Selasa, 08 Oktober 2013

Polemik Sastra Sumatra Barat Menjalar ke Facebook


Berikut ini kami turunkan komentar-komentar para pegiat sastra di ruang jejaring sosial semenjak dibukanya polemik terhadap tulisan Darman Moenir di ruang ini satu setengah bulan lalu, tentu dengan penyuntingan. Selain itu pula—juga hangat jadi perbincangan di  Facebook—tentang “diangkatnya” sebagai laporan khusus sastra di rubrik Rona harian Koran Jakarta polemik ini tanpa mencantumkan sumbernya sehingga menuai kritik pula.
Ruang ini memang dikesankan sebagai ranah dialektis untuk kita bersama tanpa tendensi tentunya. Setiap tulisan, dinilai sebagai respons positif untuk kemajuan kultural. Memang, saatnya kita merawat dan merayakan berpikir dialektis dan merdeka.


 
Sondri Bs (06 Maret 2011 Pukul 19.28)
Kurang lamak pulo mantap tampaknyo Bung..bia agak serius ambo komen pulo lah di siko saketek-saketek. Intinyo, tak ada kritikus sastra yang serius, yang tidak menganggap remeh terhadap semua karya dari maso dulu sampai maso kini, yang bicara berdasarkan apresiasi yag memadai bukan emosional, tapi sori Bung ambo ndak nulis di koran, kebetulan Bung mangirimko ka ambo, bilo Bung baliak ka nagari awak nan rancak ko. Buek padepokkan sastra waklah di Padang..he he

 


Koko Sudarmoko (06 Maret 2011 pukul 19:39)
Bung Son: Komen bung dan kawan-kawan bisa dijadikan bahan pemikiran kita bersama untuk kelanjutan diskusi ini. Siapa yang berminat, tentu dapat memanfaatkan untuk bahan tulisannya. Selain, kritikus sastra yang serius, kebutuhan untuk itu, seperti bahan, data, referensi, karya-karya juga harus secara serius dikumpulkan untuk menarik keseriusan itu. Ini harus dilakukan juga, mengingat perpustakaan dan koleksi yang masih bolong-bolong. Mungkin bisa diisi dengan saling berbagi info koleksi masing-masing, tentu bisa kita wujudkan padepokan itu Bung, sedikit demi sedikit.

Ilham Yusardi (06 Maret 2011 pukul 19:47)
Dari zaman katumba sampai zaman ngenet. Iko se masalah nan dipatangkari di Sumbar ko. Tentang karya tu sendiri jarang dibahas. Nan acok dibahas cuma urang ka urangnyo sajo. Sadonyo ingin manapuak dado, managak bendera surang-surang. Kok jadi sastrawan bakaryalah! Kok jadi kritikus bahas karya!     







Imam Gozali Iim (06 Maret 2011 pukul 20:21)
Tak mudah memang untuk melahirkan kritikus sastra, karena kritikus dilahirkan oleh zaman, namun wacana ini tentulah merupakan gerbang untuk perkembangan sastra ke arah yang lebih baik.





Wannofri Samry (06 Maret 2011 pukul 21:38)
Mungkin hanya Sudarmoko dan Fadlillah yang dosen Fakultas Sastra Unand yang masih setia mengamati sastra Indoenesai, khusunya Sumbar, yang lain masih diragukan. Sementara belum saya lihat alumni sastra yang bukan dosen yg mau menjadi kritikus sastra profesional.




Suryadi Sunuri (06 Maret 2011 pukul 22:41)
Lambek-lambek mulailah ka objek sastra itu sendiri. Pelajarilah kecampinan almarhum Umar Junus berdialog dengan teks. Sebuah karya sastra yang bermutu tentu akan selalu menarik dikupas dari segi apa saja. Ibarat sumber air yang tak pernah kering-keringnya, selalu saja ada 'dialog-dialog' baru antara teks sastra yang bermutu itu dengan para pembacanya (baca: kritikus, peneliti). Ada banyak suara (polisemi) di dalamnya, yang memberi peluang kepada pembaca kritisnya untuk mengemukakan banyak interpretasi. Sebaliknya, karya-karya yang tidak bermutu tentu akan cepat 'mengering' dalam 'hisapan' dan 'piuhan' analisa para pembaca kritisnya (kritikus, peneliti), ibarat kambia layua kukua yang lansuang jadi jalang santannya sasudah sakali rameh.

Koko Sudarmoko  (07 Maret 2011 pukul 7:39)
Perbincangan apapun dalam sastra, khususnya kita yang masih perlu banyak referensi dan kajian ini, masih sangat diperlukan. Demikian juga dengan kritik(us) sastra di Sumbar ini, atau pengarang-pengarang yang ada, adalah bagian penting dalam kesusastraan. Karya juga tidak kalah penting. Dan sebisa mungkin diungkap dan ditelisik lebih jauh. Berhadap-hadapan dengan teks adalah peluang yang sangat lebar untuk kajian sastra. Banyak cara dan banyak media untuk memublikasikannya. Ditunggu kajian-kajian cemerlang dari kita dan kawan-kawan semua.

Ricky A. Manik (07 Maret 2011 pukul 11:17)
Menyambung Mas Koko, membincangkan, mengkaji, menilai sastra saya kira banyak hal yang perlu diperhatikan (sebagai tugas kritikus). Mungkin tidak hanya sebatas teks saja, faktor-faktor lain yang menyebabkan karya sastra itu "bernilai" (saya katakan bernilai sebab orang di luar sastra pun punya hak untuk menilai, bukan kritikus atau kaum akademisi saja) toh bukan dari teks saja. Ada penerbit, ada pengarang, ada pembaca, ada marketingnya juga, tukang disign covernya, ada redaktur, ada pers, dan lain-lain. Sebab ketika kita hanya membicarakan teks saja, faktor  lain itu tentu menjadi terabaikan. Padahal mungkin persoalan di dalam teks sastra (yang katanya bermutu itu) ternyata "jauh" dari persoalan realitas masyarakat yang sesungguhnya (teks yang tak mengangkat derajat hidup masyarakat, tak memberikan kesadaran kritis, melainkan hanya eksploitasi belaka). Nah, tugas kritikus dituntut untuk peka terhadap setiap fenomena yang muncul dalam jagad sastra Indonesia kita. Dan tugas orang-orang yang bergelut di sastra adalah menjadikan sastra sebagai medium kesadaran kritis dan bisa mengangkat derajat hidup org lain. Jadi, dunia sastra bukan lagi sebagai dunia wacana, yang hanya mengganti sampulnya saja.   

Zelfeni Wimra (07 Maret 2011 pukul 16:30)
Dan para pekarya yang budiman, harus terus menulis karya yang menarik untuk dikritik. Bukan hanya "kritikus formal", tetapi barangkali mengundang ketertarikan kritikus yang lahir dari pembaca, se-awam apapun dia, ber"akademik" ataupun tidak.... Jadi kritikus pekerjaan yang halal. Bagi pekarya, dikritisi bukan tujuan. Ruang estetika tak sesesak itu. Pada satu sisi, eksistensi kritik, menguatkan kalau karya sastra itu tidak mampu mengungkai, mengurai, mempesonai dirinya sendiri.


Suryadi Sunuri (07 Maret 2011 pukul 22:03)
Percayalah 101% bahwa sastra yang bagus tidak ditentukan oleh licin atau kasarnya disain covernya, tidak ditentukan oleh apakah ia diluncurkan di kafe mewah atau di taman budaya. Sastra bukan seperti disain HP, rumah, dan mobil. Saya tertarik untuk membaca sebuah teks sastra ketika sejak dari baris pertama saya mulai diseret ke tempat yang asing di mana semua apa yang sudah saya kenal—cinta, kematian, kesedihan, rindu-dendam,dan lain-lain—menimbulkan keraguan kembali dan membuat diri saya menikmatinya (atau membencinya) dengan perasaan yang lain lagi.
Tinggal membentuk A.A. Navis Award. Banyak cara untuk menggairahkan kehidupan bersastra di Sumatra Barat. Puak ini penuh dengan orang-orang yang berpikiran maju.

Wannofri Samry (06 Februari 2011 pukul 12:39)
Selamat para eseis kita, mudah-mudahan ke depan lebih menukik pada isi atau karya sastra itu sendiri. "Kita" belum tahu sejauah mana karya sastra kita yang sedang dipolemikkan ini?

Sutan Harismanto Djambak (06 Februari 2011 pukul 20:10)
Kalau saya berprinsip, menulislah dengan hati, bumbui dengan pikiran, hiasi dengan pengalaman dan hidangkan di mana saja...baik di koran, majalah, blog, facebook dan lain-lainnya. Sebagai penulis, uuntuk apa mempersoalkan media tempat karya kita dimuat. Nama besar seorang penulis bukanlah dibangun melalui media, bukan pula dari seberapa banyak orang yang memuji, mengkritik atau mempolemikkan karyanya, namun dari sejauhmana karyanya menyentuh sisi2 kemanusiaan kita...




Lilik Zurmailis (07 Februari 2011 pukul 9:13)

Saya ingin memberi saluut pada Bang Darman, yang berhasil menyemangati para esais menelisik perkembangan sastra dan kepengarangan Sumatra Barat. Salut juga untuk para esais yng menyemarakkan halaman Haluan, dan mempermudah MN kita tercinta memperoleh tulisan-tulisan bermutu. Dan menambah pemahaman saya tentang sastra.











Juan Frans (07 Februari 2011 pukul 10:24)

Tak ada larangan untuk berpolemik seperti ini, tapi kalau ngak hati-hati menyikapi bisa terpeleset, malah memecah komunitas sastra yang udah ada yang seharusnya daptt lebih saling mengapresiasi karya sastra orang Sumatra Barat tadi. Mari berkarya, mengapresiasi dan membangun komunitas sastra yg saling membesarkan satu sama lain.



Diah Noverita (08 Februari 2011 pukul 16:29)
Sebuah karya sastra yang lahir pada zamannya dan tetap eksis serta diapresiasi dan mendapat tempat yang baik di hati pembacanya pada zaman berikutnya, kita klaim sebagai karya sastra yang baik dan bermutu. Lalu apakah karya sastra yang lahir karena motivasi kompetisi dan tujuan finansial, dapat dibandingkan dengan karya sastra yang lahir karena dorongan semata-mata untuk mengekpresikan nilai-nilai kritik humanis yang terjadi di sekitarnya. Perspektif dan justifikasi yang keliru dan negatif terhadap karya anak negeri harus dieliminasi. Sudah saatnya berpikir baik dengan cara-cara yang elegan terhadap karya anak negeri. "Rumah bahasa" ada di otak kita masing-masing. Kalau bahasanya baik, pemikirannya juga baik.

Suryadi Sunuri (14 Februari 2011 pukul 7:23)
Kanon itu penting, terutama bagi orang yang mengaku sastrawan. Gunanya: supaya dia terus punya cita-cita dalam hati untuk menulis karya sastra yang hebat. Kanon itu ibarat hadiah nan tagantuang di ateh batang pinang bagomok: harus bausaho mamanjek ka ateh untuak mandapek'annyo, tapi ndak mudah, dek gomok licin. Sebaliknya, para peneliti harus membebaskan dirinya dari kanon itu. Mereka harus meneliti apa saja, baik 'Bako'nya Darman Moenir maupun 'Oestadz A Masjoek'nya Martha; baik karya-karya Muhammad Soebhan maupun korpus Nick Carter; baik cerpen-cerpen yang dimuat di Kompas maupun stensilan porno 'Yenny Arrow'; baik karya-karya berlatar Islam seumpana novel-novel sekarang yang judulnya berujung dengan kata 'cinta' (Ayat-ayat Cinta, dll.) maupun yang berlatarkan agama-agama minoritas seperti karya-karya Gerson Poyk, Korry Layun Rampan, Maria Matildis Banda, Paulus Supit, M.R. Dayoh, Julius R. Sirayanamual, dll.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar