Sabtu, 07 Desember 2013

Lampu Merah di Senyum Ibu


CERPEN Ilham Yusardi
Penundaan keberangkatan. Aku hilang mood, begitu tahu delay keberangkatan untuk pesawat yang akan kutumpangi.  Dari pukul tiga siang ini menjadi pukul lima, sore nanti. Tidak ada alasan yang jelas. Alamak! Aku sudah capek-capek, buru-buru, pukul dua tadi sudah datang di bandara besar ini.
Meskipun demikian, Aku hanya butuh sedikit kesabaran untuk hal yang lebih penting. Nanti, kalau sudah di atas udara aku bisa tidur pulas barang dua jam. Begitu tiba di rumah, mencium tangan ibu dan mengajukan hasratku kepada ibu.

Setengah jam, setengah bungkus rokok sudah jadi puntung. Orang-orang berwajah setengah menggerutu sileweran di sekitarku. Anak-anak kecil bermain tanpa hirau dengan kemusut kening ibu-bapaknya. Alangkah lebih menariknya bermain dengan pikiran sendiri, mencoba menyusun kata-kata terbaik untuk mengungkapkan hasratku kepada ibu sesampai di rumah nanti. Kira-kira, kata-kata seperti apakah yang bisa melunakkan hati ibu?
Aku baru saja tersadar, sedari tadi duduk di sini, ternyata ada seseorang yang sedang  mengarahkan isyarat ketertarikan denganku. Seorang ibu paruh baya, sepantasan ibuku, berada berhadap-hadapan, di kursi seberang dari tempatku duduk. Ia menatap dalam. Tajam. Hingga menusuk pikiranku dengan cepat. Tiada pula kusadari, entah telah berapa lama perempuan itu menatapku terus-menerus. Mungkin sudah seperempat jam yang lewat. Ia menatap dengan penuh sungguh. Tiada terganggu dengan orang-orang yang berlintasan hilir-mudik di depannya. Beberapa kali matanya menumbuk mataku ini. Serr! Ada aliran yang aneh begeletaran di hatiku. Bertengkar dengan pikiran sendiri, ganjil-lucu rasanya.
Ibu itu tersenyum padaku. Senyumnya berwarna merah lada. Bibirnya tebal. Lebar. Lama ditahannya. Senyum itu, berisyarat agar aku berkenan membalasnya. Tapi, aku sendiri juga sangsi, benarkah ibu itu mengaturkan senyum buatku? Atau ada orang lain yang sedang ia sapa? Tapi, kenapa pula aku ge er sendiri?
Aku tidak menanggapi senyum itu. Kucoba alihkan pandangan pada landasan pacu, melihat pesawat yang sedang lepas landas atau mendarat. Berupaya lepas dari tatapannya. Tapi ajaib, aku serasa dalam gelombang elektro magnetik yang sangat kuat memancar dari tatapan dan senyum ibu itu. Ia seakan jadi menara, tidak beranjak dari tempat duduknya. Kalau memang ibu itu sedang memperhatikan aku, berarti ada sesuatu hal pada diriku yang menautkan dengan pikirannya. Tapi buat apa pula aku dipikirkannya? Toh, kami tidak saling kenal-mengenal sama sekali
***
Pukul lima. Akhirnya berangkat juga. Aku  telusuri kabin. Suasana jadi ribut begitu diumumkan agar penumpang tujuan Padang dipersilakan naik pesawat. orang-orang berebut tidak sabar. Begitulah sejak ongkos naik kapal terbang menjadi murah, naik pesawat dari Jakarta ke Padang tidak lebih dari serasa naik angkot dari Pasaraya Padang-Limau Manih. Ribut.
Aku berhenti di tengah kabin yang sudah sibuk dengan ocehan orang-orang yang saling kenal, saling sapa. Di depanku nomor kursi 33. Cocok. Lega rasanya menghenyakkan badan pada kursi yang lumayan tebal busa joknya. Lepas jugalah penat menunggu dua jam.
Sebetulnya aku sangat ingin duduk kursi tepi. Hingga tersandar pada dinding dan bisa melihat negeri awan dari jendela. Aku jadi mengenang, dahulu aku selalu minta duduk di sisi tepi pada ibu. Hobiku melihat tempat-tempat yang dilewati dari jendela. Sayang, kali ini aku tidak mendapatkannya.
“Kamu boleh duduk di situ. Saya yang di sini.” Telingaku menangkap ujuran itu dari samping. Sontak mataku coba mendapatkan asal suara. Seseorang telah berdiri di sampingku. Aliran darah dalam nadiku seakan berbalik arah. Apakah ibu yang di ruang tunggu tadi dengan sengaja menguntitku sampai ke sini. Kali ini senyum ringkas penuh enigma itu tepat di hidungku. Anehnya ibu itu bercakap seakan sudah begitu karibnya ia padaku. Ganjil.
“Ibu, ibu di kursi 34.Ah, kalimatku tersendat. Aku sendiri tidak paham. Barusan aku sedang bertanya atau menjelaskan? Ibu itu melihatkan tiketnya. Ia memegang tiket bernomor 34.
“Kau saja yang di situ. Bandel!” Aku mendapat ujung kata yang makin mengganjilkan: bandel. Tanpa pikir dua kali aku pindah ke kursi tepi. Begitu duduk di kursi 34, aku tak menoleh lagi ke ibu itu. Ia pun duduk dikursi 33. Mengamit tas kecil di pangkuannya. Untuk mengucapkan terima kasih pun aku tidak sempat.
Pikiranku jadi terkunci pada keanehan yang sedari tadi dan masih berlangsung. Seandainya tadi aku menyiapkan obat tidur, mungkin akan kutelan sepuluh biji sekaligus. Biar selesai pikiran tidak karauan lagi ini. Kepalaku seakan membalon dan terus membesar, memuat wajah ibu ini. Senyum lebar.
***
“Durhaka! Mau kawin tak bilang”
Jelas kudengar ucapan itu. Ah, barangkali ia sedang bicara dengan seseorang di samping kanannya. Tapi di samping kanannya bukankah gang kecil yang memisahkan kursi deratan kiri dengan deratan kanan? Berarti ucapan itu tertuju padaku. Lho! Kok dia tahu apa-apa yang ada dalam benakku dalam perjalanan pulang ini? Dengan gugu kubuka mata. Ya, Tuhan! Dia tersenyum ke arahku. Bibir warna merah lada. Lebar. Persis seperti pertama kali di  koridor bandara tadi. Menghujamku dengan tatapan dalam. Aku seperti terlipat-lipat, tubuhku menciut seribu kali, terbenam kedalam kursi, namun kepalaku terus membesar, memuat kenyataan dan pertanyaan yang bercampur aduk.  
“Bu...,” mencairkan kekakuanku dengan membalas senyuman ibu itu.
“Sudah saya katakan. Carilah perempuan urang awak. Dasar Malin Kundang”
Apakah benar ucapan itu tertuju pada aku? Tapi, kok bisa?
“Mau terbang jauh? Alaaah, sejauh bangau terbang balik ke kubangan jua!”
Ocehan ibu itu semakin banyak dan berani. Aku tidak berani menanggapi. Apakah ibu ini mengidap sejenis kelainan jiwa. Aku juga punya teman semasa kuliah dulu yang punya kebiasan selftalk, bicara sendiri tanpa lawan bicara. Semacam stress ringan. Menurut ilmu jiwa moderen, orang-orang seperti ini bukan gila yang parah. Ia masih bisa berpikir normal. Orang kampungku menyebut kelainan lakuan semacam ini snewen. Orang snewen bisa menceracau kapan saja.
“Percuma punya anak. Anak peluru semua. Selalu sok ingin lepas dari orang tua. Padahal tidak. Belum apa-apa sudah perempuan yang dipintanya. Durhaka!” Ucapan ibu ini semakin mencikaraui kepalaku. Aku terdesak dengan ujuran-ujaran yang tidak jelas pada siapa yang sedang dimaksudnya. Sesudah ia bicara aku terpaksa menarik nafas dalam.  Aku ambil botol air mineral dari saku jaket. Meminum seteguk, menyiram hulu hatiku yang serasa didiang bara. Kalau jendela pesawat ini bisa dibuka layaknya jendela bus kota, rasanya aku mau terjun saja. Tapi aku yakin, bahwa ceracauan ibu ini bukanlah untukku.
“Kalau dengan perempuan luar, bakal tidak punya rumah gadang anak-anakmu, tidak berpandam kuburan yang jelas. Tidak jelas tali perut anak-anakmu. Terserak kau nanti kalau sudah tua. Malin Kundang!”
“Astaga.” Aku bangkit dari kursi, melangkah ke toilet pesawat. Kupangkas adrenalin yang menegang oleh tohokkan kata-kata yang berhamburan dari mulut perempuan ini. Di toilet, bukannya buang air kecil. Aku merasa lebih nyaman di sini.
***
“Assalamualaikum...!” Aku buka pagar rumah begitu turun dari motor Wardi. Ibuku sudah berdiri di beranda. Serr! Denyut itu lagi-lagi menyergap. Ibu tersenyum, dengan gincu yang berwarna merah lada. Tebal, juga lebar. Serasa masih senyum perempuan di pesawat tadi.  Ajaib, kenapa ada irama yang sama.
”Kusut raut mukamu. Letih sekali kau, Wimo?”
“Ya, Bu. Kelamaan menunggu di bandara.”
“Ya, sudahlah. Mandilah dulu. Biar segar, ibu siapkan air hangat kuku. Habis itu kita makan bersama ya”
“Ibu belum makan?”
“Belum. Nunggu kamu. Ibu sudah buatkan kau gulai ikan pangek padeh kesukaanmu.”
Aku terkesima. Tak ada yang berubah dari ibu soal memanjakanku. Ibulah yang selalu menegakkan kepalaku kalau lagi lelah melangkahi liku hidup. Ibu pula yang keras menyuruhku sekolah tinggi-tingi. Meski hanya uang dari pensiuanan almarhum ayahku.
Tapi, yang menjadi tanya bagiku: Adakah ibu mau mendengar dan menerima hajatanku? Apakah memberi restu padaku untuk menikah dengan Cyntia? Teman sekantorku, perempuan  yang bukan urang awak, perempuan yang sudah kupacari setahun belakangan ini? Entahlah. Aku selalu tidak berhasil menebak jalan pikiran ibu.
***
‘Durhaka! Mau kawin tak bilang.’
‘Bukan begitu, Bu. Aku...,aku tidak sempat.’
‘Sudah kukatakan. Carilah perempuan urang awak. Dasar Malin Kundang’
‘Apa bedanya perempuan urang awak atau tidaknya. Perempuan yang kupilih juga baik. Perempuan yang seseuai dengan kriteria yang aku idamkan. Cantik, cerdas, penuh kasih, sabar. Aku sudah menetapkan pilihan. Aku berharap ibu tidak menolak.’
‘Mau terbang jauh? Alah, sejauh bangau terbang balik ke kubangan jua.’
‘Bukan begitu, Bu. Aku tidak akan jauh-jauh dari Ibu. Lagi pula tak ada yang disebut jauh hari ini. Jarak sudah bisa dipintas. Waktu bukanlah halangan. Kalau aku jauh dari mata ibu, hati ini akan dekat selalu.’
‘Anak peluru. Sok ingin lepas dari orang tua. Padahal tidak. Belum apa-apa sudah perempuan yang dipintanya. Durhaka!’
‘Yakinlah, Bu. Tiada perempuan lain yang bisa menggantikan posisi Ibu dalam diriku. Ibu. Yang mengalirkan darah dagingku. Dia menempati posisi lain dalam hidupku. Sebagai isteri.’
‘Kalau dengan perempuan luar, bakal tidak berumah gadang anak-anakmu, tidak berpandam kuburan yang jelas. Tidak jelas tali paruik anak-anakmu. Terserak nanti kalau sudah tua. Malin Kundang!’
‘Tatanan itu, tatanan itu lagi. Tidak ada dalam syarak’
‘Tidak. Tidak bisa! Kau tak menghormati adat!’
......

“Ibuuuuuuuu!”
“Wimo. Kamu bermimpi? Mimpi burukkah? Mengucaplah!”
Ibu masuk. Menyalakan lampu kamar. Mataku silau perih tertimpa cahaya neon.  Ibu menyodorkan segelas air putih. Aku lihat ibu tersenyum. Aihh.., senyum perempuan di pesawat itu? Bukan. Aku gugup dengan senyum ibu. Sekujur tubuhku berpeluh dingin.
***
Kepalaku pagi ini dirambati tumbuhan semak. Berpilin-pilin, dengan cepat akarnya menjalar menghisap sum-sum tulangku. Aih, mengapa pula wajah ibuku, wajah perempuan di pesawat itu jadi baur. Kenapa pula aku yang bersitegang dalam mimpi semalam? semuanya bersibuah, bertumpang-tindih dalam mimpi. Kan cuma mimpi. Tapi, kalau cuma mimpi, kenapa pula pikiran ini justru membuatku tidak sanggup untuk bersitatap dengan ibu? Rasa kecut surut ini terus beranak-pinak.
“Wimo, mandilah dulu. Bangun pagi tidak baik bermenung,” ibu keluar dari dapur dengan secangkir teh hangat, diulurkan ke hadapanku aku. Kemudian melanjutkan kalimatnya yang tergantung, “Ibu mau ke Koto Tinggi sebentar. Ke rumah mamakmu. Mudah-mudahan ada Leni, anak mamakmu itu. Kalau ada, nanti kuajak Leni kemari, ya? Dia sudah tamat pula sekolah, sudah jadi gadis rancak sekarang. Sudah elok pula jadi induk beras buatmu.”
Ibu tersenyum. Senyum yang ganjil. Astaga! Senyum ibu berwarna merah lada. Lebar. Aku melihat ada lampu merah yang sedang menyala.


Sarilamak, 09-10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar