Selasa, 08 Oktober 2013

POLEMIK SASTRA SUMATRA BARAT: Kelangkaan Kritikus dan Peneliti Sastra



OLEH Nelson Alwi
Budayawan tinggal di Padang
                                       
Nelson Alwi
TAK terbantahkan, dengan tulisan berjudul 30 Tahun Terakhir Tak Ada Novel Bermutu dari Sumatra Barat (Harian Haluan, Minggu (23 Januari 2011) Darman Moenir berhasil menggugah gairah sejumlah intelektual untuk penulis esai sastra sekaligus mempublikasikannya di harian kesayangan ini. Semangat mereka semoga dapat dipelihara dan semakin menyala-nyala, menyinari aktivitas berkesusastraan, terutama di daerah tercinta ini.
Dan kini, pada gilirannya masalah langkanya kritikus (baca: kritikus dan peneliti) sastra di daerah ini pun ditaja menjadi tema yang seyogianya dibahas. Sebab, menurut redaktur ”Kultur” Harian Haluan: ”... karya-karya yang lahir dari rahim sastrawan Sumatra Barat —baik berupa cerpen, puisi maupun novel— tak terpindai secara cermat dan hanya menghuni rak-rak buku tanpa perbincangan yang dialektis dan dalam”.

Artinya apa? Perkembangan dan identitas keberadaan kesusastraan tak bisa lepas dari peran serta kritikus sastra. Karenanya, legitimasi, degradasi ataupun kelangkaan kritikus, kapan dan di manapun, selalu membuncahkan jagat sastra —menjadi persoalan klasik yang tetap aktual, relevan dan menantang.
Dan ketika (ke)budaya(an) massa koran serta yang terakhir media maya alias internet menjadi begitu berkuasa, tradisi romantik yang cenderung ke detail dan melahirkan kritik sastra buku dan majalah ala Jassin dianggap sudah tidak relevan. Persoalannya adalah, kehadiran kritik(us) sastra (di) koran semakin (men)jauh dari yang diharapkan, sementara yang di internet —kalaulah boleh disebut kritik(us)— tak dan atau belum “terkendali” sama sekali. Hal ini dapat ditelusuri dari hangat dan rancunya silang pendapat yang difasilitasi sebuah harian ibu kota antara Arif Bagus Prasetyo, Damhuri Muhammad, Wicaksono Adi, Binhad Nurrohmat dan Budiarto Danujaya. Relatif senada dengan mereka, Muhammad Subhan dalam Biarkan Pembaca yang Menjadi ”Hakim” (Harian Haluan, Minggu (13 Februari 2011) pun terkesan sangat bersahaja dan absurd.
Ke depan figur-figur sastra kita mungkin harus lebih berhati-hati menyitir vonis ”kritik(us) sastra sudah mati”. Atau menyangkutpautkan ”kelarismanisan” sebutlah novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi dengan mutunya, dan sebaliknya mengklaim “kekuranglarismanisan” taruhlah novel-novel pemenang Sayembara Menulis Roman Dewan Kesenian Jakarya (DKJ) sebagai tidak dan atau kurang bermutu.
Kritikus yang juga dikenal sebagai peneliti sastra terkemuka seperti Faruk HT, Maman S Mahayana atau Budiarto Danujaya mensinyalir bahwa kritikus sastra, seiring zaman, terlihat mencari bentuk dan mediumnya. Dengan kata lain, kritik sastra ternyata begitu fleksibel, bisa menyesuaikan diri dengan zaman: buku, majalah, pengantar-buku, koran dan atau internet.
Akan tetapi perlu digarisbawahi, keberhasilan atau keabsahan kritik sastra bukan bergantung kepada siapa yang membuat atau apa dan di mana ia dipublikasikan,  melainkan oleh kebernasan atau “sesuatu” yang ada pada kritik itu. Dengan demikian, seekstrem apa pun kita menolak kehadiran seorang kritikus, tapi jika orang itu sanggup memformulasikan kritiknya sebagai sebuah kritik yang qualified maka akan jadi dan di”dikritikus”kan khalayaklah dia.
Dan menurut hemat kita di sinilah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Nyaris senapas dengan sinyalemenen yang dilontarkan Sapardi Djoko Damono dalam “Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia” di Denpasar, Bali, beberapa tahun yang lalu. Guru Besar (emeritus) FSUI itu mengisyaratkan sebab-musabab “keterpinggiran” atau stagnasi keberadaan kritik(us) sastra dengan kalimat, bahwa untuk bisa membicarakan karya sastra secara baik kritikus harus lebih pintar atau minimal sama cerdasnya dengan pengarang.
(Maka idealnya, seyogianyalah seorang kritikus menguasai seluk-beluk sastra yang maksimal sembari terus mempelajari puspa-ragam informasi yang beredar di tengah masyarakat. Bermodal pengetahuan yang memadailah seorang kritikus leluasa mengulas karya sastra. Tapi memang, kritikus yang akan berhasil dengan misi dan visi maupun citranya adalah kritikus yang cerdas memanfaatkan peluang zaman lewat medium yang dimasukinya).
Suatu keniscayaan, tiap generasi harus memiliki juru bicara, karena tiap zaman punya keunikan dan problematikanya sendiri. Sesuai sifat serta fungsinya sang juru bicara alias kritik(us) akan berperan menjembatani pembaca dan (pengarang) karya sastra. Kecuali itu, kritik dengan segala konsekuensinya sangat boleh jadi diperlukan sastrawan, sebagai tolok ukur —yang ironisnya, bukan tidak mustahil justru menyesatkan dan membunuh atau sebaliknya melambungkan karya sastra(wan).
Terkait relasi kritik dengan karya dan masyarakatnya penyair merangkap prosais terkenal Gus tf Sakai pernah menulis, bahwa sublimitas seorang seniman adalah kehidupan sedang sublimitas seorang kritikus adalah karya seni. Ketimbang menyerahkan dan menghadapkan diri pada “keangkuhan” sebuah karya, kritikus menempuh jalan tersendiri yang sebetulnya ironi: mengritik dengan bahasa yang karena keharusannya bermain dalam gugus pengertian.
Lebih jauh dari itu, tersebab filsafat dikotomi kritik jadi lebih bersifat konseptual. Karya sastra yang diposisikan sebagai sarana penyampaian masalah sosial ditempatkan kritik(us) sebagai subordinat suatu kepentingan. Karya sastra sebagai “alat” pencapaian ide-ide besar tentang seni mengambil tempat yang sangat individualistik. Karya sastra yang cenderung memanifestasikan tingkah-laku keseharian akan ditempatkan sebagai sesuatu yang agung, tinggi, didaktik dan karenanya akan terbebani oleh berbagai tuntutan dan harapan. Karya sastra (dunia simbolik) yang selalu berinteraksi dengan dunia sosial dan material, tidak saja akan membuat karya kehilangan otonomi tetapi juga akan direduksi kritik(us) dengan banyak aspek kepentingan yang menyertai karya tersebut.
Kemangkusan kritik sastra berkaitan erat dengan kearifan kritikus menjaga penetrasi porsi tulisan yang mengacu pada sifat serta fungsi kritik, di samping kepiawaian kritikus menyiasati medium (buku, majalah, pengantar-buku, koran, internet) yang hendak dimanfaatkannya.
Namun kearifan dan kelihaian kritikus memahami maksud, kiat, style berikut gaya bahasa (yang pas) yang akan digunakan mengupas karya sastra jelas tak berarti andaikata ia tidak bijak dan jeli menangkap keindahan atau kelemahan yang terkandung dalam sebuah karya. Ini ditengarai bertali-temali dengan keseriusan, ketekunan, kejujuran dan objektivitas kritikus sewaktu menimbang karya yang dihadapinya. Sebagai ilustrasi, konon di sinilah keunggulan HB Jassin. Sejarah membuktikan, Chairil Anwar yang (selamanya) ia sanjung langsung dikecam begitu menyadari penyair besar itu “mencuri” sajak A Song of the Sea Hsu Chih-Mo.
Tak heran, di ajang “Kongres Kesenian Indonesia I” tempo hari penyair kondang Taufiq Ismail mengungkapkan unek-uneknya dengan mengatakan bahwa semenjak HB Jassin “pensiun” menulis kritik dunia sastra kita merasa sangat kehilangan. Keadaan itu diperburuk karena beberapa kritikus yang bilangannya bisa dihitung dengan jari tangan sudah memasuki “masa persiapan pensiun” pula. Sementara FSUI yang pada masa jayanya punya sebarisan jago seakan dilanda degenerasi.
Sementara lewat salah satu esainya Darman Moenir secara spesifik mempertanyakan eksistensi serta regenerasi kritikus sastra di daerah ini: ”..., adakah atau mungkinkah lahir (lagi) kritikus sastra dan ilmuwan sastra seandal, sekeras, sehebat dan seproduktif Umar Yunus?”. Dan sehabis mencatat beberapa nama kritikus sastra papan atas dari ”luar” sana novelis ini pun menulis: ”Dari Sumatra Barat? Ada Mursal Esten, dulu. Sekarang? Sayup-sayup pernah terdengar nama Hasanuddin W.S., Ivan Adilla, Adriyetti Amir, M. Yusuf, Atmazaki, Wannofri Samry, Fadlillah Malin Sutan, Nelson Alwi, Dasril Ahmad, Hermawan”.
Pendek kata, sekian banyak pembicaraan, perdebatan atau kajian menyangkut keberadaan kritik(us) selama ini selalu menyiratkan keresahan, kekecewaan serta keprihatinan para pencinta sastra. Mengapa kelahiran maupun kehidupan pengarang dan karyanya seolah-olah tak terikuti sedikit juga oleh kritik(us) sastra. Sangat mungkin karena, bak kata orang, pengarang mencipta berdasarkan kekuatan imajinasinya sedangkan kritikus bicara dengan keluasan (ilmu) pengetahuannya.
Harian Haluan, Minggu, 20 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar