dirobah bentuk. Rumah itu telah menjadi rumah orang kota, bersegi empat atap ilalang.
Di kampung Siak tidak ada balairuang (tempat pertemuan adat),  entah sejak kapan tidak bersedia. Medan nan bapaneh (tempat pertemuan warga kampung bersama kepala suku), tak pernah Siak ketahui wujudnya. Hanya satu yang siak ketahui, ketika ia menikah dengan orang suku melayu, pada hari pernikahannya, siak batagak gala (gelar pernikahan), siak mendapat gelar adat, Siak Mandaro Pudin, orang siak (orang yang dalam ilmu agamanya)  di kampungnya. Siak tahu itu gelar kehormatan.
Nama masa kecilnya Eman, maka semenjak ia menikah orang-orang tidak boleh lagi memanggil Eman. Ketek bapanggiah namo, gadang basubuak gala. Siak bawah ke ranah orang nama “Siak” itu. Orang-orang menjadi lupa bahwa namanya Aslinya Eman.
“Corak kehidupan lama,” ujar siak menyapukan kipasnya ke ujung gonjong, ujung gonjong itu mulai berbentuk di tangan siak. Gonjong lama berliku bulan dan bintang bepucuk tajam, menghujam tinggi ke langit lepas. Ia sapukan ujung gonjong ke langit lepas. Cat minyak tumpah di ujung kuas. Siak teruskan menyapu ke langit lepas.
“Kehidupan Minang suku dalam,” ujar Siak. Siak teruskan tarikan kuas menyelami warna langit senja. Siak duduk sejenak menatap warna jingga yang timbul dari timur langit. Siak luruskan letak celana pendeknya. Ia lepaskan kakinya di atas kursi rotan sambil menatap ruas senja di awan, celah cahaya di atap rumah gadang.
Siak bergerak pelan, tangannya kembali menari menyilau gerak cahaya. Istrinya datang dari pintu ruang lukis membawakan segelas air kopi panas.
“Minum Uda Siak. Sudah mau terbenam matahari.” Siak menngintip ke lobang dinding. Tampak matahari hampir tenggelam di balik bukit Barisan. Siak tersenyum.
“Tanpa pergantian peradaban,” ujar Siak. Ia seperti tidak mendengar panggilan Nur. Nur masih berdiri di pintu dengan baju ketatnya. Nur memakai celana sebetis. Ia berdiri dengan rambut tergerai. Siak sekilas melihat istrinya. Senyum itu menyungging dari bibir Siak. Siak makin gila, ia lukis gambar bintang dan bulan sabit di setiap gonjong. Kini lukisan itu makin siap. Ia perbaiki lukisan matahari. Matahari yang hampir saja terbenam di pucuk bukit barisan. Siak mengacungkan kuasnya, melukis seorang perempuan dengan kebaya, menatap gonjong, perempuan memakai takuluak, perempuan dengan baju kebaya, kain sampiang.
Siak cukupkan lukisan gonjong, satu menghadap ke depan, siak goreskan kuas dengan sangat cepat. Azan magrib berkumandang. Siak belum selesaikan liku gonjong utama. Gonjong ini harus lebih utama dari gonjong yang lain.
Siak kembali bermenung di kursi rotan. Memandang lurus. Siak berputar. “Tidak ada kehidupan,” ujar siak. Siak menatap ujung cahaya dari pinggiran matahari. Siang kembali bergerak pelan mengayun tangkai kuas. Kuas itu kembali menari di atas kanvas. Istri siak datang dari pintu.
“Sudah Isya, Uda.” Siak bermenung sejenak. Tidak mendengarkan Istrinya. Ia ingat perempuan itu yang membawa satu gonjong di tangannya. Siak melukis enam gonjong yang horizontal. Gonjong itu berbulan sabit. Siak kembali bermenung. Gonjong itu mestinya bewarna apa jikalau senja meretas. Di bukit Barisan di lukisan Siak matahari masih tinggal satu sabit untuk tenggelam.

Padang, Juli-November 2010












Tentang Alizar Tanjung
Lahir di Solok, dusun Karang Sadah, 10 April 1987. Ia sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di IAIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.  Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, dan esai, dipublikasikan di berbagai media lokal dan nasional; Harian Tempo, Sindo, Suara Pembaharuan, Jurnal Nasional, Pewarta Indonesia, Berita Pagi (Palembang), Linggau Post, Singgalang, Padang Ekspres, Haluan, Majalah Sabili, Majalah Annida Online, Majalah Tasbih, dan Suara Kampus.


[1] Dahulu memang, di masa minangkabau lama, orang-orang ke pasar dengan pedati, terutama pasar Solok, Bukittinggi, Padang, dan sekarang di tempat itu, konon masih ada orang menggunakan pedati, tapi lebih banyak bendi.
[2] Kain penutup kepala, kain khas perempuan adat.
[3] Kain panjang yang dililit dipinggang membentuk rok
[4] Tambo, Cerita lisan
[5] Pariangan, Pa
[6] Endong, celana
[7] Carano,
[8] Mangakok carano
[9] Istana Pagaruyung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar