Kamis, 06 Februari 2014

MINUMAN KAWA DAUN: Warisan Kolonial Jadi Gaya Hidup

OLEH Nasrul Azwar
Para pengunjung dan penikmat kawa daun di salah satu kedai kawa dauh di di Nagari Tabek Patah, Tanah Datar, Sumatera Barat. (Foto Buya Roni)
Daihatsu Xenia yang membawa kami dari Kota Padang berhenti di samping sebuah kedai sederhana di KM 10 Jalan Raya Batu Sangkar-Bukittinggi-Payakumbuh di Provinsi Sumatera Barat, pengujung tahun lalu. Kedai itu berada di Nagari Tabek Patah, Kabupaten Tanah Datar, 120 KM dari ibu kota Provinsi Sumatera Barat. Perjalanan panjang bersama kendaraan “sejuta umat” itu—setelah melewati Kota Arosuka-Solok—tak terasa telah mengantarkan kami ke kedai kuliner khas Minang itu.

Sore dengan pendar lembayung, saat itu. Kedai dengan gaya khas kebanyakan kedai-kedai Minang (biasa disebut lapau) meja-meja dan lesehannya tampak sudah penuh pengunjung. Tapi di pojok sebelah kanan, meja terbuat dari bambu lokal itu, baru terisi 2 orang. Kami pun bergabung di sana.
“Kawa lima, Da.” Seru Roni Kurniawan, yang akrab disapa Buya, salah seorang teman saya, ke orang kedai yang mendatangi meja kami. Kami memesan lima sayak (tempurung) kelapa kawa daun dan gorengan berupa bakwan dan pisang goreng. Sore makin harmoni.
Minuman kawa daun (sebagian masyarakat Minang menyebutnya kopi kawa daun).  Arti kawa dan kopi sebenarnya sama. Kopi juga disebut kawa. Kawa itu disebut kopi. Sebagian daerah di Minang ada yang menyebut kawa itu kopi, ada juga mengatakan kopi itu kawa. 
Minuman yang enam tahun terakhir ini naik daun di daerah Sumatera Barat, terutama daerah darek (Tanah Datar, Limopuluh Koto, Agam), uniknya, tak disajikan dengan wadah gelas atau mangkuk. Tapi wadahnya menggunakan tempurung kelapa (di Minang disebut sayak) yang sudah dikikis bersih sehingga terlihat menghitam dengan alas bambu untuk menupangnya agar tak tumpah. 
Pengunjung tampak menikmati ritual minum kawa daun sore itu. Mereka datang dari pelbagai pelosok kota-kota di Sumatera Barat: tua-muda. Mereka datang bergerombolan. Silih berganti. Ada juga yang sedang berpacaran. Contohnya, sepasang remaja yang duduk di semeja dengan kami. Mereka terlihat bercengkrama. Tertawa renyah. Tampaknya mereka belum memesan apa-apa.
Tak pakai lama,dua orang mengantarkan lima sayak (tempurung) yang berisi kawa (kopi) daun ditambah dua piring gorengan. Sayak itu beralaskan potongan bambu. Di atas bambu itulah sayak ditaruh. Sedikit ditambah gula pasir atau gula merah, ritual upacara kecil minum kawa daun pun kami mulai. Kendati berasal dari daun kopi yang sangrai, rasanya bukan seperti rasa kopi yang agak pahit, tapi kelat sedikit dan ringan. Sendok pengacaunya, tak menggunakan sendok biasa yang kita pakai, tapi sendok yang terbuat dari kulit manis. Makanya, sensasi rasanya sangat beda dan melekat di lidah.
“Menyegarkan dan khas,” timpal Tika Syamer, teman saya lainnya setelah mencicipi kawa daun dari sayaknya.
“Kawa duo, Da,” pesan remaja yang duduk di sebelah kami itu. Akhirnya keduanya memesan kawa daun.
Irfan dan Mega, nama kedua remaja ini, mengaku tertarik mencoba kopi daun itu karena penasaran. “Kata orang yang pernah mencoba, rasanya kelat. Pokoknya enak dan baunya harum,” kata Irfan sembari melirik ke Mega yang kawa daunnya belum terusik. Keduanya mengenalkan dirinya pada kami.
“Bakwan dan goreng pisangnya juga enak,” tambah Mega.
Enam terakhir, bermunculan kedai-kedai (lapau) yang beratapa daun kelapa—terutama di sekitaran Kabupaten Tanah Datar dan Limapuluh Koto—yang menyajikan minuman khas kawa daun ini. Malah, di Kota Padang dan Bukittinggi, kafe-kafe juga sudah menyediakan minuman ini.
Nofrizal Eka Putra, 35 tahun, pemilik salah satu pemilik kawa daun, yang berlokasi di Tabek Patah KM 10 Jalan Batu Sangkar, adalah seorang dari sekian banyak pengelola lapau kopi daun di sepanjang jalan utama itu.
“Kawa daun sudah menjadi gaya hidup masyarakat tanpa pandang usia. Kita buka sejak siang sampai malam. Sudah ada beberapa cabang baru kita buka. Selain itu, menyediakan kawa daun bak melestarikan sejarah dan tradisi masyarakat Minang,” terang Nofrizal saat berbincang kepada saya.
Ia jelaskan, sejarah minuman kopi daun itu sebenarnya cara halus politik kolonial Belanda menguasai tanaman kopi di Ranah Minang. “Buah kopinya dibawa Belanda ke negerinya, sementara daun kopi dikatakan kepada masyarakat juga enak diminum dengan cara direndam dengan air panas. Dan jadilah saat itu, kopi daun sebagai minuman masyarakat,” kata Nofrizal, tersenyum.
Minuman kopi daun atau sering disebut kawa, berasal  dari daun kopi yang tak terlalu tua dan juga tak terlalu muda dipetik lalu dan disangrai di atas tunggu di dapur yang menggunakan kayu bakar.  Asapan kayu ini yang menciptakan rasa yang khas setelah daun kopi itu direbus. Warnanya agak mirip teh.
Dengan kreativitas masyarakat, bentuk kawa daun pun beragam dengan harga yang bervariasi. Harga kawa daun tak pula mahal dan sangat bermasyarakat. Untuk kawa daun biasa tanpa tambahan lainnya, harganya tiga ribu rupiah per tempurung kelapa. Jika ditambah es, jadi empat ribu rupiah. Kawa susu lima ribu rupiah, dan jika ditambah telur telur kawa harganya tujuh ribu rupiah per batok kelapa.
Menurut Nofrizal Eka Putra, setiap hari, ia menghabiskan sekitar 10-15 karung ukuran menengah kawa daun yang siap direbus. Daun kawa dipasok oleh petani-petani sekitar Tabek Patah.
“Lebih kurang, empat sampai rebusan daun kawa sehari. Jika hari libur, bisa mencapai rebusan,” kata Nofrizal Eka Putra.
Kawa daun direbus dengan menggunakan kayu api. Asapan kayu itu yang mungkin membuat kawa daun mengandung rasa yang khas di lidah. Wadah rebusan terbuat dari drum yang dipotong setengahnya. “Sekali rebus, setengah drum.”
Maraknya lapau-lapau kawa daun yang tumbuh, tentu berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Memang, sepanjang jalan raya Batu Sangkar-Bukittinggi-Payakumbuh-Padang, lapau kawa daun bermunculan di sepanjang jalan. Dan kini telah menjadi salah satu destinasi wisata kuliner di Sumatera Barat.    
Berkhasiat
Dikutip dari situs www.kopikawadaun.com, sebuah penelitian terbaru yang dilansir para ilmuwan dari Royal Botanic Gardens di Kew, London, dan Joint Research Unit for Crop Diversity, Adaptation and Development di Montpellier, kawa daun ternyata memiliki khasiat untuk kesehatan.  Para ahli ini menemukan bahwa minuman dari daun kopi ini ternyata lebih sehat ketimbang teh dan kopi itu sendiri.
Menurut para ilmuwan itu air daun kopi mengandung senyawa yang bermanfaat mengurangi risiko penyakit jantung dan diabetes. Daun kopi mengandung antioksidan lebih tinggi dibandingkan teh biasa.
"Yang mengejutkan adalah berapa banyak antioksidan dalam daun kopi. Jumlahnya jauh lebih tinggi dibandingkan teh hijau dan teh hitam," ujar Dr Aaaron Davies, pakar kopi dan botani dari Royal Botanic Gardens seperti dilansir laman Telegraph.
Tak hanya antioksidan, daun kopi juga mengandung bahan kimia alami yang berkhasiat mengatasi masalah peradangan. Bahan kimia alami ini biasanya ditemukan pada buah mangga.
"Ditemukan juga zat dalam level yang tinggi yang disebut mangiferin dalam daun tanaman kopi Arabika," terang Aaaron.
Para peneliti menilai, selama ini daun kopi diabaikan karena orang lebih mengedepankan biji kopi yang memiliki nilai lebih tinggi. Meski demikian, mereka yakin bahwa daun kopi bisa menjadi minuman sehat baru, setelah teh hitam atau teh hijau.
Teh daun kopi mengandung kafein yang rendah dan memiliki rasa yang biasa, tidak pahit seperti teh atau sekuat kopi. Dr Davies menjelaskan, kopi daun teh sangat populer di beberapa negara, seperti Ethiopia dan Sudan Selatan. Bahkan ada upaya memasarkan teh daun kopi ini di Inggris pada tahun 1800-an.
Sejarah Panjang Kawa Daun
Berawal dari Sistem Tanam Paksa Dalam literatur sejarah, penamaan kopi daun identik dengan ironisnya kondisi masyarakat Melayu saat kolonial Belanda menguasai Nusantara ini. Bangsa kolonial Belanda dengan cerdik membangun stigma terhadap bangsa pribumi. Maka, tak heran, muncullah stigma negatif dengan sebutan Melayu Kopi Daun, Intel Melayu, dan lainnya.
Banyak kajian sejarah membahas mendalam masalah ini. Salah satunya studi yang dilakukan Mestika Zed dengan judul Melayu Kopi Daun: Eksploitasi Kolonial dalam Sistem Tanam Paksa Kopi di Minangkabau, Sumatera Barat (1847-1908).
Sementara itu, Suryadi, peneliti dari Leiden University Institute for Area Studies (LIAS) Leiden, di Leiden University Library, Belanda, mengatakan terdapat satu naskah schoolschriften tentang Minangkabau dari akhir abad ke-19 yang merefleksikan sindiran ironis dalam bentuk pantun terhadap sistem tanam paksa yang diterapkan oleh Belanda di Minangkabau. Salah satu kutipan pantun tersebut berbunyi:
Sikilia di paleh-paleh,
Kayu tobi ateh pambatang,
Lah mujua nan Tigo Baleh,
Bakopi bakabun gadang.
“Pantun di atas menyindir tiga belas penghulu (atau mungkin juga Tuanku Laras) yang tampaknya mendapat konsesi oleh kompeni Belanda untuk mengelola perkebunan kopi yang hasilnya harus diserahkan kepada Belanda,” kata Suryadi.
Sejarah telah mencatat bahwa dengan diterapkannya sistem tanam paksa di Minangkabau, Belanda makin memengaruhi sistem kehidupan masyarakat Minangkabau (kehidupan bernagari), dengan menciptakan jabatan Tuanku Laras untuk mengontrol masyarakat dan menjamin produksi kopi yang mereka inginkan dan yang menjadi salah satu komoditi yang sangat menguntungkan di pasar Eropa.
Dalam pantun lainnya juga dengan tegas disebutkan:
Sikilia taji dalam balat,
‘Alah ka ilia kapalonyo,
Iliakan kopi tiok Ahad,
Kito nak buliah pahalonyo.
Jelas maksud bait ini adalah sindiran kepada Belanda yang memaksa penduduk pribumi menyetorkan hasil kopi kepada penjajah itu, dan dengan manis (tapi ironis) disebutkan bahwa dengan menyetor buah kopi itu kepada Belanda “kita memperoleh pahala”.
Suryadi menjelaskan, minum kopi sudah begitu membudaya di kalangan orang Belanda sejak dulu hingga sekarang. Kelekatan lidah orang Belanda dengan bubuk kopi jelas dapat ditelusuri jauh ke zaman kolonial.
“Kita ingat istilah “Melayu Kopi Daun” yang merujuk kepada eksploitasi tanaman kopi oleh Belanda di Sumatra pada zaman kolonial: biji kopi yang berkualitas tinggi dibawa oleh orang Belanda ke Eropa dan orang Melayu (pribumi) yang menanamnya hanya dapat menikmati daunnya yang direndam menjadi kawa,” katanya.
Pada tahun 1830 Pemerintah Kolonial Belanda memberlakukan cultuurstelsel atau ‘Tanam Paksa’. Kebijakan ini dihentikan tahun 1870, tapi prakteknya terus berlangsung sampai awal abad ke-20. Salah satu tanaman yang harus ditanam secara besar-besaran oleh penduduk pribumi adalah kopi.
“Hasil panen kopi harus dijual kepada Belanda dengan harga murah, tapi mereka menjualnya di Eropa dengan harga mahal,” ungkap papar Suryadi yang telah mengajar 10 tahun di Universitas Leiden, yang juga putra Pariaman, Sumatera Barat ini.
Kebijakan ‘tanam paksa’ yang menyengsarakan rakyat itu juga dikritik oleh Multatuli dalam novelnya yang terkenal Max Havelaar. Namun kini, minum kopi daun sudah menjadi gaya hidup masyarakat. Belum bisa diurai, apakah ini karena romantisme masa lalu, atau karena kopi daun itu sangat enak.
Mentari terbenam. Kami pun berangkat menuju arah Payakumbuh. Di kota ini, malamnya akan digelar pertunjukan teater berjudul Tambo Gustaf. Menyeruput kawa daun sembari menikmati teater, mungkin gaya hidup yang layak dinikmati. *** 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar