Senin, 11 November 2013

Wajah-wajah dalam Ingatan



CERPEN R Yulia
Mereka kembali berbisik-bisik. Di sudut. Menjauhkanku lewat tatapan setajam clurit–seakan memberi ancaman tentang harga mahal yang harus kubayar jika coba menguping atau memperpendek jarak terhadap mereka—lipatan dahi dan tarikan garis mengetat pada bibir. Aku berpaling. Tak hendak mencuri lihat, mencuri dengar atau bahkan mencuri hati.
Sekujur tubuhku melekat erat pada jeruji besi, membatasi kehendak liar yang menggelepar-gelepar dalam kepala, meronta-ronta seperti babi hutan yang tertombak. Hawa dingin yang mengalir lewat genggaman tangan, kulit wajah, dada dan pahaku, membekukan seluruh keinginanku pada temperatur nol absolut. Termasuk keinginan menemuinya!

Sebenarnya, tanpa kumaui pun bisik-bisik mereka singgah samar-samar. Bertandang bersama liukan angin yang gemulai, menerobos liang pendengaran, meski pada akhirnya keluar dari liang lainnya dengan sisa enggan yang menggumpal. Setengah menggerutu pada penjaga benak yang tak mempan dirayu.
Kupikir, ketimbang menyimak bisik-bisik separuh rahasia milik mereka yang bersila di sudut lembab itu, lebih baik kukerahkan para pemanggil ingatanku untuk mengembalikan wajahnya di hadapanku. Wajah lembut dengan bibir meranum tanpa polesan, sepasang alis sabit yang tak terlalu tebal, hidung membulat—yang membuat senyumku terlepas begitu saja saat melihatnya—dan geligi kelinci. Aku seperti perawan yang berbaring telanjang di hamparan rumput surga bila mengingatnya. Begitu lega dan bebas.
Sayang, mengingat wajahnya tak sekadar menghadirkan bunga-bunga, sekaligus menarik kumbang-kumbang, ulat dan dedaunan busuk yang tiarap di sekitarnya. Kumbang-kumbang yang menyengat, ulat-ulat yang menyebar gatal dan dedaunan busuk yang dengan cepat menularkan kebusukannya ke sekujur tubuhku. Kebusukan yang mengamputasi akal dan nalarku, sehingga terdampar di balik jeruji besi ini. Berkumpul bersama empat kepala di sudut sana—yang masih juga mengawasiku di tengah kalimat-kalimat yang mereka keluarkan— dan menumpuk selapis demi selapis kebusukan lain hari per harinya.
Meski beberapa petik kalimat mereka singgah di kepalaku dan menggoda rasa ingin tahu, entah kenapa ingatanku lebih memilih untuk singgah kembali ke masa lalu. Pada wajah lembutnya, pada lelaki bertubuh kekar dengan tato sepasang angsa di lengan, pada cengkeraman, peluk dan ciuman kasar, pada telunjuk yang menuding lalu lunglai dan suara mengerang sekarat yang membuntuti mimpiku selama empat puluh malam! Ah, kalau saja lelaki bertato itu tak menyakiti pemilik wajah lembut yang kupuja, tentu badik di tanganku tak perlu mengakar di jantungnya. Dan aku juga tak perlu terdampar di sini. 
“Jadi, kita akan melakukannya malam ini?” Suara-suara di belakang punggungku, singgah begitu saja. Menindih wajah-wajah yang berkelebat sebelumnya di pelupuk mata.
“Ya iyalah. Memangnya kau betah berlama-lama di sini?”
“Tapi kalau rencana kita gagal, kan bisa gawat, Bang. Risikonya besar.”
“Itu urusan belakangan. Jangan dipikirkan. Yang penting, semuanya sudah  dipersiapkan dengan teliti. Dan aku yakin, segalanya akan berjalan lancar. Sudah kupelajari situasinya. Nanti malam kita bergerak.”
“Dia gimana?” Aku tahu siapa “dia” yang dimaksudkan.
“Dia kita kasih kenang-kenangan istimewa untuk tutup mulut.”
Tawa sumbang sontak pecah memenuhi ruangan, memekakkan telinga. Aku tahu apa yang mereka maksudkan.
Malam merambat perlahan dan menghadirkan dingin lebih dari sekedarnya. Tak hanya kulit, aku bahkan merasakan gigil hingga ke tulang sumsum. Ruangan ini tak terlalu luas. Bahkan menjadi sedikit sesak dengan kain sarung lusuh yang disampirkan menutup jeruji. Pijar suram dua puluh lima watt, semakin mengaburkan bayang-bayang yang ingin kubangun di tepi pelupuk mata. Berlima tanpa sepatah kata, bagiku lebih menakutkan ketimbang terdampar di pekuburan. Empat lelaki di belakangku seperti menghitung dengus napas mereka sendiri. Sementara aku, sibuk memainkan sempoa di benak dan menimbang-nimbang, haruskah aku menemuinya?
Lalu langkah-langkah malas perlahan mengisi ruang. Gemanya mendekatiku.
“Ayo Han, beri kami sedikit penawar malam ini. Kau tahu, angin di luar begitu lembab dan tajam. Jadi, kasihanilah kami…”
Aku dapat merasakan ancaman dari suara yang berdesis di belakang telingaku. Sebuah rengkuhan mengurungku. Kudukku berjaga. Napas yang memburu di belakangku menghidupkan letupan-letupan yang secepat kilat menghanguskan sisi manusia di diriku. Dan aku membiarkan semuanya berjalan seperti hantu-hantu yang bergentayangan di luar sana.
Tak kurasakan sama sekali cengkeraman yang menghunjam tajam pada belikat, tubuh yang didorong dan terhempas berulang ke dinding, lenguhan kasar dan sebidang dada kokoh yang menghimpitku. Bahkan, sejumput sesak pun tak kurasakan kali ini. Padahal, malam-malam sebelumnya aku butuh suplai udara dalam jumlah besar untuk mengatasi rasa jijikku pada lenguh dan kuyup peluh yang ikut membanjiri tubuh. Tubuhku dan lelaki-lelaki di belakangku.
Malam ini aku membatu, mengeras bersama tumbuhnya sulur-sulur harap di kepala. Aku sudah memutuskan!
Jeda beberapa waktu, membuatku menunggu. Wajahku datar mencium dinding kasar. Sayup-sayup telingaku menangkap suara aba-aba di luar. Pergantian tugas jaga. Aku masih menunggu, dengan tubuh separuh terbuka. Aku mencuri intai. Seorang lelaki berbaring di dekat kakiku. Matanya terpejam–meski aku yakin ia tak sedang terlelap—napasnya masih setengah memburu, lidahnya sesekali menjumput gumpal liur di sudut bibir. Sementara tiga lelaki lain, berkumpul di sudut ruangan yang remang-remang, tepat di bawah eternit yang menganga. Sesekali, salah seorang dari ketiganya bergantian tengadah, menitipkan serabut-serabut pertanyaan. Apa yang akan terjadi lepas malam ini?
“Ayo.” Lelaki yang tadi berbaring, beranjak memberi perintah dalam bisik samar.
“Ingat! Tutup mulut dan tidurlah dengan nyenyak.”
Meski ia tak menatapku, aku paham kalau kalimat itu ditujukan padaku. Intonasi yang tebal dan tajam adalah perintah mutlak. Tadinya aku akan mengangguk, namun kemudian sesuatu mengubah gerak kepalaku menjadi sebuah gelengan. Empat dahi yang mengernyit dan empat pasang mata penuh tanda tanya, kini mengarah kepadaku.
“Apa maksudmu?” tanya itu mencelat dari pemilik wajah tirus. Sekelebat bayangan berkelebat. Wajah yang lembut, bibir ranum, alis sabit, hidung bulat dan geligi kelinci, sempurna membingkai ingatan.
“Aku ikut.”
Empat sekawan itu terperangah. Ah mereka, mengapa selalu bereaksi seragam? Manusia-manusia menjenuhkan, umpatku dalam hati.
“Sepertinya dia mulai gila, Bang.”
“Ya, si banci mulai gila.”
“Bukankah hukumanmu tinggal dua bulan lagi? Sudahlah, kau tak perlu ikut-ikut. Di sini saja dan tetaplah bungkam.”
“Ya. Layani saja mereka-mereka yang membutuhkan bokongmu. Bukankah itu lebih menyenangkan?” Gelak mereka berhamburan dengan liar.
Aku menelan ludah yang terasa masam. Tapi tak ada alasan untuk mundur. Tidak sedikitpun. Bukankah aku sudah terbiasa dengan neraka yang tercipta di balik jeruji ini? Lantas, apa yang membuatku harus kecut menghadapi ancaman neraka di luar sana?
Aku menggeleng. Wajah lembut itu semakin merangsek dalam fikiranku. Dua bulan memang tak lama. Tapi, enam puluh hari adalah waktu yang akan membentangkan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan untuk tak pernah melihatnya lagi selamanya.
“Kau yakin?” Aku mengangguk.
Empat lelaki di depanku saling berpandangan, lalu mengedikkan bahu dengan ragu.
 “Terserah kaulah! Resiko tanggung sendiri. Tapi ingat, jangan merepotkan! Hanya lelaki sejati yang terbiasa dengan cara-cara seperti ini.”
Kalimat itu diucapkan dengan cibiran dan tatapan sinis. Tak berpengaruh apa pun untukku. Toh, sudah sejak lama aku kehilangan identitas dan harga diri sebagai manusia. Bahkan aku pikun dengan kelelakianku sendiri. Mungkin, saat menemuinya nanti baru aku akan kembali pada wujud semula, meski alpa seperti apa detilnya..
Derap langkah petugas jaga baru lima menit menjauh. Raung anjing hutan yang menggema dari kejauhan menjadi hitungan awal memulai segalanya dengan cepat dan tanpa kesalahan. Dari kaos-kaos yang disobek dan dijalin kuat dengan empat lembar kain sarung lusuh, lelaki-lelaki yang bergelantungan memanjat eternit, merangkak perlahan di sepanjang loteng yang penuh hamparan sarang –laba-laba, semut, nyamuk, cicak, dan lainnya-, genteng yang jebol, tembok tebal beruntai kawat berduri karatan dan sebuah lompatan yang menjadi akhir dari rangkaian skenario yang telah ditetapkan.
Aku yang dianggap ‘bukan lelaki sejati’, sedikit diuntungkan dengan posisiku yang tak berada di urutan terakhir. Sayangnya, aku tetap saja merepotkan mereka. Aku bukan pelompat handal, meskipun mampu memanjat tembok dan tak berteriak ketika hunjaman kawat berduri menggores beberapa bagian tubuh. Darah yang mengucur mulai menggenapi ketegangan syaraf-syarafku. Dan itu buruk untuk memulai sebuah lompatan terburu-buru. Aku mendarat dalam ketidaksempurnaan dan memercik gaduh. Tiga lelaki di depanku sudah menghilang dalam gulita yang pekat. Hanya seorang yang masih tersisa. Tapi ia pun menciptakan sial dengan kegaduhan berikutnya saat menimpa tubuhku.
 “Kau……!” Gerutunya tak berlanjut. Sirine yang meraung-raung di belakang kami, memaksanya bangkit dengan susah-payah dan lari terseok-seok menerobos kegelapan, menyusul tiga temannya. Meninggalkanku.
Aku mencoba mengabaikan rasa sakit ketika beberapa lampu mulai menerangi sekitar dan mengunciku. Raut lembut itu kembali berkelebat. Aku tersenyum, mengumpulkan kekuatan untuk sekedar bangkit. Kegaduhan dan suara-suara mulai terdengar dari balik tembok di belakangku. Kuseret langkah untuk berlindung dalam gulita yang sedikit menjauh. Lumpur tebal yang melekat di kaki seperti gandul besi yang sedemikian rupa menahan ayunan kakiku. Tapi kelebat raut lembut itu memberiku kekuatan. Aku berjuang dengan seribu keyakinan. Yakin untuk bisa menemuinya, menelusuri lekuk wajahnya, menjentik hidung bulatnya, menikmati senyum bersahaja dari bibir ranumnya dan.
Salak anjing yang bersahut-sahutan di belakangku, menepis bayang-bayang menggairahkan yang menyesaki benak. Aku terjaga dan sadar, ini bukan saat yang tepat untuk membayangkannya. Kuseret paksa langkahku, mengendap-endap di antara batang dan daun-daun jagung yang gemulai. Salak anjing, kegaduhan dan berisik aba-aba semakin mendekat. Aku mulai memaksa seluruh kekuatanku untuk berlari. Berlari…berlari dan terus berlari. Salak anjing semakin riuh. Sahut-menyahut. Sambut-menyambut, berselang-seling dengan satu dua letusan yang memecah hening dan merobek langit.
Sebuah teriakan menggelegar dari balik punggung. Derap langkah, gaduh yang semakin memuncak dan akhirnya sebuah letusan menyalak garang. Sesuatu menerjang pinggangku, memuncratkan cairan, merapikan distribusi hawa panas ke seluruh tubuh. Dan berikutnya, aku seperti kayu lapuk yang roboh memeluk tanah. Kuyup bersama peluh dan darah! Raut lembut di benakku, menggigil dan menguap dalam sekejap. Aku lumpuh..
Ruangan itu tak lebih baik dari sebuah kandang kuda. Papan-papan rapuh bercelah yang menjadi dinding pembatas dengan dunia luar, tak mampu menghalangi masuknya udara dingin yang menggigit. Terlebih dinihari begini. Seorang perempuan –satu-satunya makhluk bernyawa di tempat itu- duduk terkulai di atas jerami tebal yang tertutup secarik kain. Kain itu sudah terlalu lama kehilangan rupa. Seperti pemilik tubuh yang telah beratus-ratus waktu menindihnya tanpa jeda. Seuntai rantai besi yang tertanam di lantai, mengalungi pergelangan kakinya yang menghitam.
Perempuan itu tak ubahnya arca, diam, tanpa ekspresi dan suara. Rambut panjangnya yang masai, berjuntai menutup paras. Hanya dengus samar napasnya yang memberi tanda tentang seutas nyawa yang masih melekat di tubuh. Sesekali kepalanya terangguk-angguk lunglai. Selebihnya, tak ada jejak kehidupan. Apalagi riwayatnya sebagai manusia. Meski dalam ingatan yang semakin buram ia masih bisa merasakan tentang seseorang di masa lampau, yang menguliti raut lembut, bibir ranum, dan hidung bulatnya dengan tatapan penuh minat. Sangat berminat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar