Kamis, 28 November 2013

Pohon Mangga di Muka Surau



CERPEN Sunlie Thomas Alexander
Mengapa masih saja kau cemaskan isyarat yang tumbuh pada matanya? Bukankah ia adalah takdir? Bagaimana kau harus menghindarinya?
“Apakah lebaran nanti, Abang pulang?” tanyanya menatapmu malu-malu. Kau melengos, berpaling ke arah surau kecil di belakangmu. Sejenak kau bingung. Hendak menjawab ya, kau takut memberikan harapan sementara kau belum memiliki kepastian soal itu. Bila menjawab tidak, mungkin akan mengecewakan. Bagaimana kalau kau betul-betul pulang nantinya?

“Aku belum tahu,” jawabmu jujur akhirnya. Kau lihat sepasang mata itu mengerjap. Lalu ia kembali mendongak ke atas pohon mangga yang berbuah lebat di muka surau. Kau ikut mendongak melihat buah-buah kecil yang bergantungan menarik hati itu. Kemudian kalian bersitatap.
Ah, sepasang mata itu semakin mencemaskan…
Atau hatimu yang terlampau bimbang? Melemparkan harap tetapi begitu ragu. Ingin sekali sesungguhnya, kau selalu memberikan kepastian pada perempuan di hadapanmu itu. Tetapi kau ingat kekasihmu, tepatnya tunanganmu. Di tanah rantau. Seorang perempuan dengan jilbab lebar yang santun, selalu bertutur kata halus meski tak jarang berani menyindir terutama soal urusanmu dengan rokok. Kau mencintainya, tak ada kesangsian untuk hal ini. Tetapi agaknya kau teramat sadar, kalau perempuan yang bersamamu di depan surau itu sedikit demi sedikit mulai menguasai sekian tempat di hatimu. Tentu saja, terlalu konyol dan mengelikan untukmu berpikir soal poligami! Kau ingat sebuah tulisan Ayu Utami, bahwa lebih baik menyakiti Tuhan yang sudah begitu kuat daripada menyakiti pasangan kita yang lemah. Dan kekasihmu itu terlampau baik... Lagipula, kau tak yakin salah satu di antara mereka atau kedua-duanya berkenan dimadu! Kau selalu percaya, tak bakal ada keadilan untuk rasa ingin memiliki.
“Mangga-mangga ini pasti sudah ranum lebaran nanti, Bang,” tukasnya lemah, seolah melemparkan sebuah penawaran menggoda bagimu. Kalau saja kau belum memiliki seorang kekasih di rantau, mungkin dengan segera kau akan menjawab, “Simpan untukku ya?”
Namun kau hanya diam, semakin gelisah. Udara diam-diam menciut.
***
Kau mengenal perempuan itu belum lama sesungguhnya. Lima bulan lalu, dalam sebuah acara sastra di pendopo rumah walikota ketika kau hadir membacakan cerpen. Dia duduk di sebelahmu, dengan wajah yang terlalu tenang untuk diajak berbincang. Tetapi kau nekat juga menawarkan kacang rebus padanya. Awalnya ia hanya menjawab terima kasih, lalu jawaban-jawaban lain yang sepotong-potong atas setiap pertanyaanmu. Sampai kau menanyakan asalnya, dan jawabnya agak mengejutkanmu. Ternyata ia sekampung denganmu!
Kau bersorak, dan segera mengatakan kalau kau juga berasal dari pulau kecil itu. Pulau yang selalu mengirimkan rindu, sekaligus luka. Entahlah, tiba-tiba saja kalian sudah akrab. Dan ia berubah menjadi sosok perempuan muda yang begitu ceriah, cerewet, dan manis. Pertukaran nomor telepon dan janji untuk saling menghubungi, kalian buat menjelang acara usai. Dan janji itu memenuhi kegenapannya, juga janji-janji lainnya kemudian. Kalian mulai bersepakat untuk membuat pertempuan demi pertemuan. Di Obonk Steak, lalu di tempat-tempat lain. Pertemuan-pertemuan yang pada awalnya begitu menggairahkan sebelumnya akhirnya berubah menjadi sesuatu yang mencemaskan.
Lantaran kau merasa melihat isyarat itu tumbuh pada sepasang matanya? Atau justru hatimu sendiri yang mulai melemparkan isyarat itu dengan tak tenteram? Perasaan menyayangi, kau tahu adalah suatu yang luhur, tetapi tidak demikian dengan perasaan ingin memiliki. Itu sesuatu yang menyiksa buatmu. Dan ia terlalu manis untuk disakiti, atau barangkali kau sendiri yang takut mengalami rasa sakit. 
Kau mendongak sekali lagi, melihat mangga-mangga muda yang menunggu ranum di atas kepalamu. Serupa isyarat. Begitu meresahkan.
***
Bapaknya seorang ustad kampung, seorang vegetarian dan percaya pada takdir yang menjadi hak utuh Sang Pencipta. Hal mana yang kau tak pernah menduga sebelumnya dari penampilan perempuan itu yang sedikit metropol. Orang tua yang ramah itu berulang kali melemparkan pertanyaan tentang maksud kedatanganmu dari jauh melintasi jarak hampir tiga ratus kilometer dengan sepeda motor, baik secara terang ataupun secara tersirat yang membuatmu merasa terjebak oleh situasi. Seperti tikus masuk perangkap, pikirmu naif. Kau hanya tertawa kecut, mencoba menghindar atas setiap pertanyaan itu dan arah tujuannya. Sementara perempuan itu melirikmu sambil tersenyum-senyum dari pintu dapur, di mana ia sedang mengikat buah-buah kelengkeng. Kau tersedak, ketika orang tua itu bercerita tentang makna pernikahan bagi seorang lelaki.  
Persoalan keluarga yang mendadak, memang menuntutmu pulang ke pulau kecil itu setelah sekian lama kau selalu mengacuhkan kerinduan yang tumbuh untuk menjenguk ibumu, perempuan yang kau tahu, bertahun-tahun dirajam kesepian. Selama penerbangan Yogya-Jakarta-Pangkalpinang, wajah ibumu selalu membayangi benakmu, bergantian dengan wajah perempuan itu.
Akhirnya setelah urusan keluargamu mulai tampak jalan keluarnya, kau tak tahan lagi untuk tidak mengontaknya. Kau dengar ia begitu girang dalam suara ponsel. Ia segera menanyakan kapan kau akan main ke rumahnya, dan ia berjanji akan mencarikan kepiting untukmu sebagaimana janjinya di Yogya. Ya, ia sendiri baru sebulan kembali ke pulau kecil itu selepas wisuda sarjananya di sebuah kampus swasta di Yogya.
“Ibuku memintaku pulang. Beliau kesepian, cuma berdua dengan Bapak di rumah. Kau tahu, kakakku satu-satunya sudah berkeluarga di Surabaya, dan aku memang sudah terlalu lama berpisah dengan beliau, sejak aku SMA di Pangkalpinang lalu melanjutkan kuliah di sini,” tukasnya dengan nada yang getir pada pertemuan terakhir kalian di kontrakannya, “Padahal aku lebih betah di sini. Aku juga sudah dapat tawaran kerja dari seorang teman.”
Kau ingin sekali menyentuh tangannya, mengenggam jari-jemarinya yang halus. Tapi gagal menghimpun keberanian. Ia melirikmu dengan wajah sedih.
Ya, akhirnya kau mengunjunginya. Melahap jarak hampir tiga ratus kilometer dari kota kecilmu Belinyu, di utara Pulau Bangka sampai ke rumahnya di desa Perlang, sekitar lima belas kilo dari Koba, ibukota Bangka Tengah. Dan rumah itu, dengan sebuah surau kecil di depannya, begitu sejuk. Terletak di ujung kampung yang sepi dan banyak dipenuhi pepohonan.  Kau merasa seperti menemukan sebuah oase selepas menempuh perjalanan jauh yang terik, melewati jalan-jalan tanah kuning dengan debu tebal berkepul.
Kerinduan itu membuncah seperti ombak. Menerpa batu-batu. Karang kangen dan waktu. Dan senyumnya begitu manis menyambutmu, melenyapkan segala rasa capek dan haus.
***
Ah, pernah kau merasa begitu gerah dengan pulau kecil itu, dengan rumah. Dan dengan kepergian, kau ingin membasuh lukamu. Meskipun kau sadar, kepergiaan itu justru bakal menciptakan luka baru di hatimu dan menoreh luka yang lebih dalam di hati ibumu. Tetapi dendammu, pada bapakmu, membuatmu garang mengemasi ransel lalu bertolak seperti serdadu ke medan perang yang tak berharap kembali ke rumah. Ibumu hanya menangis diam-diam, dan di wajahnya yang lelah, yang mulai keriput dimakan usia, kau melihat keikhlasan yang sia-sia dibangun.
“Ke mana Bapak, Bu?” berulang-ulang dulu kau tanyakan hal itu kepada perempuan yang melahirkanmu. Tetapi Ibu selalu saja menggeleng. Di matanya, kau seolah melihat tungku dapur. Dan kau mengerti, hati perempuan itu tabah sebagaimana batu tungku, dari api dan lelaki. Maka kau pun pergi meninggalkannya, menggenapi kesepiannya. Seolah dengan itu kau melampiaskan dendam pada Bapak dan kepergiannya. Sekalian mewujudkan kodratmu sebagai laki-laki. Kata orang, kodrat lelaki muda adalah menjadi anak panah, melesat lepas dari busurnya. 
Ketika kau kembali akhirnya, adakah ibumu, perempuan yang berkarib dengan bumbu dan tungku itu akan mengerti? Atau ia akan teramat mafhum, kalau pada gilirannya seorang lelaki memang akan kembali juga. Bukan ke pangkuannya, tetapi kepada seorang perempuan lain yang sempurna menggoda hati. Seperti dulu ia menggoda hati lelakinya, bapakmu. Untuk menetap dan membangun tungku. Tetapi toh, pada akhirnya Bapak tak sanggup bertahan pada janjinya, pada batu tungku.
Ketika Bapak kemudian kembali lagi untuk kedua kali, lelaki yang tak sanggup bersetia itu hanya tinggal nama, dendam, dan urusan rumah warisan kakekmu yang pelik. Urusan yang menuntutmu pulang sebagai satu-satunya anak lelaki darinya, meski kau ingin sekali menghindari segala sengketa. Sekecil apapun dengan para paman dan bibimu. Tidak, tidak bukan karena urusan harta. Kau sama sekali tak peduli itu. Tetapi kau merasa mereka, paman dan bibi-bibimu, harus tahu kalau ibumulah yang bertahun-tahun merawat rumah tua itu dengan kasih sayang, luka dan kesepiannya tanpa mereka mau peduli. Dan rumah itu adalah segalanya bagi ibumu: kesepian, dendam, dan kenangan cintanya yang manis. Dan itu tak boleh dirampas, karena sama saja dengan merampas hidupnya.
Selebihnya adalah sebuah alasan yang malu untuk kau akui ini: ya, perempuan itu! Perempuan yang menggoyang keraguanmu akan cinta, akan kesetiaan. Sebagaimana seorang perempuan lain menggoyang keraguan Bapak akan cinta dan kesetiaan.
***
Ya, perempuan yang mengantarmu ke ambang keraguanmu. Membuatmu termangu, menatap buah-buah mangga muda yang menunggu ranum di muka surau di depan rumahnya. Rumah yang seolah menawarkan kesejukan, juga hangat tungku dan harum bumbu dapur.
“Adakah lebaran nanti, Abang pulang?” kau sedikit terbadai oleh pertanyaan itu. Sementara wajah kekasihmu di rantau, perempuan sederhana yang pernah membasuh rindumu pada Ibu lekat pada ruang benak. Tetapi wajah perempuan di hadapanmu itu seperti takdir. Diciptakan untuk menjadi nyata.
Betapa kau mencemaskan isyarat yang bertumbuh pada sepasang matanya… Bagaimana kau menghindari takdir itu?
Kau tak tega memilih seperti Bapak. Tak tega. Lantaran ingatan pada luka dan kesepian Ibu? Kau ingin menceritakan kecemasanmu itu kepadanya, tapi mulutmu tak sanggup berkisah. Sebagaimana mulut Ibu yang selalu saja bungkam untuk mengisahkan kesepian, dendam, dan lukanya.
Kini kau sudah sampai di batas keraguan yang menyiksa. Ketika teman-temanmu mulai memesan tiket bis atau pesawat, ketika mereka berkisah tentang rumah yang damai. Kau hanya diam, pun saat kekasihmu menawarkan suasana lebaran yang bersahaja di rumahnya, sekaligus menawarkan pemenuhan janji yang pernah kalian buat bersama di depan orang tuanya dan sejumlah kerabat lain.
“Habis lebaran nanti kita akan segera menjadi suami-isteri. Aku ingin jadi pengantin yang manis. Ibu Mas jadi datang kan?” bisik kekasihmu dengan mesra selepas tarawih. Kau tidak menjawab, tetapi hanya menatap senyumnya yang tampak begitu bahagia.
Sementara, di Perlang, kau tahu, mangga-mangga muda yang bergantungan menggoda di depan surau itu mungkin sudah mulai ranum. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar