Minggu, 20 Oktober 2013

WACANA MUSIKUM: Imprezione Musik Minangkabau Bercita Rasa World-Jazz



OLEH Nurkholis
Dosen, Komposer, Konduktor, dan Pengamat Musik

Imprezione Musik Minangkabau Bercita Rasa World-Jazz
 Terma musik jazz seringkali melekat dengan suatu gaya permainan musik yang memiliki hubungan khusus dalam waktu (tempo, metrik, frasa, aksentuasi, dinamika, legato-staccato, densitas ritmik, dst...) yang didefinisikan sebagai 'ayunan' untuk sebuah spontanitas dan vitalitas produksi musik­­---wujud di dalam kemerduan improvisasi---, dan cara ungkap yang mencerminkan individualitas dari musisi jazz itu sendiri. Play what do you feel, and feel what do you play (Mainkan apa yang engkau rasakan, dan rasakan kembali apa yang telah engkau mainkan).

Meninjau sekilas tentang kesejarahannya, genre musik jazz adalah paduan dari beberapa habitus musik yang ‘saling silang’ dalam arena budaya, antara; pentatonik blues---ratapan budak-budak Afro-Amerika---, kehadiran musik konvensional Eropa---imperium diatonik klasikal Barat (Occidental music)---, dan pola-pola Latin yang datang dari bagian selatan benua Amerika. Realitas dari ragam budaya musik tersebut kemudian berinteraksi dan meleleh (melting pot) dalam wajan musik baru ‘Jazz New Orleans’, pada akhir abad ke 19 di Amerika.
Berdasarkan kurun waktu kehadirannya, embrio musik jazz mulai menghirup nafas ‘kemerdekaan’ musikalnya, seiring atau bertepatan dengan masa peralihan gaya musik Klasik ke musik Modern di Eropa (Twenty Century of Music)---suatu gaya baru yang antusias menggunakan skala dan ornamentasi musik Timur (termasuk juga musik etnik  Nusantara)---, atau eksotisme-futuristik yang mencirikan kepribadian bentuk-bentuk musik impresionisme, simbolisme, ekspresionisme, dst.
Jika ditelaah dari komponen musikum pendukungnya, memang bentuk dan struktur musik jazz tidaklah terlepas dari triangulasi kekuatan budaya Afrika-Eropa-Latin. Namun secara esensial, wajah musik jazz itu sendiri pada dasarnya melambangkan suatu cara bernyanyi/bermusik yang identik dengan aksen-aksen blues Afro---cara bernyanyi yang lebih mementingkan ‘penekanan’ pada nada-nada diskord (bluenote)---, atau mirip dengan garenek, sruti, dan cengkok melodi yang berlaku dalam tradisi-tradisi bernyanyi di kawasan Asia (skala pentatonik), maupun nyanyian bangsa-bangsa di luar kebudayaan Eropa (skala diatonik).
Kesadaran akan kekuatan singkop dan pola ritmik Afrika (Timur) pun menjadi cara tersendiri di kalangan musisi jazz, terutama pengaplikasian ke gerak ‘bebas’ melodi yang senantiasa bermain bersama (call and respon) dalam dialogis scale-mode, dialektis impromptu. Suatu cara yang menurut penulis berlaku sama dengan terma imbal (cara bersahut-sahutan antara bonang dan saron dalam karawitan Jawa-Sunda), atau setidaknya memiliki kemungkinan yang ‘mirip’ pada konsep-konsep pertunjukan musik tradisional di Minangkabau, antara; saluang dendang, babiola, salawat dulang, talempong pacik, dan baindang, yang berkembang di dua kawasan budaya, antara lain; kesenian darek di daerah pegunungan dan perbukitan Sumatera Barat, dan kesenian rantau di tepi pantai barat Sumatera.
Kedua bentukan musik tradisional di atas merupakan dualitas yang saling berkaitan dalam akar budaya dendang Minangkabau. Oleh kalangan tokoh musik---komposer Minangkabau---, terutama di awal kemerdekaan Indonesia, menggagas kembali potensi kekuatan ke-tradisi-an (budaya nasional)  tersebut sebagai idiom-idiom penciptaan ke musik populer, antara lain; Orkes Gumarang (Pimp. Asbon), Orkes Kumbang Cari (Pimp. Nuskan Syarif) , Oslan Hossein, Zainal Combo, Asben, Tarun Yusup, Yusaf Rahman.
Kemudian, pada dekade 1980-an ke 1990-an, dalam perkembangan musik “kontemporer” di Sumatera Barat, beberapa kreator musik, antara lain; Hajizar, Elizar, Mahdi Bahar, Halim, N. Winuza, Rafiloza, Asril Muchtar, Admiral, Dewo, Talago Buni dkk (Karawitanologi) menerjemahkan natif melodi tradisi Minangkabau ke bentuk-bentuk musik tari dan ‘musik baru’. Sedangkan Yoesbar Djaelani, Wisnu Mintargo, Nurkholis (penulis), Desrilland, Martarosa, Hasvan, Andranofa, Irwan, Alfino, dkk (Musikologi) mengaplikasikannya ke bentuk musik simfoni orkestra dan musik elektronik (musik film, tari, teater). Hal ini senada dengan pendapat Ben M Pasaribu (2005: 1), “Bahwa dalam perkembangan penciptaan musik baru di Indonesia, kita akan menemukan alur yang secara kesejarahan meneruskan dua ragam tradisi musik. Pertama, penciptaan dalam konteks musik tradisional yang berkembang dalam masyarakat (termasuk pengaruh-pengaruh asing yang sudah menyatu dalam kultur); dan kedua, penciptaan dalam konteks penggunaan estetika musikal dari musik Barat, baik dalam format struktur maupun instrumentasinya".
Namun demikian, meninjau dari hasil-hasil kreatifitas musik yang ditawarkan, menurut amatan penulis sedikit sekali yang menukikkan pandangan energi musikumnya ke spirit jazz.  Jika pun ada, hanya beberapa ruang ke-karya-an saja yang sedikit berani menyemprotkan ‘aroma’ jazz untuk dijadikan ‘penyedap’ auditori (bagai mencecahkan tangan ke air panas). Namun, karena racikan bumbu jazz-nya yang tak seimbang, efek yang muncul adalah ‘selingkuhan bebunyian’ saja (seumpama tidur sekejap berasian, tersintak hari sudah siang), dan belum masuk ke ranah penyatuan ‘setubuh’ jazz sesungguhnya.
Pada periode selanjutnya, yaitu dekade 2000-an seiring muncul isu-isu baru pengembangan musik ke arah world music, beberapa komposer muda Minangkabau (termasuk penulis), turut mengembangkan diri terhadap pemahaman musik jazz itu sendiri. Dialog-dialog seputar musik jazz dan kesejarahan estetiknya mulai semarak dibincangkan, dibenturkan, bahkan didekontruksikan. Bersama semangat baru---generasi muda komposer Minangkabau---, penulis ikut aktif mengenalkan keunikan musik lokal Minangkabau dalam cengkerama jazz. Hasilnya, para komposer muda Minangkabau mulai diperhitungkan dalam arena  ‘pertaruhan’ musik Jazz-Minangkabau ke penikmat internasional, antara lain; Malacca Strait Jazz International Festival, Riau Hitam-Putih World Music International Festival, Sawahlunto International Music Festival, Payakumbuh World Music International Festival, Solo International Ethnic Music, Bandung World Jazz International Festival, dan Java Jazz International Festival dst.
Walau ini adalah kerja yang belum tuntas, tapi setidaknya ada upaya-upaya yang terus membuka diri seluas-luasnya terhadap wawasan dan wacana ilmu musik jazz serta sejarah musik dunia. Proses demikian, tentunya akan menjadi poin penting untuk terciptanya kreasi dan inovasi musikal bermutu tinggi, terutama yang didasarkan pada kekuatan lokal budaya Minangkabau.
Penulis yakin bahwa yang dimaksud antisipasi budaya; bukanlah suatu penolakan  terhadap musikal yang asing, begitu juga keterbukaan bukanlah suatu penerimaan budaya tanpa saringan musikal itu sendiri. Namun, keduanya disinergikan dalam wadah bunyi yang senantiasa berdialektika-berlogika, serta ditunggu kehadirannya oleh penikmat musik jazz itu sendiri dimanapun berada.
Ada harapan bahwa keberadaan institusi-institusi seni semisal Intitut Seni Indonesia (ISI Padangpanjang),  maupun komunitas-komunitas musik jazz yang kian tumbuh-kembang di setiap daerah, selayaknya menjadi ‘payung’ transformasi didaktik musikum jazz terdepan di ranah Minangkabau; memiliki kemauan, kemampuan, dan kelenturan adaptasi guna menerangi wajah colloquium  Minangkabau yang kian membentang ke penjuru semesta musika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar