Sabtu, 12 Oktober 2013

P0LEMIK SASTRA SUMATRA BARAT: TANGGAPAN DARMAN MOENIR


Menulis Novel “Kerja” Kreatif!
OLEH Darman Moenir
Sastrawan

MENULIS karya sastra, dalam hal ini, novel, pada hkreatifakikatnya adalah “pekerjaan” (di antara tanda petik) . Setelah Allah SWT menciptakan laut maka manusia membuat garam. Setelah Allah SWT menciptakan kapas maka manusia menenun kain. Setelah Allah SWT menciptakan eter, maka manusia mengadakan komunikasi maya. Dan setelah Allah SWT menciptakan alat bicara dan kata dan bahasa (juga bahasa Indonesia), maka manusia mengadakan bahasa tulis, penyair menciptakan puisi, novelis menciptakan novel. Mencipta melalui pemberian yang Mahakuasa itu adalah kreativitas!
Sekali garam terbentuk, sekali kain tertenun, dan sekali internet terujud, maka kreativitas itu berubah menjadi produktivitas. Pembuat garam, penenun dan pembuat piranti dunia maya berikut hanya mengulang atau melanjutkan apa yang dikerjakan pendahulu. Tidak lebih, tidak kurang. Begitu pula, menulis Salah Asuhan (1928), merupakan pencapaian luar biasa Abdul Muis. Siapa pun yang kemudian menulis seperti yang dilakukan Abdul Muis takkan menghasilkan novel bermutu. Sekali lagi, bermutu, satu kata yang saya pinjam dari Suryadi, yang sekarang berada di Negeri Belanda.

Dalam rentang awal abad lampau bisa disimak novel-novel kerja kreatif sastrawan (asal) Minangkabau seperti Marah Roesli, Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Sati, Djamaluddin Adinegoro, Abbas Soetan Pamoentjak, Abdul Muis, dan Aman Datuk Madjoindo. Novel-novel mereka menandai kelahiran novel modern Indonesia (Mahayana M.S., Sofyan O., Dian A., 2000). Beberapa karya mereka sangat terkenal, hingga sekarang: Siti Nurbaya Marah Roesli, Sengsara Membawa Nikmat Tulis Sutan Sati. Beberapa novel modern itu: Salah Pilih Nur Sutan Iskandar, Pertemuan Abbas Soetan Pamoentjak, La Hami Marah Roesli, Tak Disangka Tulis Sutan Sati.
Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel-novel ini, terutama Siti Nurbaya, sebagai karya penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Secara tematik, seperti yang disinggung baik oleh H.B. Jassin, Zuber Usman, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, maupun Teeuw, novel ini tidak hanya menampilkan latar sosial lebih jelas, tetapi juga mengandung kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Novel inilah yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat.
Novel Baru
Dan Nur Sutan Iskandar disebut "Raja Angkatan Balai Pustaka" sebagai akibat karya-karyanya. Lalu lahir novel-novel Hamka yang monumental: Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Di Dalam Lembah Kehidoepan. Angkatan 1945 berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani antara lain menampilkan Tiga Manguak Takdir oleh Asrul Sani, Rivai Apin dan Chairil Anwar. Pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma oleh Idroes dan Atheis oleh Achdiat K. Mihardja dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
Novelis angkatan 1950-60-an adalah Mochtar Lubis dengan Tak Ada Esok, Jalan Tak Ada Ujung, Tanah Gersang, Senja di Jakarta, Harimau-harimau dan Ali Akbar Navis Hujan Panas dan Kemarau (1967). Navis sendiri lebih terkenal dengan Robohnya Surau Kami (cerita pendek). Setelah Navis, siapa novelis dari Sumatera Barat? Ada Abrar Yusra, Gus tf Sakai, Dewi Sartika. Kemudian, masih adakah novel-novel bermutu, novel-novel penting, dan diperhitungkan dalam kancah sastra modern Indonesia? Dengan demikian kehadiran Persiden Wisran Hadi yang meraih anugerah Novel Unggulan Sayembara DKJ jadi sangat mengesankan. Begitu pula Memoar Alang-alang Hendri Teja yang, secara jujur, belum saya baca.
Setuju atau tidak, novel-novel DKJ selalu punya kebaruan dan bermutu. Bacalah Telegram, Keluarga Permana, Upacara, Saman, dan banyak yang lain. Dan seorang yang paling tidak setuju dengan produk sayembara adalah pelukis terkenal Nashar. Baik, kalau tidak mau produk sayembara, bisa disimak-tekuni Ziarah, Kering, Merahnya Merah oleh Iwan Simatupang, Khotbah di Atas Bukit oleh Kuntowijoyo atau beberapa karya Danarto. Atau, produk luar negeri, bacalah novel-novel Ernest Hemingway, Borris Pasternak, Yukio Mishima, Jean-Marie Gustave Le Clezio, Jorge Mario Pedro Vargas Llosa.
Kata kunci utama di sini adalah kebaruan dan bermutu. Kreativitas menulis novel sesungguhnya menghasilkan kebaruan dan mutu dalam pelbagai aspek. Dan bicara tentang kebaruan dan mutu ini, sudahlah, bisa panjang, menggurui, dan membosankan. Nouveau roman mengacu pada sebuah gerakan dalam sastra Prancis yang berkembang pada tahun 1950-an dan 60-an, memertanyakan modus tradisional sastra realisme. Hal ini terlihat dari komentator yang berdiri di tengah arah modernisme dan postmodernisme. Terkait karya Marguerite Duras, Alain Robbe-Grillet, Michel Butor, Claude Simon, Phillipe Sollers, dan Nathalie Sarraute, novel baru ditandai oleh nada narasi keras yang sering eschews (menolak) metafora dan simile dalam mendukung deskripsi fisik yang tepat, sebuah rasa bernilai tinggi dari ambiguitas berkait sudut pandang, tikungan radikal waktu dan ruang, dan komentar diri refleksif pada proses komposisi sastra.
Anatomi Novel
 Robbe-Grillet (1963), berpendapat novel tradisional, dengan ketergantungan pada narator mahatahu, dan kepatuhan terhadap kesatuan waktu dan tempat, menciptakan ilusi ketertiban dan signifikansi yang tidak konsisten dengan radikalisme terputus-putus dan sifat tidak sengaja terhadap pengalaman modern. Tugas novel baru dan bermutu adalah mendorong perubahan dengan mengeluarkan teknik yang memaksakan penafsiran khusus pada peristiwa, atau yang menyelenggarakan acara sedemikian rupa untuk memberkati mereka dengan arti menentukan. Ambiguitas novel baru menempatkan pembaca sebagai situs makna dan, sebagai model dari apa disebut Barthes texs writerly, mengundang kembali membaca dan reinterpretasi.
Robbe-Grillet's In The Labyrinth (1957), misalnya, menggagalkan keinginan untuk, dan koheren dengan, dunia yang lebih stabil dengan menyajikan diri sebagai mise en abyme, sebuah dunia di dalam dunia, dan kisah-kisah dalam cerita, di mana ia menjadi semakin sulit untuk menentukan yang "nyata" dan yang "ilusi." Karakter novel lainnya kembali muncul di Grillet's teks Robbe, melemahkan akal yang karya-karyanya sesuai dengan realitas, beberapa di luar teks, tetapi lebih merupakan alam semesta fiksi dalam diri mereka sendiri, mematuhi hanya logika asosiatif.
Jadi, dengan demikian, bisa ditarik penyederhanaan, biarpun saya tidak ingin menyederhanakan kreativitas, bahwa novel-novel yang merupakan pengulangan dari apa yang sudah dikerjakan pendahulu selalu takkan mendatangkan kebaruan dan sekaligus tidak bermutu. Sebutir garam, sehelai benang, dan sebuah piranti dunia maya yang dikerjakan sekarang tidak lagi punya kebaruan. Begitu juga novel-novel populer yang di pasar bisa laku keras, sangat laku keras, tidak bisa dimasukkan ke kelompok novel bermutu dan baru. (Di Indonesia, juga di luarnegeri, novel-novel bermutu tidak laku-laku amat. Pemasaran novel-novel bermutu di Indonesia, juga di luar negeri, sering disubsidi pemerintah.) Betapa lagi novel-novel yang selintas baca segera diketahui kalau sang pengarang belum menguasai bahasa, belum mengerti anatomi novel, andai “anatomi” novel itu ada. Laporan-laporan jurnalistik (laporan wartawan sekarang banyak yang novelty) dan teks-teks kesejarahan biarlah menjadi karya jurnalistik atau buku “sejarah” tanpa harus terbebani atau minta suaka sastra.
Dan, pada akhirnya, izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih atas sejumlah respons yang ditujukan terhadap laporan/esai saya “Novel Persiden Membawa Warna Baru: 30 Tahun Terakhir tak Ada Novel Bermutu Lahir dari Sumatera Barat” (Harian Haluan, Minggu, 23 Januari 2011). Ada respons yang menarik, akademik, jeli, tajam dan kritikal tetapi, maaf, ada juga yang menggelikan dan menggurui.

Harian Haluan, Minggu 27 Februari 2o11



Tidak ada komentar:

Posting Komentar