Senin, 11 November 2013

Kisah Cinta Pekerja Malam di Kota Gigolacur



CERPEN Ramoun Apta
Lukisan Nasrul
Pada suatu malam berdebu, di suatu Minggu kota Gigolacur, trotoar tak pernah bercerita tentang apa dan bagaimana caranya dua ekor tikus bisa saling kejar-mengejar, meningkahi kerikil yang berserakan, menyusuri got-got yang bau, dan kemudian bergerumul seperti hendak saling membunuh. Begitu juga dengan tiang listrik yang kesepian menimang embun—yang sebenarnya tak patut juga disebut embun karena ia sedikit berminyak—di dekat taman itu, seperti hendak melepaskan kabel-kabel yang terentang memberat.

Tong-tong kotor berbelatung dengan sampah yang berserakan di luarnya, bangku-bangku kosong yang patah kakinya, dan pecahan beling bekas botol minuman beralkohol. Segala yang tergambar seakan-akan hendak mengisahkan sesuatu, sesuatu yang serupa gang buntu. Ya! Sesuatu yang kemudian melambung dan merasuki ruh percintaan antara Kau dan Aku.
Malam itu, Kau dan Aku bertengkar.
“Aku benci kau sepenuh hati!”
“Kenapa benci? Karena aku gigolo, begitu?”
“Bukan hanya itu. Kau menjalin hubungan khusus dengan tante itu.”
“Wajar saja kalau aku menjalin hubungan khusus dengan tante itu. Kau sendiri pun tahu. Bahwa sebagai gigolo, aku mesti menjalin suatu hubungan yang spesial kepada semua pelangganku. Bahkan kepada setiap penyewaku. Kalau tidak, aku mana bisa laku!”
Mendadak, Kau pun menjadi brutal.
“Kau jangan berkilah ucapan! Seperti hiperbola puisi saja bahasa yang kau sampaikan. Kau pikir ini pelajaran menulis sajak. Kita bukan lagi anak SMA. Pelajaran menulis sajak hanya ada di SMA. Aku sudah memiliki banyak bukti, jangan berkilah, kau selingkuh!“
“Bukti? Dalam bentuk apa? Sajak?! Aku bukan seorang nyinyir yang pandai mengelola bahasa buat menipu orang. Lagi pula, memang sudah begini tuntutan aku pekerja. Mesti akrab dan berpura-pura setia kepada setiap pelanggan. Kau sendiri, bukannya kau itu seorang pelacur? Tentu kau juga memiliki hubungan khusus dengan setiap lelaki yang membokingmu. Bahkan, mungkin lebih dari itu!”
“Aku menjadi pelacur bukan kerana aku mencintai kelamin laki-laki. Tapi karena aku tahu diri. Sebagai perempuan sejati aku mesti menemu kepuasan hidup. Dan melacur, selain dari pada aku mendapatkan kepuasan, aku juga bisa meraup sejumlah uang. Uang adalah segalanya. Memang cinta begitu sulit dimengerti. Tetapi, kau tahu, meskipun aku ini Pelacur, tiada selain dari pada kau di hatiku. Aku tidak selingkuh!”
“Begitu juga aku. Bekerja sebagai gigolo bukan berarti aku mesti menjadi budak tante-tante binal seperti yang kau tuduhkan itu. Aku ini laki-laki sehat gizi dan penuh energi. Setiap malam butuh ranjang. Bagaimana caranya kita bisa bermesraan sementara kau berkelana di ranjang orang?! Itu sebabnya aku jadi gigolo. Selain bisa dengan bebasnya bergaya di banyak ranjang, aku juga bisa mendapat gepokan uang. Bahkan lebih banyak dari pada kau! Jangan kau sembarang menuduh aku berpaling terhadap kau. Mestinya kau tahu, bahwa setiap malam di bukan ranjang kita itu, wajah kaulah yang selalu terbayang di kepalaku. Kau adalah kekasihku!”
“Kau begitu pandai berkilah bahasa. Kau adalah penyair generansi muda berbakat!”
“Ini bukan soal berkilah bahasa. Ini soal kebenaran dan realita. Kenapa kau begitu nyinyir sebut aku penyair? Aku ini bukan penyair! Memang banyak penyair yang bergaya seperti aku. Akan tetapi, kau tahu, penyair itu, beraninya cuma merayu perempuan. Tetapi ketika ditanya perihal kebenaran perasaan, ia malah tak berani ungkapkan cinta. Ketika diajak bercinta, ia selalu mengelak sembari mengumbar alasan yang tak sesuai logika. Sedangkan aku ...”
“Kenapa?”
Kau dan Aku pun sejenak berdiam. Pertengkaran yang mengambang entah ke mana. Sesaat kemudian, Kau mendongak ke atas. Di langit-langit kamar terlihat foto berukuran 2x2 Meter seorang tante yang sedang menselonjorkan kakinya. Tubuhnya yang gelombang bebukitan, pinggulnya yang lekuk pegunungan. Tampak begitu indah pahanya bila dilihat sambil tiduran. Melihat foto itu, Kau pun marah sejadi-jadinya.
“Lihat! Lihat itu! Kau pajang foto tante itu. Itu buktinya. Masih juga kau tidak mengaku perihal hubunganmu? Hanya seorang yang terpaut dalam suatu ikatanlah yang mau berluang waktu memajang foto seperti itu di langit-langit kamarnya. Kau pendusta. Kau selingkuh!”
“Sekali lagi kukatakan, aku tidak punya hubungan spesial dengan tante itu selain dari pada antara seorang pekerja dengan pelanggan. Di atas boleh ada foto, tetapi aku di bawah tak memiliki perasaan apa-apa. Hanya kau! Jangan cuma karena foto itu lantas kau mendakwa aku sekenanya. Kau dakwa aku selingkuh. Tetapi kau sendiri?”
“Kenapa, aku?”
“Kau sendiri... Aku pernah melihat di dalam tasmu tersimpan selembar foto seorang lelaki. Setelah kuselidiki, aku tahu lelaki itu sering memboking dan mengajakmu bercinta. Seringkali aku melihat kau berangkulan tangan dengannya di sepanjang jalan selayaknya dulu kita kali pertama pacaran. Bukankah kau itu yang berpaling dariku? Kau sembarang tuduh aku. Tetapi ternyata, sebenarnya kaulah yang selingkuh.”
“Dasar, penyair! Penyair nyinyir!”
“Kau itu yang penyair nyinyir! Kau tuduh aku, tetapi kaulah yang sebenarnya berpaling! Kau yang keliru menulis sajak, tetapi kau salahkan aku si tinta yang tak berdaya!”
“Apa? Kau dakwa aku yang pandai berkilah bahasa? Anjing kau! Binatang laknat kau! Segala sumpah serapah ada pada kau! Kau kira aku sudi menukar posisiku sebagai pelacur menjadi seorang penyair? Kau tahu, lebih mati sebagai babi dari pada menjadi penyair yang sepanjang hidupku begitu miskin! Aku rela mati membenamkan diri di sungai musi yang dari hari ke hari di sepanjang tepiannya semakin dipenuhi ceceran minyak mentah itu. Kaulah yang penyair itu! Dasar, gembel hitam kau!”
“Sudah nyata terbukti bahwa kaulah yang berpaling itu! Bukan aku!”
“Kau yang berpaling!”
“Kau itu!”
“Kau!”
“Kau!”
“Kau!”
“Kau yang selingkuh itu, Anjing!”
Kau pun semakin cemburu, dan mendakwa Aku sebagai seekor Anjing yang tak setia.
“Apa? Kau sebut aku Anjing? Sekali lagi kau sebut, kutampar kau!”
“Anjing!”
“Kau yang anjing itu, Anjing!”
“Bapak kau, ibu kau, Anjing semua!”
“Sekali lagi kau maki orang tuaku, Anjing, kubunuh kau!”
“Bunuh! Ayo, bunuh aku!”
“Kau!”
“Ayo sini, maju kau, Anjing!”
“Mari kita lihat seberapa beraninya kau!”
 Kau pun menantang Aku berkelahi.
“Ini, tinjuku ke wajahmu!”
“Lengan kiriku menangkis seranganmu. Kuhentak perutmu dengan lututku!”
“Oh, kutangkis lututmu. Terimalah! Ini kakiku di kepalamu. Mati kau!”
“Kutangkap kakimu. Tinjuku ke wajahmu. Remuk!”
“Tinju sebesar tunggul ubi kayu itu kau kira bisa meremukkan wajahku?”
“Meskipun kecil, ini tinju lajunya seperti bus Medan-Jakarta. Kena hidungmu!”
“Oh, kau pikir kau bisa mengenai hidungku? Ini tanganku, seperti ular yang lihai melingkar di pagar. Kupelintir kakimu, menjerit kau! Jatuh kau! Kelamin kau kutendang! Perut kau kupijak! Mampus kau! Mati anjing kau!”
“Kau hendak memelintir kakiku dan menjatuhkanku sementara tangan kau yang satu terkunci di leherku? Kau itu yang mati anjing! Ini tendanganku. Mati kau, penyair!”
“Kau?!”
Entah kebenaran terluka, entah karena kecewa, tiba-tiba saja Kau menjadi diam. Seperti burung pungguk yang kehilangan bulan, Kau memalingkan wajahmu. Dan menyembunyikannya dengan ke dua tangan. Sementara itu, melihat Kau yang berubah tingkah begitu, Aku pun segera memilih menjadi dungu.
“Kau selingkuh!”
“Kau, bukan Aku!”
“Aku ini pelacur!”
“Aku ini gigolo!”
“Tante itu buktinya!”
“Tante itu tak lebih dari seorang pelangganku.”
“Pelanggan nenek kau. Foto itu buktinya!”
“Kau sendiri, foto lelaki dalam tas itu!”
“Ini bukan milikku!”
“Maksudmu? Milik istrinya yang memintamu simpan foto itu? Kau pikir aku ini bodoh!”
“Memang bodoh!”
“Kau?!”
“Sudah kukatakan, foto ini bukan milikku! Kau itu yang selingkuh!”
“Kenapa kau masih tak percaya aku?”
“Karena kau penyair!”
“Aku bukan penyair, nyinyir!”
“Lantas, siapa kau?”
“Anjing!”

Padang, 2012



Ramoun Apta. Lahir di Sungai Binjai, Muara Bungo, Jambi, 26 Oktober 1991. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, Padang. Bergiat di LPK (Labor Penulisan Kreatif) Sajak Sore. Menulis cerpen dan puisi. Beberapa tulisan berupa esai, opini, cerpen, dan puisi, pernah dipublikasikan di berbagai media massa. Mencintai bahasa dan Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar