Minggu, 27 Oktober 2013

PUISI Irmadani Fitri




Hujan Ini

Barangkali hujan-hujan ini air mata orang-orang yang merindu
rindu-rindu yang dibawa angin lalu dan jadi gabak di hulu
mungkin rinduku, rindumu, rindu kita
ah..mataku jadi kering menatap waktu kepulangan
hingga kini tanyaku menghujan
mengapa akhir-akhir ini sering hujan?
apa terlalu bayak yang merindu?
dan bagaimana bisa makin jauh jarak makin deras rindu?

Barangkali hujan-hujan yang sering jatuh dikeningku adalah rindumu
aku jadi kalut, air di mataku jatuh satu-satu
mungkin juga jadi hujan dan jatuh dikeningmu
jika benar hujan-hujan ini adalah air mata orang yang merindu
menderaslah hujan biar deras rindu.

(Padang, 24 Okt 2011)Ketika Itu Ada Kau dan Aku yang Saling Menunggu
dahulu, ketika kita saling menunggu dengan rindu yang gemetar
kita hanya bisa membuang-buang sepi lewat hujan-hujan
lewat gumam lagu yang kadang kita lupa liriknya
tahukah kau, aku senantiasa diliputi risau...

ketika itu ada hari-hari yang basah oleh air mata yang tumpah
kita hanya bisa meramal-ramal nasib yang serupa cuaca
bermain-main dengan waktu yang bergulir begitu lambat
rupa-rupanya di sana kau juga menyimpan risau...

dahulu dan hanya ketika itu...

Padang, 021211



Tentang Dua Bait Kekalutan
Hujan turun malu-malu
tanah umpama basah
daun-daun ranggas satu-satu
aku masih terdiam dalam resah.

Derai rinai menghujam
ini malam makin larut
kalut aku dalam diam
ingatan padamu datang menjemput.

(Kampuangdalam, 131111)

 

 

Lalu Kugenapi

Lalu kucoba genapi apa-apa yang ganjil pada diri
bahwa ada hal-hal yang perlahan harus kupahami
sebagai pelengkap keganjilan yang kerap menjelajahi hati
tentang genderang keraguan yang menabuh kala sepi
lalu kucoba genapi, sebelum aku kembali
sambil sesekali menghitung detik-detik menjadikan hari, lalu
tiap yang ganjil kan kucoba genapi
pedihmu layaknya pedihku, tak genap bila tak kau berbagi
dan serasa keganjilan serupa duri didenyut nadi
jika tak kucoba genapi.

'utk kawan2 mari saling melengkapi'
Tubuh Jendela, tubuh sebuah kehidupan (16 Juni 2011)

 

 

Keganjilan di Malam Kian Temaram

Ya..malam kian temaram
suara-suara kian ganjil, kian ganjil
jauh tapi dekat, dekat namun jauh
malam makin larut dan keganjilan makin akut
dia kembali ingin menyusupi mimpi
dalam tidur yang enggan kumulai
tetap saja suara-suaranya
menusuk di gendang telinga
keganjilan yang membawa ingatan
pada kesunyian melebihi sendiri
serupa ketiadaan yang menanti diri
malam temaram ini kian ganjil
keganjilan yang kian membeku dalam sukmaku.

14 Juni 2011

 

 

 

Selepas Tidur yang Singkat, Bintang-Bintang Menyapa Mata Pagiku

Kembali kudapati mata pagi, dimataku bintang-bintang bertaburan
serupa kunang-kunang yang baru pulang dari pesta semalam
selepas pertemuan pada mini durasi mimpi
kulirik lagi berkas-berkas pengantar tidurku tak kunjung rapi
tak jua kusudahi seusai fajar menggiringku dari gelisah hati
dan pagi kembali menyisakan taburan bintang di retina
juga seulas denyut di kepala, di mata pagiku
batinku menyeru bahwa harus kusudahi
meski bintang-bintang bertaburan menitip perih
di mata pagi, aku masih mencari.

17 Juni 2011



Sebelum Datang

Lawatlah, bila tiba aku pada renta usia
duduk di beranda sambil merintang-rintang hari
mendengar alun nadiku sambil menghitung mundur waktu
tak usah bawa apa-apa bila tiba padaku
cukup bawa kembali jejak tanganku di tubuhmu
mataku hampir tak bisa menedah cahaya, mengeja warna
tapi hatiku senantiasa hafal jalan hidupmu
jadi sejarah bagiku dari siang dan malam kita bersama
aku masih setia diberanda jelang senja
kabari aku sebelum kau tiba
dan kita akan sama-sama menerka akhir cerita.

3 Juni 2011



Tentang Irmadani Fitri
Irmadani Fitri alumni Sastra Indonesia Unand saat ini bergiat di Komunitas Tubuh Jendela.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar