Selasa, 29 Oktober 2013

Pertempuran dalam Ruang Tradisi



OLEH Deddy Arsya
Sastrawan
Deddy Arsya
Tujuh gelombang rombongan (semuanya laki-laki) secara bergantian telah naik dan turun dari rumah tempat perhelatan dilangsungkan. Sebentar tadi, masih tinggal dalam pandangan, sebelum rombongan-rombongan undangan dapat menyantap hidangan, mereka harus ‘melayani’ tuan rumah berbalas pantun. Mulanya masing-masing pihak memberi penghormatan dengan kalimat-kalimat berkias yang panjang, menyampaikan maksud kedatangan dan maksud undangan, dan seterusnya. Setelah makan, untuk dapat turun dari rumah itu, rombongan undangan pun mesti minta izin kepada tuan rumah, dengan kalimat-kalimat yang metaforik pula tentu saja. Berbalas pantun yang bisa lama bisa sebentar, tergantung kemahiran kedua belah pihak ber-retorika. Dan kini acara pantun-memantun itu telah usai setelah rombangan ketujuh.

“Masih ada yang akan datang?”
“Habis, Ngku!” suara janang setelah menyumbulkan kepalanya keluar. 
Angku Datuk menghela napas, terlihat lelah, di atas sehelai tikar pandan yang memang disediakan dan dikhususkan untuknya. Dan malam itu, tugasnya sebagai penghulu kaum telah selesai ia laksanakan, dari awal peminangan sampai ke puncak perhelatan alek adat. Besok, yang tersisa hanya pesta orang kota, pesta gaya Eropa, yang tidak perlu sembah-menyembah, pantun-memantun, sehingga tak perlu pengerahan datuk. Tidak perlu pula pengerahan para semenda untuk menjadi janang, sebagai tukang hidang. Besok, para tamu atau undangan boleh mengambil sendiri makanan yang disukainya di meja prasmanan. Mereka bahkan boleh makan sambil berdiri.
Kini, Angku Datuk ingin pulang. Malam telah jauh larut.
Tapi di luar, di halaman rumah itu, pesta lain masih baru akan dimulai. Dari belakang panggung yang dibuat pemuda dusun itu siang tadi, tiga orang perempuan dengan baju berdada rendah, bahu dan ketiak terbuka, dan rok pendek satu jengkal di atas lutut, melangkah siap untuk beraksi. Lalu, di atas panggung, mereka bergoyang setengah telanjang diiringi musik yang semakin keras menghentak.Tak peduli udara malam yang dingin bisa membikin mereka masuk angin bisa dikura.  
Acara berbalas pantun baru saja selesai di dalam sana; para undangan ‘alek laki-laki’ itu telah pada bubar. Sementara di luar sini, organ tunggal yang menghadirkan para penyanyi perempuan—yang tidak hanya pandai bernyanyi itu tetapi juga hebat bergoyang—mulai berdenyut hidup.  Dan pemuda dusun, sekitar tiga atau empat orang, ikut naik ke atas panggung, ikut bergoyang, mengiringi penyanyi organ yang telah lebih dulu meliuk-liuk. Tubuh mereka—yang mungkin kemenakan Sang Datuk bisa juga bukan—saling bergesekan dengan perempuan penyanyi. Betapa kontras terasa. Beberapa jam sebelumnya, di dalam rumah gadang, para datuk masih berbicara dengan kalimat bersesamping, metaforik, dan bersajak. Kini, beberapa menit kemudian, di luaran, giliran penyanyi organ tunggal menyanyikan lagu Mandi Madu dengan lirik-lirik telanjang bulat sambil meliuk-liukkan tubuhnya seperti ular, memperagakan posisi bercinta nomor sekian. Aku diciumnya/aku dipeluknya// Tercapailah segala/hasrat di jiwa ini//dst…. Beberapa saat kemudian pula, giliran penyanyi laki-laki membawakan lagu yang mengutuk ibunya sendiri: Wanita racun dunia!    
Jauh-jauh hari, Angku Datuk sesungguhnya pernah mengusulkan untuk membawa Hasan Basri, perabab yang terkenal itu, dari Padang sebagai pengisi hiburan pada malam perhelatan. Tapi para kemenakan ngotot tak setuju. “Rabab dan dendang bikin ngantuk, Ngku!” Maka akhirnya organ tunggal yang diundang. Angku Datuk bisa jadi akan tersinggung mendengar pernyataan kemenakannya itu. Dan kini, ketika dia melihat pemandangan di halaman rumah gadang kaumnya, dia bisa jadi juga akan memburangsang. Tapi malam itu saya hanya melihatnya pulang meninggalkan rumah kemenakan. Saya melihat punggungnya membelakangi lampu-lampu organ tunggal yang semakin menyalak merah, hijau, biru, di halaman rumah; membelakangi pemuda-pemuda dusun yang semakin ramai berdatangan bahkan dari dusun tetangga. Benar juga kata kemenakannya: “tak ada orgen tak ramai!”. Mungkin sang datuk akan menerimanya sebagai kecendrunan zaman yang tak dapat dielakkan.  
Para penghulu boleh meradang. Di mimbar, para alim boleh berang. Para pemerhati budaya boleh berkata: “betapa kehilangan akar kultural generasi kita sekarang.” Tapi apa mau dikata, yang datang dari luar (yang acap dianggap buruk dan membahayakan terhadap hal-hal mapan yang ada di dalam) tak dapat ‘dibunuh’ dengan gampang. Maka, harus bagaimana mengharmonisasikan antara: modernisasi yang sering salah kaprah namun dibutuhkan zaman ini di satu sisi dan di sisi lain kearifan lokal yang gilang-gemilang namun tak lagi laku bagi generasi sekarang? Persoalan klasik memang.  
Mao Zedong di empat dasarwarsa awal abad ke-20 sudah pernah mencobakan revolusi kebudayaan di China. Pemimpin besar revolusi itu memberi cap kebudayaan ultra-kanan, kontra-revolusi, sesuatu yang harus diganyang, kepada setiap nilai-nilai kultural dari negara asing yang masuk ke negeri itu. Bacaan asing tidak boleh masuk, televisi yang akan menebarkan ‘virus’ budaya asing disensor dengan ketat, kesenian ngak-ngik-nguk dilarang (seperti juga Soekarno pernah memenjarakan Koes Bersaudara di tahun yang berdekatan karena menyanyikan lagu-lagu beraliran asing).
“Hidupkan budaya nasional, bangun budaya rakyat yang revolusioner!” begitu pekik kamerad-kamerad sosialis masa itu. Maka kesenian China lama dihidupkan dengan sisispan ide-ide revolusioner. Sastra lama Tiongkok diajarkan di sekolah dasar hingga menengah sebagai pelajaran wajib. (Apa yang juga pernah coba dilakukan Lekra di Indonesia: wayang dipopulerkan, ronggeng dinaikkan derajatnya setinggi mungkin, sementara piringan hitam The Beatles dan film-film Amerika dibakar di mana-mana, yang ‘kebudayaan kita’ dibentar-benturkan dengan ‘budaya neo-imperialis’).
Namun, pasca-Mao lihatlah apa yang terjadi di China, justru, Negeri Tirai Bambu itu tak dapat menolak yang ‘luar’ dan ‘asing’ terus-menerus. Kini China berkembang menjadi negara yang lebih terbuka, dan kapitalis. Di Indonesia, Lekra tampaknya juga tidak berhasil. Setelah Orde Lama runtuh, film-film Amerika menembus pasar perfilman kita dengan hebat. Disco, Tango, Rock ‘n Roll, dan aliran musik asing lain (yang dulu disebut musik ngak ngik nguk itu) dinyanyikan beramai-ramai pemuda-pemuda kita setelahnya.
Jika revolusi kebudayaan tidak mungkin, apakah barangkali kita bisa menyerahkannya pada evolusi-fungsi? Bahwa yang berfungsilah yang akan bertahan, tetap tinggal sebagai pemenang. Dan yang tidak berfungsi akan hilang lenyap perlahan-lahan dengan sendirinya ditelan zaman. Sebab, yang bergunalah yang akan tetap dipertahankan. Dalam artian, mungkin seni tradisi kita ditatap lesu dalam suatu waktu tertentu—seperti sekarang.
Namun di waktu lain barangkali orang-orang akan mencintai talempong lagi dan mau mendengarkan rabab tanpa mengantuk; mencintai kata-kata berkias-metaforik lagi dan bosan dengan kalimat-kalimat telanjang. Atau muncul re-kreasi hasil ‘sintesa’ antara yang ‘di dalam’ dan yang datang ‘dari luar’ itu, antara yang lama dan yang baru itu.
Kalau memang begitu, maka kita tampaknya tidak perlu terlalu mengkhawatirkan seni tradisi atau nilai-nilai tradisional lain akan hilang. Bergerak saja untuk mencipta. Pupuk saja kreativitas, lahirkan saja sebanyak mungkin para kreator. Sebab tidakkah setiap zaman punya kebudayaannya sendiri, hasil cipta-karsanya sendiri, yang juga tidak akan lepas begitu saja dari akar-kulturalnya selama kreatornya hidup di dalam sebuah masyarakat? Sebab hilang atau bertahan sesuatu, evolusi-fungsi yang akan menentukan, zaman yang memutuskan, bukan?  Maka pertempuran dalam ruang tradisi kita sesungguhnya adalah pertempuran memperebutkan ‘guna’, memperebutkan ‘fungsi’ dalam setiap zaman.  
Tetapi tidakkah itu juga mengandung isyarat menyerah? Sebab nilai, guna, fungsi, juga hasil bentukan, tidak terbentuk dengan sendirinya, bukan? Entahlah. Baik kita jawab sendiri.

Padang, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar