Minggu, 27 Oktober 2013

PUISI Nurfirman AS

Musim Sunyi

musim ini adalah bagian daritingkah diam yang usang
yang menjelma nasib pada ruang-ruang tunggu
dan potongan jarak antara gerimis yang menemui rapuh

sebuah kepingan episode dalam kamar ilusi
dari kejamnya imajinasi orang-orang lalu
yang menancapkan bekas-bekas luka
dengan air mata yang tertahan di tenggorokan
dan suara isak yang luruh dari paru-paru yang menemui sesak

kesendirian telah merenggut jiwa-jiwa para petapa
dan dalam keramaian, mereka sibuk sendiri
memilah sisi-sisi
yang terbentang antara realita sosial dan ruang imaji

tentang musim, suara-suara dari keheningan
terlihat lebih baik
dan sikap diam
adalah jalan terbaik


rumahteduh, Januari 2012


Gadis Kecil Dengan Mata Sunyi

di rahim ibumu, jalan tumbuh satu-satu
dan tatapanmu luruh ditelan ketuban yang serakah
kemudian beberapa arah dari penjuru datang
menukilkan kesaksiannya sendiri
menetapkan takdirnya dengan memendam misteri

wajah berbuah masam, dan mata menyimpan kelam

tidak ada lagi pendam yang harus mati
karena setiap orang dilahirkan
dalam ritme kesempurnaan yang sama
yang masing-masingnya ditawar dan tertawar

begitu juga kau, gadis kecil
yang terkadang menjelma menjadi kesempurnaan
bahkan lebih utuh, dalam siluet kelam senandung alam
yang bersembunyi di balik tempo hujan
dan irama angin
di rerumputan tengah belukar

kau tak berani melihat, dan kerlingan di matamu
kau simpan dalam-dalam
hingga kelak
sabda-sabda alam bermain
dengan matamu yang memendam sunyi penuh diam


studiomerah, Januari 2012


Yang Hening, Yang Terasing

selangkah menjelang titik untuk menemu di akhir
kulihat kecapanmu dipenuhi guratan takdir dan tancapan keping
dari beling yang tertinggal pada sari-sari
dan ikatan antara benulang yang raib

saat itu, rahim memetikmu sedangkan kau tak ranum
tanpa garis yang muncul seperti meridian dari barat dan tumbuh
dengan keterpaksaan yang layak, lihatlah
pagi tetap saja putih sebagai rima di tengah cakrawala putih
hitam menjelma masa lalu, lalu larut di sepanjang lorong hitam
dan kau sebagai buih di antara keduanya
sesuatu yang kelabu dan yang terpaksa dipaksa menyamar abu-abu

kau yang hening yang meraba setiap hati
tanpa kata, tanpa apa-apa

dengan bingkai kayu di lidahmu, memuram
tidak lagi didengar dalam cerah dan bulir air yang seharusnya mengalir
kemudian asing di tengah waktu yang diasingkan sesuatu yang mengering
dan lambat laun, kau larut bersama keterasinganmu sendiri

sajak ini, sebuah gentel keterasingan yang bergentayangan
tentang camar yang berlabuh di pelabuhan tengah kota
tentang anak-anak malang dan duri-duri di permukaan lidahnya


rumahteduh, Januari 2012


Malaikatpun Mulai Lupa

malaikat mengemis pada rerumputan
meminta doa-doa pada irama yang tak hilang
tentang belaian dan buaian gerakannya
yang bertumpu pada akar serabut
akar yang menghubungkan antara kehidupan dan pilihan

lalu dia bertanya pada penyair-penyair
tentang rima yang tepat untuk mengantarkan
pesan kepada atasannya yang mulai enggan
menatapnya dalam-dalam

dia telah larut, dalam dinas malam
yang menghentikannya  untuk terus menyebut

dia telah kalut, karena mencoba untuk bekerja di siang hari
untuk mencari makan sebagai hidangan sarapan di keesokan pagi

malaikat lupa tugasnya
dan sekarang dia tertidur di atas sofa ruang tamu
di rumah istri mudanya di tengah kota kelabu


rumahteduh, Desember 2011


SebagaiUndangan Pernikahan

aku merapalmu secara intim
dan sejenak mengajakmu
untuk dapat ku jamu di kediamanku
diantara pematang yang pernah
kita tapaki dulu

datanglah! meski sekedar mengucapkan pesan
kepada karibku yang coba menyusulmu
yang beberapa saat lagi akan berjibaku
dengan akar rumpun yang baru

di keesokan hari ini
kau tau
bahwa aku menyapamu dengan sapaan yang sirat
setidaknya pada tingkah tak ada urung yang lenyap
meski aku membisikan ini
ketika kita tengah larut dalam lelap


rumahteduh, Desember 2011

Hadiah Ulang Tahun
YuhanaRiza

hariinitidakmestidengan kata ataupunkotaktanda-tanda
karenasesuatu yang tersirattelahmengambilperannyasendiri
danbayang-bayangtradisi, memengaruhialurceritakita
padasuatuhari yang kaumaknaisebagaijanji

dengansengajatakkuucapapa-apa
sekedarmembuatmubertanyahinggakaubertarungdenganimaji
danakumemaknainyasebagaiilusi
sehinggakaumengiratakadaapa-apa, takadaasing

ucapanhanyalahsebuahbongkahankelam air mata
sebagaiverbalitaspenggantisuarakeluh yang sayup-sayupberbisik
padahasratmu di hariselanjutnya
sedangkankitatengahbergumuldalamruang yang hampirsama
ruang yang lain antaraduniasemu
dansebuahduniadenganlaminasihaluskertasberwarna

ucapanadalahsebuahkepalsuan
danpemberiansebagaijelmaansiuk yang remuk
sedangkanakumemaknaimudenganpesan yang sirat
yangkumaksudkansebagaihadiahpenggantijamuanmu


rumahteduh, Januari 2012


Tentang Nurfirman AS.
Tentang Nurfirman AS, lahir di Padang tanggal 16 Juni 1991 dan tengah melanjutkan pendidikan di  Fakultas Hukum Unand Padang. Tulisannya pernah dimuat di beberapa koran lokal , sepertiWaspada, Padang Ekspres, Haluan dan Riau Pos. Aktif berkesenian di Teater Rumah Teduh UKS-UA, Sekolah Menulis eureka! dan Studio Merah FHUA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar