Selasa, 31 Desember 2013

MENAKJINGGO VERSUS DAMARWULAN:Dialog Seni Pertunjukan Jinggoan



Pengajar Fakultas Sastra Universitas Jember dan Koordinator Kajian Perempuan Desantara, Jakarta

Sebuah fenomena menarik, cerita legendaris Damarwulan-Menakjinggo yang diilhami kisah perang Paregreg yang kemudian sering dilakonkan dalam pertunjukan Jinggoan dengan cerita yang merendahkan martabat rakyat Blambangan justru sangat digemari oleh masyarakat Using Banyuwangi selama bertahun-tahun. Implikasi cerita tersebut membuat masyarakat Using memikul beban yang mendalam sampai mengidap gejala psikologis sindroma rendah diri, seolah-olah berprototipe jahat, pemberontak, dan mabuk kekuasaan seperti halnya Menakjinggo.1 Kisah Damarwulan-Menakjinggo merupakan sejarah barat-timur (mulai dari zaman Majapahit-Blambangan sampai Mataram-Blambangan) selalu diwarnai hubungan yang tidak harmonis, peperangan, dan penaklukan.

Menurut cerita klasik Jawa, Menakjinggo adalah Bre Wirabumi yang memberontak pada saat Majapahit diperintah Sri Jayanegara pada abad ke-13. Pemberontakan Menakjinggo mendapat terminologi yang sama dengan perang antara Bang Wetan dengan Bang Kulon untuk menunjukan garis demarkasi yang dibuat pendiri Majapahit Raden Wijaya dengan Aria Wiraraja. Interpretasi lain menyebutkan bahwa kisah Damarwulan-Menakjinggo adalah rekaan penjajah Belanda untuk menjelek-jelekkan penguasa Tanah Semenanjung Banyuwangi, Wong Agung Wilis yang melakukan perlawanan yang dikenal dengan perang Puputan Bayu.2 Dari prasasti Gunung Butak, diketahui terdapat perjanjian pembagian wilayah administratif antara Raden Wijaya pendiri Majapahit dengan Arya Wiraraja yang diberi wilayah atas Lumajang Utara, Lumajang Selatan, dan Tigang Juru yang belakangan dikenal dengan Blambangan; daerah yang dikenal subur bahkan merupakan lumbung padi, kemudian menjelma menjadi pusat kekuatan oposisi Majapahit. Dalam perkembangan selanjutnya, kekuasaan politis Blambangan secara terus-menerus menghadapi ekspansi teritorial kerajaan-kerajaan di Jawa Timur yang kemudian dilanjutkan kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah seperti Demak, Mataram, dan Bali. Pada tahun 1639, ketika Blambangan di bawah "perlindungan Bali" Mataram menaklukkan Blambangan dan tidak sedikit rakyatnya yang terbunuh dan dibuang. Setelah beberapa lama Blambangan direbut kembali oleh Bali, dan pada tahun 1697 Blambangan ditaklukkan Mataram. Saling kuasa-mengkuasai antara Bali dan Mataram belum berakhir karena pada tahun 1736 kembali Bali menguasai Blambangan Timur (Blambangan Barat masih tetap dikuasi Mataram). Pada tahun 1765 Blambangan sudah dikuasai VOC.3
Belanda tidak hanya berhasil memenangkan peperangan itu, karena tidak lama kemudian ia memboyong sejumlah tenaga kerja dari Cirebon, Banyumas , dan Kebumen untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan milik Belanda yang ada di bumi Blambangan. Kehadiran tenaga kerja ini disusul oleh gelombang migrasi dari Jawa Kulon untuk berbagai pekerjaan, khususnya di bidang perkebunan dan pertanian yang tampak membanjikr sejak akhir abad XVIII atau awal abad XIX.4
Pergumulan sosial komunitas Using dengan kaum migran yang semakin bertambah itu mengimplikasikan banyak hal bagi komunitas Using. Potensi oposisi dan penegasan identitas Using yang diwarisi dari masa lalu Blambangan diwujudkan dalam bentuk aksi-aksi sosio-kultural. Di samping melalui media bahasa dan sastra, mereka membangun dan mengembangkan ritus-ritus serta kesenian. Meskipun kesenian yang ada memperlihatkan keterpengaruhan dari Jawa dan Bali.5
Salah satu kesenian yang penting bagi komunitas Using adalah Jinggoan. Kesenian Jinggoan dikenal sekitar tahun 1920-an dan sangat popular pada tahun 1940-an. Begitu populernya, hingga muncul grup jinggoan anak-anak. Kesenian ini cukup unik, lakon yang dipentaskan menggambarkan peperangan Damarwulan dari kerajaan Majapahit melawan Menakjinggo dari Blambangan; musik dan tarinya bernuansa Bali, dengan menggunakan perangkat gong kebyar; dialognya berbahasa Jawa; sedangkan pemainnya orang Using Banyuwangi. Sebuah fenomenal, orang Using menari Bali, berbahasa Jawa dan melakonkan kisah yang merendahkan martabat orang Banyuwangi sendiri. Menurut Sahuni,6 tradisi Damarwulan dirintis pertama kalinya oleh Madardji, seorang pemain Ande-ande Lumut dan mandor pada perkebunan tebu milik Belanda. Untuk meningkatkan keahliannya sebagai seorang penari, ia kerap kali mendatangkan pelatih tari dari Bali untuk melatih di sanggar keseniannya yang diberi nama “KARS” (Karep Andadeake Rukun Santoso). 
 Nama lain untuk menyebut Jinggoan adalah Damarwulan dan Janger. Penyebutan dua nama pertama sangat berkaitan dengan tokoh utama yang selalu dimainkan dalam lakon ini. Disebut Damarwulan, awal mulanya pertunjukan ini selalu menyajikan cerita atau kisah kepahlawanan Damarwulan. Namun masyarakat Using lebih suka memakai istilah Jinggoan yang diambil dari nama tokoh Prabu Menakjinggo yang dianggap sebagai pahlawan mereka. Sekitar tahun 1930-an cerita Damarwulan mengalami kejenuhan. Untuk mengatasinya maka disisipi dengan tarian asal Bali, Legong Margapati. Tarian ini selalu ditampilkan diawal sebelum cerita Damarwulan dipentaskan. Menurut Miswadi, sekitar tahun 1980-an, sepulang beberapa penari Jinggoan dari Bali, mulai diselipkan tari Janger yang berasal dari Bali dalam setiap pertunjukan. Sejak itu, nama Janger mulai populer di kalangan masyarakat Banyuwangi. Cerita yang semula hanya berkisar tentang kepahlawanan Damarwulan dan Menakjinggo, kini meluas mengenai kepahlawanan pada masa kerajaan Jawa masa lalu, seperti Geger Tuban, Geger Madiun, dan  Pangeran Wilis.
Namun sekitar paruh kedua tahun 1970-an, terjadi perdebatan antara pro dan kontra substansi cerita yang notabene merugikan masyarakat Banyuwangi. Didorong oleh kesadaran dan kebutuhan identitas lokal yang dipandang sebagai bagian dari kebudayaan nasional, maka penguasa daerah setempat melalui budayawan Using, Hasan Ali, yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemda Dati II Banyuwangi mengubah cerita Damarwulan-Menakjinggo yang dipandang sangat merugikan masyarakat Using. Menakjinggo dalam pertunjukan itu, sebelum tahun 70-an, ditampilkan sebagai tokoh pemberontak, penjahat dengan tampilan fisik cacat dan dengan suara parau bagaikan kekeh kuda sebagaimana yang diimajinasi Jawa kulon diubah menjadi pahlawan yang gagah berani dan mencintai rakyatnya.
Rekayasa Hasan Ali yang didukung pemerintah setempat dalam menyikapi cerita tersebut didukung oleh sebagian besar masyarakat Using. Namun untuk masyarakat etnis Jawa (wong kulon) seperti di daerah Banyuwangi Selatan versi baru seakan tidak berpengaruh sama sekali. Mereka tetap saja berpatokan bahwa pakem prototipe Menakjinggo adalah buruk rupa, pemberontak, dan istrinya suka menyeleweng. Dengan perlahan, proses perubahan versi baru pertunjukan Damarwulan-Menakjinggo berlangsung sangat efektif; tokoh simbolik Menakjinggo menjadi prototipe yang tidak lagi antagonis.
 Narasi dengan versi baru mengekspresikan kemampuan masyarakat Banyuwangi, khususnya komunitas Using "berbicara" tentang keseniannya. Mereka melakukan adanya reinterpretasi dan reformulasi "wajah" tokoh representasi diri mereka yang dilukis orang lain sesuai dengan kehendak politiknya. Sebuah lukisan yang bukan saja menggambarkan "wajah " bopeng tetapi juga sempat mengantarkan komunitas Using merasa rendah diri di tengah pergaulan makro dengan komunitas-komunitas lain.
Pergumulan sosial komunitas Using yang hampir punah dengan kaum migran yang semakin bertambah mengimplikasikan banyak hal bagi komunitas Using. Potensi oposisi dan penegasan identitas diri yang diwarisi dari masa lalu Blambangan yang tercabik-cabik oleh kekuasaan Jawa Kulon memperoleh ruang untuk secara riil diwujudkan dalam bentuk aksi-aksi sosio-kultural.
Using sebagai identitas selalu berada dalam tarik ulur dengan kekuatan dominan yang berlangsung mulai Majapahit akhir, Mataram Islam, Bali, kolonial yang berujung pada dua kutub, berada di pinggiran dan mainstream. Dalam konteks regional Banyuwangi kebudayaan Using diproduksi dan direproduksi sebagai identitas yang berhadapan dengan kekuatan yang melingkarinya. Banyak penanda yang selama ini dirumuskan komunitas Using sebagai identitas (antara lain: bahasa, perang bangkat, jinggoan,gandrung, dan seblang). Dengan menempatkan beberapa penanda tersebut memiliki konsekuensi teoretis untuk mengkaitkan hubungan antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Hubungan antara penanda dan petanda tidak bersifat denotasi dengan makna tunggal dan linear, tetapi tergantung pada ’the act of sign-i-fying.’[i] Proses signifikasi menjadi penting dalam memperoleh makna hubungan penanda dan petanda. Dengan kata lain makna suatu tanda didefinisikan dalam hubungan dengan tanda yang lain, yang satu tidak dapat dilepaskan dengan yang lain. 
 Tampaknya penegasan identitas Using di tengah pergumulan makro apa pun merupakan sebuah keniscayaan bagi komunitas Using. Komunitas ini mesti bersabar di tengah himpitan berbagai konstruk yang dibangun orang lain yang umumnya dengan penuh sinisme. Mereka tetap memandang dan bekerja keras menyikapi, mensiasati, dan melakukan negosiasi budaya dengan kekuatan-kekuatan yang hadir menghimpitnya. Dalam proses ini, komunitas Using tentu mereinterpretasi dan meredefinisi diri secara kontekstual, sebagai sebuah keniscayaan.
Pertunjukan dimulai sekitar pukul 21.00 sampai menjelang subuh. Pembukaan diawali dengan pembacaan om swasti astu, hong wila heng, bismillahirahmanirahim tergantung pada dalang yang ingin mengucapkan salam dengan cara yang diyakini, sambil diiringi gendhing musik gamelan sampai layar terbuka. Dilanjutkan dengan tari Jejer Gandrung atau Legong Margapati yang diiringi gendhing Padha Nonton sebagai bentuk penghormatan kepada para tamu.8 Kemudian, sang sutradara membuka prolog dengan sekilas menceritakan tema lakon dan para pelakunya. Lakon dipentaskan dipanggung pertunjukan berukuran 4x6 meter dengan layar berjumlah 5 lapis disesuaikan dengan jumlah babak dalam satu lakon. Pola sajian terstruktur dengan berbagai adegan yang meliputi: jejeran, yakni adegan yang melukiskan pertemuan di kedaton atau istana yang melibatkan raja, permaisuri, patih, kerabat kerajaan, dan para parajurit, di keputren atau tamansari, di pertapaan, dan rumah gubug; bodolan, yakni adegan persiapan untuk melakukan suatu perjalanan sebagaimana dibicarakan dalam adegan jejer, misalnya perjalanan raja atau maha patih; tempukan, yakni adegan pertemuan antar tokoh dalam rangka menuju konflik; strat; gandrungan, yakni adegan percintaan antar tokoh; dagelan; perang; dan penutup.
Beberapa grup Jinggoan di Banyuwangi kerapkali mementaskan teks lakon Damarwulan-Menakjinggo dengan versi yang berbeda tergantung di daerah mana akan dipertunjukkan, seperti kisah singkat yang diuraikan oleh Hasan Basri, pemerhati Using di bawah ini.
Alkisah… lahirlah anak laki-laki tampan yang dinamai Damarwulan. Ia dididik hidup bersahaja dan prihatin. Setelah dewasa, sang kakek menyuruh untuk mengabdikan diri ke kerajaan Majapahit. Maka berangkatlah Damarwulan dengan diiringi dua punakawan, Nayagenggong dan Sabdopalon. Sesampai di Majapahit, ia mengabdikan diri di Kepatihan Patih Logender, pamannya sendiri.
Patih Logender memiliki tiga anak, Layangseto, Layangkumiter, dan adiknya Dewi Anjasmara. Damarwulan dibebani tugas merawat dua belas kuda milik sang Patih. Dalam kesehariannya, ia diperlakukan seperti layaknya seorang budak, terutama oleh dua saudara laki-lakinya. Sebaliknya, secara diam-diam Dewi Anjasmara jatuh hati pada Damarwulan. Ia seringkali mengirim makanan untuk Damarwulan. Sampai pada suatu ketika hubungan keduanya tercium oleh dua kakaknya. Peristiwa itu membuat Damarwulan dipenjarakan. Anjasmara meminta kepada ayahnya agar ia juga dipenjarakan. Melihat realita ini, akhirnya Patih Logender mengawinkan Dewi Anjasmara dengan Damarwulan.
Sementara kerajaan Majapahit sedang genting. Adipati Blambangan, Menakjinggo (Prabu Urubisma) memberontak, daerah Probolinggo dan Lumajang sudah ditaklukkan. Kematian Ranggalawe sangat memukul Majapahit.Merasa di atas angin, Menakjinggo yang angkara murka, haus mangsa yang candranya andebok bosok, mukanya seperti anjing, perutnya buncit, punggungnya bengkok, kakinya pincang, sesumbar akan mengakhiri perang asal dengan syarat Ratu Kencanawungu, raja Majapahit yang ayu akan diboyong ke Blambangan.
Ratu Kencanawungu merasa gentar menghadapi Menakjinggo. Akhirnya dia bersemedi. Dalam semedinya, ia menerima wangsit bahwa yang dapat  mengalahkan Menakjinggo adalah pria bernama Damarwulan. Maka dipanggillah ke istana. Sang Ratu sangat terpesona akan ketampanan Damarwulan. Maka berangkatlah Damarwulan diiringi oleh Layangseta dan Layangkumitir yang diangkat sebagai pendamping atas usul Patih Logender.
Menyadari kekuatan yang tak seimbang, Damarwulan tidak langsung berani duel dengan Menakjinggo. Ia mendekati dua permaisuri Menakjinggo, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan yang jatuh hati padanya. Dengan senjata berupa Gada Wesi Kuning milik Menakjinggo yang dicuri oleh dua istri Menakjinggo, akhirnya Damarwulan dapat mengalahkan sekaligus memenggal kepala Menakjinggo.

Di tengah perjalanan Damarwulan diperdaya oleh Layangseta dan Layangkumitir. Damarwulan dibunuh, kepala Menakjinggo direbut dan dibawa ke Majapahit untuk dipersembahkan kepada Ratu Kencana-wungu.
Syahdan, ketika Damarwulan terkapar di hutan, datanglah pendeta yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Ia datang dengan wujud Bagawan Tunggulmanik untuk menghidupkan Damarwulan. Ia pun menyuruh Damarwulan untuk sementara kembali ke Blambangan guna merawat pusaka Wesi Kuning.
Sementara itu, Layangseta dan Layangkumitir telah menghadap Ratu Kencanawungu. Sang Ratu sangat sedih mendengar laporan gugurnya Damarwulan. Mengapa berbeda dengan wangsit yang diterimanya.Tak beberapa lama Damarwulan disertai pengiringnya tiba di pandapa Majapahit. Maka terbongkarlah kejahatan yang dilakukan Layangseta dan Layangkemitir. Untuk menentukan siapa yang benar, akhirnya Ratu memutuskan untuk perang tanding antara Damarwulan dengan kedua putra pamannya.
Damarwulan memenangkan pertarungan dan menikah dengan Ratu Kencanawungu, sekaligus dinobatkan menjadi Prabu Majapahit bergelar Brawijaya. Anjasmara tetap menjadi permaisuri, Dewi Wahita dan Dewi Puyengan juga dikawininya, serta tak ketinggalan dua punakawan yang setia, Nayagenggong dan Sabdopalon diangkat menjadi pamong Majapahit.     
Jaka Macuet, adipati Blambangan bertemu dengan Tunjung Sari, putri dari Majapahit di makam ayahnya, Mas Pancoran di Bali. Mereka kemudian menikah. Jaka Macuet terkenal sakti dan memiliki perilaku aneh, yakni setiap beristri, istrinya selalu dibunuh. Menurut wangsit yang diterima oleh Tunjung Sari, istrinya, bahwa yang dapat membunuh Jaka Macuet adalah anaknya sendiri. Oleh sebab itu, begitu Tanjung Sari hamil, ia pergi meninggalkan keraton.
Di tengah hutan gunung Plipis Kalibaru, ia ditolong oleh Ki Hajar Pamengger. Tak beberapa lama, lahirlah anak Tunjung Sari yang diberi nama Bambang Menak. Setelah dewasa, Bambang Menak bertanya siapa bapaknya. Ki Hajar Pamengger tidak menjawab, hanya berkata, “Siro mlakuo ngetan nyang Blambangan. Mengko ana sayembara, sapa kang bisa mateni Macuet, iku kang bisa nganteni.”
Bambang Menak mengikuti sayembara. Dasar masih pupuk lempuyang, ia kalah dan pingsan. Untung tidak dibunuh. “Ngkesuk baen mpateni,” kata Macuet. Ki Hajar Pamengger dan Tunjung Sari datang danmensabda Bambang Menak hidup kembali. Kata Ki Hajar Pamengger,“sira wani temen tah nyang Macuet.” Kadhung wani nduduhi pengapesane. Sira bul njumbul iku duduten, iku pengapesane. Mari iku kemplagna neng pelengane kang kiwa.”
Maka bertarunglah Bambang Menak dengan Macuet. Ketika Bambang mau membunuh Macuet, ibunya menjerit, mencegah “iku bapak ira dhewek,” kata ibunya. Macuet kemudian menyusup ke raganya Bambang Menak. Patih Maudara dari Majapahit (saudaranya Tunjung Sari) menyaksikan peristiwa itu. Kemudian ia melantik Bambang Menak menjadi Adipati Blambangan dengan gelar Urubisma (Menakjinggo), sekaligus ditunangkan dengan Kencanawungu. “tanah sigar semangka wis nong Blambangan, kadhung wis dewasa sun ulihaen Kencanawungu,” ucap Maudara.
Setelah akan dikawinkan dengan Kencanawungu, patih Logender tidak setuju. Ia menginginkan Kencanawungu menikah dengan Setokumitir. Demi membunuh Menakjinggo, Logender memfitnah Rongolawe untuk menyerbu Blambangan. Ronggolawe terbunuh, demikian juga patih-patih yang lain. Maka, diadakanlah sayembara, siapa yang bisa membunuh Menakjinggo, akan dijodohkan dengan Kencanawungu.
Damarwulan ikut sayembara. Sesampai di Blambangan, di pertamanan bertemu Wahita dan Puyengan. “Arep paren Rika? Damarwulan menjawab, “isun arep mateni Menakjinggo.” “iku wong sakti, kebeneran isun sing demen nyang Menakjinggo, isun arep dimaru ambi Kencanawungu. Sira nduduhi pengapesane, yaiku Wesi Kuning.” Keesokan harinya Wesi Kuning telah di tangan Damarwulan. Menakjinggo berkata: “Dak gediku isun wis wancine mati. Isun wekas nyang sira, kang apik nata Majapahit, aja keneng pengaruh Logender. Ronggolawe mati, Sindhuro mati iiku dipitnah. Isun titip Kencanawungu, Wahita lan Puyengan rumaten kang apik. Wis patenana isun.”
 Tersebutlah seorang raja Blambangan sakti mandraguna. Suatu ketika dia berjalan-berjalan hingga sampai di taman Majapahit. Dengan kesaktiannya, ia mengubah dirinya menjadi tampan dan bertemu dengan putri Majapahit, Tunjung Sari. Akhirnya sang putri hamil. Raja Brawijaya IV murka, mengetahui kehamilan sang putri. Kepada menteri Sindhura, ia memerintahkan supaya membunuh sang puteri. Sang puteri dibawa ke hutan. Sampai di hutan ternyata sang patih tak sampai hati melaksanakan tugasnya. Sang putri pasrah. “Ya sudah, kamu di sini saja. Saya sampaikan kepada ayahmu bahwa kamu sudah meninggal.” Setelah berkata, Sindhura membunuh seekor kijang dan jaritnya sang putrid  diolesi darah kijang. Maka dibawalah jarit sang putri ke Majapahit sebagai bukti kematian sang putri. Melihat jarit yang banyak bulunya, raja berkata,” kok iki akeh wulune, pantes wong elek.” Di hutan sang putri melahirkan, dan meninggal dalam posisi menyusui. Datanglah seorang pertapa, Ki Pamengger. Ia merawat jabang bayi dan dinamai Bambang Menak. Setelah dewasa, Bambang Menak menanyakan ayahnya. Ki pamengger berkata, “kamu jangan bertanya siapa ibu bapakmu. Kamu sekarang mengabdilah ke Majapahit. Di sana terjadi huru-hara oleh Kebo Macuet. Raja mengadakan sayembara siapa yang bisa membunuh Kebo Macuet akan dijadikan Adipati Blambangan,”kata Ki Pamengger.
Berangkatlah Bambang Menak mengikuti sayembara melawan Kebo Macuet. Bambang Menak dedel duwel. Sedina mati ping pitu. Kebo Macuet sangat sakti, bertanduk. Akhirnya dengan dijangkungi Ki Pamengger dan dinasehati supaya memotong tanduk Kebo Macuet. Bambang Menak berhasil memenangkan pertarungan. Saat memotong tanduk Kebo Macuet, wajah Bambang Menak tersemprot darah muncrat yang menyebabkan berubah wajah dan sifatnya. Semula ganteng menjadi jelek. Semula lemah lembut menjadi beringas dan kasar. Saat melapor ke Majapahit, ia tidak dipercaya oleh raja. Yang saya utus memang Menak, tampan. Kamu jelek. Ternyata semua itu hanya upaya raja Majapahit untuk mengingkari janji, maka terjadilah perang antara Bambang Menak dengan raja Majapahit. Ronggolawe dan banyak prajurit mati. Setelah memenangkan pertarungan, Bambang Menak pergi ke Blambangan dan bergelar Menakjinggo.
Teks lakon Menakjinggo dan seluruh latar belakangnya di atas memperlihatkan kepada kita bagaimana sebuah konstruk dominan dihadapi oleh konstruk yang dibangun sebuah komunitas yang "dirugikan" oleh adanya konstruk dominan itu sendiri. Sebuah pertarungan konstruk yang mesti di level mikro diartikan sebagai wacana kekuasaan. Ada versi yang melukiskan Menakjinggo tokoh yang baik, tidak merebut Kencanawungu, dan tidak menyerang Majapahit. Ia juga tidak mati secara nista, melainkan secara ksatria. Dan versi yang lain justru sebaliknya, lakon pro dan kontra masih berlangsung hingga kini.
Kenyataan tersebut mengingatkan kita pada kerja ilmiah Foucault9 yang sangat rajin memperlihatkan perguliran kekuasaan (power) dan hubungannya dengan pengetahuan (knowledge) dalam hamparan realitas sosial budaya. Power memproduksi knowledge, tidak ada hubungan kekuasaan tanpa konstitusi korelatif dari bidang pengetahuan, dan begitu juga tidak ada pengetahuan yang tak mengharuskan dan pada saat bersamaan merupakan hubungan-hubungan power. Jawa Kulon dengan simbol Majapahit melahirkan pengetahuan konstruktif tentang Menakjinggo yang bopeng, pemberontak, dan sebagainya. Dan pada saat yang sama konstruk tentang Menakjinggo yang dibangun oleh Jawa Kulon tersebut menjadi sebuah kekuasaan yang beroperasi di kalangan publik termasuk di Banyuwangi. Demikian pula, konstruk (pengetahuan) yang dibangun oleh Hasan Ali dengan dukungan banyak pihak di Banyuwangi seperti dikemukakan di atas.
Dengan perspektif semacam itu, hubungan antara konstruk yang dibangun oleh Jawa Kulon dengan konstruk yang dibangun oleh Hasan Ali lebih mungkin kita lihat sebagai pertarungan, tarik-menarik antara dua kekuasaan yang pada prakteknya bisa jadi saling menyerap dan saling memberi (hubungan produktif). Ini berbeda dengan pandangan Gramsci10 yang melihat hubungan semacam itu sebagai hubungan yang hegemonik yang tak seimbang. Dengan demikian, Foucault sebenarnya lebih memusatkan perhatiannya pada putaran atau proses hubungan antar kekuasaan dan juga percaya bahwa tak satu pun konstruk dibangun yang tidak berdasarkan atau melalui proses politik, baik untuk kepentingan legitimasi atau mempertahankan kekuasaan sebuah rezim tertentu maupun untuk melawan konstruk rezim politik yang sedang berkibar, serta percaya bahwa tak satu pun konstruk dibangun yang tidak berdasarkan atau melalui proses politik, baik untuk kepentingan legitimasi atau mempertahankan kekuasaan sebuah rezim tertentu maupun untuk melawan konstruk rezim politik yang sedang berkibar. Sementara Gramsci lebih tertarik menimbang kekuatan pada kekuasaan itu sendiri yang kemudian menyimpulkan terjadinya ketidakseimbangan kekuatan dan melihatnya sebagai hubungan vertikal.
 Jika ditarik lebih jauh, pandangan di atas bermuara pada keyakinan bahwa tak ada kebenaran mutlak dan tidak mungkin bisa mengklaim kebenaran tertentu. Kebenaran bukanlah poros kanonis dan tidak ada hubungannya dengan benda dan hal-hal lain, melainkan sebuah wacana yang hanya menarikjika dilihat bagaim,ana kebenaran itu dibangun. Dan wacana merupakan pusat aktivitas manusia, tetapi bukan merupakan 'teks umum" yang universal. 


1 Selanjutnya lihat Hasan Basri, “Cerita Damarwulan dalam Dramatari Jinggoan dan Hubungannya dengan Sejarah Blambangan-Majapahit. Makalah  dalam Temu Budaya dalam Rangka Peringatan Hari  Banyuwangi ke-227 tahun 1998.
2 Lihat Kompas, "Prabu Minakjinggo Beroperasi Plastik" Minggu, 3 Januari 1993).            
3 Selanjutnya lihat Stoppelaar, J.W. 1927. Blambangan Adatrecht. (Wageningen: H. Veenman & Zonen., 1927).
4 Ibid.
5 Dalam Mapping Cultural Region of Java, dijelaskan bahwa kesenian Janger atau Damarwulan merupakan bentuk akulturasi antara kebudayaan Bali dan Jawa. Kasus yang sama dapat dilihat pada Gandrung, Prabu Rara, dan Kundaran. Lihat Hatley, Ron. (Monash University, 1984).
6 Ketua Sanggar Seni dan Ketrampilan (SANKE) “Sidopekso” Desa Singojuruh dan pegawai Dinas Pariwisata Banyuwangi.
[i] Selanjutnya lihat J. Derrida. Of Grammatology. (Baltimore7 London: The John Hopkins University Press).
8 Tarian disesuaikan dengan peran pelaku: tari extra (tari jejer gandrung, jaran goyang, dan legong margapati), tari bolo abangan/kasar (patih abangan, raja abangan), dan tari bolo alusan/satriyo (Mojopahit, sekar jambu, dan mesir/pesisir). 
9 Lihat Michel Foucault. Seks dan Kekuasaan. Terjemahan Rahayu S. Hidayat. (Jakarta: Gramedia, 1997).
10 Lihat Jalaluddin Rakhmat, dkk. Hegemoni Budaya. Idi Subandy Ibrahim dan Dedy Djamaluddin Malik (eds.). (Jogyakarta: Bentang Budaya, 1997).


Dipaparkan dalam PILNAS HISKI VIII di Universitas Airlangga, Surabaya, tanggal 26—28 Agustus 2003.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar