Sabtu, 07 Desember 2013

Kota Ketiga



CERPEN Deddy Arsya
Saya pergi ke plaza bersama ayah. Berpikir, plaza tentu tak bernasib seperti kedai kami, setiap hujan turun pasti akan terendam. Mari jalan-jalan ke plaza! seru ayah setelah kami selesai menutup kedai sore itu.
Sehabis pulang sekolah, saya sering disuruh ibu membantu ayah di kedai. Saya anak satu-satunya di keluarga kami. Ayah mulai tua dan gampang lelah. Kami berkedai di pasar raya, tetapi sungguh kami belum pernah mengunjungi plaza yang baru dibangun beberapa bulan yang lalu itu.
Plaza yang berdiri di bekas terminal kota.
Kami tinggal di pinggiran kota, tapi sebenarnya kami adalah orang-orang kampung juga. Kami hanya mendengar dari orang-orang di tempat kami, tentang plaza baru yang megah itu. Dan ibu begitu keranjingan ingin pergi ke sana. Hanya ayah tak pernah mau mengajak ibu. Entah kenapa ibu pun tak mau pergi sendiri.

Saya terpikir ingin membeli televisi baru di plaza. Piala dunia sudah dimulai. Televisi di rumah kami tak pernah bertahan lama. Hujan telah membuat banyak hal menjadi berantakan. Televisi terakhir yang kami beli kini telah menjadi banyak kutu. Ayah tak sempat membetulkan atap rumah kami yang bocor. Ayah berharap seharusnya saya bisa memperbaikinya sendiri. Ibu tentu saja tidak akan mungkin memanjat loteng. Hanya saja saya takut sekali dengan ketinggian.
Ayah ingin membeli sepeda. Di plaza tidak ada sepeda. Ongkos angkutan kota naik lagi. Beberapa hari ini jalanan sering macet. Bapak walikota ikut pawai bersepeda keliling kota. Sehari sebelumnya, sopir angkutan kota berdemo. Keesokannya diikuti pula demo para sopir dan kondektur bus antarprovinsi. Saya terpakasa berjalan kaki ke sekolah. Saya tidak tahu kenapa orang-orang itu berdemo, mungkin karena tak punya terminal lagi.
Ayah lalu menarik saya lebih cepat. Hujan semakin deras. Saya ingin berhenti sebentar. Saya tak kuat lagi berjalan. Saya ingin melihat orang-orang berdesak-desakkan di bawah atap-atap ruko. Saya ingin melihat bocah-bocah seusia saya melap-lap kaca mobil yang lewat dengan sabun cair, untuk kemudian menagih upah kepada pemilik mobil.
Ayah tak suka menonton pertandingan bola, walau itu piala dunia sekalipun, walau yang bermain adalah pemain-pemain kelas dunia. Tapi kata ibu, dulu ayah pemain bola yang hebat. Ayah punya tendangan kaki kiri yang mematikan. Sundulan kepala ayah sangat akurat membaca sudut gawang. Saya berpikir, apa ibu tahu berapa ukuran lapangan sepakbola?
Saya juga terpikir ingin membeli sepatu bola di plaza. Uang saya ada disimpan ibu limapuluh ribu. Seorang kenalan ayah datang berkunjung ke rumah dan memberi saya uang. Sepatu bola saya yang lama sudah tak layak pakai. Ayah membelinya dari seorang pejudi dengan harga yang cukup murah. Tetap, ayah saya bukan penadah barang curian. Sepatu sekolah saya juga dibeli ayah dengan harga yang sama, juga dari seorang yang kalah berjudi.
Saya belum terbiasa bermain sepakbola memakai sepatu. Sepatu bola saya itu terlalu besar. Gambirnya yang sebelah kiri telah patah tiga biji. Setiap kali saya bawa berlari, pada tumit kiri saya terasa sakit. Kalau dipakai terus menerus, tumit saya itu bisa terluka, bukan? Saya tidak ingin mengambil resiko menjadi buta—kata pelatih saya begitu—hanya karena harus bermain bola pakai sepatu yang kebesaran dan patah gambir. 
Ketika sampai di plaza, ayah tiba-tiba ingin buang air kecil. Tetapi saya tidak tahu toiletnya ada di sebelah mana. Ayah menyuruh saya bertanya kepada seorang perempuan yang berjalan di dekat kami. Apa buang air di sini harus bayar? Wajah perempuan itu seperti kebingungan menghadapi saya. Ia tak menjawab pertanyaan saya. Lalu ia pergi begitu saja. Saya juga tak mengerti kenapa ia bersikap seperti itu. Sekarang saya yang kebingungan mencari-cari toilet. Kami terpaksa mencarinya sendiri. Hingga kami menemukannya di suatu sudut.
Ayah meminta saya menemaninya ke toilet. Apa setiap kali akan masuk toliet, tubuh ayah akan mengeluarkan keringat dingin seperti ini? Tetapi ketika masuk kamar mandi di rumah tidak ada apa-apa.
Tidak ada hantu di sini, Ayah!
Ayah terkejut mendengar perkataan saya. Setelah selesai kencing, ayah berkata kepada saya sambil membuka bajunya yang basah: ayah ingin mandi sebentar! Saya berusaha mencegah dengan berkata: di luar hujan lebih deras, kenapa ayah mandi di sini?
Tubuh kami memang sudah terlanjur kuyup, mungkin sebab itulah ayah ingin mandi di toilet plaza.
Di kaca toilet, lalu saya lihat bibir saya sudah berubah mirip mulut ikan arwana. Mata saya menjadi penuh air. Tubuh saya melayang-layang ke sana-ke mari. Sesekali tubuh saya membentur dinding toilet yang tampak begitu putih. Saya berpikir, apa ayah juga ikut membayangkan tubuh orang-orang di luar sana berubah menjadi bersisik seperti yang tengah saya bayangkan?
Tenang saja, ayah tidak akan menjualmu ke pasar ikan!
Saya berenang-renang di atas kepala ayah. Tubuh saya serasa melekat ke langit-langit toilet, seperti ada arus yang kuat dari bawah terus mendorong saya ke atas. Saya tak bisa melawannya.
Sementara tak ada yang berubah pada diri ayah. Tubuh ayah tidak ikut melayang-layang. Bibir ayah tidak berubah membesar seperti mulut ikan arwana. Kulit ayah tidak mengkilat-kilat seperti yang terjadi pada kulit saya: bersisik. Ayah masih tetap memandang saya dari bawah.
Sudah, jangan bermain-main dengan bayangan. Ayo kita keluar!
Ayah tidak jadi mandi?
Mandi di sini? Ha ha...
Ayah tertawa.
Kami keluar dari toilet. Tubuh saya seperti sediakala, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Lagu-lagu sentimentil bergiliran terdengar dari lubang salon yang entah disembunyikan di mana, di langit-langit plaza itu mungkin. Saya tak tahu. Saya mencoba mencari-cari sumber suara kalau-kalau dari sana seekor ikan arwana raksasa menjulurkan ekornya.
Tetapi orang-orang tidak berubah menjadi ikan arwana raksasa. Mata saya tidak lagi dipenuhi air, tetapi kini telah berganti dimandikan cahaya lampu. Suara itu, lagu-lagu itu terus membuntuti ke mana saya pergi. Seperti kecipak ekor ikan arwana raksasa.
Kami melewati studio foto yang masih berada dalam plaza itu. saya ingin berfoto bersama ayah. Hanya saja ayah tidak suka berfoto-foto.
Tidak enak sama ibumu!
Saya meyakinkan ayah: Ibu pasti tidak akan marah! Saya terus membujuk hingga akhirnya ayah setuju. Ayolah! ayah sama sekali tidak bersemangat.
Tapi ayah tidak pandai berfoto, kata ayah lagi. Kamera kecil itu seperti mata ibumu!
Mata ibu, mata yang menyala setiap kali angka di almanak tak lagi bisa dihitung dengan sepuluh jari. Bukankah ibu hanya seorang guru honorer sekolah dasar yang hidup dari peruntungan tanggal? Tetapi saya tak menghirukan perkataan ayah. Saya terus menarik ayah masuk ke dalam studio foto. Ah, mata ibu ... pada akhirnya saya tak bisa tidak tergoda juga dengan perkataan ayah tadi. Mata itu kian menyala jika kami lalai mematikan kran air, membiarkan lampu-lampu menyala di siang hari.
*
Bibir ayah terlihat melebar di foto itu, seperti mulut ikan arwana. Kedua tangan ayah seperti sirip yang mengepak-ngepak. Tubuh ayah berkilat-kilat seperti bersisik. Pada diri saya, semua ciri ikan lengkap melekat, seperti juga pada ayah.
Setelah melihat foto itu, mata saya menjadi penuh air. Setiap kali saya bicara, dari mulut saya seperti keluar gelembung-gelembung yang banyak dan tak bisa dihitung. Gelembung-gelembung itu menempel di langit-langit plaza.
Jangan perlihatkan pada Ibumu, nanti dia marah karena tak kita ajak!
Ayah berkata setengah berbisik.
Tapi, hmm, bagus juga ya fotonya! kata ayah memandangi sebentar selembar foto yang kini berada di tangan saya.
Kami berjalan keluar plaza. Hujan masih deras, bertambah deras. Saya melihat setiap orang telah berubah menjadi ikan arwana raksasa. Ekor mereka yang besar mengepak-ngepak lincah.
Saya dan ayah masuk ke dalam hujan. Seperti berenang. Kami kembali melewati jalan yang semula kami pergunakan untuk menuju ke plaza. Plaza yang kami tinggalkan terlihat seperti terumbu dengan warna yang menyala dan menyilaukan mata.
Sementara hotel-hotel kelas melati, pusat-pusat grosir yang sedang dibangun, ruko-ruko di sepanjang jalan itu, dan lapak-lapak kaki lima ... terlihat seperti ranjau, munggul-munggul yang menyangkut di dasar kolam. Kami berenang di atasnya. Semua orang mengibas-ngibaskan ekornya seperti ikan.  
Saya membayangkan kedai ayah semakin terendam. Tempias hujan akan membasahi dagangan kami.
***
Di rumah, saya tidak memberikan foto itu kepada ibu, seperti permintaan ayah. Tapi ibu sendiri yang menemukannya beberapa hari kemudian di kantong celana saya ketika hendak mencuci. Saya menyesal telah lupa menyimpannya. Saya membayangkan ibu akan marah besar. Dan ayah pun nanti tentu akan memarahi saya karena melanggar perjanjian kami yang menyebabkan ia disalahkan ibu.
Tetapi ibu tak marah. Ia malah berkata: Hmmm, Ayahmu terlihat lebih muda ya. Ha ha ha. Mengapa kamu juga tidak memakai baju yang lebih bagus? Ayah tidak pula menyisir rambutnya terlebih dahulu!
Ibu terus memandang-mandangi foto itu.
Tetapi... sekali pun tak menyisir rambut, hmmm, tetap saja Ayahmu terlihat lebih muda, kata ibu lagi, dan wajah ibu terlihat begitu gembira.
Ibu memutuskan memajang foto itu di ruang tamu rumah kami. Di dinding rumah kami yang nyaris hanya tersisa sebuah ukiran kayu kepala ikan arwana, almanak tahun lalu, sebuah lukisan cat minyak murahan bergambar Tuanku Imam Bonjol yang sedang berkuda sambil menghunus kerisnya. Aha, ibu mematut-matut di mana foto itu akan diposisikan di antara mereka. Saya melihat bibir ibu kadang memoyong ke depan ketika tengah berpikir, kadang melebar seperti mulut ikan arwana.

(Padang, 2006-2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar