Jumat, 25 Oktober 2013

NOVEL ANDIKA CAHAYA: Biografi Museum Kekuasaan


OLEH Fadlillah Malin Sutan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas


Andika Cahaya, novel Darman Moenir itu, sepertinya tidak berbicara tentang cahaya, pada hakekat ia berkisah tentang kegelapan. Perangai manusia yang diibarat bagai metabolisme yang sakit manahun. Pada akhirnya, yang jadi korban, peradaban sebuah bangsa, sia-sia (Moenir,2012:146,147), sampai tiga generasi. Pembusukan itu, mencapai klimaks dieksekusi perubahan zaman. Dari kegelapan perangai manusia itu, tentu, ada memungkinkan terawang pembaca untuk berpikir tentang perlunya cahaya, tentang Nur, kebenaran.

Novel, yang terbit tahun 2012 itu, memang suatu fiksi, tetapi tidak dapat dibantah bahwa dia berbicara tentang fakta-fakta. Karena, tidak akan ada suatu fiksi yang murni fiksi, begitu juga tidak akan ada suatu fakta yang murni fakta, ketika dia berada di tangan manusia. Sebagai suatu fiksi, itu benar, tetapi bagaimana dia mengandung fakta-fakta di dalamnya, dan bagaimana dia membungkus fakta, pada sebuah cerita, itulah novel.
Adalah fakta, Harun Zain Gubernur Provinsi Sumatera Barat, pada waktu itu, dan Hasan Basri Durin adalah Walikota Padang. Tersebutlah beberapa nama, yang mereka bukan fiktif, Ali Akbar Navis, Taufik Abdullah, Anhar Gongong, Mochtar Lubis, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Sutardji Calzoum Bachri, Boestanoel Arifin, Hoerijah Adam dan Prof. Dr. Mestika Zed, M.A., Nama-nama organisasi Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), Bundo Kanduang, orsospol Golongan Karya, sampai kepada  penjual obat di lantai dasar Pasar Bertingkat, Pasar Raya di kota Padang. Nama wilayah; ranah Minang, Luhak Tanah Data, Luhak Limopuluah Koto dan Luhak Agam. Nama kota-kota, Padang, Batu Sangkar Padang Pariaman, Bukit Tinggi,  Paya Kumbuh, Sawah Lunto, Lubuak Basuang, nama nagari; Pariangan, Simabua, Batu Basa, Tabek, Sawah Tangah dan Sungai Jambu, sampai kepada pergolakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Nama-nama jalan; Diponegoro, Chairil Anwar, Bundo Kanduang dan tempat bernama Taman Melati, rute Pasar Raya dan Aie Tawa, sampai Simpang Tabiang, Lubuak Aluang, nama tempat Simpang Enam, Parak Karambia, Bandar Puruih, Lubuak Minturun.
Dari sekian banyak nama itu, adalah fakta diantara jalinan fiksi,  ada satu nama yang menonjol daripada nama tempat, kota, dan gedung. Satu nama dari banyak nama,  yakni nama museum itu,  tidak fakta. Dia seperti menggantikan fakta, akan tetapi pada pihak lain, dia mempersiapkan diri untuk melahirkan pertanyaan, mengapa tidak ada nama Adityawarman. Padahal nama itu mengandung sejarah, kekuasaan, agama, budaya dan ekonomi politik. Mengapa Adityawarman tidak pernah disebut sedikitpun. Itulah, sebagai fakta, nama sesungguhnya museum Sumatera Barat. Mengapa yang dihadirkan nama Andika Cahaya. Pada sisi lain, ini seperti penolakkan terhadap kehadiran Adityawarman, jika tidak dikatakan mengganti, indeksikal atau menunda kehadirannya. Agaknya, di sini kata kunci, ia sebagai novel.
Siang Hari Museum dan Malam Mesum
Dari biografi kebusukan kekuasaan tiga penguasa di sebuah Museum (Jotambi, Drs. Ikrar Gantiang dan Dra. Lulu Permata Sari) yang dikisahkan dalam novel itu, apakah akan takut tercoreng nama baik Adityawarman, sehingga cukup dipakai nama fiktif Andika Cahaya. Atau sebagaimana C.C. Berg menganggap nama Adityawarman identik dan dapat dihubungkan dengan Arya Damar, dan pengertian lain dari Andika Cahaya.
Tetapi siapa yang dapat mengatakan Adityawarman tidak terlepas dari kebusukan kekuasaan, sebagaimana dikatakan J.L. Moens (1986: 37,56,57), dalam tahun 1297, Adityawarman menerima pentahbisan-Bhairawa tertinggi di sebuah lapangan mayat yang menyebarkan bau busuk yang tak tertahankan, duduk di atas tumpukan mayat-mayat sambil tertawa-tawa bagai setan dan minum-minum darah. Mid. Jamal (1985:18) pun juga mengatakan bahwa  Adityawarman bagi orang Minang memang bergelar Sri Paduka Berhala (Tuangku Rajo Bahalo). Semua itu juga mengarah kepada patung Adityawarman yang mengerikan (patung raja yang terbesar di Indonesia, yang pernah ditemukan), patung seorang raja yang yang berdiri di atas tengkorak-tengkorak kepala manusia. Fenomena yang luar biasa. Ngingatkan orang pada lambang bendera para lanun, bajak laut.
Diantara kisah Adityawarman yang baik-baik, ini sisi kritik yang kritis. Begitu berkuasanya Adityawarman, sehingga Majapahit pun tak berkutik semasa hidupnya, namun mengapa tidak ada cerita mitos, dongeng dan mistik tentang tokoh itu. Ada beberapa tokoh  menghubungkan dan mengatakan Dang Tuanku dan Cidua Mato sebagai Adityawarman, atau Datuk Perpatih dengan Ketemanggungan. Namun rakyat Minangkabau tidak mengatakannya begitu. Bahkan M. Nasroen (1971:33) dengan tegas mengatakan Adityawarman adalah orang asing, walau termasuk raja yang paling berkuasa di Minangkabau. Dia berada di luar masyarakat Minangkabau. Adityawarman tidak mempunyai suku menurut adat Minangkabau dan dia tidak mempunyai hak atas tanah sedikitpun. Adityawarman tidak berurat berakar di bumi dan masyarakat Minangkabau. Menurut adat Minangkabau, Adityawarman hanya orang sumando dan anaknya adalah orang Minangkabau. Ini menarik, sebagaimana juga dikatakan Wisran Hadi (2000:156-157) bahwa kedatangan Adityawarman dicatat sebagai permulaan kerajaan di Minangkabau, padahal jauh sebelum Swarnabhumi, Sriwijaya dan Singosari, Minangkabau sudah ada di bumi. Uli Kozok (dalam cermahnya di Unimed pada tanggal 09 Maret 2010) meragukan kalau Adityawarman putra Dara Jingga.
Dengan demikian, novel ini berbicara tentang bangsa, peradaban yang membelakangi masa depan, dan bergegas ke masa lampau yang penuh misteri. Padahal sebuah museum selayaknya hadir dari alam pemikiran bangsa yang menghadap dan mengejar masa depan. Sebagaimana dikatakan Boestanoel Arifin Adam (Moenir,2012:30), bahwa negara-negara maju memaknai dan menghargai peradaban adalah dengan jalan memaknai dan menghargai kebudayaan. Akan tetapi semua menjadi terbalik, bagaimana sebuah kemuliaan kemudian jatuh ke tangan manusia-manusia  birokratikus ABS, AIS, KKN, dan mereka bagian kecil dari suatu mesin KKN yang sangat besar yang berpusat di ibu kota negara. Demikianlah, pada siang hari, dia bernama Museum dan malam hari dia bernama mesum (Moenir, 2012:33,183, 208). Pada penampakan dia bernama Museum, dan pada ketidakpenampakannya dia kebudayaan yang mesum. Lantas,... apakah sejarah pun juga mesum? n
Kuranji, Simpang Tui, 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar