Rabu, 05 Februari 2014

A TRIBUTE TO WISRAN HADI: Teater Ranah dan yang Membingungkan




OLEH Esha Tegar Putra
Pertunjukan Serunai Laut pada Minangkabau Arts Festival
Banyak kalangan yang menaruh harapan, pagelaran pertunjukan teater naskah-naskah Wisran Hadi ini yang digelar sejak 12 sampai dengan 16 November, dengan menampilkan sembilan kelompok teater dari rencana 10, sebagai momentum bergairahnya kembali seni pertunjukan teater di Sumatera Barat.
Sampai Selasa (15/11) sudah tujuh kelompok teater yang memanggungkan garapannya,  tapi panggung utama Taman Budaya Sumatera Barat belum terlihat penyajian teater yang sungguh-sungguh itu teater. Jika dirujuk empat tahun terakhir, misalnya, tak ada perbedaan signifikan dengan cara berteater hari ini. Teater  Sumatera Barat hanya bermain di situ-situ saja.

Hari keempat A Tribute to Wisran Hadi dengan menghadirkan pementasan naskah-naskahnya, Selasa sore tampil Ranah Teater yang berbasis di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Kelompok ini membawa naskah Uji Coba karya Wisran Hadi dengan sutradara S Metron M.
Uji Coba menggambarkan sebuah kerajaan di negeri antah barantah yang rajanya terobsesi dengan teknologi masa depan menghadirkan robot-robot yang mirip manusia. Robot-robot yang diciptakan seorang profesor ituseperti layaknya manusia—juga ditanamkan juga emosi ke dalam “jiwa” mereka.
Untuk mencapai kesempurnaan robot-robot itu, Sang Mulia sudah menginvestasikan triliunan rupiah dana untuk eksprimen itu, yang ujungnya membuat Sang Mulia kecewa. Robot-robot itu tak pernah tercipta sesuai dengan kehendak Sang Mulia. Akhirnya kacau dan muncul chaos.
Sesaat sebelum memasuki gedung pertunjukan Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, dari inti cerita Uji Coba yang saya peroleh, di dalam pikiran saya sudah terbangun setting cerita dengan properti peralatan teknologi mutakhir di atas panggung. Atau paling tidak, simbol-simbol yang membawa diri saya berkorelasi dengan “dunia” penciptaan robot yang canggih dan rumit itu. 
Tapi, kenyataannya bukan demikian. Tak satupun di atas pentas yang dihadirkan Teater Ranah yang bisa membantu saya bisa berimajinasi dan bercumbu dengan teknologi. Saya tidak kecewa. Dan mafhum saja. Memang demikianlah kondisi teater Sumatera Barat hari ini.
Di atas pentas, terpapar tiga kain warna putih yang difungsikan sebagai siluet. Di tengahnya, ada tiang yang dapat berputar, yang juga multifungsi yang kadang sebagai tahta Sang Mulia, kadang juga dimanfaatkan “kandang” robot.  Tokoh-tokoh juga dikesankan fungsional, kadang jadi properti, kadang jadi laku.
Setiap pertunjukan teater jelas dipahami sebagai proses menuju “sesuatu”. Namun, kesaksian saya sebagai penonton, malah membuat saya tak mengerti. Bingung. Mungkin keterbatasan saya memahami dunia teknologi robot, membuat saya terjebak dalam lingkar yang sulit membuat diri saya nikmat menonton.
Di atas pentas, tersusun sebuah auditorium kecil yang menghadap ke arah penonton. Auditorium ditata sedemikian rupa karena yang akan duduk di sana adalah Yang Mulia dan orang-orang penting lainnya. Mereka akan menonton sebuah pertunjukan yang akan dilakukan di hadapan mereka.
Pementasan Uji Coba tersebut, dengan 11 pemain, bercerita tentang lakon Yang Mulia, Yang Terhormat, dan Yang Kurang Terhormat dan dua orang Emsi.
Dialog berjalan dengan gaya khas teks-teks yang sering hadir dalam naskah Wisran Hadi. Yang kebanyakan memperdebatkan soal agama, kuasa atas pemerintahan bobrok, dan kuasa mitos dewa-dewa atas manusia. “Yang Mulia, Yang Terhormat, Yang Tidak Terhormat berserya Yang Lain-lain.
Sebentar lagi akan dipersembahkan sebuah pertunjukan Ujicoba dari utusan kita yang akan mengikuti Pekan Kemajuan Dunia,” sentilan dialog dalam naskah Wisran Hadi dibacakan tokoh Emsi.
“Persembahan ini didukung oleh actor-aktor digital yang lazim disebut robot-robot. Sebagaimana Yang Mulia perintahkan, aktor-aktor digital yang akan mewakili kita di dunia internasional tersebut adalah robot-robot generasi baru,” tambah Emsi tersebut pada penonton.
Kacau Balau Pencahayaan
Laju pertunjukan berjalan statis dengan gerakan tokoh-tokoh yang telah menjadi robot mulai dengan menanggalkan salah satu bagian properti pintu yang bisa diputar. Salah satu pipa dengan panjang satu meter ditanggalkan dari properti tersebut untuk menjadi bagian dari gerakan aktor. Pada tiap dialog pipa tersebut dihentak-hentakkan ke lantai panggung. Setiap pergantian dialog robot satu sampai empat, pipa dihentakkan, mereka berdialog lantas meloncat di atas panggung.
Dialog-dialog merupakan fokus dari pertunjukan selain dialog tokoh yang lain dari belakang siluet. Sebab, robot-robot tersebut menjadi pusat. Mereka bermain di tengah panggung. Tiap-tiap robot tersebut mengungkapkan persoalan yang terdapat dalam diri mereka. Semisal kekurangan mereka menjadi robot, dibanding ketioka mereka menjadi manusia. Salah satu robot pun mengingat kisah cintanya dengan perempuan bernama Noni. Saat ia mengingat, muncul di siluet bagian tegah tembakan layar video seorang perempuan belia yang sedang kasmaran dan menjelaskan kisah cintanya dengan si robot.
Secara tematik, memang pementasan ini terlihat berbeda dengan pementasan teater sebelumnya. Misalkan Matri Lini” yang digarap oleh Teater Sakata dan Teater Kamus serta Old Track Teater, dengan Perantau Pulau Puti. Dr. Anda yang digarap oleh Gaung Ekspose, dan lain-lain.
Tapi dalam pola pergerakan permainan. Banyak kekosongan keaktoran yang dirasakan. Sebab terlihat pemain dengan gerakan yang seakan monoton, meski gerakan tersebut muncul dari naskah yang mendukungnya. Misalkan, robot-robot di panggung bisa saja melakukan dialog dengan kalimat yang tidak jelas dengan alasan robot-robot tersebut sedang kehabisan energi.
Konsep pemanggungan juga kurang dalam hal tata-cahaya yag merupakan hal yang vital dalam pertunjukan tersebut. Tata cahaya menjadi inti dari pola pergerakan teaterikal pemain di atas penggung. Tata-cahaya ini terkadang salah, atau bisa jadi pemain yang tidak menyadari, ke arah mana ia akan berjalan. Pengaturan cahaya memang sangat parah. n

Tidak ada komentar:

Posting Komentar