Minggu, 20 Oktober 2013

PUISI Anggi Fadilah

Negeri Mimpi

Kubaca takdir satu-satu
Terawang langit merekah
Terbius cairan darah dan menetes
Sepanjang akar pengap
Di batas negeri mimpi

                        Langit dan tanah jadi satu
                        Menyikat pekat bayang hitam dalam poros
                        Bersaksikan
                        Embun dan lintah-lintah

Ku tatap senja kemarau panjang
Di musim itu
Gerimis mematah jejak di gurunmu
Coba selimuti dengan dengkur
Dan menadahlah penuh sungguh

                        Simpangan laut jadi beritamu
                        Tatapku
            Rasamu
Tancap!
Menjelmakan sangkar hitam, hingga
Terang tak mampu menampakkan putihnya
                        Riuh gemuruh bersorak sayu
                        Bersimpuhlah kiranya

                                                                                                INS Kayutanam, 2011



Tenggelam atau Mati

Rinai di lubuk itu sayang
Mengingatkan
            Pada
Senandung larik merdu
Mengiang segumpal jiwa
Dulunya sayang
Perawan pagi setia menemani
Menghantar
Senyum di langit buta
Murai bernyanyi kaku
            Tetap
Berlari ke ruang tepi
Dulunya sayang
Nafas sengal mengelabuhi
Jejak di pasirmu
            Tetap
Memangku dahaga
Dulunya sayang
Tebal kabut terselimut genggam tangan
Nostalgiamu
Lusuhkan sekeping jantung
Tenggelam atau mati
Di balik lautmu
            INS Kayutanam, 2011\




Niang Pinang

 

 Badai masih mengumpat, berlabuh nasib di sini
Ya, kedipan dari niang pinang yang menyala
 Derumu
             Serumu
jadi rapuh
Panas gersang menggeliat jejak di pasirmu
Ya, lamunan sajak kita dulu
Berantaikan sayap keruh berlari penuh
Hei!
Raja langit mulai melek!
Jangan topang siku dagu lagi
Jasad dan roh tercerai sendu

Langit
         Jadi kaku
                      Dalam
                               Rayu
Bising-bising berlindungkan kelam
Gelak menggelegak di relung pengap
Sejak musim di tahun lalu

            INS Kayutanam, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar