Minggu, 12 Januari 2014

Melukis Kekecewaan dalam “Melukis Gonjong”



OLEH Elly Delfia
Pengajar di FIB Unand
“Siak beberapa kali ke istana pagaruyung hanya demi melengkapkan bahan lukisan rumah gadang. Siak tidak suka duduk berlama-lama di Istana Paguruyung yang sudah menjadi objek wisata. Orang-orang berwisata memakai celana pendek ala barat duduk berpasangan berfoto sambil membicarakan tentang ciuman enak di rumah gadang, menikmati duduk resek bersama teman wisata. Kini Istana Pagaruyung sudah roboh. Pada malam khairan petir menyambar gonjong istana. Siak berpedoman ke rumah gadang di Aia Mati. Rumah gadang itu kini sudah roboh. Sudah lama roboh sebelum lukisan Siak selesai. Siak berpedoman ke pucuk rumah gadang di kebun binatang Bukitinggti. Rumah gadang itu hanya tempat rekreasi, tempat orang berfoto...(Tanjung, Haluan Minggu, 20/02/11).

Teks di atas merupakan cuplikan cerpen  “Melukis Gonjong” yang ditulis oleh Alizar Tanjung dan dimuat di Harian Haluan, Minggu (20/02/2011). Sebuah cerpen yang sarat pesan sosial mengenai segenggam kekecewaan Siak, sang pelukis gonjong. Betapa kebesaran gonjong yang melambangkan kebesaran dan kemenangan nenek moyangnya, orang Minangkabau yang dipikirkan Siak selama ini perlahan mulai pudar. Kekecewaan Siak dalam melukis gonjong sebenarnya adalah simbol kekecewaan banyak pihak terhadap aspek kehidupan orang Minangkabau yang kini tengah mengalami degradasi moral di berbagai lini.
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang cenderung membawa pengaruh buruk bagi moral generasi muda menjadi momok mengerikan bagi para orang tua. Gaya hidup bebas dan tak terkendali menjadi musuh nyata bagi pudarnya adat-istiadat dan norma. Namun orang-orang Minangkabau seperti tak kuasa menantang zaman, seperti halnya Siak. Siak yang terseret dalam zaman yang tragis dan sarat amguitas. Zaman yang membingungkan. Zaman yang mempersembahkan keraguan dan rasa gamang. Zaman yang menggoyahkan keyakinan Siak terhadap kebesaran dan keagungan identitas ke-Minangkabauan-nya. Disebabkan oleh yang ia lukis adalah gonjong rumah gadang.
Bagi Siak, gonjong adalah tanda yang sakral, bersejarah, simbol kemenangan, dan kebesaran nenek moyangnya, orang Minangkabau. Bahkan Siak juga harus melukis perempuan yang memakai takuluak, dengan kebaya dan kain sampiang yang melatari lukisan gonjong tersebut dengan perasaan campur aduk. Sosok perempuan yang berusaha dilukis Siak adalah perempuan dengan performance ideal dalam pandangan adat-istiadat dan agama yang melahirkan semboyan kebanggaan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Sementara Siak sendiri menemukan sosok istrinya, Nur dibalut pakaian ketat ala perempuan dalam televisi.
“Nur masih berdiri di pintu dengan baju ketatnya. Nur memakai celana sebetis. Ia berdiri dengan rambut tergerai. Senyum itu menyungging di bibir Siak. Siak semakin gila...” ( Tanjung, Haluan/20/11/2011). 
Keambiguitasan perasaan Siak juga tercermin dalam seminar-seminar dan diskusi yang berisi tentang kekecewaan terhadap Minangkabau hari ini. Muhammad Taufik, Dosen Sosiologi IAIN Imam Bonjol dalam artikel yang berjudul “Bersama-sama Mengubur Minangkabau” menyatakan bahwa telah terjadi turbulensi sosial dalam masyarakat Minangkabau. Turbulensi sosial merupakan sebuah gerakan sosial yang tidak beraturan dan acak. Segala sesuatunya mengalami titik kronis dan berkembang tanpa arah. Akhirnya, yang terjadi bukan pengukuhan kembali kejayaan Minangkabau, tetapi perilaku yang menghilangkan pesona Minangkabau. Manusia Minang berhenti berbicara humanisme, kearifan, keadilan, kebeningan, kita hanya mendengar ledakan-ledakan memekakkan tanpa pretensi mengkritisi, yang diam dalam penganggukan dan setuju dalam kejahilan (Taufik, 2006:141-143).
Kemudian sebagai salah satu genre sastra, “Melukis Gonjong” merupakan cerpen naratif yang tidak mengabaikan unsur-unsur deskriptif. Penulis mampu mendeskripsikan dengan detail konflik batin tokoh Siak didukung oleh latar yang kuat. Beberapa daerah yang disebut dalam cerpen tersebut, yaitu Air Mati di pusat Kota Solok, kebun binatang Bukittinggi, Desa Karang Sadah di Kecamatan Danau Kembar, Pariangan, dan tidak ketinggalan nama media massa seperti Padang Ekspress dan Singgalang yang dijelaskan telah memberitakan kebakaran yang terjadi di Istana Pagaruyung.
“Kini Istana Pagaruyung sudah roboh. Pada malam khairan di tengah hujan lebat. Petir menyambar atap istana pagaruyung. Petir menyambar gonjong istana. Api menjalar. Istana Pagaruyung hangus. Berita-berita keluar di koran Singgalang dan Padang Ekspress...”(Tanjung, Haluan, 20/02/11).   
Penyebutan latar yang jelas dalam karya sastra adalah penting untuk memperkuat karya. Hal ini juga yang dilakukan oleh penulis-penulis sebelumnya, seperti Pramoedya Ananta Toer yang terkenal dengan novel Bumi Manusia dan Gadis Pantai, A.A Navis dengan cerpen Robohnya Surau Kami, Ahmad Tohari dengan novel-novel fenomenal, seperti Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kumukus Dini Hari, Jentara Bianglala, dan Berkisar Merah, serta karya-karya Hamka dan penulis-penulis Angkatan Balai Pustaka lainnya.
Latar yang jelas merupakan kekuatan yang membangun karya sastra. Latar yang jelas dalam novel Siti Nurbaya karya Marah Roesli misalnya, telah memaksa pemda Kota Padang menghadirkan tokoh fiktif yang imajinatif tersebut dalam kenyataan. Jembatan yang terletak di daerah Muaro, dekat pantai Padang dan gunung Padang yang menjadi latar novel Siti Nurbaya sekarang dinamakan Jembatan Siti Nurbaya. Selain itu, pemda juga membangun makam tokoh fiktif Siti Nurbaya di kaki gunung Padang. Makam yang ramai dikunjungi oleh orang-orang dengan berbagai tujuan. Ada yang sekedar ingin tahu saja, ada yang dengan sungguh-sungguh memaknai bahwa Siti Nurbaya pernah benar-benar ada dan hidup di dunia fana ini, dan ada juga yang memandang itu sebagai keberhasilan Marah Roesli, sang pengarang novel.
Namun ada hal yang mengabur dalam cerpen “Melukis Gonjong”. Pertama, sebenarnya untuk apa Siak melukis gonjong yang tak sudah-sudah tersebut? Untuk pesanan seseorangkah? Atau hanya untuk melepaskan rueh-rueh hati karena melihat carut-marutnya kehidupan di Minangkabau hari ini? Kedua, penyebutan nama dua media, Padang Ekspres dan Singgalang di dalam cerpen “Melukis Gonjong” yang notabene dimuat di Haluan. Seperti ada yang beraduk antara yang nyata dan yang laten. Seingat saya, pada masa Istana Pagaruyung terbakar, semua media massa di Sumatera Barat memberitakan peristiwa tersebut. Tak ketinggalan Haluan dan  Posmetro, dan beberapa media massa yang terbit mingguan. Terlepas dari kekaburan tersebut, cerpen ini hanyalah cerita fiksi. Cerita yang diharapkan mampu menjadi cermin bagi pembaca untuk merenungi hidup dan mengingatkan pada perubahan dan berbagai hal yang ter-alfa-kan.

Pasar Ambacang, Akhir Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar