Sabtu, 12 Oktober 2013

Mutu Karya Sastra Sumbar 30 Tahun Terakhir

OLEH DARMAN MOENIR

Satu
TEMA Menyoal Kebermutuan Karya Sastra Sumatera Barat membingungkan. Apalagi, lebih khusus, judul Mutu Karya Sastra Sumatera Barat 30 Tahun Terakhir.
Adakah karya sastra Sumatera Barat? Saya lebih tertarik menyebut karya sastra Indonesia, ditulis dalam bahasa Indonesia, oleh sastrawan yang berasal dari Sumatera Barat atau Minangkabau. Sumatera Barat jadi risalah ketata-negaraan, dan Minangkabau adalah masalah etnik(al). Chairil Anwar adalah penyair besar dan penting Indonesia biarpun dia berasal dari Taeh Baruah, Payokumbuah. Begitu juga Abdoel Moeis, novelis modern sastra Indonesia, lahir di Sungai Pua, Agam.
Pula, menulis dengan tema itu tidak memungkinkan saya tidak menyebut diri sendiri. Saya sejak awal, sejak berusia 18 tahun, memang terlibat dan melibatkan diri dalam dunia sastra, menulis beberapa puisi, cerpen, cerita anak, novel, esai dan kritik sastra, bahkan mengerjakan terjemahan (dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia). Menilai diri sendiri saya hindari benar sejak dulu. Itu narsisisme! Itu perbuatan memalukan, sering jadi bahan tertawaan.
 
Ini makalah yang dibawakab Darman Moenir dalam Dialog Sastra di Taman Budaya Sumbar (Kamis, 10 Oktober 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar