Senin, 11 November 2013

Di Bawah Temaram Lampu Badai




CERPEN Delvi Yandra

Judul Menguji Kesabaran
akrilik-ballpoint, 145 x 145 cm, 2006

Sejak pemberontakan meletus empat hari yang lalu, anak-anak dan kaum perempuan tidak ada yang berani keluar rumah sehingga kampung kami sungguh mengalami masa-masa sulit; sawah dan ladang tak menghasilkan apa-apa, akses ke kampung sebelah hanya dapat dilewati melalui sungai dengan perahu atau rakit, dan pengajian ditiadakan untuk sementara waktu.
Bala tentara musuh semakin rajin berkeliaran keluar masuk kampung seraya membawa bedil. Mereka menguasai Batu Hampar hingga ke Kurai. Kami geram melihat manusia jangkung berkulit pucat dan berambut pirang dengan hidung mencuat itu, sehingga kami bertekad menghancur-leburkan mereka.
Tetapi kami tak butuh arloji. Athar telah menjadi waktu bagi kami. Ketika malam tiba, itulah saatnya bagi kami untuk mengambil suatu keputusan berdasarkan seruan dari Athar.

Di bawah temaram lampu badai, tiga pasang mata kami mengintai ke arah jalan. Desir angin yang melewati jendela memainkan kerah baju kami. Zubir, salah satu dari kami, hanya mengenakan singlet dan celana pendek selutut. Dia duduk paling ujung, dekat jendela. Sebelah kakinya bertumpu di atas bangku kayu. Sementara, sepasang matanya tetap mengawasi ujung jalan ini.
“Istriku mengidam jagung manis dan kopi murni. Aneh-aneh saja permintaannya. Aku tak dapat meluluskannya lantaran situasi macam sekarang ini. Aku berpikir untuk masuk ke ladang Tuan Digul. Tetapi kita cuma punya bedil, kalau serdadu lewat, bisa mampus kita!”
“Engkau gila Zubir, mau masuk ke sana dan mengambil jagung manis untuk istrimu. Bagaimana nanti kalau Tuan Digul tahu? Kita dikatakannya berkomplot dan mau mencuri…”
“Ah, jangan terlalu engkau dengar istrimu itu. Dia pasti akan mengerti.”
“Eh—katanya Athar akan pergi ke Belanda ya? Dia akan jadi orang besar. Ibunya, Siti Saleha benar-benar memiliki kesabaran yang tinggi.”
“Tempo hari, aku mendengar orang-orang di lepau membicarakannya. Mereka mendiskusikan karangannya yang berkisah tentang janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya—Brahmana, datanglah musafir dari barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya.”
“Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartanya dan menyia-nyiakan anak-anak janda itu.”
“Oh, ‘Namaku Hindiana’ ya…” kata kami serempak.
Nyala api dari lampu badai di langit-langit ruangan bergoyang sedemikian rupa sehingga bayang-bayang kami menari-nari di lantai yang temaram. Percakapan kami kembali merendah. Saking asyiknya mengobrol, kami hampir melupakan berita tentang Athar.
“Mana surat kabar itu?”
“Sudah dapat dipastikan, bala bantuan akan segera datang.”
“Dua kali purnama lagi mereka akan merapat di Teluk Bayur, dan menurunkan sekitar seratusan serdadu.”
“Bacakan yang di halaman pertama De Expres itu. Biar didengar Zubir juga.”
Kami tidak ingin pertemuan ini diketahui siapapun. Mansur yang bekerja di bawah tekanan penjajah telah membelot dan ikut berjuang bersama kami. Dia hanya ingin keselamatan anak dan istrinya tetap terjaga. “Karena Athar, kita ada di sini. Jadi, cepat putuskan,” kata dia.
Seminggu yang lalu, kami menerima surat kabar yang entah dikirim oleh siapa tiba-tiba saja sudah ada di tangan kami. Hal-hal aneh yang demikian itu sudah sering kami alami. Tempo hari, Mansur mendapati gulungan peta yang tergeletak di depan rumahnya. Sebulan yang lalu, Zubir menerima sepucuk bedil yang ditaruh entah oleh siapa di dekat gudang tempat dia bekerja.
Begitulah. Kami kerap mendengar kisah Athar, pemuda dari kampung kami yang terjun ke medan laga, dan melawan penjajah dengan kecerdasannya.
“Dia sudah di Haarlem!”
Tidak seorang pun dari kami yang memperlihatkan air muka kesedihan, gelora semangat yang membara telah merasuki sukma kami. Athar telah membangkitkan gairah pertempuran di dada kami. Belum selesai kami membaca surat kabar itu, kami memutuskan untuk mengadakan pertemuan selanjutnya.
Dan di bawah temaram lampu badai, kami tepis rasa takut. Kami sangat yakin bahwa tak seorang pun yang melihat kami datang ke tempat ini.
Yang pertama datang ialah Mansur. Dia membawa lampu badai, peta pergerakan, dan surat kabar dari Batavia. Kami tak dapat melepaskan kesan yang agak berbeda terhadapnya. Atas permintaan Athar, kami percaya bahwa Bahder Djohan telah memindahkannya ke sini.
Mansur menggantungkan lampu badai itu di langit-langit ruang. Dia duduk di atas meja, dan membiarkan cahaya lampu menimpa kepalanya. Beberapa saat kemudian, dia mendengar suara pintu diketuk. Dia berdiri di atas meja dan menghembus lampu badai sehingga sirna segala cahaya, dan gelap melingkupi.
“Siapa?” Mansur menuju pintu dan berbisik dari celahnya.
Orang Sakit dari Eropa.”
Ia lekas membukakan pintu, dan Zubir telah berdiri di depannya. Dengan dengus napas tak beraturan, dia bergegas masuk dan menutup pintu perlahan.
“Ada apa?”
“Hampir ketahuan,” jawab Zubir seraya mengeluarkan sepucuk bedil dari balik bajunya.
“Mana Tahar?”
“Dia yang membikin janji.”
Mansur dan Zubir menyingkap tirai jendela dan memastikan tak ada seorang pun yang lewat di jalan itu. Hanya desir angin dan desis daun yang saling bergesekan terdengar sehingga tanpa terencana suasana memang terasa mencekam.
“Cepat bukakan pintu!” teriak sesuara.
“Siapa?”
“Orang sakit dari Eropa.”
Maka, lengkaplah kami bertiga di dalam ruangan itu. Tahar datang dengan pakaian mencolok yaitu setelan jas putih dan topi bundar yang sering dia pakai. Katanya, dia mendapatkan pakaian itu dari koperasi yang dikelolanya secara kolektif bersama teman sejawatnya di kota.
Kami pun merapat ke dekat meja, dan Mansur membentangkan peta di atasnya. Zubir menyalakan lampu badai agak redup. Di atas meja, semangat kami berkobar, seperti membakar meja itu hingga berkeping-keping. Saking bergeloranya, Zubir rela meninggalkan istrinya yang sedang hamil di rumah. Tampak jelas dari matanya yang menyala-nyala tak mau padam itu.
Tetapi lama kami diam, tak seorang pun berani berujar. Di antara kami, Zubir mendengus panjang. Dia surut ke bangku paling ujung, dan menjatuhkan tubuhnya di sana.
“Tiga tokoh Indische Partij berada dalam basis Perhimpunan Hindia.”
“Apakah Tjipto juga?”
Zubir melompat dari bangkunya dan meraih surat kabar De Expres dari tangan Mansur. Dia merasakan angin segar baru saja berhembus ke kepalanya sesaat setelah membaca isinya. Kami pun mengangguk pasti. Tahar senyum-senyum kecil dengan gaya membenarkan terhadap apa yang tertulis di sana.
“Kau tidak mencurigai Dekker?”
“Dia salah satunya. Percayalah.”
“Keterlaluan.”
“Apa maksudmu?”
“Jaga bicaramu!”
“Kita harus menghargai keputusan Athar.”
“Terserah kalian.”
Zubir menggamit bibir bawahnya seraya menatap tajam ke arah Mansur dan Tahar secara bergantian. Cahaya dari lampu badai telah menciptakan bayangan hitam di pelipis matanya sehingga wajahnya lebih tampak menyeramkan ketimbang keyakinannya.
“Athar telah memercayainya.”
“Tidak diragukan lagi.”
“Sutomo sudah tidak menjabat lagi.”
Tanpa maksud menepis pernyataan itu, Zubir menggeser kursinya sedikit dan lengannya bertumpu di atas meja. Kami pun kembali diam. Lembaran peta di hadapan kami menjadi sia-sia belaka. Angin mendesir dan menampar pipi kami yang dingin.
“Kita harus segera menulis surat.”
“Penamaan sangat penting dalam situasi politik sekarang ini.”
“Tulis surat itu sekarang dan Mansur akan berangkat untuk mengikuti forum itu.”
“Kita harus menyatakan untuk membangun Indonesia dan meniadakan Hindia atau Netherland Indie!”
“Pelankan suaramu.”
Mansur mendekati jendela, dan menyingkap tirai sedikit. Pandangan matanya jatuh ke ujung jalan yang gelap. Kami saling melirik dan menghela napas panjang.
“Basis ini harus kita pertahankan sebelum serdadu-serdadu itu datang.”
“Masih ada waktu dua kali purnama lagi.”
“Aku temani kau ke Padang, Mansur.”
“Tidak usah repot-repot. Aku tidak ingin kelihatan mencolok.”
Oh, suara gaduh yang mendadak terdengar berasal dari luar membuat kami bergidik. Mansur menggulung petanya, dan menepi ke dekat pintu. Tahar berdiri di atas meja dan bergegas menghembus cahaya dari lampu badai, sehingga gelap kembali menguasai.
Tiga pasang mata kami mengintai dari balik tirai. Sekelebat bayangan melintas di jalanan. Kami melihat puluhan serdadu berlari-lari kecil seraya membawa bedil. Tiba-tiba beberapa di antaranya berhenti, dan salah satunya menjatuhkan pandangan ke arah kami. Dia mendekat perlahan, tubuhnya sedikit membungkuk. Matanya menyala seakan-akan mencurigai sesuatu yang bergerak dari sebalik jendela.
Zubir tak kuasa menahan geram sehingga naik darahnya ke ubun-ubun. Dengan cepat, dia genggam bedilnya seperti seorang pemburu yang lihai, lalu didobraknya pintu sekeras-kerasnya.
“Demi Athar dan kemerdekaan yang sejati!” teriaknya seraya merangsek ke kerumunan serdadu itu.
“Celaka! Zubir!”
Karena tak ingin meneruskan kecerobohannya, kami berlari ke belakang rumah. Kami tembus semak belukar di sekitar kebun. Sekonyong-konyong rentetan letusan berlesatan. Pelor-pelor serta merta menerjang tubuh Zubir. Saat bau mesiu merebak, dia pun tersungkur tanpa mampu meletuskan bedilnya.
Serdadu-serdadu itu berhamburan, dan mengejar kami. Di bawah terpaan cahaya bulan yang temaram, kami terus berlari. Berlari lagi. Menjauh dari serdadu-serdadu itu.***

Padang, 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar