Sabtu, 07 Desember 2013

DEKONSTRUKSI CITRA KEPEREMPUANAN DALAM SASTRA: Dari Budaya Lokal Hingga Global

OLEH Ali Imron A.M. 




Abstrak 
Sosok perempuan dalam karya sastra Indonesia tampil dengan pluralitas budaya dan makna yang kaya nuansa. Sejalan dengan mencuatnya issu gender dan eksisnya kaum wanita pada abad XXI seperti diprediksikan oleh futurolog Naisbitt & Aburdence (1990), citra dan stereotip perempuan dalam sastra Indonesia pun mengalami dinamika yang luar biasa unik dan menarik. 
Permasalahannya adalah bagaimana dinamika prasangka gender dalam sastra Indonesia. Lalu, bagaimana citra perempuan dalam sastra Indonesia dalam perspektif gender, dan bagaimana tipologi suara pengarang laki-laki dan perempuan dalam menyoroti sosok perempuan?
Dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis ideologis dan dengan sampel bertujuan (purposive sample), maka ditemukan bahwa nuansa gender telah lama disoroti oleh para sastrawan kita, setidak-tidaknya dimulai pada roman Sitti Nurbaya karya Marah Rusli pada zaman Balai Pustaka. Sitti Nurabaya merupakan tokoh profeminis yang memprotes ketidakadilan gender yang telah mendarah daging, meskipun idenya tidak radikal. Dia hanya ingin membenahi sistem hubungan laki-laki dan perempuan sebagaimana mestinya.

Citra perempuan dalam sastra semakin berkembang dinamis pada periode Pujangga Baru ketika St. Takdir Alisyahbana menulis Layar Terkembang. Dalam roman  ini Maria dan Tutik menyuarakan kaum perempuan yang mencoba menyejajarkan dirinya dengan kaum laki-laki dalam aktivitas di sektor publik, meskipun masih terbatas oleh hegemoni laki-laki. Gagasan keperempuanan dalam Layar Terkembang itu kemudian didekonstruksi oleh Armijn Pane dengan romannya Belenggu. Di sini tokoh Tini ditampilkan dengan membawa panji-panji gender dan sama sekali tidak terhegemoni oleh laki-laki. Sehingga, Tini memutarbalikkan citra perempuan pada zaman itu. Jika Tono, suaminya, banyak kegiatan dan bekerja di luar rumah, Tini pun banyak melakukan aktivitas di bidang sosial. Suatu keberanian yang luar biasa dari seorang Armijn Pane pada zamannya.
Suara perempuan kemudian tidak terdengar begitu lantang dan tampaknya mengalami kelesuan pada zaman Angkatan 1945. Baru pada tahun 1975 terbitlah Sri Sumarah karya Umar Kayam yang lebih menyoroti sosok perempuan Jawa yang “sumarah”, bekti dan setia kepada suami (alm.), sabar, serba pasrah atas apa yang terjadi dalam dirinya. Namun, akhirnya Sri, tokoh cerita ini, ‘memberontak’ juga terhadap kemapanan moral wanita dan etika sosial, ketika bertemu dengan pemuda pelanggannya. Senada dengan Sri Sumarah, pada tahun 1981 muncullah Pengakuan Pariyem Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, sebuah prosa liris  karya Linus Suryadi AG. Dalam karya ini, Pariyem–seperti subjudulnya—, ditampilkan sebagai wanita pembantu rumah tangga yang mencerminkan sosok wanita Jawa. Ia pasrah terhadap kemauan Den Baguse, pemuda anak majikannya, meskipun ternyata Pariyem yang tak berdaya itu juga ‘memprotes’ perlakuan majikannya itu dengan ‘menyerahkan dirinya’ lebih dulu kepada Mas Kliwon pacarnya, sebelum kepada anak majikannya itu. Di satu sisi secara gamblang Linus Suryadi menyoroti ketidakadilan gender sekaligus dunia batin seorang wanita Jawa, yang pada masa sekarang masih ‘tersisa’ di sebagian masyarakat Jawa. Tidak jauh berbeda dengan dua karya itu, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan triloginya juga menggugat bias gender dalam budaya keperempuanan lokal.
Cita dan citra perempuan Indonesia dalam sastra kemudian meningkat tajam pada kumpulan puisi Wanita Penyair Indonesia yang disunting oleh Korrie Layun Rampan (1997). Pada kumpulan puisi karya tiga puluh wanita penyair ini terlihat sekali gagasan penyetaraan gender seperti terlihat dalam “Aku Hadir” karya Abidah El-Khalieqy, dalam “Perjalanan Para Lelaki” karya Oka Rusmini, dan lain-lain. Suara keperempuanan berbalik sangat tajam pada novel fenomenal Saman (1998) dan Larung (2001) karya Ayu Utami seiring dengan era reformasi di Indonesia. Pada Saman, Ayu Utami lewat tokoh-tokoh ceritanya seperti Cok, Yasmin, Sakuntala, dan Laila, secara blak-blakan memprotes perlakuan deskriminatif atas kaum perempuan. Pandangan stereotip yang menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki digugatnya. Bahkan, gugatan ‘lantang’ itu sering dipandang ‘menembus batas’ etika Timur atau dianggap kebablasan oleh sebagian masyarakat pembaca. Terlebih pada Larung karya lanjutannya, nuansa feminisme Barat terasa sekali mendominasi cerita. Terlepas dari hal itu, Saman dan Larung dapat dikatakan sebagai karya sastra Indonesia pertama yang berani mendobrak tradisi keperempuanan Indonesia.
Dari analisis di atas dapat dikemukakan, bahwa citra keperempuanan dalam sastra Indonesia dapat diklasifikasi menjadi sebagai berikut: (1) Merombak sistem hubungan laki-laki dan perempuan agar harmonis, dalam menentukan pilihan hati seperti dalam Sitti Nurbaya pada zaman Balai Pustaka; (2) Memprotes ketidakadilan gender dalam melakukan aktivitas di sektor publik seperti yang diwakili Layar Terkembang dan Belenggu pada zaman Pujangga Baru; (3) Menggugat ketidakadilan gender dalam budaya lokal (Jawa) yang menempatkan perempuan sebagai manusia kelas dua, yang diwakili Sri Sumarah, Pengakuan Pariyem, dan Ronggeng Dukuh Paruk pada dekade 1970 hingga 1980-an; dan (4) Suara keperempuanan global yang menggugat dan merupakan rekonstruksi atas nilai-nilai tradisi dunia perempuan, yang diwakili oleh kumpulan puisi Wanita Penyair Indonesia, Saman dan Larung pada akhir dekade 1990-an atau 2000.  
Dari segi sastrawannya, terlihat bahwa justru sastrawan prialah yang banyak menyuarakan keperempuanan seperti tampak pada Marah Rusli, St. Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, kemudian Umar Kayam, Linus Suryadi. Baru pada dekade 1990-an muncul tiga puluh wanita penyair Indonesia dan novelis Ayu Utami. Oleh Korrie Layun Rampan Ayu Utami dipandang sebagai salah satu pelopor Angkatan 2000 Sastrawan Indoensia.
Dari nuansa keperempuanan yang digarap, pengarang pria banyak menyoroti ketidakadilan gender terutama dalam sistem hubungan laki-laki dan perempuan, lalu kebebasan beraktivitas dalam sektor publik, nilai budaya lokal yang sangat deskriminatif atas perempuan. Adapun pengarang wanita selain menyoroti bias gender dalam hubungan laki-laki dan perempuan, juga ‘keberanian’ luar biasa dalam menggugat dan merekonstruksi dunia keperempuanan sendiri, yang terkadang dipandang kebablasan oleh sebagian kaum perempuan sendiri.
Pendahuluan
Kajian perempuan di bidang sastra akhir-akhir ini mulai mengemuka, seiring dengan mencuatnya issu gender, termasuk di Indonesia. Hal ini dapat dipahami sejalan dengan makin maraknya studi tentang wanita di berbagai kalangan. Terlebih pada institusi perguruan tinggi, kajian perempuan demikian kuat terbukti dengan berdirinya berbagai Pusat Studi Wanita (PSW) yang kini lebih populer dengan Pusat Kajian Gender (PKG). 
Menguatnya issu gender rupanya berdampak luas terhadap timbulnya kesadaran di kalangan para pemerhati sastra. Kaum perempuan yang sejak lama sering tersisih, termarginalisasi dalam kehidupan masyarakat, terjadi pula dalam dunia sastra. Karya-karya pengarang wanita jarang mendapatkan tempat yang ‘berwibawa’ di kalangan sastrawan sezamannya. Padahal karya-karya mereka sebenarnya juga tidak kalah pentingnya. Selain itu, citra wanita dalam karya sastra juga sering ditampilkan sebagai manusia kelas dua.
Demikian pula –dengan beberapa pengecualian misalnya yang dilakukan oleh Korrie Layun Rampan (1997), Tuti Heraty (1998), dan Sugihastuti, 2000)—masih jarang kritikus sastra mengkaji secara khusus karya-karya perempuan, suara-suara mereka, pikiran, perasaan, dan jeritan serta ideologi mereka yang selama ini tersubordinasi kaum laki-laki. Benarlah pandangan Djajanegara (2000: 17-18), bahwa baik kanon sastra tradisional maupun pandangan tentang manusia dalam karya sastra pada umumnya mencerminkan ketimpangan yang meminggirkan peran kaum perempuan. Sehingga, ideologi gender dalam sastra terkesampingkan atau kurang diperhatikan oleh para kritikus sastra dunia kaum laki-laki.
Sejalan dengan itu, jika dicermati sebenarnya parsangka gender telah lama diungkapkan oleh para sastrawan kita setidak-tidaknya mulai zaman Balai Pustaka. Bahkan, jika ditarik mundur lagi, prasangka gender telah muncul pada karya-karya sastra klasik (Abdulhadi W.M,, 2001). Meskipun istilah prasangka gender belum popuker bahkan belum ada pada zaman Balai Pustaka (dekade 1920-an), namun beberapa sastrawan kita telah memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap prasangka gender. Demikian pula pada zaman Pujangga Baru, prasangka gender terasa lebih menguat lagi, dan mencapai pincaknya pada dekade 1990-an.
Paparan di atas menunjukkan, bahwa sosok perempuan dalam karya sastra Indonesia tampil dengan pluralitas budaya dan makna yang kaya nuansa. Sejalan dengan mencuatnya issu gender dan eksisnya kaum wanita pada abad XXI seperti diprediksikan oleh futurolog Naisbitt & Aburdence (1990), citra dan stereotip perempuan dalam sastra Indonesia pun mengalami dinamika yang luar biasa unik dan menarik. Unik, karena citra keperempuanan berperspektif gender dalam sastra itu terlihat sangat variatif dari segi ideologisnya. Menarik, karena dunia keperempuanan dalam karya sastra justru digugat dengan keberanian luar biasa dan blak-blakan oleh pengarang wanita.
Dalam kajian sastra Indonesia, studi tentang perempuan terasa makin banyak dilakukan dengan diterapkannya kritik sastra feminis yang mula-mula berkembang di Amerika pada beberapa dekade yang lalu. Kritik sastra feminis yang merupakan wujud gugatan dari kaum perempuan atas termarginalisasinya para pengarang wanita, kini semakian memperoleh tempatnya. Demikian pula dalam kajian dekonstruksi citra keperempuanan dalam sastra Indonesia ini, kritik sasrtra feminis akan dipakai sebagai pisau analisisnya.
Permasalahannya adalah bagaimana dinamika prasangka gender dalam sastra Indonesia. Lalu, bagaimana citra perempuan dalam sastra Indonesia dalam perspektif gender, dan bagaimana tipologi suara pengarang laki-laki dan perempuan dalam menyoroti sosok perempuan?
Pendekatan Kritik Sastra Feminis dan Dekonstruksi
Kritik sastra feminis merupakan salah satu disiplin ilmu kritik sastra yang lahir sebagai respons atas berkembangnya feminisme di berbagai negara. Feminisme adalah gerakan kaum perempuan yang menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, yang meliputi semua aspek kehidupan baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya (Djajanegara, 1995: 16). Jika perempuan sederajat dengan laki-laki, maka mereka memiliki hak untuk menentukan dirinya sendiri, seperti halnya kaum laki-laki selama ini. Inilah yang disebut oleh Ihromi (1995: 441). Jadi, feminisme merupakan gerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan menentukan dirinya sendiri (Sugihastuti, 2002: 61).
Feminisme bukan merupakan upaya pemberontakan terhadap laki-laki, upaya melawan pranata sosial seperti institusi rumah tangga  dan perkawinan, ataupun upaya perempuan untuk mengingkari kodratnya, melainakan lebih sebagai upaya untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi perempuan (Fakih, 1997: 78-79). Gerakan feminisme merupakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem dan struktur sosial yang tidak adil menunju keadilan bagi kaum laki-laki dan perempuan. Adapun sasaran feminisme bukan sekedar masalah gender, melainkan masalah ‘kemanusiaan’ atau memperjuangkan hak-hak kemanusiaan (Awuy, 1995: 88). 
Hal yang tidak dapat dilepaskan dari kritik sastra feminis adalah jiwa analisisnya, yakni analisis gender. Dalam analisis gender, kritikus harus dapat membedakan konsep gender dengan seks (jenis kelamin). Gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum pria dan wanita  yang dikonstruksi secara sosial dan kultural melalui proses panjang Jadi, gender merupakan kontruksi sosio-kultural yang pada dasarnya merupakan interprertasi kultural atas perbedaan jenis kelamin (Fakih, 1996: 7-8). Misalnya, bahwa wanita itu dikenal lemah lembut, cantik, sering mengedepankan perasaan (emosional), pemalu, setia, dan keibuan. Sedangkan pria dianggap kuat, gagah, sering mengedepankan akal (rasional), agresif, tidak setia, jantan dan perkasa. Jadi, gender menurut Oakley (dalam Fakih,1997: 71-72) merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan biologis dan kodrat Tuhan. Oleh karena itu,    seperti pandangan Gailey (1987), bahwa dari kacamata sosiologis, gender tidak bersifat universal. Ia bervariasi dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, dari kelas ke kelas. Walaupun demikian, ada dua elemen gender yang bersifat universal, yakni: (1) Gender tidak identik dengan jenis kelamin, dan (2)  Gender merupakan dasar dari pembagian kerja di semua masyarakat.
Ada banyak ragam kritik sastra feminis, antara lain: (1) kritik ideologis, (2) kritik yang mengkaji penulis-penulis wanita, (3) Kritik sastra sosial atau Marxis, (4) Kritik sastra feminis-psikoanalitik, (5) Kritik sastra feminis-lesbian, (6) Kritik sastra feminis-ras (etnik). Sesuai dengan tujuan kajian ini dan mengingat berbagai keterbatasan, yang akan diterapkan adalah kritik sastra feminis ideologis dalam arti yang lebih longgar yang akan diterapkan dalam kajian ini. Artinya, kritik ideologis melibatkan pembaca wanita dan menyoroti citra dan stereotipe wanita dalam karya sastra, namun dapat saja kritik ideologis dilakukan oleh pembaca pria. Dalam hal ini, kajian akan memusatkan perhatiannya pada citra dan stereotipe wanita dalam karya sastra Indonesia dari zaman Balai Pustaka (1920-an) sampai dengan zaman global (Angkatan 2000).
Dalam teks sastra, karena sudah menyerap nilai-nilai patriarkal, mungkin saja pengarang wanita menciptakan tokoh-tokoh wanita dengan stereotipe yang memenuhi atau tidak memenuhi norma masyarakat patriarkal. Namun, dalam karya-karya pengarang pria dapat juga menunjukkan tokoh-tokoh wanita yang kuat dan mungkin sekali justru mendukung nilai-nilai feminis. Misalnya, tokoh wanita dilukiskan aktif dalam kehidupan masyarakat, cerdas, intelek, progresif, berani, lincah, dan mandiri. 
Novel sebagai sebuah cerita jika dipertentangkan dengan alur mengacu pada peristiwa-peristiwa dalam urutan yang kronologis. Pengertian ini sejalan dengan pengertian  diegesis. Dalam teori semiotik, cerita atau diagesis  ini merupakan sebuah produk yang dihasilkan oleh pembaca dengan berlandasrkan pada tanda-tanda  yang terdapatdi dalam teks meskipun tidak pernah dapat sepenuhnya dikendalkan oleh tanda-tanda tersebut (Budiman, 1999: 15).
Seperti halnya mimesis, diegesis merupakan aspek-aspek dari tindakan-tindakan atau peristiwa-peristiwa. Secara lebih sederhana dapat dikatakan bahwa mimesis adalah hal-hal yang ditunjukkan atau diperagakan, sedangkan diegesis adalah hal-hal yang dikisahkan atai dilaporkan. Jadi, diegesis adalah sebuah sekuens tindakan-tiondakan atau peristiwa-peristiwa di dalam teks naratif yang dfapat dipahami oleh pembaca (Budiman, 1999: 24).
Teori dekonstruksi diterapkan pula dalam kajian ini. Dekonstruksi adalah metode pembacaan teks secara teliti, yakni dengan menginterogasi teks, merusaknya melalui pertahannya, dan mencari oposisi biner yang tertulis dalam teks (Sarup, 1993: 50). Adapaun oposisi biner di sini mengacu pada suatu pasngan kata-kata yang saling beroposisi antara satu dengan lainnya yang bersifat hirarkis yang hirarkisnya itu bersifat kondisional. Dikatakan kondisional karena dalam pandangan post-strukturalisme bahasa dipandang sebagai tidak stabil, dapat berubah-ubah setiap saat. Berbeda halnya dengan oposisi biner dalam strukturalisme yangoposisi-oposisinya dibayangkan bersifat atetap dan setara.
Dalam praktiknya, dekonstruksi meliputi pembalikan dan pemindahan (Sarup, 1993: 51). Dalam langkah pembalikan, oposisi-oposisi hirarkis dirobohkan. Dalam fase berikutnya, pembalikan ini harus diopindahkan, istilah lainnya ‘di bawah penghapusan’ (sous rature). Teks yang dibaca secara dekoinstruksi akan terlihat acuannya melampaui dirinya sendiri, referen itupada akhirnya dapatmenjadi teks lain. Seperti halnya tanda hanya dapat mengacu pada tanda-tanda lain, teks juga hanya dapat mengacu pada teks lain, penyebab suatu jaringan yang dapat dikembangkan untuk waktu yang tidak terbatas, suatu intertekstualitas (Sarup, 1993: 52; lihat Pujiharto, 2001: 7). 
Setelah dilakukan pembacaan secara teliti, di dalam berbagai karya sastra Indonesia ditemukan oposisi-oposisi biner seperti: oposisi antara judul dan cerita; oposisi antara fiksi dan fakta; oposisi antara fiksi dan sains, oposisi antara kartya sastra satu dengan lainnya, dan lain-lain. Namun, sesuai dengan tujuan kajian ini,  dalam tulisan ini hanya akan dikaji oposisi antara karya sastra satu dengan karya sastra lainnya.
Dekonstruksi Citra Keperempuanan dalam Sastra Indonesia
Dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis ideologis dan teori dekonstruksi, maka ditemukan bahwa nuansa gender telah lama disoroti oleh para sastrawan kita, setidak-tidaknya dimulai pada dekade 1920-an yakni pada zaman Balai Pustaka dengan novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Seperti diketahui bahwa novel Sitti Nurbaya mengungkapkan masalah pertentangan adat antara kaum tua dengan kaum muda serta masalah kekerasan dan penindasan atas orang-orang tak berdaya. Masalah-masalah tersebut saling bergayut satu dengan lainnya dan jika ditinjau dengan perspektif feminisme, maka hal itu menyaran pada masalah bernuansa gender dan sekaligus mendorong timbulnya emansipasi kaum perempuan.
Pada masyarakat zaman Sitti Nurbaya (1920-an) yang patrilineal, yang dipandang kodrat perempuan–selain mengandung dan menyusui anak--adalah tugas mengurus rumah tangga  (seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan lain-lain),  mengasuh anak (merawat, membesarkan, dan mendidik), dan melayani (kebutuhan) suami termasuk kebutuhan seks (hlm. 204-205). Dalam bahasa populer aktivitas perempuan seperti itu hanyalah pada sektor domestik yang aktivitasnya berkutat ‘dari dapur ke sumur, dan dari sumur ke kasur’, begitu seterusnya. Dalam budaya Jawa tugas atau aktivitas perempuan domestik itu terkenal dengan ungkapan masak, macak, lan manak (‘memasak, berdandan/ berhias diri, dan melahirkan anak’). Dalam Sitti Nurbaya, perempuan tidak boleh bekerja di sektor publik (di luar rumah). Sebaliknya laki-laki tidak dibenarkan turut campur tangan dalam pekerjasan domestik (di dalam rumah tangga), sebab laki-laki memiliki aktivitas dan tugas di sektor publik.
Sitti Nurbaya menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki baik di dalam maupun di luar rumah. Di rumah ia terpaksa melayani laki-laki yang tidak dicintainya, Datuk Maringgih (hlm. 145). Di luar rumah ia menjadi korban pelecehan seksual oleh awak kapal  dan korban fitnah bekas suaminya (hlm. 180-182). Kekerasan seksual yang dilakukan oleh Datuk Maringgih dan awak kapal merupakan kekerasan akibat superioritas laki-laki atas perempuan. Berbagai tindak pelecehan seksual dan perkosaan terjadi, menurut Diarsi (1992: 62) karena adanya anggapan bahwa identitasa dan seksualitas perepmpuan terletak pada pihak yang harus dikuasai, ditundukkan, dan diperdayakan.  
Sitti Nurabaya merupakan tokoh profeminis yang memprotes ketidakadilan gender yang telah mendarah daging. Meskipun ide keperempuanannya tidak radikal, Sitti Nurbaya telah mampu membangkitkan semangat gender bagi kaum perempuan yang tertindas pada zamannya. Tokoh Sitti Nurbaya telah tampil sebagai simbol perempuan yang ingin membenahi sistem hubungan laki-laki dan perempuan sebagaimana mestinya. Misalnya, kebebasan kaum perempuan dalam memilih jodoh dan/atau menentukan calon suami, melakukan aktivitas di luar rumah, dan lain-lain. 
Citra perempuan dalam sastra Indonesia semakin berkembang dinamis pada periode Pujangga Baru ketika St. Takdir Alisyahbana menulis novel Layar Terkembang. Novel ini tampaknya mendekonstruksi tokoh Sitti Nurbaya yang yang ditampilkan Marah Rusli sebagai makhluk yang dengan berbagai acara ditekan oleh kekuatan di sekelilingnya. Sitti Nurbaya merupakan tokoh korban kekerasan. 
Dalam novel Layar Terkembang Tutik menyuarakan kaum perempuan yang mencoba menyejajarkan dirinya dengan kaum laki-laki dalam aktivitas di sektor publik, meskipun masih terbatas oleh hegemoni laki-laki. Tutik ditampilkan sebagai sosok perempuan yang terpelajar (intelek), mahasiswa yang aktif dalam berbagai perjuangan untuk memebebaskan kaum perempuan dari ketertindasan, keterpasungan, dan pembedaan haknya dengan laki-laki. Dia bergabung dalam organisasi perjuangan atau gerakan Putri Sedar yang berusaha memeperjuangkan persamaan hak antara perempuan dengan laki-laki dengan berbagai aktivitasnya (hlm. 137-138).
Layar Terkembang karya pengarang laki-laki telah berhasil mengangkat sosok perempuan yang mengangkat panji-panji gender, yang berwawasan jauh ke depan. Sampai-sampai oleh para kritikus (misalnya Rampan, 1983: 28-29; Damono, dalam Djajanegera, 2000: xi; Sugihastuti,  2001: 232), Tuti dalam novel tersebut dinyatakan sebagai perempuan yang sikap dan cara hidupnya ‘menembus batas’ pada zamannya ketika ia hidup. 
Gagasan keperempuanan yang progresif dalam novel Layar Terkembang itu kemudian didekonstruksi oleh Armijn Pane dengan romannya Belenggu. Di sini Tini, seperti halnya Tuti dalam Layar Terkembang, ditampilkan sebagai tokoh perempuan dengan membawa panji-panji gender dan sama sekali tidak terhegemoni oleh laki-laki. Ia mampu tampil membawa diri sebagai sosok perempuan yang sama sekali di luar bayangan kaum perempuan pada zaman itu.
Dengan kata lain, Tini dalam novel Belenggu memutarbalikkan citra perempuan pada zaman itu. Jika Tono, suaminya, banyak kegiatan dan bekerja di luar rumah dengan profesinya sebagai dokter, Tini pun banyak melakukan aktivitas di bidang sosial denghan memimpin organisasi sosial kemasyarakatan. Suatu keberanian yang luar biasa dari seorang Armijn Pane pada zamannya (hlm. 148-152; 154-156) . Sehingga, dalam konteks ini Damono (dalam Djajanegera, 2000: xi) menyebut tokoh Tini dalam Belenggu, demikian juga Sitti Nurbaya dalam Sitti Nurbaya, Tuti dalam Layar Terkembang, sebagai “perempuan-perempuan perkasa” (meminjam istilah Hartoyo Andangdjaja dalam sebuah sajaknya) yang berpikiran maju, jauh lebih maju daripada tokoh-tokoh laki-laki di sekitar mereka, yang berusaha menjawab berbagaipersoalan yang muncul sebagai akibat dari apa yang kemudian kita kenal sebagai modernisasi.   
Belenggu –dan sebenarnya juga Layar Terkembang—menampuilkan tokoh-tokoh perempuan yang menghadapi dan menjawab persoalan-persoalan universal tentang hubungan antarmanusia baik sebagai warga masyarakat mauoun sebagai individu. Tokoh-tokoh perempuan tersebut mengedepankan upaya ‘pembebasan’ kaum perempuan dari intervensi masalah adat, tradisi, agama, moral, dan konvensio-konvensi lainnya. Tokoh-tokoh itu ditampilkan sebagai pribadi manusia secara utuh menurut eksistensi asasinya tanpa kehilangan kodratnya untuk memilih dan melakukan sesuatu yang disukainya. Sehingga, tokoh-tokoh dalam novel ini terasa inkonvensional pada zamannya. Bahkan, masyarakat belum siap menerima tokoh-tokoh perempuan dengan pribadipribadi semacam itu. 
Karya sastra yang ‘mendendangkan’ suara perempuan kemudian tidak terdengar begitu lantang dan tampaknya mengalami kelesuan pada zaman Angkatan 1945. Barangkali hal ini akibat situasi sosial politik pada masa itu dengan pecahnya revolusi kemerdekaan. Sehingga, karya-karya sastra Indonesia yang lahir pada zaman itu banyak mengangkat nuansa-nuansa sosial politik yang sedang berkembang pada masa itu.
Baru pada tahun 1975 terbitlah Sri Sumarah karya Umar Kayam yang menyoroti sosok perempuan Jawa yang “sumarah”, bekti (berbakti) dan setia kepada suami (alm.), sabar, serba pasrah atas apa yang terjadi dalam dirinya. Namun, akhirnya Sri, tokoh cerita ini, ‘memberontak’ juga terhadap kemapanan moral wanita dan etika sosial –terlebih moral dan budaya masyarakat Jawa waktu itu--, ketika bertemu dengan pemuda pelanggannya. Pemuda atau tepatnya laki-laki muda yang tampan, bertubuh kuat, dan berperangai halus, telah meruntuhkan benteng pertahanannya sebagai wanita Jawa sejati yang ‘sumarah’ (hlm. 95-100).
Sri, ditampilkan sebagai perempuan Jawa yang semula memiliki kepribadian sebagaimana layaknya perempuan Jawa sejati, akhirnya ‘memberontak’ dan ‘menerjang’ pagar-pagar adat dan moral wanita Jawa yang selama itu digenggamnya sebagai falsafah dan pegangan hidup. Umar Kayam telah berhasil menampilkan sosok wanita Jawa  asli yang akhirnya toh harus menemui kenyataan bahwa dirinya tidak mampu melawan panggilan hati dan suara-suara dari dalam yang bersifat manusiawi, meskipun harus menerjang moral dan adat Jawa, terlebih agama. 
Senada dengan Sri Sumarah, pada tahun 1981 muncullah Pengakuan Pariyem Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, sebuah prosa liris   karya Linus Suryadi AG. Dalam karya ini, tokoh Pariyem, seperti subjudulnya, ditampilkan sebagai wanita pembantu rumah tangga yang mencerminkan sosok wanita yang benar-benar memiliki kepribadian wanita Jawa yang menjadi abdi dalem keluarga bangsawan Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarto yang terhormat. Lugu, kurang terpelajar, sederhana, patuh, setia mengabdi, namun memiliki kepribadian yang cukup menarik justru karena keluguannya itu, di samping tubuhnya yang sintal dan wajah yang menarik.    
Ia pasrah terhadap kemauan Den Baguse, pemuda belia, anak sulung majikannya, ketika pemuda belia yang belum pengalaman itu sering merayunya, bahkan kemudian menggaulinya (hlm. 135-139). Dengan suka rela dia melayani gairah Den Baguse dan dia pun menikmatinya. Namun, terkadang dia yang mengambil inisiatif dengan menggoda Den Baguse, jika dia merasa gatal ketagihan (140-143).
Di balik kepasrahan dan kerelaan Iyem kepada Den Baguse, sebenarnya Iyem yang kelihatannya tak berdaya itu ‘memberontak’ kemapanan adat dan moral sosialnya. Iyem, dengan pengaruh dan bantuan Sokidi Kliwon, kekasihnya,  yang sudah membawa nilai-nilai hidup Metropolitan telah ditampilkan oleh Linus Suryadi A.G. sebagai wanita Jawa yang  berani melawan arus adat dan tradisi masyarakatnya, yang memegang teguh susila. Bahkan, Iyem merupakan simbol wanita Jawa lugu dan tak terpelajar namun memiliki pengalaman yang cukup ‘canggih’ dalam hal hubungan seks dan mampu ‘menaklukkan’ Den Baguse (76-78). 
Iyem juga ditampilkan sebagai  tokoh babu yang lugu dan tak terpelajar  namun sudah pintar dalam masalah hubungan seks untuk ‘mengolok-olok’ dan ‘mencibir’ para bangsawan yang dipandang sebagai ‘lelaki mata keranjang, lelaki hidung belang, asal bathuk klimis dimakan’, tanpa pandang siapa pun “dilahapnya”, namun sama sekali ‘tak berpengalaman’ dalam masalah seks (136-138). Di sini tokoh Iyem dengan sinis ‘menggugat’ dan menjungkirbalikkan nilai-nilai kehormatan keluarga bangsawan (Ngayogyakarta dan lain-lain) yang semestinya terpandang sebagai priyayi terhormat, termasuk dalam hal moral dan susila (hubungan seks).
Ternyata Pariyem yang tak berdaya itu juga ‘memprotes’ perlakuan majikannya itu dengan ‘menyerahkan keperawanannya’ lebih dulu kepada Mas Sokidi Kliwon ‘dhemenan’ atau pacarnya, sebelum kepada anak majikannya itu (hlm. 65-70), dan anak majikannya yang priyayi dan terpelajar itu tidak mengetahuinya. Penyerahan keperawanannya kepada Kliwon dan beberapa kali perselingkuhan ‘dhemenan’-nya dengan Kliwon dapat dipandang sebagai bentuk “pemberontakan” Iyem terhadap kekuatan hegemoni laki-laki yang menjadi anak majikannya.
Di satu sisi secara gamblang Linus Suryadi menyoroti ketidakadilan gender sekaligus dunia batin seorang wanita Jawa, yang pada masa sekarang masih ‘tersisa’ di sebagian masyarakat Jawa. Tidak jauh berbeda dengan dua karya itu, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dan triloginya (Lintang Kemukus Dini Hari dan Jentera Bianglala) juga menggugat bias gender dalam budaya keperempuanan dalam balutan budaya lokal. Jika Iyem menyerahkan ‘keperawanannya’ kepada Kliwon pacara ‘dhemenannya’ atau teman berselingkuhnya sebelum digauli Den Baguse, maka Srintil menyerahkan ‘keperawanannya’ kepada Rasus sang pacar, kekasih yang dicintainya, sebelum Srintil harus mengikuti upacara ‘bukak klambu’ (membuka klambu). ‘Bukak klambu’ merupakan sebuah upacara ritual untuk memperebutkan ‘keperawanan’ sang calon ronggeng (Srintil) dengan sejumlah uang dan untuk mengukuhkan dirinya sebagai seorang ronggeng.
Sebagai ronggeng, tokoh Srintil tampil sebagai perempuan yang berani memberontak terhadap tradisi dunia Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam halini, meskipun dalam tradisi seorang ronggeng tidak dibenarkan mengiukatkan diri dengan seorang lelaki, ternyata Srintil tak dapat melupakan Rasus, kekasihnya. Ketika Rasus menghilang dari Dukuh Paruk, jiwa Srintil terkoyak. Srintil tidak dapat menerima keadaan ini dan memberontak dengan caranya sendiri. Dia tegar dan berani melkengkahi ketentuan-ketentuan yang telah lama mengakar dalam dunia peronggengan, terutama dalam masalah hubungan antara seorang ronggeng dengan dukunnya. 
Ketika menjelang usia dua puluh, kesejatian diri Srintil mulai teguh. Dia bermartabat, tidak lapar seperti kebanyakan orang Dukuh Paruk, dan menampik laki-laki yang tidak disukainya. Sesuatu yang di luar tradisi dunia peronggengan, sebab tradisi di dunia peronggengan memandang ronggeng sebagai ‘milik bersama’ siapa pun lelaki yang sanggup membayarnya. Hal inilah yang diberontak oleh Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk dan triloginya. Sebuah dekonstruksi suara keperempuanan yang sungguh berani pada lingkungannya. 
aik tokoh Sri dalam Sri Sumarah, Iyem dalam Pariyem Dunia Batin Seorang Wanita Jawa maupun Srintil dalam trilogi karya Ahmad Tohari,  kesemuanya mengusung panji-panji gender meskipun dengan halus, namun terasa tajam mengiris, dan ironis.
Cita dan citra perempuan Indonesia dalam sastra kemudian meningkat tajam pada kumpulan puisi Wanita Penyair Indonesia yang disunting oleh Rampan (1997). Pada kumpulan puisi karya tiga puluh wanita penyair ini terlihat sekali gagasan penyetaraan gender seperti terlihat dalam “Aku Hadir” karya Abidah El-Khalieqy, dalam “Perjalanan Para Lelaki” karya Oka Rusmini, dan lain-lain.  Perhatikan sajak “Aku Hadir” karya Abidah El-Khalieqy berikut:

            Membara tanganku mengenggam pusaka, suara diam
            Menyaksikan pertempuran memperanakkan tahta
            Raja-raja memecahkan wajah, silsilah kekuasaan

            Aku perempuan yang merakit titian
            Menabur lahar berapi di bukit sunyi
            membentangklan impiandi ladang-ladang  mati
            musik gelisah dari kerak bumi

            membawa kemudi
            panji matahari
            Aku perempuan yang kembali
            Dan berkemas pergi
                                   
Suara keperempuanan berbalik sangat tajam pada novel fenomenal Saman (1998) dan Larung (2001) karya Ayu Utami seiring dengan era reformasi di Indonesia. Pada Saman, Ayu Utami lewat tokoh-tokoh ceritanya seperti Cok, Yasmin, Sakuntala, dan Laila, secara blak-blakan memprotes perlakuan deskriminatif atas kaum perempuan baik dalam hubungan lelaki dan perempuan maupun dalam masalah seks. Pandangan stereotip yang menempatkan perempuan sebagai subordinat laki-laki digugatnya. Bahkan, gugatan ‘lantang’ itu sering dipandang ‘menembus batas’ etika Timur atau dianggap kebablasan oleh sebagian orang. Sepenggal  cerita dari Saman karya Ayu Utami berikut memperlihatkan hal itu:
Tubuhku menari. Sebab menari adalah eksplorasi yang tak habis-habis dengan kulit dan tulang-tulangku, yang dengannya aku rasakan perih, ngilu, gigil, juga nyaman. . Dan kelak ajal. Tubuhku menari. Ia menuruti bukan nafsu  melainkan gairah. Yang sublim. Libinal. Labirin (hlm. 115-116).
Di sini dikota ini, malam hari ia mengikatku pada tempat tidur dan memberi aku dua pelajaran pertamaku tentang cinta. Inilah wejangannya. Pertama, hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. Perempuan yang memngejar-ngejar lelaki pastilah sundal. Kedua. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas, dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. Itu dinamakan perkawinan. Kelak, ketika aku dewasa, aku menganggapnya persundalan yang hipokrit (hlm. 120-121).
Dibandingkan dengan karya-karya sastra Indonesia sebelumnya, Saman dapart dikatakan mendekonstruksi terhadap karya sastra yang ada selama ini dalam menampilkan bias gender, mendobrak dominasi lelaki atas perempuan. Terlebih pada Larung karya lanjutannya, nuansa feminisme global terasa sekali mendominasi cerita. Justru melalui tokoh-tokoh perempuannya yakni Cok, Sakuntala, Yasmin, dan Laila,  masalah seks yang selama ini dalam masyarakat “seolah-olah” menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan secara terbuka –bahkan dalam karya sastra sekali pun--,  dalam Larung diperbincangkan dengan  bebas, gamblang, dan lugas, tanpa terkesan seronok dengan eksploitasi bahasa yang luar biasa memikat.
Bagaimanapun, Saman (1998) kemudian disusul Larung (2001) karya Ayu Tami dapat dikatakan sebagai karya sastra Indonesia pertama yang berani mendobrak tradisi keperempuanan Indonesia dalam menggugat bias gender. Bahkan, Saman dan Larung mungkin tak berlebihan jika dikatakan mendobrak gaya bercerita yang demikian lugas, terbuka, dan gamblang, tanpa kehilangan ‘keperempuanannya’. Inilah barangkali  dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi yang dilakukan pengarang atas keperempuanan kita pada era global. Perempuan era global memperlihatkan adanya.
Empati Pengarang dalam Menyoroti Keperempuanan dalam Sastra
Dapat dikatakan bahwa perhatian pengarang baik laki-laki maupun perempuan terhadap masalah keperempuanan dalam karya sastranya didorong oleh perasaan cinta dan empati yang besar terhadap dunia keperempuanan Indonesia yang sejak dulu –setidak-tidaknya sejak zaman Balai Pustaka-- hingga kini masih menjadi subordinat laki-laki. Namun dapat pula hal itu karena didorong oleh perasaan prihatin bahkan marah akan dunia keperempuanan yang masih termarghinalisasi dibanding dunia laki-laki. Realitas kehidupan masyarakat kita yang tak terbantahkan hingga kini tampaknya masih demikian adanya. Yang pasti, seiring dengan perkembangan nilai-nilai kehidupan yang sejak dulu masioh berpihak kepada dunia laki-laki, sehingga kaum perempuan belum banyak berkesempatan untuk mengaktualisasikan diri, maka pada masa-masa awal kuantitas pengarang laki-laki lebih banyak daripada pengarang perempuan. Mulai dekade 1970-an –sebagai hasil kemerdekaan Republik Indonesia pasca 1950-an dan kaum perempuan mulai bebas mengenyam pendidikan—maka mulai bermunculan pengarang-pengarang perempuan yang berkiprah dalam mencipta karya sastra.           
Dari segi pengarangnya, pada masa-masa awal pertumbuhan sastra Indonesia, terlihat bahwa justru pengarang prialah yang banyak menyuarakan keperempuanan seperti tampak pada Marah Rusli (Sitti Nurbaya, 1920-an), St. Takdir Alisyahbana (Layar Terkembang, 1930-an), Armijn Pane (Belenggu, 1930-an), kemudian Umar Kayam (Sri Sumarah dan Bawuk, 1975), Linus Suryadi A.G. (PengakuanPariyem Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, 1981), Ahmad Tohari (Ronggeng Dukuh Paruk, 1981; Lintang Kemukus Dini Hari, 1983; dan Jentera Bianglala, 1984). Memang ada beberapa pengarang wanita yang juga menyoroti keperempuanan pada dekade 1970-an namun jumnlahnya relatif sedikit. Misalnya: Nh. Dini dalam Pada Sebuah Kapal, Marga T. dalam Karmila, kemudian Aryanti dalam Selembut Bunga. Tenrtu masih banyak pengarang perempuan yang lain yang belum terseleksi dalam tulisan ini, mengingat berbagai keterbatasan.     
Pada dekade 1990-an muncul tiga puluh wanita penyair Indonesia (1997) dan novelis Ayu Utami dalam Saman, disusul Larung (2001). Oleh Rampan (2000) Ayu Utami disebut-sebut sebagai salah satu pelopor Angkatan 2000 Sastrawan Indoensia yang sangat penting karena karyanya yang fenomenal.
Penutup
Berdasarkan analisis di atas dapat dikemukakan, bahwa citra keperempuanan dalam sastra Indonesia setidak-tidaknya dapat diklasifikasi  menjadi empat macam sebagai berikut: (1) Merombak sistem hubungan laki-laki dan perempuan agar harmonis, dalam menentukan pilihan hati seperti dalam Sitti Nurbaya pada zaman Balai Pustaka; (2) Memprotes ketidakadilan gender dalam melakukan aktivitas di sektor publik seperti yang diwakili Layar Terkembang dan Belenggu pada zaman Pujangga Baru; (3) Menggugat ketidakadilan gender dalam budaya lokal (Jawa) yang menempatkan perempuan sebagai manusia kelas dua,  yang diwakili Sri Sumarah, Pengakuan Pariyem, dan Ronggeng Dukuh Paruk beserta triloginya pada dekade 1970 hingga 1980-an; dan (4) Suara keperempuanan global yang menggugat deskriminasi perempuan dan laki-laki serta merupakan dekonstruksi dan rekonstruksi atas nilai-nilai tradisi dunia perempuan, yang diwakili oleh kumpulan puisi Wanita Penyair Indonesia, Saman dan Larung pada akhir dekade 1990-an (Angkatan 2000).  
Dari segi pengarangnya, terlihat bahwa justru sastrawan prialah yang banyak menyuarakan keperempuanan seperti tampak pada Marah Rusli, St. Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, kemudian Umar Kayam, Linus Suryadi. Baru pada dekade 1990-an muncul tiga puluh wanita penyair Indonesia dan novelis Ayu Utami.
Dari nuansa keperempuanan yang digarap, pengarang pria banyak menyoroti ketidakadilan gender terutama dalam sistem hubungan laki-laki dan perempuan, lalu kebebasan beraktivitas dalam sektor publik, nilai budaya lokal yang sangat deskriminatif atas perempuan. Adapun pengarang wanita selain menyoroti bias gender dalam hubungan laki-laki dan perempuan, juga ‘keberanian’ luar biasa dalam menggugat, mendekonstruksi dan merekonstruksi dunia keperempuanan sendiri, yang terkadang dipandang kebablasan oleh sebagian kaum perempuan sendiri.        


Alisyahbana, St. Takdir.1975. Layar Terkembang. Jakarta: Balai Pustaka.
Budiman, Kris. 1992. “Subordinasi Perempuan dalam Bahasa Indonesia” dalam Susanto,
Budi dkk. (Ed.). Citra Wanita dan Kekuasaan (Jawa). Yogyakarta: Kanisius.
Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka 
Utama.
Kayam, Umar. 1975. Sri Sumarah. Jakarta: Pustaka Jaya.
Pane, Armijn. 1982. Belenggu. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Pujiharto. 2001. “Analisis Dekonstruksi Cerpen Rembulan Terapung di Kolam Renang”.
Makalah dalam Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia XXIII, 9-10
Oktober 2001 di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Rampan, Korrie Layun. 1983. Perjalanan Sastra Indonesia. Jakarta: Gunung Jati.
__________________. 2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Widyasarana Indonesia.
Sarup, Madan. 1993. An Introductory Guide to Post-Structuralism and Postmodernism.
Athens: The University of Georgia Press.
Sugihastuti. 2002. Teori dan Apresiasi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugihastuti dan Suharto. 2002. Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sumardjo, Jakob. 1979. Novel Indonesia Mutakhir Sebuah Kritik. Yogyakarta: Nur
Cahaya.
Suryadi AG, Linus. 1981. Pengakuan Pariyem Dunia Batin Seorang Wanita Jawa.
Jakarta: Sinar Harapan.
Tohari, Ahmad. 1982. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: PT Gramedia.


Dipaparkan dalam PILNAS HISKI VIII di Universitas Airlangga, Surabaya, tanggal 26—28 Agustus 2003.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar