Jumat, 25 Oktober 2013

Pengasuh Kayril



CERPEN Yetti A.KA
           
Satu bulan ini, Lila sudah menata hati pelan-pelan. Jika tubuh diibaratkan lemari pakaian, maka ia sudah menata kembali isinya. Ia menyusun perasaan seperti menempatkan kain yang habis disetrika sesuai tempatnya. Lila hanya tidak suka berlama-lama berantakan.
Tapi perempuan itu, bekas pengasuh yang memilih keluar dari rumah  setelah kejadian buruk menimpa putri Lila, kini datang lagi. Ia berdiri (dengan kesan keras kepala) di pintu pagar ketika Lila bersiap-siap ke kantor. Lila hampir saja memintanya pergi, dan seharusnya memang itu yang dilakukan, namun Lila luluh dan membiarkannya masuk lalu sama-sama duduk di ruang tamu.

“Ada yang ingin kukatakan,” ujar perempuan itu.
“Aku cuma punya waktu sepuluh menit,” kata Lila.
“Ini mengenai Kay.”
Lila memandang perempuan itu. “Kenapa dengan Kay?”
Tamu Lila itu menarik selembar tisu dari dalam tas. Sedikit berhati-hati ia berkata, “Aku ingin membuat pengakuan tentang pagi itu.”
Lila mengangkat punggungnya dari sandaran kursi, “Pengakuan?”
***
Aku bertemu Lila dan Kayril di taman bermain dekat kantor walikota. Mereka ibu dan anak yang serasi. Apalagi mereka juga mengenakan baju kaos kembaran dengan tulisan ‘smile’ bergambar lucu. Mereka langsung menarik perhatianku. Aku memang senang memerhatikan hubungan ibu dan anak di taman ini. Tiap kali melihat mereka, aku merasa tengah memandang gambar yang indah. Suatu ketika tentu aku juga ingin menjadi seorang ibu dan memakai baju kembaran serupa itu. Kamipun akan bermain di taman ini, dari pagi sampai siang.
Namun sesuatu yang nyeri cepat sekali menyerang perasaanku. Serupa umang-umang, aku menarik diri dengan cepat saat mata orang-orang menatapku. Aku ingin segera lari dari luka yang terus mengejarku. Hanya saja sebelum aku bergerak, tangan seorang kanak-kanak menarik ujung bajuku. Mata anak itu demikian bulat, mirip danau yang pernah kulihat gambarnya saat sekolah dulu.
Ibu anak itu mendekat, tertawa tipis, dan berkata, “Maaf.” Kemudian ia menanyakan namaku setelah lebih dulu memberitahu namanya: Lila.
“Mila,” ujarku.
“Mila? Nama kita cukup mirip,” Perempuan itu terlihat riang. Ia tipikal perempuan ramah, tentu saja. Jarang sekali aku bisa bertemu perempuan yang demikian di kota ini, “Putriku, Kayril.” Ia juga mengenalkan nama anaknya.
Lila menceritakan bahwa ini untuk pertama kalinya mereka main di taman. Ia perempuan yang agak sibuk dan nyaris tak punya waktu untuk bermain-main. Tapi kemudian, kata Lila, ia akan memulai memberikan hari Minggu-nya untuk Kay.
Perempuan ramah itu bertanya tentangku. Kukatakan kalau aku pengangguran beberapa minggu ini. Lalu ia berkata, “Kau mau menjadi pengasuh Kay?”
Aku kaget. Tentu saja aku bisa mengasuh anak. Aku punya tiga orang adik, dan menjadi pengasuh mereka sejak bayi hingga berumur lima tahun. Memang begitu biasanya—di  kampungku—tugas seorang anak yang paling tua dalam sebuah keluarga. Hanya saja, sekarang ini, aku tak pernah memikirkan akan kembali berurusan dengan anak-anak. Aku sedikit ketakutan menghadapi tawaran Lila. 
“Aku single parent dan bekerja. Tiga hari lalu pengasuh lama minta berhenti dan aku butuh pengasuh baru.”
Kami saling pandang. Sampai angin pagi menampar pipi kami. Aku tetap saja gugup. Mungkin tawaran Lila terlalu tiba-tiba. Mungkin juga aku tidak pernah lagi membayangkan mengasuh anak kecil. Atau juga aku menganggap Lila gila. Bukankah orang waras tidak akan menawarkan pekerjaan pengasuh anak pada seseorang yang baru dikenalnya di taman bermain?
“Kenapa tidak cari pengasuh di penyalur resmi saja? Aku ingin sekali kerja kantor, tidak apa sebagai cleaning service atau di pantry,” aku mengelak. 
Lila menggenggam tanganku, “Aku percaya kata hati,” desaknya. “Pengasuh anak sebelumnya dari penyalur resmi, tapi buktinya kami kurang cocok.”
Sebelum berpisah, Lila memberikan kartu nama dan berharap aku segera menghubunginya. Kemudian aku memang menghubungi perempuan ramah itu.
***
 “Sudah tujuh menit dan kau belum mengakui apa-apa,” kata Lila mulai tak sabar.
“Ya,” bibir Mila kering, mengelupas dan gemetar.
“Kenapa dengan Kay pagi itu?” suara Lila berat.
Mila semakin gemetar. Lila gusar sekali. Ia hampir berdiri ketika Mila berkata, “Aku melihat dengan jelas sewaktu Kayril mendekati unggun api.”
***
Seharian aku tergeletak di tempat tidur dengan baju kantor yang belum diganti. Beberapa teman menghubungi dan bertanya kenapa aku tidak jadi masuk kantor sebab mereka sudah menyiapkan sambutan kecil. Aku bilang akan meminta perpanjangan cuti karena ternyata  belum siap, belum pulih. Aku benar-benar masih sakit.
Aku melihat dengan jelas sewaktu Kayril mendekati unggun api.
Aku terpikir terus kalimat itu. Betul-betul tidak menyangka. Betul-betul mengejutkan.  Perempuan itu bahkan nyaris seperti saudara sendiri bagi kami. Karena itu  terlalu sulit membayangkan kalau ia sengaja tidak mencegah Kayril  mendekat ke arah unggun api dan membiarkan putri kecilku terjatuh di sana, lalu cacat untuk selamanya. Aku tidak bisa percaya perempuan itu tega menyaksikan kejadian itu detik demi detik hingga Kayril menjerit pedih. Jeritan yang akan kami kenang seumur hidup.
Tadi aku memang tidak tahan mendengar ceritanya lebih panjang lagi. Hatiku tidak kuat. Aku cuma bisa berteriak dan menjambak rambutnya. Aku merasa belum pernah semarah itu. Tapi kemudian aku terhempas di lantai. Hatiku dingin. Jiwaku dingin. Tubuhku dingin.
Perempuan itu segera pergi, namun aku tahu ia pasti akan menemuiku kembali. Mungkin besok atau dua hari lagi.
***
Lila marah sekali padaku. Aku juga sangat marah pada hidupku. Pada jalan yang membawaku menjadi seorang yang bersalah, sejak kecil. Pada kemarahan yang menguasaiku pada waktu-waktu tertentu. Pada rencana-rencana kecil yang berbisik culas dan jahat di telingaku. Aku marah pada diriku sendiri.
***
Ah, Mila! Kenapa kalimat menakutkan itu mesti keluar dari bibirmu. Kalimat yang membuatku mendadak terkapar lagi.
aku melihat dengan jelas sewaktu Kayril mendekati unggun api.
Benarkah Mila sengaja? Aku masih berharap jika Mila datang lagi ia akan mengaku kalau ia hanya terlambat mencegahnya. Mila tentunya tidak menginginkan Kayril terjerembab dalam unggun api yang berakibat fatal pada sepertiga kulit tubuhnya, termasuk bagian wajah. Semuanya murni kecelakaan atau kecerobohanku yang terlalu asyik mengurus kebun obat di samping rumah atau ketidaksabaranku menunggu tukang sampah mengangkut setumpuk ranting di halaman rumah.
Setiap hari Minggu Kayril memang sepenuhnya tanggung jawabku.  Pada hari itu Mila libur dan berhak pergi ke mana saja, dari pagi hingga sore. Biasanya ia akan ke taman bermain, tempat kami pertama bertemu. Di sana Mila menjumpai seorang pacar yang pernah ia kenalkan padaku pada satu kesempatan yang tidak sengaja. Aku kurang suka pada lelaki itu. Ia menatap tidak sopan pada tubuhku dan itu menjijikkan.
Tidak biasanya memang, jika Minggu pagi itu Mila tidak ke mana-mana. Ia tidak bangun pukul lima. Ia juga tidak membuka jendela hingga pukul delapan pagi. Aku mengetuk kamarnya, mengingatkan kalau jendela mesti dibuka untuk jalan masuk udara segar. Lima menit setelah itu baru aku mendengar ia membuka jendela kamarnya yang tepat menghadap ke halaman depan.
Tentu saja, aku belum pernah menempatkan pengasuh di kamar itu, kecuali Mila. Kamar itu dulunya tempat kerja pacarku. Setelah kami putus, kamar nuansa putih itu kubiarkan kosong. Berbulan-bulan lamanya. Jika kemudian aku membiarkan Mila menempatinya—padahal kamar khusus pengasuh ada di belakang—karena Kayril sering tertidur bersama Mila bila aku pulang malam.
Lagipula aku menyayangi Mila layaknya seorang saudara. Aku merasa menyerahkan Kayril pada seseorang yang sangat tepat tiap kali meninggalkan rumah untuk berbagai urusan. aku tidak pernah menaruh perasaan was-was meski teman-teman kantor sering menceritakan prilaku pengasuh anak yang buruk. Sekali lagi, aku percaya kata hati. Namun setelah pengakuan Mila kemarin, untuk selamanya aku tak akan punya hati yang sama.
Kenapa, Mila?
***
“Aku marah,” ujar Mila tanpa menatap mata Lila saat ia—sebagaimana dugaan Lila—datang lagi ke rumah dua hari setelah pengakuannya. Karena Lila sudah menduga kedatangan itu, maka ia telah menyiapkan diri dengan lebih baik. Mereka duduk berhadapan di kursi tamu. Mila berusaha keras mengatur napas. Sementara Lila terus menghukumnya dengan tatapan dingin. “Pagi itu aku sedang marah. Apalagi saat aku diminta membuka jendela pada pukul delapan. Aku turuti. Akupun berdiri lama di jendela itu, memerhatikan Kay yang bermain sendirian di halaman. Ia mengumpulkan daun-daun rambutan yang baru jatuh. Kau pasti sangat sibuk mengurus tanaman di samping rumah. Perlahan Kay bergerak membawa segenggam daun di tangan kanannya ke sudut halaman, tepat di mana kau membakar setumpuk ranting dan daun rambutan kering. Tak lama berselang, terdengar jeritan yang keras. Kay jatuh ke dalam unggun api.”
Lila tetap menatap Mila. Tajam-tajam. “Kenapa kaubiarkan?” ia bertanya.
Mila mengambil napas, “Sudah kukatakan, aku sedang marah.”
“Apa hubungannya dengan Kay?” desak Lila mencecar.
“Kadang aku tak suka melihat kalian begitu bahagia.”
Lila tertawa, getir. “Itu tidak masuk akal. Terlalu dibuat-buat.”
“Banyak orang membunuh karena alasan sederhana yang bahkan tidak masuk akal bagi orang lain.”
“Apa maumu sengaja membiarkan Kayril masuk unggun api, Mil?” Lila mulai menekan.
“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?” Mila menatap mata Lila sejenak. “Dari kecil aku tak disukai semua orang. Dari kecil aku dianggap membunuh adikku yang hanyut ketika mandi di sungai bersama teman-temannya. Aku tidak bisa menjaga adik dengan baik. Aku dipukuli dan dihukum orang tua, bertahun-tahun. Aku lari dari rumah. Tapi aku tetap saja dihukum perasaanku sendiri.”
Dada Lila bergetar-getar. Pipinya panas, “Hubungannya dengan Kayril?” Lila nyaris berteriak.
“Aku ingin ada orang merasakan bagaimana menjadi seseorang yang dianggap salah, seumur hidupnya.”
“Mila!” Lila berdiri, “Aku bisa saja melapor polisi.”
Mila tersenyum licik, “Kau yang mengasuh Kayril pagi itu. Aku sedang libur. Tidak ada alasan untuk menyalahkanku.”
Lila tercengang. Matanya mulai lembab dan hangat. Ia minta perempuan itu segera pergi, meski  ia tahu perempuan itu pasti kembali; besok atau dua hari lagi atau seminggu lagi. Ia akan terus datang pada Lila untuk berbagi luka.
***
“Halo.”
“Halo.”
“Kau sudah menemukan waktu yang tepat untuk menyingkirkan pacarmu itu?”
“Pukul lima pagi, sebelum ia berangkat ke taman bermain, aku akan membekapnya di kamar mandi.”
Lila berdebar. Lila gelisah. Sekarang baru pukul satu dinihari.

Jalan Enam Mei-Batusangkar, 2011

Yetti A.KA, buku terbarunya Satu Hari Bukan di Hari Minggu (gress publishing, 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar