Rabu, 05 Maret 2014

‘Cerita Perjalanan’ dalam Pariwisata Kita




OLEH Deddy Arsya
Pengarang tinggal di Padang
Cerita-cerita perjalanan menjadi populer kembali dewasa ini. Majalah traveling berlahiran. Rubrik jalan-jalan hadir setiap minggu di suratkabar besar dan kecil. Buku-buku cerita perjalanan dengan gampang ditemui pada rak-rak toko buku, baik yang ditulis belakangan maupun yang telah bernilai langka dalam literatur kesejarahan.
Genre ini punya ikatan erat dengan proses penjajahan. Teks-teks perjalanan menginspirasi penjelajah Eropa awal menemukan dunia baru. Tetapi di sisi yang berbeda, teks-teks ini juga punya hubungan dengan kepentingan pariwisata. Sejarah pariwisata modern konon mengambil bentuk promosi paling awal melalui kisah-kisah perjalanan.

***
Kurun abad ke-17 dikatakan sebagai periode awal pariwisata modern di Nusantara. Di kapal-kapal yang membawa penjelajah barat ke negeri gugusan kepulauan ini terdapat pada pedagang, rohaniwan, ilmuwan, dan serdadu bayaran. Mereka yang terkesan dengan keindahan alam Nusantara dan penduduknya membuat catatan-catatan pribadi dalam bentuk catatan perjalanan. Catatan tersebut kemudian diterbitkan setelah penulisnya kembali ke tanah airnya. Catatan itu membangkitkan minat orang sebangsanya untuk melakukan perjalanan yang sama.
Ahmad Sunjaya, dalam sebuah artikel penutup untuk buku yang ditulis Clockener Brousson—seorang serdadu dan penulis Eropa abad ke-20 yang menuliskan pengalamannya berkunjung ke Indonesia, yang baru-baru ini diterjemahkan menjadi Batavia Awal Abad ke-20—menyebutkan bahwa ada dua jenis teks-teks perjalanan yang muncul pada abad ke-16, yaitu scheepjournalen (catatan perjalanan kapal) dan reisdagboek (catatan kejadian sehari-hari).
Pada abad ke-17, jenis yang pertama merupakan salah satu bahan bacaan yang paling disukai di Eropa.  Isinya menyajikan petualangan pelayaran di tengah alam liar yang eksotik di Hindia. Ahmad Sunjaya menulis, bahwa catatan kategori ini misalnya ditulis pelaut Wilem Bbrantsz Bontekoe, pendeta Francois Valentijn, Goerg Evetard Rumphius, Nicolaus de Graaff dan ahli botani Franz Wilhelm Junghun. Catatan-catatan tersebut menjadi buku pegangan para petualang Eropa sebelum menjejakkan kaki di Nusantara.
Sementara jenis yang kedua mulai populer pada abad berikutnya. Di mana gambaran kehidupan keseharian masyarakat yang didatangi mengambil tempat yang lebih signifikan. Pencatatan tidak lagi hanya dilakukan oleh mereka yang ikut dalam ekspedisi zaman pelayaran, tetapi telah meluas kepada pegawai-pegawai Eropa yang telah menetap di tanah jajahan, pejabat-pejabat militer maupun sipil kolonial, para ilmuwan, dan termasuk pihak pers. Pembicaraan panjang-lebar dilakukan mengenai penduduk pribumi yang mereka kunjungi. Mulai dari pengidentifikasian watak, mentalitas, tabiat, hingga segala sesuatu yang berkaitan dengan adat-istiadat setempat dengan cukup detil.
Namun, di sisi ini, gambaran negeri-negeri yang dikunjungi ‘wisatawan’ Eropa itu tidak semuanya dapat dipercaya. Banyak  di antaranya yang keliru dan dilebih-lebihkan. Banyak yang hanya menggunakan sudut pandang si Eropa penceritanya sendiri. Sebagaimana Edward Said pernah melakukan penelusuran atas karya-karya asing (termasuk kisah-kisah perjalanan) mengenai negeri-negeri timur. Gambaran para penulis Eropa itu tidak hanya mengenai kemolekan alam negeri-negeri timur yang eksotis belaka, tetapi juga, menurut Said, cendrung menitip-beratkan pada sifat-sifat keberbedaan timur dengan barat. Jika barat mewakili rasionalitas, modernitas, dan keberadaban, maka timur adalah negasinya: malas, beringas, irasional. Upaya pengidentifikasian tabiat hampir selalu dilakukan terhadap timur, yang pada akhirnya melahirkan generalisasi atas watak kultur masyarakatnya.
Gambaran mereka tentang negeri yang dikunjungi itu, tepat sebagaimana yang juga dikatakan Ahmad Sunjaya, bersifat ‘het imaginaire reisverhaal’—kisah perjalanan imajiner.  Yang mana pengalaman pribadi penulis dicampurkan dengan apa yang telah dibaca atau didengar dari para petualang lainnya yang lebih awal. Dan juga, ditambah unsur khayalan sang penulis yang berlatar pikiran ‘buruk’ atas watak ketimuran yang terbangun sejak dari awal keberangkatan mereka ke tanah jajahan.
Catatan perjalanan jenis ini, mengutip Frances Gouda, penulis sejarah kolonial Indonesia lainnya, malah justru menggugah minat para orang kaya di Eropa untuk datang. Apalagi bagi mereka yang memiliki jiwa petualangan dan memiliki banyak modal. Gambaran masyarakat jajahan dalam buku-buku perjalanan—gambaran kemolekan alam tetapi juga kebuasan bangsanya—itulah yang mengeras dalam pikiran orang-orang Eropa selama berabad-abad sebagai dasar pengetahuan mereka tentang negeri-negeri di timur. Keberbedaan dengan mereka, bagi ‘turis barat’, tampak sebagai eksotisme dunia timur yang menantang.
Denis Lombard, sejarawan Prancis yang hadir pada abad kita sekarang, bahkan masih mengakui ini dalam bukunya yang terkenal, Nusa Jawa dan Silang Budaya: “Lebih dari satu abad kemudian, citra Kepulauan Indonesia pada kami masih sering sekali merupakan citra eksotisme. Mooi Indie, Hindia yang molek, sebagaimana kepulauan itu disebutkan pada zaman penjajahan, masih tetap ada.” Seakan-akan, tidak ada perubahan berarti yang dialami masyarakat di dunia timur selama berabad-abad itu. Masyakaratnya, memakai bahasa Lombard lagi, “beku dalam keindahan berwarna-warni.”
Citra itulah pula yang dilanjutkan elit-elit negeri kita, diteruskan dengan sadar atau tanpa sadar. Kebijakan pariwisata seperti hendak mengekalkan yang tidak mungkin kekal itu. Pariwisata menginginkan masyarakat—yang dijadikannya objek—sedapat mungkin menjadi kuno dan bersetia dengan kekunoannya. Masyarakat yang beku belaka. Sebabnya adalah bahwa apa yang paling kuno dari objek pariwisata Indonesia akan laku untuk mendatangkan turis-turis dari dunia modern.
Tidak saja oleh pelaku pariwisata atau stakeholder yang terkait dengan itu, tetapi kecendrungan ini juga dilakukan oleh para traveler. Catatan-catatan perjalanan dalam mengunjungi negeri-negerinya sendiri menjadi a-historis, terbebas dari waktu, seakan-akan tidak ada yang berubah dari masyarakat yang dikunjunginya itu. ‘Tradisi yang lestari’, demikian kesimpulan akhir rata-rata mata acara yang bersifat etnografi  di teve-teve swasta (dan terutama teve nasional milik pemerintah, TVRI, yang dianggap penjaga tradisi) maupun pada rubrik-rubrik jalan-jalan di suratkabar dalam menilai sebuah masyarakat yang dikunjunginya.
Orang-orang pengkaji ketimuran masa lalu memang ‘menginginkan’, si timur yang eksotis, si monyet yang dungu, untuk tetap seperti itu. Tidakkah kata lestari pun mengandung bias politis? Masyarakat diangankan untuk tetap menjadi laboratiorium raksasa tempat artefak-artefak kebudayaan dari masa silam tegak berdiri. Ada sebuah tempat di mana masyarakat modern dunia, turis-turis asing, dapat bernostalgia melihat riwayat antropologis mereka yang telah lenyap. Tempat itu bernama Indonesia, tempat ‘manusia kera’ masih tinggal di abad 21, abad post-industrial ini.
Namun, manusia toh bukan komodo, kata Putu Setia suatu kali, dalam sebuah edisi Koran Tempo. Komodo yang bersetia pada kekunoannya. Bagaimana mungkin manusia bisa diharapakan untuk tetap “bersetia pada kekunoannya”, pada “kebekuannya”, sementara pada hakikatnya pada masyarakat-manusia toh perubahanlah yang abadi?
Padang, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar