Rabu, 16 Oktober 2013

Sesan yang Suka Air


CERPEN Yetti A KA
Sumber Ilustrasi http://jendelagertak.blogspot.com
Sesan suka air. Segala jenis air. Waktu papa dan mamanya belum bercerai, mereka sering berenang di laut, tepatnya di Samudera Ujung. Mereka juga mancing ikan. Mengejar anak kepiting yang merayap lincah di pasir. Atau mencari bangkai bintang laut.
Sampai Sesan berusia dua belas tahun ia masih sangat suka air.
Kemudian papa dan mamanya bercerai.  Sesan tinggal dengan papanya. Dan mereka tidak pernah lagi main air bersama di sungai, danau, air terjun atau sekadar duduk-duduk di pantai. Papanya tidak tahan berada di sebuah tempat di mana mereka pernah hidup bahagia. Mamanya memang tetap gemar berenang atau memancing—barangkali sampai akhir hidupnya—tapi ia segera menikah lagi, dan mereka punya acara liburan sendiri dalam keluarga baru itu. Papanya meminta Sesan untuk memahami bahwa mamanya sudah terbagi. Dan mereka tidak boleh berharap banyak pada sesuatu yang sudah terbagi itu. Sesan merasa lebih daripada itu sesungguhnya papanya sedang berusaha membenci mama.   

Sesan hanya bisa main air sendirian, berenang-renang di bak mandi—memang kurang menantang dibanding mandi di sungai yang berarus deras—sore hari sebelum papanya pulang kerja. Ketika papanya pulang, Sesan sudah mengganti air dalam bak, berpakaian rapi dan mulai mengerjakan tugas sekolah tanpa harus berdekat-dekatan dengan papanya dalam waktu lebih lama yang akhir-akhir ini sering mengeluh sakit punggung atau pilek yang terlampau sering kambuh hingga Sesan berpikir kalau papanya mengada-ada. Sesan merasa kasihan pada papanya. lebih-lebih karena selama ini papa terlalu bergantung pada mamanya. 
Dari kamar Sesan mendengar langkah papa masuk kamar mandi dan terdengar suara air dari kran, padahal bak sudah penuh. Papanya memang senang mendengar suara air. Itu musik sesungguhnya, Sesan, kata papa suatu kali.
Sesan menutup buku-bukunya. Ada satu nomor bilangan berpangkat yang belum ia selesaikan. Sebenarnya ia butuh bantuan papa untuk urusan matematika. Belakangan hal itu tak mungkin ia dapatkan lagi. Sesan menguap. Masih pukul tujuh malam, ia sudah mengantuk. Tadi ia kelamaan main air. Beginilah jadinya. Ia tidur lebih cepat dari biasa.
***
Pagi itu Sesan berangkat ke sekolah. Papa tidak masuk kantor, ia sedang tidak enak badan, pilek. Sebenarnya Sesan lebih senang pergi ke sekolah sendirian, tanpa menumpang mobil papa. Apalagi umurnya tiga hari lagi genap tiga belas tahun. Beberapa temannya bahkan sudah berani pacaran pada usia itu. Sudah saatnya bagi Sesan untuk belajar mengurus diri sendiri. Papanya bilang: semua anak perempuan juga begitu ketika seusiamu. Tidak sabar ingin menjadi dewasa. Saat dewasa mereka malah membayangkan betapa senangnya bila kembali menjadi seorang gadis kecil dengan rambut yang masih dikuncir.
Sesan bertanya: bagaimana papa tahu?
Papa Sesan tergeragap.
Bilang saja papa tahu dari mama. Apa salahnya sih.
Benar. Mamamu yang bilang. Ia senang membicarakan masa lalunya...
Sesan memotong, menurut papa, mama kangen tidak main air bersama kita. Mama ingat tidak ya bahwa kita pernah terlalu banyak tawa sampai-sampai tidak berpikir kesedihan macam ini akan terjadi.
Nanti terlambat, papa mengalihkan pembicaraan.
Sesan menaikkan tas ke punggungnya. Ia tahu setelah ia berangkat sekolah, papanya menangis di kamar. Lain kali ia tak mau membicarakan mamanya lagi.
Hati-hati, kata papanya mengantar Sesan sampai pintu.
Papa yakin tidak perlu ke dokter, tanya Sesan.
Papa menggeleng.
Apa aku sebaiknya memberitahu mama?
Papanya memaksakan diri tertawa. Mengedipkan mata, seakan-akan mau bilang: kamu nakal ya.
Sesan melambaikan tangan. Hanya itu saja. Bahkan ia malas sekali tersenyum.
***
Sesan berdiri di pinggir jalan yang masih lengang, menunggu angkutan umum. Karena terlalu pagi, belum banyak kendaraan yang lewat. Ia menendang-nendang kerikil dengan ujung sepatunya untuk mengusir rasa bosan.
Sesan berharap ada seseorang, barangkali teman satu sekolah, bergabung dengannya. Ia ingat, ada beberapa teman sekolah yang tinggal di sekitar rumahnya. Selama ini mereka kurang akrab. Selain beda kelas, Sesan jarang naik angkutan umum, kecuali kalau papanya tidak masuk kantor, dan itu cuma sekali-sekali. Apa salahnya memulai pertemanan baru, pikir Sesan. Itu jelas menyenangkan. Untuk selanjutnya mereka bisa membuat janji jam berapa berangkat sekolah keesokannya andai ia dibiarkan belajar dewasa lebih cepat dari yang papanya rencanakan.
Kendaraan perlahan ramai. Sesan melambaikan tangan pada angkutan kota warna kuning, jurusan yang melewati sekolahnya. Ternyata penuh. Sesan mulai tidak sabar. Ia menurunkan tas punggung yang tersandang di bahu yang dijubeli buku-buku.
 Lalu kijang hitam berhenti di depan Sesan. Ia belum sempat memikirkan apapun saat dua laki-laki turun dan mendadak membekap mulutnya dengan sapu tangan. Tidak ada orang di sekitar sana. Semua terjadi begitu cepat dan ia tidak tahu apa-apa lagi. Hanya pikiran yang seolah berputar, makin pelan.
***
Arus. Sesan merasa berada di tengahnya. Terjebak dalam riam sungai yang ganas. Deras. Sesan menggigil ketakutan. Terhempas. Terseret. Mulutnya penuh air. Tidak bisa bernapas. Dada Sesan sesak. Tidak bisa menjerit padahal ia butuh menjerit. Batu besar seakan menghimpit tubuh Sesan. Ia berhenti melawan. Lemas. Dadanya perlahan longgar. Ia kembali bisa bernapas.
Sesan mendengar suara papa dan mamanya berbisik: kau harus bertahan. Kami sayang kamu.
***
Lelaki gemuk itu, orang pertama yang Sesan lihat saat ia membuka mata. Ia menyeringai. Matanya tampak jahat dan berada kira-kira tiga puluh senti di atas wajah Sesan. Sesan berusaha duduk untuk memperkuat keyakinan kalau ia masih hidup. Lelaki itu menegakkan punggungnya, membuat Sesan sedikit bebas.
Sesan baru mengerti kalau ia berada dalam kijang hitam yang berhenti di depannya saat ia mau berangkat ke sekolah. Kaca-kacanya tertutup rapat dan berwarna gelap. Ada anak perempuan lain di sampingnya. Ia tertidur. Baju yang ia kenakan seragam putih biru, sama dengan Sesan. Usianya bisa jadi tiga belas tahun atau setahun di bawah itu. Ia berkulit putih bersih. Pipinya bulat dan agak pucat. Kalau sedang tidak tidur mungkin ia akan kelihatan lebih cantik. Di kursi bagian tengah, duduk seorang laki-laki berkepala botak. Sesan tidak bisa melihat wajahnya, sebab lelaki itu menghadap ke depan, tepat di belakang sopir. Di samping sopir, ada seorang lelaki lagi. Paling kecil di antara yang lain, tapi sepertinya dia seorang bos.
Lelaki di samping Sesan memberi sebotol kecil air mineral. Sesan langsung mereguknya hingga habis. Sesan tidak tahu berapa lama ia tidur. Ia merasa haus sekali. Juga lapar. Dan saat itulah Sesan ingat papanya yang sedang pilek di rumah. Atau mamanya yang akhir-akhir ini jarang menelepon, apalagi mengunjunginya dan menanyakan perkembangan sekolahnya. Papanya pasti cemas. Mamanya mungkin sedang lupa pada dirinya. Tapi beberapa jam lagi bisa jadi mamanya juga cemas, ketika papanya memberitahukan ia belum pulang lebih dari belasan jam, papanya sudah mencari tahu ke mana-mana, termasuk ke sekolah dan ke rumah teman-temannya oleh karena itu mereka perlu melapor polisi.
Sesan sering nonton berita bersama mama—ini tentunya sebelum mamanya memilih meninggalkan rumah dengan alasan tidak sanggup lagi mempertahankan pernikahan—di sore hari dan mamanya berkomentar bahwa jalanan, di kota kecil sekalipun, mulai tidak aman untuk kaum perempuan, terlebih para gadis yang masih perawan.
Kepala Sesan serasa dihantam, dan ia sadar bahwa ia harus berteriak sekeras-kerasnya. Lelaki itu buru-buru menutup mulut Sesan. Kuperingatkan jangan bertingkah macam-macam! bentaknya geram. Untuk pertama kali Sesan benci kenapa ia perawan dan membayangkan alangkah beruntungnya jika ia seorang nenek tua berkulit keriput, meski belakangan ia lihat di TV ada juga nenek-nenek diperkosa, baik dalam keadaan hidup atau mati sekalipun.
Sesan sedih membayangkan papanya menelan berbutir-butir pil penenang—kebiasaan papa bila sedang kacau—sambil terus menyimak berita di TV berharap kalau ada petunjuk tentang dirinya.  Sementara Sesan tahu bahwa ia sulit untuk benar-benar kembali pada papanya. Ini mengerikan. Atau entah, Sesan kelewat gemetar untuk mengungkapkan perasaannya mengingat ia anak perempuan yang biasa diantar-jemput ke sekolah, dan tidak terlalu percaya kalau orang jahat dapat mendekatinya sebab ia yakin gadis yang belum mendapat mens tidak punya beban dosa dan Tuhan akan menjaganya.
***
Seorang lelaki, entah siapa namanya, bertanya pada Sesan: kenapa kau mau menjadi pelacur.
Kau pikir aku mau menjadi pelacur? Sorot mata Sesan memancar tajam seraya melontarkan pertanyaan yang selalu ia ulang, walau itu dalam hatinya saja.
Ia ingat kembali mengenai perjalanannya hingga berada di kota pelabuhan ini. Bukankah sepanjang perjalanan ia hanya menangis saja, kecuali dalam kapal laut, ia dipaksa diam untuk menghindari kecurigaan orang. Turun dari kapal ia dijual pada seorang perempuan lima puluh tahunan. Lalu oleh perempuan itu ia diserahkan pada seorang lelaki yang menyekapnya di sebuah hotel. Seterusnya ia dipaksa melayani sejumlah laki-laki  dan berusaha tidak mengingat wajah-wajah itu.
“Berapa umurmu?” tanya lelaki itu.
“Tiga belas tahun.”
Lelaki itu menatap mata Sesan, “Siapa namamu?”
“Sesan. Tapi itu dulu. Sekarang aku tidak peduli siapa namaku.”
Lelaki itu mempermainkan jari-jari Sesan.
“Apa kau suka air,” tanya Sesan tiba-tiba.
“Tidak terlalu suka.” Lelaki itu mematikan api rokok.
“Kami sekeluarga suka air.”
“Manis sekali.”
“Papa dan mamaku bercerai setahun lalu.”
Lelaki itu memeluk Sesan.
“Setelah itu papaku mudah diserang pilek. Aku tidak tahu apa hubungan perceraian dengan penyakit itu.”
“Aku juga tidak tahu,” bisik lelaki itu mulai tidak sabar.
Sesan terus bercerita, “Pada hari libur kami berenang di laut. Aku paling suka mengejutkan anak kepiting yang jumlahnya banyak sekali, dan mereka akan terbirit-birit menuju ke tengah...”
Lampu kamar itu berganti remang.
“Kami juga senang kejar-kejaran di atas pasir tanpa alas kaki. Atau kami menunggu ombak sambil berteriak-teriak.” Pipi Sesan mulai basah, dadanya bergetar kuat. Lalu napas yang memburu. Bergemuruh. Seperti ombak. Ombak. Sesan hanya membayangkan ombak saat lelaki itu mendekap tubuhnya erat. “Ombak. Pantai. Air laut. Aku sungguh-sungguh suka air…”  
Sesan akan terus berkisah pada setiap lelaki yang menulis catatan di tubuhnya. Ia ingin suatu hari nanti para lelaki itu bercerita pula pada istri atau pacar mereka tentang seorang gadis yang tergila-gila pada air seolah itu sebuah dongeng pengantar tidur. Mungkin saja istri atau pacar para lelaki itu kenalan papa atau mamanya dalam suatu seminar. Kemudian papa atau mamanya merasa menemukan Sesan dalam dongeng itu. Setidaknya Sesan ingin mengabarkan kalau ia tetap saja menyukai air meski ia bukan gadis kecil dengan rambut yang dikuncir lagi yang karena itu juga ia tidak bisa kembali.
Kini Sesan telah begitu basah.
***
Di tempat jauh itu, Sesan tetap suka air, terutama air yang memiliki arus deras, walau dengan perasaan yang berbeda. Pandangan yang berbeda. Semacam rasa suka yang sedikit sumbing. 
Sesan tidak sedang marah. Apapun yang terjadi pada kehidupannya, ia tidak ingin menunjukkan reaksi marah. Kalau menangis, bolehlah. Selebihnya Sesan bersikap biasa saja. Tidak peduli kepedihan itu menggigitnya bagai diserang udara yang kelewat dingin. Sesan tidak mau orang-orang menatap sedih ke arahnya dan memberi kata-kata pengharapan seolah ia tidak mampu berdiri normal. Namun begitu, satu yang sangat Sesan tahu,  ia memang tidak akan pernah sama lagi dengan dirinya yang dulu, ketika ia masih berusia dua belas tahun, punya senyum semanis bunga dan mata yang ditumbuhi pepohonan.
Malam-malam Sesan juga sudah berbeda. Ia tidak lagi mengerjakan bertumpuk tugas sekolah. Menyiapkan presentasi sederhana untuk mata pelajaran Biologi yang paling ia senangi. Atau menulis puisi untuk mading sekolah.
Sesan seorang pelacur di usia tiga belas tahun. Selamanya akan begitu.
Ah, papa, apakah pilekmu sudah sembuh dan kau kembali berlama-lama mendengarkan nyanyian air di kamar mandi? Bisik Sesan sembari memejamkan mata.*

Jogjakarta, November 2009

Tentang Yetti A KA
Bergiat di Komunitas Daun, Padang. Buku kumpulan cerpen tunggalnya, NUMI (Logung Pustaka, Jogjakarta,  2004) dan Musim yang Menggugurkan Daun (Penerbit Andi, Jogjakarta, 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar