Selasa, 29 Oktober 2013

Semenda

CERPEN Joni Syahputra

Sumber: tegarseptyan.wordpress.com
Tamu agung itu sepertinya tersinggung. Baranjak secara tiba-tiba dari tempat duduknya. Berdiri. Tanpa mengatakan sepatah katapun, langsung pergi, tanpa pamit kepada tuan rumah.
Perempuan paruh baya, si tuan rumah, jadi salah tingkah. Belum meyadari apa yang membuat si tamu tersinggung, beranjak menuju pintu. Tetapi sang tamu agung sudah menghilang.
Gelisah, mondar mandir ke sana kemari. Sama sekali dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Bingung. Ingin segera menyusul keluar, tetapi, Johan, si tamu agung itu, sudah menghilang di balik tikungan. Ia pergi bergegas. Beruntung sebuah bus lewat. Tangannya menggigil. Teriakan kondektur bus memanggil penumpang tidak dihiraukannya lagi. Ia mencoba memicingkan mata beberapa saat. Ingin menghilangkan kegundahan di hatinya.

Sepiring telur dadar  di meja makan membuat semua barantakan. Acara yang sudah disusun bubar sebelum waktunya. Sama sekali ia tidak menduga kalau telur itu akan ditemukannya lagi di meja makan rumah, calon mertuanya itu. Seonggok telur dan sebungkah kenangan masa silam yang tak akan pernah dilupakannya. Sayangnya, kenangan itu bangkit lagi.
Wajah seorang perempuan, muncul seketika di atas piring telur dadar itu. Memandang dengan penuh amarah ke arahnya. Ingin mencekik. Dan ia sangat ketakutan saat itu. Itulah yang menyebabkan sehingga ia sangat ketakutan.
Perempuan itu, uni kandungnya. Dia sangat pandai memasak telur dadar. Satu butir telur, didadar dan dipipih sehingga melebar. Semakin lebar, semakin bagus, semakin gurih dan enak. Tetapi, tentu saja tujuan uninya bukan untuk membuat segurih mungkin, melainkan agar telurnya kian lebar sehingga keempat anaknya yang masih kecil-kecil bisa mendapat bagian semuanya.
Itulah telur dadar yang paling enak menurutnya. Ia ingin segera sampai di kampung untuk sekadar merasakan telur buatan uninya itu. Pernah juga dicobanya memasak telur seperti itu, tetapi rasanya tak pernah seperti yang dibuat uninya.
Tetapi sayang, sudah lama lidahnya tidak pernah merasakan nikmatnya telur itu lagi. Ironisnya, kini ia jadi benci dengan telur dadar itu.
Semua itu berawal ketika uninya, si pembuat telur dadar ulung itu menjual dua petak sawah warisan tanpa membawasertanya bermusyawarah. Konon, menurut kabar yang didengarnya, hasil penjualan sawah itu juga digunakan untuk membeli motor baru, untuk iparnya.
Johan marah besar mendengar kabar itu. Beberapa kali dicobanya menghubungi uninya dengan handphone, tetapi tidak pernah tersambung. Karena saking marahnya, ia sengaja pulang ke kampung untuk menyelesaikan masalah itu.
“Mengapa saya tidak diberi tahu?” katanya penuh amarah.
Uninya diam tanpa menjawab. Air matanya keluar. Johan tidak berubah jadi iba.
“Mengapa uni begitu bodoh sekarang. Kalau begini terus, semua harta peninggalan ayah dan ibu akan habis semuanya.”
“Dengarkan dulu Han.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Hatinya bertambah marah, apalagi ia juga melihat sebuah motor baru parker di dalam rumah.
Ia melangkang pergi tanpa menginjakkan kakinya di dalam rumah. Sebelum kembali ke kota, ia singgah di rumah Datuk Birahin, ketua sukunya. Ia ingin memperjelas secara adat tentang persoalan itu.
 “Jelas itu sangat bertentangan dengan adat kita. Kamu sebagai satu-satunya anak lelaki seharusnya diberi tahu. Memang menurut adat Minang sawah serta harta pusaka lainnya jatuh ke tangan perempuan, tetapi sebagai ’mamak’ di dalam keluarga, kamu wajib dibawa bermusyawarah. Kalau saya lihat, sekarang semendamu itu sudah ingin menguasai semua harta pusakamu. Ini tidak bias dibiarkan terus. Sebagai orang yang datang ke rumpun keluarga kita, ia sama sekali tidak berhak. Semenda itu ibarat abu di atas tunggul. Ia bisa terbang kapan saja kalau ditiup angin.”
Johan terduduk. Diam. Mukanya memerah. Apa yang dikatakan Datuk Sabirin itu benar adanya. Di dalam adat Minang, semenda memang tidak punya hak sama sekali terhadap harta peninggalan orang tua istrinya. Mengapa pula, Mardan, suami kakaknya itu yang menjual dua petak sawah untuk dibelikan motor baru. Untuk berfoya-foya. Gila itu.
“Sudah tidak benar itu. Di dalam adat Minangkabau ada empat macam jenis urang sumando. Pertama urang sumando kacang miang, yaitu semenda tukang hasut, kedua urang sumando langau hijau, yaitu laki-laki yang suka memperbanyak istri tanpa bertanggung jawab, ketiga urang sumando lapik buruk, yaitu semenda yang tidak mempunyai harga diri, keempat urang sumando ninik mamak, semenda yang suka bekerja keras. Mardan itu aku kategorikan semenda lapik buruk, tidak punya harga diri,” suaranya menggelegar.
Amarah Johan kian memuncak mendengar penjelasan adat itu. Ia ingin mencari kakak iparnya itu untuk membuat perhitungan. Tetapi Datuk Birahin melarang. “Tolong jangan sekarang. Saya tahu kamu sedang marah. Tetapi, kita bisa mendapat malu kalau menyelesaikan persoalan ini dengan kepala panas.”
Johan mengurungkan niatnya. Pejelasan Datuk Birahin, kepala sukunya itu ada benarnya juga. Tindakannya itu jelas akan menimbulkan aib bagi keluarga besarnya.
“Semenjak orang tuamu meninggal, kini semua harta sudah dikelola Mardan. Kakakmu itu bodoh. Saya dengar-dengar, Mardan malah mau kawin lagi. Bisa jadi nanti harta itu akan diberikan kepada istri mudanya yang lebih cantik.”
Johan kembali ke kota malam itu juga. Dengan sakit hati dan benci, tentunya.
Itulah awal keretakan keluarga itu. Semenjak itu, Johan tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di kampung. Baginya, semua persoalan selesai. Hubungan keluarga putus. Ia sangat malu. Kepalanya dilangkahi. “Lebih baik kita menjalani hidup sendiri-sendiri,” katanya.
Setelah tamat kuliah dan menjadi seorang dokter, ia bertugas di kota lain. Bahkan ketika mendengar kakaknya itu, ia tidak mau pulang. Hatinya masih terlalu sakit. Kalau saja tidak ada suatu keperluan untuk tugas kantor di kampungnya, tentu semua kebenaran itu tidak akan terungkap.
Tanpa sengaja, menjelang kantor Wali Nagari, ia melihat mamaknya, Datuk Birahin menanam jagung di sawah.
“Wah, jagungnya besar-besar. Sudah mau panen ini mamak,” katanya.
Setelah lama berbincang, ia baru menyadari kalau ternyata sawah yang ditanami mamaknya itu adalah sawah orang tuanya dulu. Ia pun bertanya. Mamaknya tidak bisa menjawab dengan jelas. Karena tidak puas dengan jawaban itu, akhirnya ia berniat mencari mantan kakak iparnya, Mardan. Sayangnya rumah peninggalan orang tuanya sudah tidak ada lagi. Di bekas bangunan itu sudah dibangun beberapa deret toko.
Dari beberapa penduduk, ia mengetahui kalau Mardan tinggal di ujung kampung. Johan marah. Ia langsung menuju ke rumah itu. Pasti di sana Mardan sedang bersama istri barunya itu.
Dua orang anak kecil yang membukakan pintu tidak menjawab ketika Johan menanyakan dimana ayah mereka. Dua orang lagi masih menangis. Kurus-kurus. Terlihat mereka seperti kurang gizi. Tidak lama Mardan muncul. Muka Johan masih memerah. Ia sangat marah. Mardan tertunduk. Ia menyalami Johan. Johan masih belum mau menjawab uluran tangannya. Matanya masih melihat sekeliling, mungkin ingin mencari dimana istri baru Mardan itu. Akan tetapi yang dicari tidak ditemukannya. Lantas, ia mengalihkan pandangan ke dalam rumah. Tidak juga ditemukan motor yang dulu itu.
“Masuklah Han, di luar dingin,” ajak Mardan.
Johan pun masuk. Ketiga anak kecil itu, yang besar ternyata sudah kelas 3 SD menyalaminya.”
Sementara anak yang lain, masih saja menangis. Si Upik, yang sudah SD itu bergegas membuatkan segelas teh hangat. Tangan kecil yang kurus itu menggigil ketika membawakan gelas itu kepadanya, Mungkin saja ia masih grogi melihat orang yang baru atau malah menggigil karena belum makan.
Matanya melongok ke dapur, tidak ada bekas unggun api. “Apakah mereka tidak memasak nasi? Apakah anak-anak kecil itu belum makan? Padahal sudah siang.” Pikirnya.
 Lama ditunggu, yang diharapkan Johan belum datang. Lantas ia memberanikan diri bertanya. “Istri barunya Uda mana?”
Mardan terkejut. Mukanya terlihat menghitam. Keempat anak kecil itu meraung. Belum lagi sempat menjawab, Johan sudah mencocor dengan pertanyaan lain. Berapa harga sawah yang dijual. Kemana uangnya, dimana motor baru itu, kenapa sawah itu sekarang malah digarap Datuk Birahin. Mengapa ia tidak diajak bermusyawarah ketika sawah itu dijual.
Johan duduk terhenyak. Sebentar, ia menarik nafas. Mukanya masih sepadam api.
Mardan terkejut. Jadi inilah alasannya atas perubahan sikap Johan selama bertahun-tahun ini. Itulah penyebabnya.
“Fitnah. Kamu sudah termakan fitnah. Keluarga kita hancur karena fitnah,” katanya pelan sambil mengge;leng-gelengkan kepala.
Setelah suasana mulai tenang, Mardan mulai menjelaskan duduk persoalannya. Ia bahkan menjelaskan sedetik-detilnya. Penjelasan yang membuat bulu kuduk Johan merinding. Sebulan setelah ayahnya meninggal. Mereka terpaksa menggadai sawah itu untuk membayar hutang biaya berobat ayahnya. Ayahnya ternyata sudah bangkrup. Sebuah toko di pasar kecamatan juga sudah terjual. Johan memang tidak pernah diberi tahu, agar  pikirannya tidak terganggu. Ia harus menamatkan kuliahnya dan menjadi dokter.
“Sisa hutang untuk biaya berobat ayah, itu memang saya belikan motor. Motor itu digunakan untuk mengojek. Saya tidak punya pekerjaan lagi,” katanya.
Johan terdiam. Ia ingin bertanya, kalau kenyataannya seperti itu, jadi uang yang diterimanya dari kampung adalah dari kakak iparnya yang hanya seorang tukang ojek dan uninya yang berjualan lontong. Walau ia tidak pernah pulang, ia memang masih selalu menerima kiriman itu. Tetapi tidak pernah dipakainya. Untuk biaya kuliah, ia mendapat beasiswa.
Pembicaraan mereka terhenti. Seorang tamu datang mengantarkan baju kotornya.
“Ayo segera dicuci,” kata Mardan kepada si Upik. Si Upik segera menuju sungai.
Johan menduga, keponakannya itu mencucikan baju orang. Ternyata benar. Sepulang sekolah dia membantu tetangga mencuci baju. “Lumayan untuk tambahan belanja,” katanya.
“Sawah itu tidak pernah dijual. Hanya digadai. Sebulan sebelum kakakmu meninggal sudah ditebus lagi. Sekarang semenjak unimu meninggal. Sawah itu, termasuk rumah diambil alih Datuk. Katanya saya hanya urang sumando tidak berhak atas harta istri. Saya katakan, saya hanya ingin mencarikan nafkah untuk anak-anak saya. Datuk bersikeras dan mengambilnya. Kami diusir Han. Begitulah ceritanya sehingga kami sampai menumpang di rumah ini.”
Johan tersentak kaget. Diam. “Jadi ini bukan ruah istri uda yang baru?” katanya.
“Siapa bilang Han. Anak saya empat, siapa yang mau. Pekerjaan juga tidak jelas. Siapa yang mengatakan itu kepadamu?”
Johan tertunduk. Malu. Salah. Selama ini ia sangat bersalah. Ia ingin mencari Datuk Birahin. Ia ingin menyelesaikan semua urusan secara laki-laki tukang fitnah itu. “Ia yang seharusnya pantas aku sebut Datuk Kacang Miang,” katanya.  
Sebuah golok yang tergeletak di dapur diambilnya. Ia sudah melangkah keluar. Dari dalam rumah Mardan memanggil dan mengejarnya keluar. Ketiga anaknya meraung.
Si Upik yang melihat ikut serta mengejarnya, memegang tangannya.
“Om dokter, jangan…”
Tetapi Johan sudah terlanjur.

Padang, akhir Oktober 2011

Catatan: Uni : panggilan untuk kakak perempuan; Urang sumando : semenda; Mamak: paman; Uda: panggilan untuk kakak laki-laki

Tentang penulis
Joni Syahputra lahir di Solok, Sumatra Barat 31 Desember 1979. Sewaktu kuliah aktif di Surat Kabar Kampus Universitas Negeri Padang Ganto. Setelah tamat tahun 2004 bekerja sebagai wartawan di Harian Padang Ekspres. Setahun kemudian begabung dengan Harian Media Indonesia Biro Sumatra Barat.Sejak tahun 2006 tercatat sebagai staf Balai Bahasa Padang.
Sampai sekarang sudah menulis hampir seratus cerpen yang dimuat berbagai media, seperti Harian Kompas, Harian Lampung Post, Singgalang, Harian Haluan, Harian Padang Ekspres, Harian Mimbar Minang, Mingguan Target, Mingguan Merapi, Mingguan Sumbar Ekspres, Lampung Post, Bukittinggi Post, Surat Kabar Kampus Ganto, serta berbagai media lainnya.
Cerpennya berjudul Ayat Keempat masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas Tahun 2009.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar