Sabtu, 26 Oktober 2013

PUISI Rio Fitra SY




Masuk Museum


Memasuki ruang remang-remang:
terang dan kelam terkurung,
tak tahu jalan keluar.

Di mana lesung nenek tak meniupkan bara di tungku,
tapi menanak udara.
Aku menyuapi
mulut penuh lumut.

Di dinding, terpajang gambar seseorang.
Matanya menangkap sesuatu yang berkelebat:
sesuatu berwarna angin.

Di sini ingatan adalah bantal di kasur
saat pagi, siang,
dan malam.

Di mana segerombolan pengantin masa lalu membeku.
Konon mereka menatap kita
tanpa membuka matanya
yang pecah.

Padang, 2010
Kamar Pengantin

Kuantar kau menyaksikan rupa
yang tak tersentuh cahaya:
kamar berkelambu udara.

Jika magrib telah habis,
surat cinta yang kita tulis raib
menjadi suara bisik-bisik.

Harusnya cermin di meja rias gemar menyalin
wajah kita hingga menjadi kembar siam.

Lampu mati. Gelap melumuri
segala mata. Dua desahan hidup seperti bidadari,
menari seperti penyihir terakhir.

Tubuh ranjang hinggap
di pohon tidur. Buahnya bersayap,
siap terbang ke langit lembab,
sebab kamar ini tak beratap.

Padang, 2011





Sajak Mencari Kerbau

Tangkai bajak memanjang sampai ke sawah. Panen meruapkan
aroma padi basah. Pedati rebah ke balik pematang sebelah.

Aku berkeliling sambil meniup suling. Arah adalah lubang nada
yang pecah berkeping-keping. Terdengar sampai ke pasar.

Dimanakah tanduk runcing dijual
setelah isyarat tawar-menawar terpaut dalam kandang?

Di luar kandang, dua dahan dari sebatang pohon saling bertukar
burung. Dan dua kicau saling bertukar kabar.

Padang, 2010





Setali

Sekali dua kali
kau akan mengulurkan tangan, berharap bergantung
di seulas benang.
Satu-persatu kau urut hingga kusut.
Satu kepal kugenggam sampai lisut.

Lihatlah, seseorang datang membawa sepangku kayu hutan
untuk pembakar tungku.
Di kayu itu simpul ikatan akan longgar
sebelum disilang di perapian.

Bisa saja berulangkali kita dipintal.
Melingkar, berpulun di tengah gagang.
Dijadikan cadangan teraju laying-layang besar.

Tapi kenapa engkau semakin memanjang?
Apa yang menyambungmu ke luar kumparan?
Menjalar seperti ular, mencari lubang panjang, jauh ke dalam dasar
Hingga tak satu pun binatang dari dalam mampu memanjat.

Sekali dua kali
aku terjerat dan kau tertambat
dalam jaring perangkap yang dulu juga.

Padang, 2011





Saputangan Cahaya

Sepasang matanya
tak mahir lagi
menangis
setelah meminta dilukai
oleh kuku
yang diajari jarimu tumbuh.
Sudut mana
yang akan kau cabik
agar dapat kau temukan kesedihan?

Cinta yang putus
tersangkut di seulas benang basah
yang menyembul
dari salah satu
saku celana.
Seulas yang lain menyelam
ke dalam
air mata,
menari-nari,
memancing ikan berbadan kaca.
Tembus: ada yang terus sambung-menyambung,
ikat-mengikat.

Pada malam yang tak menunggu lampu
ia akan menyala
bila akhirnya harus datang juga
dengan terus terang
di parasmu yang merah padam.

Padang, 2011





Lampu Lampau

Yang telah menjauh dari punggungmu
tak mampu kau ingat sebagai belakang
di jejak-jejak jalan.

Apabila kupindahkan langkah dari kaki ke kaki
mungkinkah kau angkat ayun dari tangan ke tangan?

Tapi aku telah lama menjadi lampu
menyigi tahun yang tampak kabur.
Hutan atau hantu?
Di antara gambar rupaku yang diam
dengan mata menyala
memanggang
segala yang mungkin dikenang.

Arang membikin bekas,
abu mengajak kepergian bergegas
di tali angin yang lepas,
menghela dan menyulamnya menjadi kabut.
Masihkah kau percaya
pada matamu yang ragu
menebak sesuatu
yang tak kau sebut.
Sesuatu yang takut luput
dari sebelah mataku yang dimatikan bila siang.

Padang, 2011




Kasur

Cepat atau lambat
kita akan dibangunkan
di pusat malam
dengan bayang-bayang
di selingkaran,
menjadi saat yang lama
untuk menebak
raut yang bundar.

Keras atau lunak
kita akan terbangun
di suatu pagi yang masih rabun
untuk melihat apa pun.
Sisa-sisa hantu dengkur
terasa kelat dan lekat
sehingga menghambat mimpi buruk
menemukan tenggorok igau.

Sakit atau sehat
kita mesti kembali berbaring
sampai kita diberi pantangan
karena tak kunjung
dilelapkan pejam.

Padang, 2011




Sabai Kecil

Baginya, ketika gerimis mencapai genting
berbunyi lebih sunyi dari keadaan kapan pun
Seperti jarak waktu dan jam tangan
Perihal lama dan sebentar jadi tak berarti

Ia adalah seekor pipit menunggu pagi
untuk mencari padi
Matanya membaca petani
yang dikira orang sawah menari
saat angin terlambat menyisih

Padang, 2011




Rio Fitra SY lahir di Sungailiku, Pesisir Selatan, 12 Juni 1986. Aktor di Teater Noktah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar