Minggu, 20 Oktober 2013

Permintaan Janin



CERPEN Isbedy Stiawan ZS

MAGICIAN Karya Eddy Hermanto
SEJAK kamu hamil, tentu buah dari perkawinan denganku, setiap kau meminta sesuatu dan aku lambat merespons, selalu katamu: “Ini permintaan janin, mas. Bayi kita ini...” sambil mengelus perutmu yang baru berusia empat bulan lebih.
Seperti ketika malam jelang pukul 01.00, kau menggangguku sedang di depan komputer. Kau merengek ingin sekali meminum jus semangka. Di mana aku harus membeli jus semangka di malam buta ini? Taman kuliner di Katamso sudah lama tak beraktivitas, kecuali beberapa warung yang memang menyewa di situ. Sejumlah rumah makan, ah, aku tak yakin masih menyediakan jus semangka keinginanmu.
“Tapi aku pingin sekali, mas. Ini pasti permintaan bayimu di perutku ini. Kamu mau anakmu meleleh terus air liurnya nanti?” katamu merajuk.
Bukan disebabkan memenuhi permintaan janin di perutmu, kalau aku pun menuju motorku di malam itu. Sebabnya, aku hanya ingin menghindari pertengkaran. Hanya itu. Tidak lebih atau pun dikurangi.
“Kau sayang kan dengan yang ini?” tanyamu, selalu itu, sambil menunjuk perutmu yang mulai tampak membuncit itu.

Aku mengangguk. Mengelus perutmu. Mengecupnya.
“Nah, makanya cepet dong mas.... pingin banget nih!”
Setelah jus semangka tersaji di depanmu, hanya beberapa sendok diminum kau pun menyorongkan gelas itu kepadaku.
“Habisin mas...”
Kalau boleh memilih, aku lebih menyukai jus pokat ketimbang ini. Hanya, lagi-lagi kau memintaku menghabiskannya. “Kalau tak dihabisin kan mubazir. Mubazir itu dosa lo, mas. Lagian ini kan permintaan....”
“Permintaan janin, begitu?” potongku. Kau gelagapan. Memandang tajam wajahku. Ingin menusuk kedua bola mataku.
“He he he.”
*
KINI kau meminta lagi, sialnya sulit sekali kupenuhi. Pasalnya, seumur-umurku tak pernah merayakan malam Tahun Baru secara berlebihan di sebuah hotel. Uh! Paling-paling setiap malam Tahun Baru hanya bakar ikan dengan tetangga. Apalagi, setiap hari kedua tahun baru di berita-berita koran dan televisi banyak terjadi kecelakaan. Tak pernah kubayangkan kalau keluargaku—juga aku—adalah salah satu korban kecelakaan di malam Tahun Baru.
Kini kau berharap merayakan malam Tahun Baru di luar rumah. Selain itu, check in di hotel tepat 31 Desember 2010 pukul 13.00.
“Kita makan siang di hotel, lalu tidur dulu. Dan bangun sore kemudian mandi, berhias, dan selesai isya kita keluar. Bagaimana mas, asyik kan?” katamu sangat berharap.
“Ee....”
“Kenapa?” kau ragu.
“Hanya menimbang, daripada uangnya habis untuk perayaan Tahun Baru kan lebih bermanfaat ditabung untuk...”
“Kan masih lama melahirkannya, mas?”
“Bukan itu maksudku, Dira, uangnya bisa kita tabung. Kalau-kalau ada masalah pada kehamilanmu, kan kita punya uang...” jelasku. Kau cemberut.
 “Ah, gampang itu mas. Kalau rezeki kan gak ke mana-mana,” selamu.
“Ya, gak ke mana-mana, malah makin jauh. Bagaimana?”
 “Tak percaya bahwa rezeki sudah diatur Tuhan?” bantahmu.
 “Percaya, ya soal itu amat percaya. Cuma kalau kita boros, rezeki juga kabur. Tahu?” aku mulai terpancing. Suaraku nyaring. Kau mengingsut seinci. Mukamu cemberut, sebentar kemudian bibirmu menjebik layaknya anak kecil yang hendak menangis.
 “Maaf, maaf, sayang,” segera aku merayumu. “Habis kamunya...”
 “Ini kan permintaan janin kita, mas. Lagian kapan lagi kalau tak tahun ini? Kalau aku sudah melahirkan, tahun depan belum tentu bisa merayakan Tahun Baru lagi di luar. Sibuk ngurusin anak!”
 “Oke oke....” kataku. “Di hotel mana kamu mau?”
“Yang dekat alun-alun saja. Hotel...”
 “Hotel Dahlia ya?”
Kau mengangguk.
 “Kabarnya hotel itu bagus dan harganya murah. Dekat dengan pusat kota. Tak pernah ada razia-razia...”
 “Kita tetap bawa surat nikah.”
Kau mengangguk.
*
“SUDAH dibooking hotelnya, mas?” tanyamu, siang ini, belum lagi aku membuka pakaian kantor.
Kutatap wajahmu. Protes. Sebelum kau hamil, kebiasaanmu mengambil ranselku yang biasa kugantung di punggungku, lalu membuka topiku, dan menyiapkan pakaian rumah. Sejak mengandung, kau jarang melakukan itu. Kecuali menyiapkan sepatuku dan mencium punggung tanganku.
“He he he.... maaf, mas,” katamu lalu membantu menurunkan tas ranselku. “Mau teh manis hangat, mas? Aku buatkan ya?”
Aku tersenyum. Aku akan selalu luluh karena keahilanmu yang mampu merebut hatiku. Caramu amat banyak agar aku tak berkutik.
 “Minum mas, biar hangat perutnya. Masih ada kan rokok, atau...”
 “Tak usah Dira. Ada kok.”
“O ya, mas. Lena juga mau booking hotel, kalau bisa hotel sama dengan kita. Dia ngajak pacarnya...” katamu setelah aku menyeruput teh manis hangat yang kau buat.
Lena adalah sepupu Dira. Perjalanan cintanya memang sangat aneh. Setiap kenal dengan lelaki—kekasihnya yang terkahir ini adalah lelaki ketiga setelah ia putus dari Yuda—selalu memilih hotel untuk permainan cintanya. Suatu hal yang bertentangan dengan nuraniku. Cuma aku tak bisa berkomentar. Lena bukan lagi anak-anak, tentunya dia tahu mana yang baik dan mana yang tabu.
“Dia bawa mobil juga...”
“Bagaimana kalau...”
 “Ah, biarin saja mas, cuek saja. Mereka bisa mengurus diri sendir. Kan hanya sehotel kita, tidak sekamar,” selamu agar aku tak memikirkan Lena.
 “Oke oke...” jawabku. “Mereka sudah booking? Mudah-mudahan kamarnya masih tersisa.”
 “Belum tahu aku, mas,” jawabmu. “Lena minta bantuanmu yang membooking kamarnya.”
Aku diam. Ingin menolak sebenarnya.
 “Cuma mesan aja, mas. Yang bayar billnya kan pacar Lena.”
Aku mengangguk.
Kutelepon resepsionis Hotel Dahlia. Menanyakan kamar. Dari seberang telepon, resepsionis hotel mengatakan kamar sudah penuh.
 “Sudah penuh kamarnya...”
 “Bisa diusahakan?”
“Dia bilang sudah dibooking semua, dan sudah dibayar,” tandasku. “Suruh Lena cari yang lain...”
“Dia sudah meminta bantuan kita mencarikan hotelnya...”
“Bagaimana kalau di Anugerah, mungkin ada...”
 “Terserah, asal ada saja.”
Di sini pun sudah penuh.
*
ENTAH bagaimana caranya, Lena dengan kekasihnya mendapat kamar di hotel kami menginap. Tatkala kami check in, Lena sudah berada di lobi hotel. Lalu mengajakmu ke kamar. Sambil menunggu kekasihnya, kau asyik mengobrol. Aku pun bagai patung di depan televisi sambil berselancar di dunia maya.
“Jam berapa Anjas ke sini?” tanyamu.
Lena membuka handphonenya. Membaca pesan pendek kekasihnya.
 “Jam empat nanti. Dia masih ada kerjaan, tutup buku tahun,” jawab Lena.
“O...”
“Kenapa? Ganggu ya?” ujar Lena kepadamu, namun menyindirku.
“Ah, enggak. Tak kok,” potongku. “Memangnya kami masih pacaran. Sudah ada hasilnya kok,” lanjutku sambil tertawa.
 “Ya. Lain kau, Len, gelisah he he he...” jawabmu mendukungku.
Ketika Anjas datang, Lena segera meninggalkan kamar kami. Kau pun mendekatiku dan memelukku erat.
 “Kamu baik, mas. Aku sangat mencintaimu...” katamu kemudian sambil menciumi pipiku dan mengecup bibirku.
Aroma parfummu, ah, membuatku ingin segera menuju pembaringan. Terbang....
 “Aitt... sabar, mas. Kita mau mandi. Siap-siap jalan....”
Aku tersadar. Sebentar lagi memasuki malam Tahun Baru. Seperti rencana kami, akan menuju ke alun-alun merayakan pesta kembang api. Setelah itu menuju pantai, dan pulang jelang fajar. Kau menuju kamar mandi. Aku asyik bermain facebook. Menulis status “Selamat Tahun Baru 2011” dan mengirim status ke dinding facebooker yang kukenal akrab.
 “Selamat Tahun Baru 2011,” tulisku di dinding facebook juga. Ya, kenapa setiap pergantian tahun, masyarakat selalu merayakan dengan habis-habisan. Seperti terpancar opitimistis mengahadapi tahun yang akan dijemput, sambil melupakan kegagalan di tahun yang ditinggalkan.
Apakah harus pesta kembang api, konvoi sepanjang jalan sambil meniupkan terompet, lalu ke tepi pantai, berpesta hingga mabuk?
 “Tapi kan aku ini karena permintaan janin?” katamu setelah duduk di sebelahku di mobil. Lena dan kekasihnya duduk di kursi belakang.
 “Ya, memang bayimu di perut itu pintar. Sudah bisa banyak meminta, sudah pandai ngomong....” sergahku.
 “Nyindir?” serobotmu. “Kamu kok tak percaya sih. Kata orang-orang, kalau janin masih berusia empat atau lima bulan, masih banyak maunya. Dasar lelaki hanya bisa membikin, tak tahu kemauan janin!” sambungmu bersuara tinggi.
 “Ya ya...”
 “Yain saja sih, mas. Apa susahnya?” Lena menimpali. Anjas hanya tertawa kecil.
Mobil afanzaku mulai bergerak. Menuju alun-alun. Sepanjang jalan, penjual terompet menunggu pembeli berhenti. Lena memintaku meminggirkan mobil persis di depan penjual terompet. Dia turun dan membawa empat terompet.
 “Kok hanya empat, kurang dong Len?” katamu protes.
 “Lo, memangnya aku bodoh salah hitung. Kita kan berempat, satu lagi untuk siapa?”
 “Kau tak tolol Len, hanya lupa pada calon bayiku ini. Dia juga mau meniup terompet. Mau merayakan malam Tahun Baru, tahu?!”
 “O o itu, maksudnya. Oke oke.... kubelikan satu lagi,” jawab Lena tak mau berdebat.
 “Ini calon bayi yang sudah bisa meniup terompet...” kata Lena sambil menyerahkan satu terompet lagi kepadamu.
 “Yang sudah pintar ngomong dan banyak meminta...” sambungku.
Kau merengut. Membuka pintu.
 “Aku mau turun. Pulang!”
 “Lo lo.... kok sensitif begitu?” ujar Lena.
 “Bodok! Aku mau pulang. Berhenti. Atau aku lompat nih!”
Kuhentikan mobilku. Segera kukunci pintu. Kunci kupegang erat.
 “Kenapa? Katanya mau bermalam Tahun Baru?”
“Habis....”
 “Ya sudah...”
“Aku bete. Turun aja!”
“Jangan!”
Kupegang lenganmu. Kau berkeras ingin keluar. Saling tarik. Mobil berhenti agak ke tengah jalan. Dan, sebuah angkot tiba-tiba menyenggol pantat mobilku. Aku kaget. Pucat.
Segera aku turun, mau menghentikan angkot yang menabrak belakang mobilku hingga penyok, namun angkot itu makin menancap gas. Ah, inilah karena janinmu rewel, akibatnya....
Malam Tahun Baru 2011. Mobilku penyok di bagian belakang. Mungkin sekitar tiga jutaan, aku harus siapkan uang perbaikan.*
Lampung, Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar