Rabu, 05 Februari 2014

A TRIBUTE TO WISRAN HADI: Kompilasi Teater Rakyat yang Tanggung


OLEH Andika D Khagen dan Esha Tegar Putra
Pertunjukan Teater Langit dalam Minangkabau Arts Festival

Teater Sakata Padang Panjang membuka pementasan teater Parade Naskah Drama Wisran Hadi Sabtu, (12/10), berjudul Matrilini yang disutradarai Fani Dilasari dan Enrico Alamo konsultan artistik.
Iven ini ditasbihkan sebagai A Tribute to Wisran Hadi yang digelar Taman Budaya Sumatera Barat selama sepekan sejak tanggal 12 hingga 16 November 2011 menghadirkan sembilan kelompok teater aktif di Sumatera Barat, yang semuanya membawa naskah karya Wisran Hadi ke atas pentas.

Dramawan Wisran Hadi meninggal pada Selasa 28 Juni 2011 dalam usia ke-66 tahun di Padang saat sedang menulis.
Teater pada intinya adalah cara komunikasi dengan publiknya. Malam itu, Teater Sakata dengan konsep drama musikal dan kompilasi teater rakyat, mencoba mengajak penonton untuk tertawa.
Dari penelusuran yang Haluan lakukan terhadap pementasan teater yang pernah dilakukan teater yang didirikan tahun 2000 ini, garapan panggung Matrilini berbeda dari pementasan-pemantasan Teater Sakata sebelumnya.
Malam itu, penonton di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat memang penuh gelak tawa. Bentuk parodi dan drama musikal menjadi pilihan utama untuk memvisualisasikan naskah yang tergolong bermuatan filosofis Minangkabau tersebut, terkesan cair dan komunikatif. 
Panggung minimalis. Tak banyak properti. Panggung betul-betul dijadikan sebuah wilayah aktor, pemusik, atau ruang pergantian kostum disatukan dalam frame pentas. Selama ini, pergantian kostum oleh aktor berada di belakang panggung.
Pun, tidak ada properti khusus, selain kursi kayu sebanyak 14 buah yang disusun masing-masing tujuh di sayap panggung. Minimalisasi ini terlihat misalkan ketika pergantian babakan, pemain tidak perlu jauh-jauh melangkah ke belakang panggung. Pemain hanya mengganti  di belakang deretan kursi yang disulap untuk beberapa settingan.
Permulaan babakan, kursi-kursi menjadi ruang yang menggambarkan pesta pernikahan lengkap dengan pelaminan dan kursi penonton. Di babakan lain, ruang tersebut menjadi terminal keberangkatan penumpang, rumah, atau ruang publik lain. Cara masuk pemain ke panggung pun menjadi ketaklaziman. Mereka masuk dari arah tengah penonton diiringi musik, layaknya sebuah pesta pernikahan.
Enam orang tokoh kunci cerita Matrilini merupakan keterwakilan dari konsep kebudayaan Minangkabau. Sebut saja, Lini, Ibu Lini (Rahayu), Datuk, dan tokoh perwakilan dari sistem pemerintahan seperti Pak Lurah. Juga tokoh yang tidak berada di dalam panggung tapi ikut mempengaruhi jalannya pertunjukan seperti Merah Silu dan Merah Sago.
Pola garapan ini mengingatkan penonton pada seni pertunjukan tradisi randai yang sudah hidup beratus tahun lalu hingga kini di Minangkabau.
Baik tokoh, kostum yang dipakai, serta muatan-muatan dialog yang ada di dalam naskah menjadi kekuatan penting dari pertunjukan tersebut. Selain enam orang pemain, ada tiga pemusik yang duduk di sayap kanan panggung. Pemusik yang mengiringi laju permainan selama satu jam tersebut.  Para pemain di atas panggung, juga pemusik, saling merespons aktor yang sedang berdialog seiring jalannya pertunjukan.
Galibnya naskah Wisran Hadi, yang kerap menggugat eksistensi tokoh-tokoh adat dan fungsinya di ranah Minang, yang dalam garapan Sakata malam itu, tak membuat persoalan menjadi berat-berat amat.
Secara tematis, Matrilini memang termasuk naskah yang penuh dengan gugatan, termasuk soal tanah ulayat di Minangkabau, serta sistem matrilineal yang dianut.
Fani Dilasari, sutradara pementasan ini mengatakan, pertunjukan ini mengarah pada mengeksplorasi dari bentuk pertunjukan realisme dengan konsep teater rakyat yang digarap secara modern.
“Ada benturan kultural di dalam naskah itu, antara matrilineal, tradisi, dan modernisasi. Tapi saya mencoba menyajikan secara tragedi-komedian,” kata Fani Dilasari.   
Fani mengaku merekontruksi kembali naskah itu. Dan membuatnya menjadi dramatik visualisasi panggung.”
Beberapa hal yang menjadi catatan adalah kesan adanya kegagapan memahami kultur Minang secara menyeluruh. Semua naskah Wisran Hadi berangkat dari problem besar adat dan tradisi Minangkabau. Konflik dijalin dengan sentralnya tali dialog tokohnya. Kunci cerita ada pada dialog.
Namun, yang menjadi soal dalam parade naskah Wisran Hadi ini, nyaris semua kelompok teater yang tampil adalah kelompok yang jarang menyentuh naskah Wisran Hadi selama ini. Alhasil, gagap di atas pentas, termasuk yang “mentas” malam tadi. Naskah kuat menjadi lucu dan ironis, malah kadang menyebalkan.
Tentang Teater Sakata
Teater Sakata merupakan organisasi kreatif nirlaba, beranggotakan para penggiat teater. Didirikan sebagai wadah bagi penggalian berbagai potensi komunikasi visual artistik. Usaha tersebut diwujudkan dalam bentuk survai dan eksperimentasi.
Melalui pengenalan terhadap berbagai pentas tari, musik, rupa, dan sastra, kelompok ini berharap menemukan bentuk komunikasi yang efektif. Jika harapan itu terwujud, berarti Teater Sakata telah menunaikan tugasnya sebagai salah satu sekrup dari mesin kebudayaan, yang diharapkan bisa membuka ruang seluas-luasnya bagi pembelajaran dan pengalaman kemanusiaan.
Berdasarkan pokok pikiran tersebut, Teater Sakata berikrar memfasilitasi penyelenggaraan workshop serta eksplorasi artistik bagi aktor dan sutradara. Hal itu bisa juga diwujudkan dalam diskusi, yang pada dasarnya dilakukan sebagai kebutuhan pengayaan internal. Meski tetap terbuka bagi siapa pun yang ingin berpartisipasi.
Atas dasar pikiran itu, dan rasa saling memiliki akibat ‘kemiskinan’ yang sama, persaudaraan, juga hasrat memajukan kesenian, khususnya teater, di Sumatera Barat, pada 16 April 2000 sebuah wadah didirikan. Semua sepakat memberi nama Teater Sakata, yang artinya ‘seiya-sekata’.
Deklarasi Teater Sakata dilakukan pada malam hari di rumah Enrico Alamo (kemudian jadi sekretariat), Kelurahan Guguk Malintang, Padangpanjang Timur. Program utamanya: pementasan, latihan (olah tubuh, olah vokal, olah rasa), dan diskusi bulanan.
Teater Sakata percaya, teater adalah genre seni dan disiplin ilmu yang tidak bebas nilai. Karenanya, teater akan selalu bergerak ekuivalen dengan dinamika masyarakat yang diyakini sebagai pusat pembelajaran paling efektif dan kaya.
Untuk itu, perlu dibuka ruang seluas-luasnya bagi penjelajahan artistik dan pilihan komunikasi. Agar ditemukan pilihan komunikasi pertunjukan yang efektif dan terukur. Jadi, Teater Sakata merupakan kelompok pembelajaran teater, yang karenanya tidak berafiliasi dan fanatik terhadap gaya, konvensi ataupun ideologi artistik mana pun.
Selain Enrico Alamo sebagai penggerak utama, di Teater Sakata ada Tya Setiawati, yang memiliki posisi khusus dalam catatan teater Sumatera Barat. Tya adalah alumnus Jurusan Teater STSI Padangpanjang pertama yang berhasil mendirikan kelompok teater ekstra-kampus yang konsistens dan militan. Dan, pilihan Tya untuk menggeluti isu-isu “perempuan” secara konsisten, telah memberinya, tidak saja ‘identitas’ karya, namun juga dialektika berkarya yang konstruktif. n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar