Minggu, 20 Oktober 2013

PUISI Yuka Fainka Putra




Kemana Kita Setelah Pulang dari Ingatan

Menyelusuri sunyi menghadirkan keintiman laknat pada tubuh, berguncang dan berkehendak di tepian. Meneguk masa lalu, berhadap-hadapan dengan kenyatan. Sejarah diri adalah ruang untuk tubuh berkelekar, menjadi panggung pertunjukan yang gelap. Tak bisa melawan, karena berjalan maju adalah mingikuti arus, berjalan mundur menguap, namun tak pernah lenyap. lalu kemana kita setelah pulang dari ingatan.

Hanya berdiri diam di tempat.

Terlahir menjadi ada, lalu tak melakukan apa-apa sungguh telah mendustai tubuh, bukankah kita juga pernah di pucuk imaji, riuh gempita dan meneguk madu asmara. Mengapa jua bicara gelap dan terang, jika semisal menyelusuri kelok-kelok itu bisa membuat kita bertahan. Menziarahi penyesalan tentu tak akan merubah apa-apa, situs-situs pertemuan telah mejadi tugu berlambang: kenangan, lalu kemana kita setelah pulang dari ingatan.

Tidak membalik halaman berikutnya.

Terjadi jeda yang berkepanjangan, tubuh hanya diam walau keinginan serupa kecemasan, ingatan memaksa pulang, tak tertahan. Sangsai benar jika memaksa mengunjingi sunyi, setiap ditepis ia malah menari.

Painan, Oktober 2010

Aku Memperingati Kebablasan dalam Kamar Sendirian

Aku memperingati kebablasan dalam kamar sendirian, sembari melafalkan ayat-ayat perang, oh pahit bukan kepalang, menelusuri seluruh riuh rendah kepalsuan. Lihatlah kawan, konspirasi mengelitik di sana-sini, setiap kemungkinan selalu berujung persimpangan, dan peta terbentang di liang, rahim segala kesengsaran. oh, tuan weber sangkar birokrasi bagai prajurit kompeni yang meniduri bingkai-bingkai sejarah. ah, bukankah kita sangat terbisa menjarah, memainkan lidah ditepian situs-situs jejaring sosial, lantas sekarang kau yang bertanya, aku hendak kemana?

menulis saja kadang membuat aku lelah, seperti menjadi tertuduh yang dipaksa merekam detak, tanggal-tanggal berkarat, berguguran ke kenangan. lembar-lembar diintimidasi, diputarbalikkan sesuka hati, kompas arah-mengarah, utara petunjuk segala sengsara. kecintaan marx pun pada tubuhnya telah meluruhkan dendam yang panjang,  tak terobat oleh oportunisnya zaman. simbol-simbol mangantarkan relativisme agung, salju turun perlahan, mendekamkan diri pada perpustakan, menyelinap dibuku, baku: luruh dan dunia menjadi ambigu.
                     
aku masih di tropis, tak lagi tentu menabak musim, perang batin saling berkejaran, hanya yang setia yang bertahan, pada pilihan kita merawat dendam, semisal tak terbalaskan; aku telah mencoba berada di garis depan, mempertanyakan nihilisme. nol adalah ke(aku)an, memulai diperjalankan, jika diantar sejauh ini tentu Ia tak akan meninggalkan aku dengan sia-sia.

Painan, Oktober 2010




Pucuk-Pucuk Embun

Sebelum terik bergegas menggugurkanmu
aku ingin menikmati detik-detik pucuk yang merayu
bercermin dikerelaan pagi, sebab waktu akan melumat
memangsa siapa yang tergesa, menelan siapa yang lambat.

Mungkin memang pertemuan denganmu terlalu khusuk,
atau aku saja bermimpi setiap pagi bisa mangukir nama di biasmu

Rasa gamang luruh dan jatuh bersama tetesmu ke tanah
berpindah ke pucuk lain, bercermin tentang langkah yang diam
tak ingin mengenang apa-apa yang telah berguguran
namun setiap puncak yang aku kunjungi, terawat kenangan dengan rapi

Mungkin pertemuan ini selalu terasa amat agung,
atau aku saja berharap, tanah yang tertetesi memunculkan nama

Painan, Oktober 2010



Tentang Yuka Fainka Putra
Bekerja di Komunitas Halaman Pantai-Painan. Tahun 2009, menulis buku antologi puisi indie, Malam-Malam di Halaman Pantai. Selain itu puisinya juga tergabung pada Antologi Puisi Festival Bulan Purnama (2010). Dua Episode Pacar Merah (DKSB-2004). Kini menetap di Kota Painan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar