Senin, 11 November 2013

PUISI Dedi Supendra


:Malam

Malam,
Seperti kacang goreng
Laku keras dibeli kupu-kupu
Datangnya ditunggu membawa madu
Hilangnya meninggalkan kabar tak sedap, seperti keringat-keringat yang bercucur dari kulit-kulit berbalut bedak dan debu panas
Malam, laksana darah bagi nyamuk nakal
Segar dan sedap
Dan merah membakar sayap
:Cerita Bola Mata

Kau masakkan makanan, terasa asin dan kau memberengut ketika menghidang di meja berseprai abu-abu.  Aku duduk dibelakangnya. Kau diam saja seperti ada usus dalam perutmu melilit belit jantung dan hatimu.
Ku tatap matamu. Aku bisa membaca, kisah burung dalam sangkar emasmu. Kau bilang, sebenarnya matamu yang mengadu padaku, bahwa kau seharusnya keluar pagi tadi. Mengukur jalan lalu memelintir nasib. Dan kau pikir, aku yang harus menghidang di meja berseprai abu-abu (?)
Bola matamu tak berkedip menantangku. Samar-samar, diputar gambar bayang-bayang peluh menyembul dari pori kulit lembutmu yang kemudian dalam sekejap mengelupas, berdarah-darah. Badanmu bukan langsing lagi, tapi kurus keras. Gedung bertingkat tujuh terselip dipangkal lenganmu. Sedang aku, keasyikan tidur-tiduran berlulur susu. Sesekali mondar-mandir ke dapur membuatkan teh hangat untukmu.
Itu cerita bola matamu. Atau kau memang ingin?




:Sang Pembawa Pesan

Saat senja menjelang
Ada ruang yang mengembang di antara gelap dan terang
            pias;
Setitik cahaya mengumbar senyum  dalam remang
Mengantar kata tentang pesan alam pada sang bintang
            Yang tiba-tiba muncul di balik langit yang kesepian
Lalu menjelmalah kerajaan malam
            Dengan pangeran dan permaisurinya yang baru bangun dari tidur
            Di sela-sela nafas yang dihembuskan angin

Percayalah pada seruan malam,
Yang timbul tenggelam diantara fajar dan petang
Malam tidak hanya sekedar datang tak diundang
Namun lebih kepada pembawa pesan tentang kunang-kunang
            Yang menjadi pesolek disela-sela kelam
            Mengedip menggoda

Malam bukanlah pecundang seperti kata orang-orang
Bukanlah sarang kupu-kupu
Bukanlah permainan sembunyi dan temukan
Namun, sebentuk keadaan untuk mengenang bayang yang telah hilang dan pergi
Menemukan rupa baru untuk esok pagi

Malam, seperti sebagian orang bilang
Menjadi guru bagi kehidupan
Tentang salah, untuk tak diulang
Tentang duka, agar tak dikenang
Tentang khilaf, untuk pelajaran
Tentang tawa bahagia, untuk bersyukur pada Tuhan
Tentang rencana
            Jadi apa dan untuk apa kita ada di masa depan.




:Benar-Benar

Kau datang membawa pisau dapur
Mata sisinya mengkilat dan ujungnya runcing bambu.
Tergopoh-gopoh kau berlari kearahku.
“Aku ingin mati,” kata kau. Tak ada angin, tapi kau bergoyang kemayu kemudian terbang dan terban seketika.
Tak ada hujan, namun kau basah oleh air merah yang memancur-mancur dari pusarmu
Kau mati, seperti yang kau bilang
Aku belum melakukan apa-apa.
:Berkeliling

Bawa bintang ke mata kaki, mainkan layaknya sepak raga.
Lantun-lantunkan bekel ke tanah keras.
Semakin kuat, semakin terang bintang bola bekel.
Kian tinggi, kian riuh suara para pengembara angkasa.
Rumah-rumah yang terbaring di pucuk-pucuk sinar mentari.
Mobil-mobil yang melaju di lintasan neptunus.
Batu-batu permata bersinar seperti bola lampu di sekitaran Venus.
Dan harapmu menggantung di ekor komet.




:Ceritamu

Cerita punya cerita, kau adalah cerita yang tak patut ku ceritakan
Layaknya cerita orang dewasa yang tak seharusnya menjamur digantungan-gantungan pikiran bocah ingusan.

Ceritamu seperti bangau, yang punya dua kaki namun berdiri hanya dengan yang satunya. Cerita tentangmu seperti pelacur malam. Kaum homoseksual. Germo dan mucikari. Seperti belatung dan cacing. Seperti kucing beranak kambing.
Atau ceritamu bagaikan penggambaran manusia liar. Tanpa tuhan.
Entah bagaimana kau akan lari, tetap saja Tuhan akan mengejarmu,
Ah, tidak. Kau akan membutuhkan Tuhan. Tepatnya.

Gelisahmu adalah cerita kesepian. Sedihmu berupa buram dengan hujan dan kilat yang bersahut-sahutan.

Ceritamu bagai lelaki tanpa perempuan.



:Seperti yang Sudah-Sudah

I
Seperti yang sudah-sudah. Tak ada cangkir yang kosong. Piring-piring penuh. Jamuan hiruk. Denting sendok. Slurup minuman dari kerongkongan yang dahaga. Suara-suara penuh cerita dan bual. Pesta. Surga. Merah-merah di sana-sini. Ada kemerlap di balik selubung malam. Lagi-lagi keramaian itu menyembab dari kulit-kulit rapuh. Mudah saja menggembung. Gelak tawa seketika limpah ruah, mencebur-cebur hingga melentingkan percikan binar riang dari wajah-wajah berbedak tebal dan berpengharum sebotol.

II
Sesungging seringai melayang dari sudut meja ke ujung jamuan, terlempar dengan sinis. Ada segunung buih menjelma di antara dua bibir yang penuh gelegak kesombongan. Ada sedelik sorot bola mata membelalakkan keangkuhan ke penjuru negeri. Peserta jamuan seperti lahir dari rahim yang sama. Sama saja, seperti kembar siam. Semuanya menggelar tikar merah sendiri di bawah pantat-pantat mereka. Melingkarkan bertingkat-tingkat gulung emas di jari-jari tajam hingga berkilat-kilat dan memunculkan pendar seolah menggoda jari lain untuk mengoyak sinarnya ke muka. Lalu, ada dua tiga lingkar ular besar di leher-leher nan jenjang, juga di tempat-tempat lainnya, yang rasanya mudah tersingkap.

III
Dunia seperti jamuan saudagar besar, kawan. Satu hari dengan semalam pesta besar. Seunggunan makanan. Berkulah-kulah minuman segar. Juga buah-buahan manis, merah, kuning, hijau mengkilat karena dicuci dengan pembersih anti kuman ternama. Satu minggu dengan berpuluh-puluh sapi yang dikorbankan untuk mengundang saudagar-saudagar lainnya. Sementara, dibalik dinding dari kelambu tenda sang saudagar, berbaris-baris pengemis meneguk air liur dengan sorot mata lapar yang ganas. Berjejer tulang-tulang minta ditambah daging.

2010


TENTANG Dedi Supendra
Lahir di Pekanbaru, 20 Maret 1989. Mahasiswa Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Padang. Ia bergiat di Surat Kabar Kampus Ganto UNP. Karya-karyanya pernah dimuat di Haluan, Padang Ekspres, Singgalang, Kompas.com, dan Harian Aceh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar