Kamis, 06 Maret 2014

Belajar Filosofi Gotong Royong pada Karanggo



OLEH GUSRIYONO

Jurnalis

Darvies Rasjidin, pelukis, bersama karyanya
Butuh waktu dua tahun untuk mengerjakan lukisan ini. Setiap selesai 50 semut, saya istirahat, atau mengerjakan lukisan lain. Besoknya mulai lagi 100 semut dan seterusnya, hingga 153.761 semut,” kata pelukisnya, Darvies Rasjidin. Lukisan tersebut dipajang dalam pameran lukisan tiga pelukis asal Sumbar, Darvies Rasjidi, Herisman Is, dan Tamsil Rosha, bertajuk ”Tiga Rupa Bumi” di Taman Budaya Sumbar.   Lukisan Taiji, lambang tradisional untukkekuatan Yin dan Yang, berwarna hitam-merah-putih dalam bingkai persegi berwarna merah dengan tingkat kekentalan yang berbeda. Di atasnya berkerubung semut-semut, atau lebih tepat disebut karanggo, yang berjumlah ribuan. Ada 153.761 semut atau karanggo di sana, sesuai judul lukisan itu 153.761 SM.
Lambang Yin dan Yang serta kerubungan karanggo ini menjadi salah satu perwujudan kegelisahan Darvies terhadap alam. Dalam pemaknaannya, Yin dan Yang adalah keseimbangan. Meski pun keduanya memiliki sifat berlawanan, tetapi mereka adalah bagian dari alam, mereka saling mengandalkan, dan mereka tidak bisa ada tanpa satu sama lain. Menurutnya, keseimbangan Yin dan Yang sangat penting. Yin dan Yang dapat saling mengisi dalam kondisi tertentu.
“Selain keseimbangan alam, sikap gotong royong seperti yang dicontohkan karanggo ini juga hampir menipis di zaman sekarang. Perilaku itu muncul hanya saat-saat tertentu saja, seperti ketika terjadi bencana saja. Selebihnya, orang-orang lebih memilih hidup secara individual,” ungkap pelukis yang akrab disapa Mak Darvies ini.
Karanggo sebagai simbol yang memiliki spirit dan filosofi terkait perilaku gotong royong diamati saban hari oleh Mak Darvies. Di rumahnya, di Yogyakarta, ia sengaja memelihara karanggo di sebatang pohon. Dari sanalah ia belajar filosofi gotong royong para semut itu, yang kemudian menjadi inspirasi dalam lukisannya. Lihat saja lukisan series daun, yang terdiri dari beberapa lukisan, yang mengeksplorasi kerja karanggo.
“Saya mengamati bagaimana mereka membangun rumah. Kemudian saya tuangkan dalam beberapa lukisan di series daun itu. Dalam kehidupan nyata, saya melihat perwujudannya saat terjadi gempa di Yogyakarta, mungkin juga di Sumbar, dimana orang datang dari mana saja membantu membangun rumah warga yang runtuh dengan semangat gotong royong, tanpa pamrih.
Jadi secara filosofis, bagaimana kita melihat spirit dari kebersamaan itu dalam membangun tatanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa,” ungkap pelukis yang menetap di Yogyakarta sejak 1998 ini.
Selain karanggo dan daun, kuas juga jadi pengamatan suami Sarpini ini. Dalam pikirannya, mengapa kuas habis dipakai dibuang atau dibiarkan saja. Bukankah sebelumnya ia memiliki peran penting dalam kehidupan seorang pelukis.
“Bagi saya, kuas sangat berarti. Makanya saya kumpulkan kuas-kuas yang telah dipakai itu. Selain itu, lelehan warna pada kuas-kuas bekas itu juga sangat menarik bagi saya,” ujar ayah Adli Rafif ini.
Dari Retak-retak ke Berseri
Proses kreatif laki-laki kelahiran Solok, 15 Oktober 1948, ini beranjak dari kegelisahan terhadap identitas kulturalnya—Minangkabau. Pada perjalanan awalnya, ia melukis Minangkabau serupa artefak yang retak-retak. Lukisan retak-retak itu muncul sebagai gagasan atas kondisi Minangkabau yang bergerak dalam ketegangan eksotisme dan kerapuhan. Nasib yang terus mengerayangi budaya tradisi di mana pun. Beberapa lukisannya pada periode retak-retak ini, Minangku (1987), Selawat Dulang (1990), Menanti Giliran (1997), serta Mimpi Gumarang dan Binuang (1998).
Di tengah perjalanan berkaryanya, lulusan SSRI Padang (sekarang SMK 4 Padang) dan STSRI ASRI Yogyakarta (sekarang ISI Yogyakarta) ini beralih ke lukisan berseri dan meninggalkan retak-retak. Maka lahirlah karya-karya seperti, seri daun yang terdiri dari beberapa lukisan yang berhubungan dengan daun, seri batu, yang terdiri dari 10 lukisan, serta seri kuas dengan judul Paint Brush I, Paint Brush II, Paint Brush III, dan lain-lain.
Khusus untuk seri batu, cerita anak Bumi Teater pimpinan Almarhum Wisran Hadi ini, tidak diketahui nasibnya sekarang. Sebab, 10 lukisan itu dikirimnya ke Jakarta atas permintaan seorang teman untuk mengikuti pameran. Dalam waktu bersamaan, lukisan itu juga diminta oleh seorang kolektor dengan harga Rp10 juta perlukisan. Namun, karena menghargai teman yang akan membawanya pameran itu, ia batalkan permintaan kolektor itu, dan dikirimnya 10 lukisan itu ke Jakarta. Untuk ongkos kirim dan biaya lainnya, ia dikirimi Rp25 juta oleh temannya itu.
“Setelah itu, tidak ada lagi kejelasannya. Kalau dibandingkan dengan harga kolektor itu, berarti ada Rp75 juta hasil lukisan saya yang tidak jelas keberadaannya sampai sekarang. Sementara lukisan itu tidak kembali sampai sekarang,” ungkapnya.
Penikmat Lebih Banyak dari Kolektor
Sejak era booming lukisan kontemporer Indonesia tahun 2000-an, pelukis-pelukis muda Indonesia menjadi incaran kolektor Asia. Dalam gairah tersebut, respon para segala pihak, pelukis, kritikus, kolektor, meledak dalam pasar yang atraktif. Namun, di sisi lain, akibat lemahnya infrastruktur dan suprastruktur seni di Indonesia, booming itu sekaligus menjadi boomerang tersendiri.
Dalam suasana tak menentu itu, pasar cenderung menggeliat liar, tanpa standar harga, tanpa sokongan wacana. Harga karya-karya seni bisa melambung begitu saja di ajang lelang meski senimannya tidak dikenal punya proses kreatif dan reputasi meyakinkan.
“Lukisan seberapa pun harganya tetap di lepas ke pasar lelang oleh spekulan. Lelang pun tidak terkontrol lagi. Biasanya, lukisan masuk pasar lelang bila telah berumur 5 tahun lebih. Tapi saat booming, masih angek-angek sudah dilepas,” ungkap Mak Darvis.
Akibatnya, kata Mak Darvies, fenomena ini banyak melahirkan penikmat lukisan, ketimbang kolektor. Sebab, orang yang benar-benar kolektor akan berhati-hati dalam menyeleksi lukisan-lukisan dari para spekulan dan pasar lelang itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar