Kamis, 27 Februari 2014

[Sekali-lagi] tentang Kesederhanaan

OLEH Deddy Arsya
probohindarto.wordpress.com
Pada suatu masa ketika Islam telah menjadi sebuah negara-kota, kekayaan berlimpah ke kas negara akibat penaklukan kota-kota kaya Persia dan Byzantium. Pada ketika itu, beberapa amir kaum muslim, para gubernur baru daerah taklukan, perlahan-lahan mulai menjadi tambun, kelebihan berat badan. Di sisi ini, Umar si khalifah, yang praktis dan taat, mulai merasa cemas, merasa pesan-pesan rasul telah disalah-artikan penerus-penerusnya. Dia lantas berniat menghentikan gerak penaklukan yang sedang begitu bersemangat itu.

Jika penaklukan-penaklukan muslim Arab diteruskan, Umar khawatir, kekayaan petinggi-petinggi muslim akan terus menggunung. Kemewahan akan semakin menjadi gaya hidup mereka. Umar ‘cemas’ pada satu kata dalam kitab suci, “bermegah-megah telah melalaikanmu!”. Kekhawatiran akan bermegah-megah dan bermewah-mewah dari para gubernur itulah yang barangkali meminta Umar, si khalifah, untuk mulai menghentikan penetrasi politis kaum muslim awal. Dia mencopot Amr bin Ash dari jabatannya sebagai gubernur Mesir karena berpikir Amr telah menjadi sesak napas di tengah tumpukan kekayaan daerah taklukan yang berlimpah. Dia juga memberhentikan Khalid bin Whalid juga karena sang pedang Islam itu mengambil beberapa rampasan perang yang bukan haknya.
Umar memang lain, utusan Romawi terkejut mendapatinya tertidur di lantai masjid nabi hanya beralaskan tikar kasar. “Seorang pemimpin dunia Islam yang kaya dan luas membentang dari timur dan barat, saya dapati hanya seperti seorang pengembala domba,” kata utusan itu.
Kisah Umar adalah narasi pengabdian pada masyarakat yang mengangkatnya sebagai pemimpin. Narasinya adalah narasi penyerahan tiada ampun kepada rakyat yang dipimpinnya. Dia menolak makan daging dan gandum di saat masyarakat muslim Arab tengah dihantam bencana kelaparan akibat gagal panen dan musim yang buruk. Dia menjadi kurus di tengah-tengah beberapa gubernur muslim lainnya yang begitu cepat menjadi gemuk.
Muhammad telah lama wafat, dan ajarannya tentang kesederhanaan pemimpin lebih sering tinggal dalam kitab suci dan kitab-kitab hadits ketimbang diamalkan. Atau cukup tinggal dalam diri beberapa orang sahabat. Praktis, sejak Islam menjadi peradaban besar pasca-khulafarasyidin, nyaris, kesederhanaan hanya milik rakyat miskin yang tak mampu bermegah-megah. Dan pada di sisi lain milik para sufi-darwis, gelombang baru dalam dunia Islam pasca-rasul yang sejarah kemunculannnya juga dilatarbelakangi oleh kemegahan kekuasaan zamannya. Setelahnya, kita mengenal sejarah politik Islam adalah sejarah kemegahan para sultan, yang dalam bahasa kitab suci disebutkan dengan geram mengecam mereka  ‘yang menumpuk-numpuk harta dan menghitung-hitungnya, yang merasa semua kekayaan itu akan menyelamatkan mereka’.
Kesederhanaan Umar barangkali adalah contoh besar, prototipe, kesederhaan bagi orang-orang Sunni. Sementara kaum Syiah mengambil contoh pada Ali dan keluarganya. “Di tengah kemajuan Islam yang gilang-gemilang, di manakah putra Abu Thalib itu?” demikian kata Ali Syariati dalam sebuah buku yang diterjemahka ke dalam bahasa Indonesia dua tahun yang lalu, Fatimah: The Great Women.
Dalam riwayat kaum Syiah yang pernah ditulis, Ali Syariati menarasikan bahwa Ali dan keluarganya tersuruk-suruk dalam kemiskinan, hanya memiliki rumah kecil di samping masjid nabi, berselimut lusuh, dan makan seadanya dari hari ke hari. Di tengah kedigdayaan kekuasaan Islam, kas negara yang penuh dengan harta rampasan dan zakat, adalah musykil seorang ahlul bait rasul, keluarga dekat Muhammad, bisa hidup dalam kemiskinan yang akut serupa itu.  Tetapi demikianlah yang dicatatkan sejarah.
Pun Hasan bin Ali, putra Fatimah satu-satunya yang masih tersisa setelah Husein dipancung di Padang Karbala. Dia lebih memutuskan untuk menjadi pengembala domba daripada ikut ambil bagian dalam pesta kemegahan penguasa Umayyah. Kata-katanya yang terkenal mengenai ini didengung-dengungkan pembaca hikmah: “Saya lebih memilih menjadi pengembala domba di puncak gunung daripada harus berebut harta rampasan dengan sesama muslim”.
Kisah Ali dan keluarganya menjadi inspirasi ulama-ulama dan pemimpim-pemimpin kaum Syiah kemudian bersoal kesederhanaan. Setidak-tidaknya sejak Reza Pahlevi digulingkan gelombang revolusi Iran tahun 1979, kita bisa menyaksikan dengan jelas kesederhanaan pemimpin-pemimpin mereka. Sejak Imam Khomenei hingga Ahmadinejad kini. Kita bisa belajar banyak pada figur penguasa politik yang tidak glamor dan tidak gemerlap bersoal kepemilikan harta itu. Imam Khomenei hanya punya rumah kecil dengan perabot yang hampir tak ada. Sementara Dinejad hanya memiliki mobil butut dengan rumah yang juga sederhana—terlihat janggal bagi seorang penguasa tertinggi sebuah negeri yang cukup kaya.
Kisah-kisah kesederhanaan sesungguhnya juga bisa ditemukan dalam sejarah bangsa kita. Telah banyak ditulis dan diketahui tentang Hatta, yang hanya memiliki sepatu jelek selama menjabat sebagai wakil presiden,  yang rekening listriknya bahkan menunggak. Kita juga bisa mengenang Natsir, yang tidak kaya-kaya sekali pun telah jadi perdana menteri berulang kali. Kekusaan bagi mereka betul-betul bukan lahan untuk memanen kekayaan material.  
Sikap Hatta maupun Natsir, juga bukan sikap yang massif pada zamannya.  Mereka hanya suara redup di tengah gebalau zamannya yang nyaring pada kemewahan. Tidakkah, sebagaimana sekarang, pejabat-pejabat Orde Lama pun berlomba-lomba menumpuk-numpuk kekayaan, menjadi kaya raya di tengah kemiskinan rakyatnya. Biografi seorang Jaksa Agung zaman Orde Lama, Mengadili Menteri Memenjarakan Perwira, menunjukkan bahwa korupsi pada masa itu tidak kalah merajalela. Para perwira dan menteri digiring masuk penjara karena korupsi. Aidit, ketua partai penganjur kesetaraan kelas sekali pun bahkan dianggap telah terlena dalam gaya hidup borjuasi yang ditantang partainya sendiri. Orang-orang di selingkaran kekuasaan hidup mewah dengan mobil-mobil dan rumah-rumah yang dibeli dengan uang yang ghaib.
Lantas apa gunanya cerita-cerita tentang kesederhanaan pemimpin ini kini diulang-ulang?
Cerita tentang kesederhanaan adalah cerita yang seperti mengada-ada kini. Cerita tentangnya, meminjam penggalan sajak Jon Confort, telah menjadi ‘tinjauan beku’. Kisah semacam itu seperti datang dari sebuah kurun yang seolah tak ada dalam waktu. Maka cerita tentang kesederhanaan Umar ibn Khattab, Ali, Fatimah, Hatta, Natsir, dan lain-lain itu adalah juga cerita yang berpotensi ‘teralienasi’ dari zaman kita.
Kesederhanaan hanya akan dicemooh. Suara nyaring zaman ini yang pemimpinnya condong kepada kehidupan bermewah-mewah akan mencemoohnya. Ada anggota dewan perwakilan rakyat daerah yang pada masa awal jabatannya masih bersahaja mengendarai motor ke kantornya, bahkan ke mana-mana, tetapi siapa yang bisa bertahan dalam kesederhanaan yang menyakitkan itu, untuk tidak membeli mobil baru, rumah baru, memperbanyak tabungan masa depan, dan lain sebagainya?
Tentu hanya orang-orang yang berkepribadian kuat dan jujurlah yang bisa. Dan orang-orang serupa itu langka di setiap zaman. Apalagi di tengah zaman yang seperti kita alami bersama sekarang. Sebagaimana pada masa Orde Lama, maka suara-suara kesederhanaan juga suara yang asing pada zaman ini. Tetapi, semoga dan tentu tetap akan ada pemimpin-pemimpin yang memilihnya sekalipun sulit untuk menjalaninya. Mereka akan menjadi contoh pemimpin untuk masa depan.
Padang, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar