Sabtu, 07 Desember 2013

Kota yang Runtuh



CERPEN Ragdi F. Daye


Ketika dia datang dan tersenyum di ambang pintu dengan tubuh yang menggetarkan itu, kau merasa lututmu goyah. Rasanya tak sabar lagi kau untuk menghambur dan melabuhkan kepala di dadanya.
Kepada ibumu dia berkata hendak membawamu jalan-jalan ke luar: Untuk mengenal lebih dalam.
“Pergilah,” izin ibumu. “Tapi jangan pulang terlalu malam. Ingat, kalian baru tunangan.”
Dengan tersipu-sipu kau bergegas masuk ke dalam kamar. Mencari baju paling indah yang kau punya. Kau patut-patut diri di depan kaca. Merapikan kerudung hijau muda di kepala. Di cermin, kembali kau melihat wajah persegi itu tersenyum hangat. Akhirnya doa panjangmu terjawab. Tidak tanggung-tanggung. Kau dikirimkan sesosok malaikat.

Saat keluar kamar, kaulihat dia sedang duduk di kursi tamu. Ibumu mempersilakan dia minum. Laki-laki itu mengangguk kecil ke arahmu. Matanya berpijar lembut.
“Tuhan, aku meminta pelita kecil dan Kauberi aku bulan purnama,” bisikmu dalam hati.
Kalian lalu pamit pada ibumu. Kau mati-matian berusaha untuk tidak canggung. Tidak memikirkan para tetangga yang akan mempergunjingkanmu: Si anak janda dengan mata buta sebelah pergi bersama laki-laki sial yang akan menyuntingnya!
“Mau ke mana kita?” tanyamu ketika telah duduk di belakang punggungnya.
“Ke surga.” katanya dengan sedikit memiringkan kepala.
“Aku belum mau mati.” katamu agak manja. “Kita baru akan menikah tahun depan.”
“Tenanglah. Aku akan membawamu ke sebuah tempat yang indah. Pantai Nirwana. Pernah ke sana?”
“Ini yang pertama.”
Sepeda motor yang dikendarainya melaju terangguk-angguk di jalan Karang Gantiang yang berlubang-lubang dan banyak tanggul. Pelan-pelan melewati ruas-ruas jalan yang membelah kota. Deretan toko dan ruko-ruko serta aneka bangunan yang berdiri berdesak-desak menyesakkan. Sesekali sepeda motor itu menyelip di antara mobil-mobil, sepeda motor-sepeda motor, angkot-angkot, dan bus-bus kota yang selalu terburu-buru. Melewati kantor-kantor, sekolah-sekolah, masjid-masjid, warnet-warnet- pusat-pusat games online,pasar-pasar, dan rumah-rumah warga yang taat beribadah menuju selatan.
Hidungmu mencium bau kayu-kayu hutan tropis menguar dari kemejanya. Kau merasa mabuk dalam gelinjang rasa yang tak terkata. Tangannya memindahkan tanganmu ke sisi perutnya. Dengan jengah kau membiarkan sambil menengadahkan muka menatap langit kota yang berwarna kopi susu. Ah. Akhirnya kau mendapat kesempatan diperlakukan benar-benar sebagai seorang perempuan.
*
“Inilah surga!” ucapnya begitu kalian menjejakkan kaki di pasir pantai.  Pasangan-pasangan lain telah dulu sampai di tempat itu. Sebagian dari mereka duduk di bangku-bangku kafe,  sedangkan sebagian lain merapat bersempit-sempit dalam pondok-pondok kecil beratap daun kelapa yang berjejer memenuhi sepanjang tebing semak di tepi pantai. Tak ada suami-istri muda dengan anak-anak kecil ceria yang berwisata di tempat itu.    
“Ya, indah…” katamu pura-pura memungut kulit kerang sambil menenangkan perasaan. Matamu tadi tanpa sengaja menangkap dua sosok tubuh bergelut di dalam pondok buruk di dekat pohon entah apa namanya. Napasmu masih tercekat.
“Tentu saja. Ini pantai nirwana, pantai surga. Dan kita nanti akan merasakan keindahan yang lebih dari ini.” Laki-laki itu meremas tanganmu sambil mengerlingkan mata. Dia pergi ke kafe memesan minuman.
Kau mulai merasa tidak enak.
Matahari makin dekat ke laut.
Di bawah gunung kecil itu, pelabuhan tua tampak lengang.
“Tuhan, aku memang rindu kehangatan,” bisikmu. “Tapi…”
“Yuk.” Dia menggandeng tanganmu, menuntunmu menapaki jalan kecil    berbatu-batu di lereng tebing. Di dalam pondok-pondok kecil serupa kandang ayam, bertengger  pasangan-pasangan kasmaran.
Kakimu terasa lemah untuk diayun sehingga dia merangkulmu.
“Aku main di pantai saja.”
“Ah, kau seperti anak kecil saja. Ayolah! Aku sudah haus!”
                                                                        *
Dua bulan lalu dia bersama keluarganya datang ke rumahmu meminang setelah seorang kerabat memperkenalkan kalian. Kerjanya menambang emas, itu yang kau tahu. Tubuh liatnya sungguh menawanmu. Juga mata berbinarnya yang tajam tapi lembut. Setelah rentetan prosesi adat yang pelik, kau mendapatkan selingkar cincin perak dipasangkan di jari manismu.
Kalian akan menikah tanggal 10 bulan Safar tahun depan.
Tiap malam menjelang tidur kau membayangkan wajahnya. Hingga laki-laki itu masuk ke dalam mimpi indahmu. Namun, beberapa kali malam kau bermimpi ganjil. Dia datang menemuimu dengan badan tanpa baju yang penuh lumpur. Mungkin dia  baru keluar dari tambang. Tangannya mengembang menghampirimu. Dalam mimpi itu kau merasa enggan. Bukan karena luluk tanah di tubuh nya, tapi entah kenapa. Dia lalu mendekapmu dengan erat. Samar-samar kau melihat ada cahaya keemasan berkilau di sekelilingmu. Kau terpesona. Tapi cahaya itu tiba-tiba hilang saat dia menyentak tubuhnya dari tubuhmu. Bumi gemeretak. Kau pun terbangun dengan perasaan tak menentu.
*
“Aku sering memimpikanmu,” laki-laki itu memberikanmu botol minuman bersoda yang baru dia buka tutupnya.
“Aku juga,” sahutmu.
“Dalam mimpi itu kau punya tanda lahir di bahu kiri. Boleh kulihat?” tangan laki-laki itu menyentuh tanganmu.
“Jangan sekarang! Nanti setelah kita menikah kau dapat melihatnya, bahkan lebih dari itu!”
“Aku ini calon suaminu, kenapa malu? Coba lihat ini!” Dia menarik kemejanya memperlihatkan perutnya yang coklat. “Ini. Aku juga punya tanda lahir.” Dia menunjuk bulatan hitam sebesar koin di dekat pinggangnya.
“Aku tidak punya!”
Senja mulai buram. Sepertinya akan turun hujan. Atau badai? Ah, mungkin lebih dari itu.
Kau meneguk minumanmu. Mengapa jadi setegang ini? Tidak. Tidak. Ini hanya karena belum terbiasa. Kau mencoba bersikap santai. Bagaimanapun, laki-laki itu adalah calon suamimu. Esok, pada saatnya, kalian akan tinggal bersama. Saling memiliki. Kau menjadi pakaiannya. Dia menjadi pakaianmu. Saling membuka dan menutupi.
“Aku ingin kita bulan madu ke Mentawai. Menjadi manusia primitif!”
Kalian berbicara. Putus-putus. Kaku. Tapi matanya terus menyergap matamu. Menyeretmu dalam keterpukauan yang membuat jiwamu melayang, mengambang, mengapung. Seolah dia adalah bagian dari dirimu yang tak perlu disangkal. Angin dan suasana redup membuatmu makin jauh dari tempat berpijak. Kau mulai lupa pada ketakutanmu, pada angan-angan sebagai perempuan rumahan yang tak terjamah sebelum waktunya, pada ibumu, pada seprai ranjang pengantin yang ingin kaulukis dengan tinta merah suci dari tubuhmu…
“Aku-mencintaimu…” dengusnya sambil merenggut kerudung hijau mudamu.
Di bibir pantai ombak terus melenguh. Menyamarkan suara-suara napas dan geletar hasrat. Hingga matahari tak kuasa lagi menatap. Dibenamkannya tubuh ke perut laut disambut azan magrib yang sahut menyahut bersama gemuruh riuh.
Gemuruh? Apakah itu suara yang disebabkan guncangan-guncangan liar di pondok-pondok sepanjang tebing semak? Ah, tidak! Gemuruh itu begitu gaduh. Riuhnya memiuh jantung. Batu-batu tebing jatuh. Menggeleparkan diri dari tanah dan cepat-cepat mengejar laut. Tebing rubuh menghamburkan kandang-kandang tempat ayam-ayam bersetubuh.
“Aaa…! Ge-gempa! Gempa!”
Sebuah batu besar yang menggelinding telah memisahkan kau dari laki-laki itu. Pondok itu terbusai seperti pakaianmu yang kusut masai. Kaucari-cari kerudung hijau mudamu dalam cakaran rasa panik dan takut dan sedih dan pedih dan sakit dan pilu dan ngilu dan malu. Tapi kain itu tak bertemu. Kau lari merangkak-rangkak bersama orang-orang lain. Bumi terus berderak-derak. Laut bergolak. Hujan turun merentak-rentak.
Kafe-kafe, rumah-rumah, dan pohon-pohon tersugkur ke tanah. Tubuh-tubuh tergeletak. Kaupanggil-panggil namanya. Tapi dia tidak ada. Percuma. Mungkin dia sudah mati di nirwana.
Kepalamu berdenyut-denyut. Pusing. Kakimu rasa terbakar. Mungkin ada tulang yang patah. Ketika gelap tambah pekat, tubuhmu terjerembab ke tanah.
*
Lamat-lamat, kau mendengar namamu dipanggil. Kaubuka mata. Dia.
Kau meradang. “Jika kau masih menginginkanku menjadi istrimu, antarkan aku pulang ke Karang Gantiang!”
Matanya menyorot tajam menghunjam matamu. Mata itu kini merah. Pendar lembut itu telah lenyap.
Kau tak sempat berpikir ataupun bertanya. Dia telah menyeringai memamerkan taring-taring tajam. Seperti kilat dia menyambar tubuhmu, membopong sambil berlari dengan kecepatan angin, dan tahu-tahu kau sudah tergeletak di tengah hamparan pasir penuh sutra.
Dia kemudian mencabik-cabik dirimu.
*
“Aaaakkh…!!!”
“Tenanglah. Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja.”
Kaubuka mata. Matahari sudah kembali. Cahayanya terang sekali.
Seseorang mengusap pipimu. Kau terbaring di atas sebuah tandu. Ada slang kecil berujung jarum menempel di pergelangan tanganmu. Kau tengah digotong di sebuah kapal besar.
Langit begitu biru. Seperti baru dilap. Kau mendengar dengung suara orang. Keramaian. Hilir mudik sibuk.
Di kejauhan kaulihat bukit-bukit. Di kakinya tampak sesuatu serupa puing-puing yang kehujanan.
“Apa itu?” tanyamu pada perempuan berambut pendek yang tadi mengusap pipimu.
Dia tersenyum pahit. “Itu kota kita. Bencana kemarin telah membuatnya runtuh, sebagian tenggelam.”
Air hangat menyembur dari kelopak matamu. “Tu-tu-Tttu-tuhan… A-aa…” Lidahmu kelu.

Padang, 2010
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar