Jumat, 25 Oktober 2013

PUISI Irmadani Fitri




Hujan Panas
Langit memang makin cerah pada pagi, juga siang jelang sore
kota ini serupa kampung halaman nan dirindu
tertahan dalam diri
serupa panas hari ini yang mengandung butir-butir hujan
membasah di ujung mata
kau bernama rindu
jadi matahari di siang ini yang esok mungkin masih kembali
dengan panas yang sama
juga bulir-bulir hujan yang disimpannya.

Kubangtungkek, 7 Mei 2011


Langit Makin Cerah di Kota yang Makin Tak Asing Lagi
Orang-orang terlalu lama menunggu kabar kepulangan
tak hanya sebatas rindu yang tenggelam di lubuk hati para penunggu
langit makin cerah, dan aku masih mendekam di kota yang mulai tak asing ini
nun jauh di kotaku
mata ibu memanggil kepulangan
yang lama tak tersentuh waktu

Payakumbuh, 7 Mei 2011

 


Tergantung Waktu

Sampaikan pada waktu, tentang arus hidup yang kadang menderas
juga tersendat pada seonggok batu, atau apa yang disebut ragu
sampaikan pula pada detik yang berlalu, bahwa ada yang menetas
juga tergilas tiap beranjak detak waktu, serupa menyusuri pelik pilu

Entah mengapa kian kugantung pada waktu, hari-hari kian melaju
arahku searah sungai menemu muara, ke laut menemu samudera
ke langit menemu cahaya, ke matahari menemu air mata, lalu rindu
diam-diam bergentayangan layaknya penunggu yang setia

Rintik hujan pun tak kalah merdu, mengiringi langkah yang membasah
hingga gigil waktu membiru di tubuhku, dan tak lagi kumaknai jerit langit
di mana kugantung waktu, tempat kutulisi mimpi sejak serupa bayi merah
ia bersama waktu, ke samudera, ke langit bagai cahaya tanpa air mata.

Simpagempat, 17 Mei 2011



Datang untuk Pergi Lagi

Hidup bagai kereta api, katamu terbata bagai deru mesin kereta
melesat-lesat suaramu ditelingaku,
antara kuturuti rel ini atau mencari jalur lain dalam pergi
tiba-tiba aku datang pada suatu masa
di stasiun yang belum waktunya aku turun
tak tau kereta berikut tiba jam berapa, ini kedatanganku untuk pergi
lagi, katamu hidup bagai kereta api
cerita-cerita melaju dalam waktu, datang dan pergi.

Melaway, 14 Mei 2011

 

Hujan Sore Tadi Merekam Percakapan Kami Via Telepon Genggam

Di seberang, suara lembut ibu menggetarkan rinduku
sore tadi hujan merinai, angin semilir ke ulu hatiku
kudengar kicau Televisi
juga erangan seorang adik yang sedang sakit gigi
kabarnya di sana hujan sudah reda dari tadi
sementara di sini hujan merekam percakapan kami
ibu menanya "kapan pulang" dan kujawab "belum tau, bu"
biar ku tunggu hujan reda dulu
kuraba lekuk senyum ibu.

Di seberang, telepon genggam berpindah ke tangan ayah
langit kian kelam, kudengar suara berat menyimpan lelah
kembali nyaring kicau Televisi
dan lagi di sini hujan merekam percakapan kami
"kapan pulang"
"belum pasti, yah"
hanya saja hujan belum reda
kulihat wajah ayah cerah jelang senja.

Begitulah, hujan sore tadi merekam percakapan
sembari meneteskan kerinduan.

24/04/2011


Berjauhan Itu Agak Menyedihkan

; Alzakiyan

jarak telah mencatat sesuatu
bahwa kini, berjauhan agak menorehkan kesedihan
mungkin karna senyum-senyum tak terbias di depan mata
juga suara-suara manja tak memantul di telinga
ini memang agak menyedihkan
namun, jauh tetap saja jauh
sedangkan jarak tak dapat kuukur dengan segera
hanya saja waktu,
'kan menanam bahagia di sela tawa perjumpaan

Padang, 11 Mei 2011



Aku Rindu Melukis

aku rindu melukis
tapi aku tak punya alat untuk melukis
nanti jika aku sudah punya alatnya, akan kulukis apa saja
sampai semua alat lukisku tak bisa dipakai lagi
untuk melukis

aku sangat ingin melukis
melukis apa saja,
melukis senyum di wajahmu,
melukis bunga di hatimu,
melukis cahaya di hidupmu
melukis jingga di senjamu

nanti jika aku sudah punya alatnya
bersiaplah melihat hasil lukisanku
nanti, jika hidupmu sudah tak lagi berwarna

Lintangselatan, 24 Jan 2011



Irmadani Fitri, Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Sastra Unand 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar