Minggu, 06 Oktober 2013

WAWANCARA EMERALDY CHATRA: Pengusaha Bioskop Lamban Bertindak

EMERALDY CHATRA
“Pada akhir tahun 2000-an, saya meluncurkan ide agar Sumatera Barat dikembangkan jadi sentra produksi film alternatif setelah Jakarta. Siapa tahu nanti bisa jadi hollywoodnya Indonesia. Karena itu saya siapkan sebuah nama, Padariamwood (Padariam itu singkatan dari Padang-Pariaman),” kata Emeraldy Chatra.
Ini bukan sekadar luncuran ide iseng. Sejarah film Indonesia, kalau kita mau jujur, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran sineas Minang pada awal kemerdekaan. Mereka itu antara lain Usmar Ismail, Haji Djamaluddin Malik, Dr Abu Hanifah, Drs. Asrul Sani, Roestam St. Palindih, Anjar Asmara, Dr Adnan Kapau Gani, Hasmanan, Soekarno M. Noor, dan Rosihan Anwar. Anjar Asmara, Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik dapat dikatakan pionir bagi perkembangan film Indonesia modern.

“Tapi mereka tidak menginspirasi kalangan muda di Sumatra Barat untuk ikut berkecimpung di dunia film. Nah, dengan ide Padariamwood itu saya ingin memotivasi agar seniman Sumatra Barat ramai-ramai terjun ke film dan berusaha membangun dunia perfilman Indonesia yang berwajah kultural, bukan sekedar bisnis. Namun sayang ide itu menguap seperti embun saja.” Berikut wawancara dengan Nasrul Azwar.
Kondisi perbioskopan Indonesia, termasuk Kota Padang dan kota-kota lainnya di Sumatera Barat, sebagian besar mati. Apa latar belakangnya?
Bioskop sudah disaingi oleh banyak media hiburan. Mula-mula disaingi oleh hadirnya video player yang menyebabkan orang tidak perlu datang ke bioskop untuk menonton film. Setelah itu muncul lagi VCD dan DVD player yang dapat menghadirkan citra visual secara lebih jernih. Kehadirannya memperkuat posisi video player. Kehadiran pemutar film di rumah ini ditunjang pula oleh banyaknya beredar cakram magnetik (CD/VCD) di pasar. Faktor lain yang ikut mendorong kemunduran bioskop adalah image bioskop yang makin lama makin turun. Orang tidak lagi merasakan adanya kebanggaan dengan pergi ke bioskop. Berbeda dengan suasana tahun 70-an dan sebelumnya.
Dari puluhan bioskop yang ada di Kota Padang, kini yang aktif tinggal hitungan sebelah jari: Bioskop Raya, Mulia, dan Karya. Apakah hal ini bisa dikatakan sebagai pertanda akan matinya dunia hiburan yang dinamakan bioskop di Kota Padang?
Kalau kematian, mungkin relatif. Sebab, orang pun sedang berusaha mengembangkan bioskop dengan memperbaiki semua kelemahannya. Di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta bioskop ukuran kecil (sineplek) masih dapat menjaring penonton. Bila dulu setiap bioskop hanya siap dengan satu layar dan ukuran ruangannya sangat besar, dengan konsep sineplek penonton lebih punya pilihan karena layar dan ruang tontonan bisa sampai 8 dan setiap ruang menyajikan film yang berbeda.
Secara umum, bagaimana Anda menilai perbioskopan di Padang?
Pengusaha bioskop terkesan lamban mengantisipasi perubahan selera penonton yang makin dimanjakan oleh teknologi. Kalau ingin eksis mereka harus waspada terhadap perubahan yang terjadi.
Apakah bioskop yang ada sekarang representatif untuk salah satu alternatif hiburan bagi publik Padang?
Belum. Bioskopnya perlu direnovasi, sound-system dan film-film yang dihadirkan harus dibenahi sehingga pengalaman menonton di bioskop tetap terasa lebih menarik ketimbang menonton di rumah, sekalipun di rumah orang bisa membuat home theatre.
Sebenarnya nasib bioskop tipe lama hampir sama saja dimana-mana. Sekarang tidak zamannya lagi bioskop ukuran besar. Konsep sineplek terbukti lebih baik untuk sementara waktu.
Kini, kondisi zaman telah berbeda. Teknologi informasi demikian canggih. Jika tak bisa menyesuaikan tergiling zaman. Namun di Amerika, penonton bioskop tetap membeludak. Mengapa itu bisa terjadi?
Persepsi penonton kita terhadap sebuah karya seni berbeda dengan persepsi masyarakat Amerika pada umumnya. Bagi kita menonton ya menonton. Setelah tontonan habis, habis pulalah perkara. Penghargaan masyarakat terhadap karya seni, khususnya film belum tumbuh. Di Amerika menonton di bioskop adalah bahagian dari ekspresi penghargaan terhadap karya seni mereka sendiri. Mereka bangga dengan Hollywood dan produk-produknya. Sementara masyarakat kita suka menonton film Indonesia, tapi belum tentu mereka punya kebanggaan. Alasan menonton film Indonesia lebih didorong oleh kemudahan memahami, karena bahasanya bahasa Indonesia. Kalau film Indonesia mati karena tidak ditonton, adakah orang Indonesia yang ikut merasa bersalah? Saya kira, hampir tidak ada. Bahkan aparat pemerintah pun yang harusnya mengembangkan film Indonesia, belum tentu akan merasa bersalah. Karena itu, menonton film gratisan di rumah, melalui CD/VCD bajakan tidak diiringi rasa bersalah terhadap produk bangsa sendiri. Kematian bioskop karena tidak dikunjungi pun tidak akan pernah diikuti rasa bersalah.
Selain itu, yang cukup memprihatinkan, fungsi bioskop (yang tersisa), telah pula berubah fungsi. Bukan semata untuk menikmati film, tetapi dijadikan ajang memadu kasih bagi remaja saat menonton. Apa komentar Anda?
Pertanyaannya, mengapa harus pacaran di bioskop? Apakah tidak ada tempat lain? Bioskop tidak dapat begitu saja disalahkan, karena yang lebih dulu salah adalah kondisi sosial yang mendorong orang berbuat demikian serta pelaku-pelakunya itu.
Anda dulu pernah menggagas Padariamwood. Bagaimana ceritanya gagasan itu bisa muncul?
Pada akhir tahun 2000-an saya meluncurkan ide agar Sumatera Barat dikembangkan jadi sentra produksi film alternatif setelah Jakarta. Siapa tahu nanti bisa jadi hollywoodnya Indonesia. Karena itu saya siapkan sebuah nama, Padariamwood (Padariam itu singkatan dari Padang-Pariaman). Ini bukan sekadar luncuran ide iseng. Sejarah film Indonesia, kalau kita mau jujur, tidak bisa dilepaskan dari kehadiran sineas Minang pada awal kemerdekaan. Mereka itu antara lain Usmar Ismail, Haji Djamaluddin Malik, Dr Abu Hanifah, Drs. Asrul Sani, Roestam St. Palindih, Anjar Asmara, Dr Adnan Kapau Gani, Hasmanan, Soekarno M. Noor, dan Rosihan Anwar. Anjar Asmara, Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik dapat dikatakan pionir bagi perkembangan film Indonesia modern. Tapi mereka tidak menginspirasi kalangan muda di Sumatra Barat untuk ikut berkecimpung di dunia film. Nah, dengan ide Padariamwood itu saya ingin memotivasi agar seniman Sumatra Barat ramai-ramai terjun ke film dan berusaha membangun dunia perfilman Indonesia yang berwajah kultural, bukan sekedar bisnis. Namun sayang ide itu menguap seperti embun saja.
Beberapa waktu lalu, dunia film indie sempat marak di Sumatera Barat, kini redup. Bagaimana penilaian Anda?

Dunia kesenian kita kan sebenarnya tidak punya ideologi yang jelas. Dikatakan seni untuk pencerahan, tidak. Dikatakan untuk perlawanan kultural, juga tidak. Dikatakan untuk kebutuhan pasar apalagi. Nah, ketika orang ramai-ramai membuat film indie, kita juga ingin membuatnya. Tapi untuk apa? Karena tidak ada ideologi, dan hanya sekadar ikut-ikutan, akhirnya cape sendiri.
Baca: Perbioskopan di Padang: “Mati” dalam Belantara Teknologi Informasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar