Rabu, 23 Oktober 2013

Tupai

CERPEN  Zelfeni Wimra

Buya Irsyad belum juga tahu, perihal apa yang membuat nyaris semua orang yang hadir tertawa saat ia baru saja bercerita soal tupai. Ia tidak ada bermaksud melucu. Ia menggunakan perumpamaan tupai ditujukan untuk memberi perncerahan kepada para pejabat yang sedang kena sanksi administrasi lantaran tidak loyal kepada lembaga dan diduga tersandung tindak penyalahgunaan wewenang. Ajudan gubernur membisikkan cerita tersebut menjelang Buya tampil dan memintanya menjadikan tema ceramah.

Kata ajudan dengan wajah prihatin, di lembaga milik negara tempat ia sekarang bekerja akhir-akhir ini sangat sering dijumpai kejadian serupa. Ada pegawai yang baik sekali lakunya, alim rupanya, dan rajin bekerja, tetapi tiba-tiba saja turun pangkat, sebab terlibat kasus korupsi. Negara ada-ada saja, kadang-kadang hanya kesalahan mengetik nominal uang di kuitansi, sudah dinilai sebagai tindak pidana korupsi. Sekarang gampang sekali menangkap orang maling. Ajudan kasihan dengan pegawai-pegawai itu. Syukur-syukur mereka hanya kena sanksi administrasi. Malah ada yang masuk terali besi.
Buya Irsyad mengangguk-angguk. Ia terinspirasi dan ingin mencurahkan pengajiannya menyangkut hal demikian dengan pengandaian tupai. Tidak ada maksud membuat humor. Tapi, kenapa ruangan riuh karena tawa yang disertai bisik-bisik dan celetuk-celetuk? Selintas Buya memikirkannya, tetapi tidak lama. Ia kembali berkonsentrasi pada kerangka ceramahnya. Ini ceramah pertama Buya di hadapan gubernur baru yang langsung membuat gebrakan: memberi sanksi administrasi kepada sejumlah pejabat di lingkunngan kerjanya yang diduga terlibat tindak pidana korupsi atau penyalahgunaan wewenang.
Pikir Buya, ceramah pertama tentu harus menarik. Bukan hanya karena supaya dirinya tetap tampil di antara para pejabat itu pada ceramah kedua, ketiga , dan seterusnya. Lebih dari itu, karena gubernur yang baru terpilih itu juga seorang Buya. Ilmu agamanya banyak. Penampilannya juga menampakkan kalau ia seorang yang alim. Mukanya yang putih bersih ditopang jenggot yang lebat. Luar biasa. Menenteramkan sekali wibawa yang terpancar di wajah gubernur itu.
Buya Irsyad  sangat mengaguminya dibanding gubernur-gubernur sebelumnya yang lebih suka menghadiri acara-acara yang ada pertunjukan musik dan tari-tariannya daripada hadir di majelis agama. Jangankan memelihara jenggot, menghentikan kebiasaan merokok saja mereka tidak bisa.
Setelah dibisiki, itulah yang sempat dipikirkan Buya Irsyad sebelum naik ke podium. Ceramahnya harus menarik dan pesannya sampai ke sanubari. Harus menggugah jiwa orang-orang  bersalah dan menaikkan semangat orang-orang berbuat baik.  
"Sepandai-pandai tupai melompat, pada waktunya jatuh juga. Ini pepatah, terdengar biasa. Tetapi, kalau ditanyakan, kapan waktunya seekor tupai jatuh? Pepatah ini jadi luar biasa..." demikian Irsyad memulai pengandaiannya. Langsung  saja, ruangan gedung pertemuan di kediaman gubernur itu riuh oleh tawa.
Buya Irsyad mengacuhkan tawa itu. Ia melanjutkan.
"Mau tahu, kapan seekor tupai jatuh?" ia tatap mata segenap orang yang hadir. Tawa terhenti. Ruangan hening. 
"Sebaiknya kita kembali berguru pada alam," sambung Buya. "Seekor tupai jatuh seringkali ketika musim kawin. Keasyikan bergelut dengan pasangan selama proses kawin, membuat tupai lengah sehingga kemampuan meloncat dan mengukuhkan jari-jarinya di batang dan cabang kayu jadi berkurang. Keasyikan yang melenakan inilah penyebab seekor tupai jatuh...."
Kembali terdengar tawa. Kali ini lebih keras, terutama saat Buya menyebut kata "kawin".
Konsentrasi Buya jadi bercabang, antara memikirkan kelanjutan ceramah dan upaya mencerna apa yang menjadikan jamaahnya tertawa.
"Jamaah yang aneh," pikir Buya. Sebab, setelah tawa mereda, di beberapa tempat terdengar desis bisik dan celetukan.
"Adakah yang salah dari cara saya mengemukakan pengandaian; ataukah ada pejabat yang tersindir?" Buya tiada henti bertanya dalam hati, sampai ia menyelesaikan ceramah dengan berpatah-patah doa.
Ketika turun dari podium, gubernur dan seluruh pejabat yang duduk di kursi barisan depan berdiri menyalami Buya. Semua wajah-wajah baru. Hanya beberapa saja  wajah lama.
Buya tetap memasang senyum ramah di wajahnya. Sesekali ia mempertemukan kedua telapak tangannya dan meletakkan di dada tanda hormat kepada seluruh hadirin. Ia rapikan letak peci dan burdah yang melindungi kedua bahunya. Mata Buya memandang lurus, berusaha tampak tawadhu', padahal perasaannya kurang lega dengan keadaan itu. Ia kembali duduk di atas kursinya, menyeruput air mineral yang sudah tersedia seperti orang kehausan. Padahal bukan kerongkongannya yang haus, melainkan pikirannya sedang resah-berkecamuk.
Ia tekuri dirinya, mengingat kembali pengandaiannya soal penyebab seekor tupai  jatuh. Jangan-jangan gubernur atau salah seorang stafnya sedang punya kasus atau skandal perkawinan? Tetapi sejauh ini, Buya tidak tahu. Kalau gubernur punya anak yang banyak, iya, Buya sangat mengetahui itu. Seperti juga dirinya, oleh beberapa orang dianggap punya banyak anak. Buya punya empat putri dan lima putra. Bedanya dengan gubernur: anak Buya sembilan dari dua orang istri. Sementara anak gubernur sebelas dari satu istri.
Kesamaan Buya dengan gubernur, sama-sama percaya, bahwa di akhirat nanti, seperti pesan nabi, orang yang punya anak banyak akan bangga dan dibanggakan. Tentu saja, anak banyak itu mesti terurus, sejahtera lahir dan batinnya. Tidak ditinggalkan dalam keadaan lemah. Hal ini pernah pula menjadi perdebatan Buya dengan petugas keluarga berencana provinsi. Tapi, itu dulu.
Sekarang bukan anak banyak itu masalahnya. Sekarang, masalahnya kenapa orang-orang tertawa ketika dirinya membuat pengandaian tupai.
Kening Buya mulai berkerut. Namun sekuat daya, ia tetap memajang wajah tenang. Wajah tawadhu'.
"Jangan-jangan, pengandaian saya melibas diri saya sendiri? Tapi dalam hal apa?" Buya tak henti bertanya dalam hatinya. Ia semakin tidak tenang. Baginya tawa itu sangat aneh. Tidak seperti biasanya.
Buya terus berpikir keras. Pidato gubernur yang sedang berlangsung tidak menjadi perhatiannya lagi.
Ia ingat-ingat kembali perjalanan karir Buya di lingkungan orang nomor satu di provinsinya itu. Sudah lama juga. Buya sedikit tersenyum mengenang semua itu. Semasa para kursi pejabat tinggi di provinsinya lebih banyak ditempati orang-orang berbaju kuning, baju koko dan batik Buya juga banyak berwarna kuning. Kemudian terjadi perubahan bentuk, baju pejabat semakin banyak warnanya, tetapi warna hijau dan merah mendominasi. Koleksi baju koko, jas, dan batik Buya juga terpengaruh. Berimbang antara merah dan hijau.
Sepertinya, yang paling kekal di tempat Buya sering memberikan taushiyah itu ialah perubahan. Merah dan hijau pun beralih ke warna biru muda. Namun, tidak begitu lama, tidak sampai satu dekade, warna biru muda yang konon dijadikan sebagai lambang demokrasi itu dipekatkan sedikit lagi dengan warna yang menyimpan semangat nasionalisme, menjadi biru pekat. Warna Baju koko, jas, sarung dan batik Buya pun mengikuti perubahan itu.
Sepanjang keadaan itu berlalu, Buya merasakan baru pada periode kali ini ia sedikit lebih berhati-hati memberikan ceramah. Gubernur yang sekarang menjabat menurut Buya seorang yang berpendirian. Bajunya tidak kuning, tidak merah, tidak hijau, apalai biru muda atau biru tua. Baju gubernur itu hitam bercampur kuning mangga.
"Jangan-jangan keadaan ini yang dianggap orang-orang yang tertawa itu sepantun dengan perilaku tupai?" Buya terus mencoba menelusuri pikirannya.
Belum sempat Buya Irsyad melanjutkan jabaran logika dan pertanyaannya, terdengar suara protokoler menyilahkan hadirin menuju ruang makan malam mencicipi hidangan sebagai tanda acara malam temu ramah dengan gubernur baru berakhir.
Buya Irsyad pun bergabung ke barisan antrean. Ia mungkin tak akan pernah tahu, kenapa orang tertawa ketika ia membuat pengandaian tupai saat menyampaikan ceramah, sebab orang-orang itu berbisik, berceletuk di belakang Buya Irsyad sambil mendesiskan kalimat:
"Alah! dasar Buya Tupai!"

2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar